
Kasus kecelakaan dan kematian Lufas resmi ditutup. Kali ini tidak ada raut sedih atau kecewa di wajah Sya. Dia sudah pasrah dan sudah mulai merelakan semuanya.
Pikiran Sya sudah mulai berubah saat Danendra mulai bisa berinteraksi dengan Sya. Hal ini membuka mata hati Sya, agar dia tidak hancur saat ini dan harus terus melaju ke depan.
Berita tentang penutupan kasus Lufas hadir di tv. Sya menatap itu dan langsung mematikannya. Dia berjalan masuk ke kamar, dia ingin melihat jadwalnya hari ini.
Meeting akan dimulai tiga jam lagi. Sya memilih untuk melihat bahan rapat. Dia tidak ingin terjadi masalah saat rappat nanti. Pesan singkat dia kirimkan pada Rasti. Dia meminta sopir dari kantor untuk menjemputnya.
Setelah itu Sya kembali fokus pada berkas ditangannya. Dia melihat beberapa hal yang harus dilakukan. Hal ini akan meningkatkan penjualan di pasar raya.
Tok tok tok.
"Siapa?" Teriak Sya.
"Makan siang yang Nyonya minta sudah sap."
"Aku akan segera kelur. Siapkan saja di meja makan."
"Baik."
Untuk sesaat Sya masih masih menatap berkas itu. Dia keudian beranjak untuk makan. Saat keluar dari kamar, Sya merasa ada yang sedang mengamatinya. Sya mendekat kearah jendela apartemen. Tidak ada siapapun disana.
"Ada apa, Nyonya?" Tanya Bi Sali.
"Tidak ada Bi."
Sya duduk dan ulai memakan masakan yang sudah disediakan Bi Sali.
"Bi sali sudah makan?" Tanya Sya.
"Sudah, Nya."
"Bagaimana dengan Nendra?"
"Sudah saya buatkan bubur lunak tadi," jawab Bi Sali.
"Kalau begitu BI Sali bisa istirahat dulu.
"Bi Sali mengangguk. Saat Bi Sali akan masuk ke kamar. Suara bel apartemen berbunyi. Membuatnya urung masuk ke kamar dan memilih membuka pintu.
Bi Sali langsung memasang wajah datar saat tahu siapa yang datang mengunjungi Sya.
"Apa Sya di dalam?" Tanya Ben.
Belum juga Bi Sali menjawab. Sya sudah menyaut dari dalam.
"Siapa yang datang, Bi?"
"Tuan Ben."
"Suruh dia masuk. Siapkan juga piring untuk dia makan."
"Baik."
Sejak kematian pelaku di sel tahanan. Ben lebih sering mengunjungi Sya. Dia juga sesekali mengajak Sya untuk keluar. Hanya sekedar jalan-jalan dan mengobrol. Hal itu membuat Sya merasa lebih bermakna untuk hidup.
"Makananya terlihat enak," ucap Ben begitu masuk ke ruang makan.
"Tentu saja. Bi Sali yang memasaknya."
Bi Sali hanya tersenyum tipis.
"Bi Sali bisa istirahat. Aku yang akan mengurus semua ini," kata Sya.
"Tidak. Ini adalah tugas saya Nya."
Sya tersenyum. "Jika nanti Nendra sampai bangun. Bi sali tidak akan bisa istiahat."
"Baiklah."
Bi Sali terlihat terpaksa saat meninggalkan Ben dan Sya berdua. Dia terlihat tidak senang dengan tatapan yang menyelidik.
"Bagaimana?" Tanya Sya.
"Aku sudah menemukannya. Sebuah perumahan yang indah dengan taman bermain untuk anak yang berada di belakang rumah."
__ADS_1
"Bagus."
"Kapan kita akan melihatnya. Aku sudah sangat ingin pindah dari sini."
"Setelah ini kita bisa langsung melihatnya."
ya mengangguk. Mereka kembali makan dengan tenang. Akhirnya Sya bisa bernafas dengan lega. Selama di apartemen ini dan Lufas tiada. Sya merasa selalu diawasi oleh seseorang. Bahkan kadang Sya melihat Lufas disekitar apartemen.
***
"Rasti. Katakan pada sopir untuk tidak menjemputku. Aku akan berangkat setelah melihat rumah."
"Baik, Bu."
Sya masuk ke mobil dimana Ben sudah berada di dalamnya. Dengan tenang Ben membawa Sya ke perumahan yang dia maksud. Perumahan yang terkenal dan terlihat mewah.
Sampai disebuah rumah dengan cat hijau. Sya dana Ben turun. Seorang pria langsung mendekat. Dia adalah orang yang akan mengurus surat-surat yang Sya butuhkan untuk pindah nanti.
"Mau langsung lihat ke dalam?" Tanya Pri aitu.
"Ya. Kakakku sudah tidak sabar," kata Ben.
Sya hanya menyunggingkan senyum.
Saat masuk peandangan masih biasa saja. Sampai saat Sya melihat kamar dan dekorasi semua tempat itu. Dia tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana Bu?" Tanya pria itu lagi.
"Aku suka. kapan aku bisa pindah kesini?" Tanya Sya kemudian
"Secepat yang anda mau," kata pria itu.
"Ben. Tolong uruskan ya, ada rapat yang harus aku datangi."
"Tentu."
"Kalau begitu aku pergi dulu," kata Sya.
Ben dan pria itu mengangguk. Untung saja taxi yang sudah Sya pesan sudah datang. Sya tidak perlu menunggu lagi.
Sya sedikit menyunggingkan senyum. Dia tahu Ben mencarikan rumah yang dekat dengan kantor. Hal ini mempermudah Sya dalam bekerja dan mengurus Nendra.
***
Selesai rapat Sya kembali keruangannya. Dia tidak tahu jika Tom sudah mengikuti langkah kakinya sejak keluar dari ruang rapat.
Tom menarik tangan Sya saat Sya membuka pintu. Sya kaget melihat siapa yangg berada di depannya saat ini.
"Ada apa?"
"Aku ingin bicara denganmu."
"Tentang apa?" Tanya Sya penuh selidik.
"Bisa kita masuk lebih dulu," ucap Tom.
Sya terlihat ragu, tapi dia dan Tom akhirnya masuk ke ruang kerja itu.
"Katakan saja apa yang mau kau katakan."
"Nona Sya. Kau begitu teruru-buru."
"JIka tidak penting. Tolong segera keluar."
"Kau tahu hubunganku dan Lufas bukan? Kami sangat dekat. Jadi, aku mengajukan diri untuk menjagamu."
Sya tersenyum kecil. Dia tahu hubunganTom dan Lufas sebenarnya. Ben yang menceritakan segalanya. Hanya saja, Sya tidak pernah membahas hal itu saat bersama dengan Tom.
"Sebagai teman yang dekat. Aku ingin menjagamu dan anakmu. Aku wajib membuatmu bahagia, bagaimanapun Lufas telah pergi."
Sya hanya diam saja.
"Bagaimana?"
"Terima kasih karena anda sudah melakukan hal ini. Hanya saja, saya dan anak saya sudah aman dengan adanya aparat negara yang melindungi kami."
__ADS_1
"Mereka itu pembohong. Tidak dapat dipercaya."
"Bagaimana anda tahu jika parat negara bohong?"
Pertanyaaan itu membuat Tom bungkam. Syahanya tersenyum.
"Sya berniat baik kenapa Nona Sya melakukan hal seperti itu?"
"Maaf saya menolaknya. Meski begitu, kita masih sama sebagai rekan kerja."
Entah bagaimana suasana antara Tom dan sya menjadi begitu canggung. Hal ini tiak begitu menyenangkan.
"Kalau begitu saya permisi lebih dulu."
"Baik."
Sya mengantar kepergian Tom. Setelah itu Sya menutup pintu. Dia memikirkan apa yang baru saja dia katakan. Sya memikirkan hal itu dan hampir tertawa.
"Bagamana bisa aku membawa aparat negara. Apa hubunganku dengan mereka."
Ponsel Sya berdering. Sya melihat siapa yang menelfonya. Ben.
"Ya, ada apa Ben?"
"Kau sudah bisa pindah besok."
"Kabar baik. Aku akan meminta orang untuk membantuku pindah."
"Aku juga akan membantumu."
"Terima kasih."
Sya menutp telfon. Dia memilih untuk berberes dan pulang. Saat ini Nendra pasti sudah bangun. Sya berharap bisa bermain dengan Nendra.
Kali ini Sya meminta sopir kantor untuk mengantarnya. Di dalam mobil Sya memilih untuk memejamkan mata sebentar.
"Bu. Sudah sampai."
"Terima kasih, Pak."
Sya turun. Di melihat seseorang yang baru saja keluar dari gedung apartemen. dari tinggi dan perawakannya Sya seperti melihat Lufas.
Penasaran. Sya mengejar pria itu dan sampai disebuah gang kecil. Dengan ksar Sya menarik topi pria itu. Mata mereka bertemu, pria itu terlihat kebingungan.
"Ada apa denganmu?" Tanya pria itu.
"Maaf. Aku kira kau adalah orang yang aku kenal."
"Lain kali lihatlah lebih jelas."
Sya mengangguk. Pria itu mengambil topi dari tangan Sya dengan kasar. Sya menatap perginya pria itu. Dia tahu, Lufas sudah tiada. Tidak seharusnya Sya terus memikirkan dan merindukannya saja.
Kembali ke apartemen. Sya masuk dan melihat Bi sali yang sedang membereskan meja tamu. Ada beberapa gelas disana.
"Ada tamu ya Bi?"
"Anak saya Nyonya."
Sya mengangguk dan masuk ke dalam kamar Nendra. Danendra terlihat sedang bermain, sudah enam berlalu. danendra sudah bisa duduk dan sesekali mengoceh. Hal ii sedikit mengurangi rasa sakit yang Sya rasa.
"Sayang. Mama sudah kembali."
Tangan Danendra merentang. Dengan senyum merekah Syaa langsung menggendong Danendra.
***
Sebuah truk besar berhenti di dalam perumahan. Sya turun dari truk itu dengan Danendra di dalam pelukannya.
Beberapa orang turun dan mulai membongkar barang bawaan. Hari ini adalah hai dimana Sya pindah. Dia juga tetap membawa Bi Sali bersamanya.
Di tempat ini Sya tidak ingin mengurangi rasa sakitnya. Bahkan mungkin menghilangkan rasa sakit itu.
Meski Sya tahu, dia tidak dapat melupakan masa lalu. Apa lagi tentang Lufas. Sya berharap hanya kenangan indah yang akan menemaninya.
Di dalamrumah baru ini. Sya berharap lembaran baru hidupnya dan Danendra lebih baik dan kembali penuh cinta.
__ADS_1
***