
Nafas Sya terengah-engah. Dia tidak bisa berkata-kata tentang mimpinya yang aneh itu. Masih dengan rasa aneh yang menghampirinya. Sya mengambil air putih dan langsung meminumnya.
Dia tidak bisa habis fikir dengan apa yang baru saja dia impikan. Dia memang merasa sangat familiar dengan Ruka. Dia juga merasa tenang saat bersama dengannya. Hanya saja, apa yang baru diimpikannya itu salah.
"Mungkin karena aku baru saja bertemu dengannya," lirih Sya.
Kembali Sya meletakan tubuhnya ditempat tidur. Dia memikirkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Dia hanya menganggap Ruka sebagai kakak, tidak lebih. Walau selama ini Ruka selalu memberikan perhatian lebih padanya.
Rrringg rrringg. Dering ponsel Sya berdering begitu cepat. Malam sudah larut, tapi masih saja ada yang mengganggunya.
"Halo."
"Apa kau sudah tidur?"
Mendengar suara perempuan yang menjawab. Sya melihat layar ponselnya, ternyata Eri.
"Ya. Aku memang sudah tidur."
"Bukakan pintu. Aku di depan rumahmu."
Tidak percaya dengan apa yang dikatakan temannya itu. Sya memilih untuk melihatnya dulu. Dia tidak mau jika pada akhirnya hanya sebuah kebohongan yang dibuat oleh Eri.
Saat membuka korden kamar. Benar saja, Eri sedang berdiri dan menatap kearahnya. Sya mengangguk dan menutup telfonya. Dia bergegas untuk membukakan pintu.
"Aku ingin menginap."
Sya hanya bisa menatap tingkah wanita yang ada di hadapannya itu. Dia datang secara tiba-tiba dan langsung mengatakan akan menginap.
"Apa aku boleh tidur bersamamu?" tanya Eri.
"Apa kamu sedang ada masalah?"
Eri mendekat. "Ya. Masalahku sangat besar. Apa kau ingin tahu?"
Sya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kau yang membuat masalah ini. Aku tidak bisa tidur karena membayangkan dirimu sedang menangis memikirkan Arda."
Tawa Sya langsung pecah begitu saja. Ternyata Eri begitu perhatian padanya. Bahkan dia sampai datang larut malam hanya untuk memastikan Sya baik-baik saja.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Eri.
__ADS_1
Sya menggeleng dan langsung memeluk temannya itu. Saat ini dia hanya meliki Eri di dalam hidupnya. Tempatnya berkeluh kesah dan berbagi cerita.
Malam itu Sya merasa cukup tertolong dengan adanya Eri. Dia tidak merasa kesepian lagi. Walau besok dia akan kembali sendiri lagi dirumah itu. Dya bersyukur masih ada rumah yang bisa dia tinggali. Setidaknya dia tidak akan merepotkan orang lain untuk sebuah rumah.
***
Sudah berbagai cara Arda lakukan untuk bisa memejamkan matanya. Banyak posisi tidur yang dia coba, tapi tetap saja hanya ada bayangan Sya. Sampai detik ini, Arda masih belum bisa menemukan Sya.
Nomor Sya terus dia hubungi walau dia tahu nomor itu sudah tidak ada gunanya lagi. Sesekali Arda mengumpat dengan kasar. Dia merasa sangat bodoh karena sudah memilih jalan itu.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan fikiran Arda. Dia mendekat kepintu dan membukanya. Seorang pelayan dengan wajah yang terlihat gelisah.
"Apa ada masalah?" tanya Arda.
"I..itu Tuan. Nona Aila sejak tadi tidak mau makan. Sampai dia begitu lemas saat ini."
"Kau kembali bekerja saja. Aku yang akan mengurusnya."
Dalam hati Arda terus menyalahkan dirinya sendiri. Dia lebih memilih wanita manja dan glamor dari pada wanita yang memikirkannya setiap hari.
Pintu terbuka. Aila terlihat sedang duduk di sofa dengan ponsel ditangannya. Begitu tahu Arda datang, Sya meletakan ponsel itu dan pura-pura memejamkan matanya.
Arda menyelimuti tubuh Aila yang begitu terbuka. Saat Arda akan pergi, Aila langsung memegang tangan Arda dengan erat.
"Kenapa kau tidak tidur disini. Aku istrimu," lirih Aila.
Arda menghela nafas panjang.
"Aku masih banyak pekerjaan. Jika kau merasa lapar kau bisa makan lebih dulu. Jika tidak kau bisa tidur."
Aila tidak menyerah begitu saja. Dia mendekat dan langsung memeluk Arda dari belakang. Dia mengatakan hal yang manis dan mencoba untuk merayu Arda.
"Biarkan aku bersamamu malam ini," kata Aila di telinga Arda.
Bruk. Dengan kasar Arda mendorong tubuh Aila ketempat tidur. Arda menggelengkan kepalanya dengan apa yang baru saja Aila lakukan.
"Jangan berharap lebih dariku. Aku menolongmu hanya karena bayi di dalam perutmu. Jadi, jangan coba merayuku."
"Arda. Kau tahu aku dangat mencintaimu."
__ADS_1
"Tapi aku tidak mencintaimu."
Perdebatan itu berakhir dengan kepergian Arda dari kamar itu. Kembali Aila ditinggalkan dan dicampakan. Merasa butuh, Aila memilih menelfon ayah kandung bayinya. Mereka berjanji akan bertemu di hotel.
***
Malam semakin larut. Mata Sya masih belum juga mengantuk. Bayangan Arda kini malah semakin jelas membuat Sya tidak bisa menahan derasnya air mata.
Melihat Eri yang sudah terlelap dengan tenang. Sya tidak ingin mengganggunya dan memilih untuk turun. Dia menyalakan TV dan sesekali menatap ponselnya.
Dia sendiri yang mengganti ponsel dan nomornya. Kini dia berharap keajaiban dan Arda menelfonya. Hal bodoh yang dilakukan oleh sang perindu.
"Kenapa aku begitu mencintaimu. Kenapa rasa ini begitu menyakitiku."
Walau malam sudah larut. Berita tentang Arda dan para pebisnis lainya masih saja berseliweran di TV. Sya merasa terganggu dan memilih untuk mematikannya.
Tidak ingin larut dalam rasa sakit hati. Sya memilih untuk bermain game didalam ponselnya sembari tiduran. Perlahan rasa kantuk mulai datang. Hingga akhirnya Sya tertidur lelap di atas sofa.
Ruka menatap Sya yang sudah terlelap dari luar rumah Sya. Sampai dia mengirim pesan pada Eri untuk memberikan selimut pada Sya.
Dengan langkah gontai, Eri turun dengan selimut ditangannya. Dia menyelimuti tubuh Sya dengan penuh kasih sayang. Lalu dia keluar dengan baju hangat dan selimut yang menutupi tubuhnya.
Eri dan Ruka duduk di depan rumah Sya. Mereka menatap langit yang penuh dengan bintang.
"Apa dia menangis lagi karena Arda?" tanya Ruka begitu Eri keluar.
Eri menganggukan kepalanya. Dia benar-benar merasa kasihan dengan apa yang terjadi pada Sya. Baru kali ini dia jatuh cinta dan sekarang harus terluka karena wanita lain.
"Jaga dia untukku," kata Ruka.
Eri menoleh dan terkesiap dengan apa yang dikatakan Ruka. Dia tidak menyangka jika teman Arda menyukai Sya.
"Aku akan membayarmu jika kau mau."
"Ti...tidak perlu. Hanya saja aku merasa aneh. Bukankah kau dan Arda begitu dekat, kenapa kau begitu perhatian pada Sya."
"Kau tidak perlu tahu alasanya. Cukup jaga dia saja."
"Ba...baiklah."
"Aku pergi dulu. Ini sudah sangat larut, kau juga harus tidur."
__ADS_1
Ruka masuk ke mobil meninggalkan Eri yang masih bingung dengan apa yang terjadi. Jika benar Ruka mencintai Sya. Hal itu akan semakin rumit nantinya. Eri menggelengkan kepala, lalu masuk ke rumah dan tidur.
***