
Dress hitam kombinasi putih sudah dia pakai. Gelang dan anting juga sudah, tidak lupa sebuah tas tangan melengkapi penampilannya itu. Hari ini, Sya akan datang ke kantor Arda. Mereka akan makan bersama di restoran. Arda sendiri yang sudah menelfonya.
Sebelum itu, Sya kembali melihat isi tasnya. Dia tidak mau ada sesuatu yang tertinggal yang akan mengganggunya nanti.
Sebuah mobil silver merk ternama sudah berada di depan rumah. Mobil itu siap membawa kemanapun Sya pergi. Dengan cekatan, seorang sopir membukakan pintu untuknya.
Hati Sya begitu bahagia hari itu. Dia merasa senang dengan hubungan yang kini semakin dekat dan jarang memiliki masalah. Sya dan Arda bersyukur akan hal itu.
Sampai di kantor. Sya masuk dengan beberapa karyawan yang menatapnya aneh. Tidak biasanya para karyawan menatapnya dengan tatapan itu. Bertanya akan membuat dirinya semakin aneh.
Sampai Sya menaiki lift bersama beberapa karyawan. Disana dia mendengar apa yang sedang terjadi di kantor.
"Ya. Wanita itu akan lompat dari gedung ini," kata seorang karyawan wanita.
"Benarkah. Apa mungkin dia simpanan Pak Arda. Katanya dia juga sedang hamil," ucap pria yang berada di sampingnya.
Sya memilih menutup wajahnya dengan tas tangannya. Dia tidak ingin karyawan itu tahu jika dia ada disana.
Sampai akhirnya Sya masuk ke ruangan Arda. Tampak berantakan dengan kertas dimana-mana. Bahkan ada gelas pecah juga. Sya tahu, jika ini bukanlah masalah yang kecil.
Saat Sya keluar ruangan dia melihat seorang OB. Sya menghentikannya begitu saja, membuat sang OB menatapnya.
"Dimana Arda?" tanya Sya langsung.
"Beliau ada di atap gedung, Bu."
"Kau bisa menunjukan jalannya."
"Tentu."
Dengan dipandu oleh OB itu. Akhirnya Sya sampai juga di atap gedung. Angin yang cukup besar langsung menyentuh Sya. Membuat rambut Sya mulai berkibar.
"Aila. Aku mohon turun," teriak Arda yang tidak jauh dari posisi Aila.
Sya membulatkan matanya saat melihat Aila berada di tepi atap. Bahkan jika dia tidak seimbang, pasti akan terjatuh.
"Percuma saja aku hidup. Aku sedang mengandung bayi seseorang yang bahkan tidak mau menerimaku."
Sya mendekat. "Aila. Kita bisa cari solusinya bersama."
__ADS_1
Arda menoleh dan melihat istri tercintanya sudah berada di sampingnya. Sya menoleh dan tersenyum. Ternyata disana juga ada Ruka.
"Solusi kau bilang? apa solusinya selain mati. Jika orang tuaku tahu mereka juga akan membunuhku."
"Lalu apa maumu?" tanya Arda kemudian.
"Aku ingin kau menjadi ayah anak ini. Menikahlah denganku."
Deg. Jantung Sya terasa berhenti saat mendengar hal itu. Bagaimana tidak, saat ini dialah istri Arda. Tidak mungkin dia akan menerima begitu saja. Mana ada wanita yang mau diduakan.
"Apa kau gila Aila," teriak Ruka, "Arda sudah memiliki istri. Kau tahu itu."
Arda hanya bisa diam dengan tatapan kosong.
"Jika dia tidak mau. Kalian tidak perlu repot mencegahku."
Mata Sya tertutup. Dia menunggu jawaban sang suami. Apa Arda akan memilih tetap bersamanya dan membiarkan Aila lompat. Atau, Arda akan memilih Aila dan membuat Sya jatuh kedalam lubang sakit hati yang tiada ujung.
"Ini kesalahanku. Jadi, aku akan membayarnya," ucap Arda.
Sya dan Ruka menoleh pada Arda secara bersamaan. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan Arda.
Setelah mendengar jawaban itu. Aila dibantu Arda untuk turun. Sementara Sya pergi entah kemana. Dia tidak mau mendengar penjelasan atau apapun dari Arda. Saat ini Sya hanya merasakan luka yang mendalam pada hatinya.
***
"Kemana dia? dia bahkan mematikan ponselnya," ucap Arda.
Ruka yang berada di sampingnya hanya diam. Dia merasa sangat terluka saat melihat Sya pergi dengan langkah limbung. Saat ini, dia juga tidak tahu kemana wanita itu pergi.
"Kenapa kau tidak membantuku?" tanya Arda dengan mata yang memancarkan kekhawatiran.
Ruka menatap Arda. "Apa saat ini kau membutuhkannya? lalu kenapa kau mengatakan hal itu tanpa memikirkan perasaanya."
"Aku melakukannya karena tidak mau Aila lompat."
"Dengan cara kau melakukan hal ini. Kau sudah membuat Sya melompat kedalam hal terburuk dalam pernikahan."
Arda hanya diam. Dia sadar dengan apa yang dilakukanya. Dia sudah melukai wanita yang dia cintai selama ini. Bahkan sampai saat ini Sya belum juga ada kabar. Entah dia hilang kemana.
__ADS_1
"Bantu aku mencarinya," ucap Arda kemudian.
"Kau cari saja dia sendiri."
Ruka pergi begitu saja dengan mobilnya. Arda memukul tembok dengan keras. Hingga membuat tangannya berdarah. Aila yang melihat itu langsung mendekat dan memegang tangan Arda, tapi Arda langsung menarik tangan itu kembali.
Dia melihat Aila yang sedang berdiri di depannya dengan baju tidur yang biasa Sya pakai.
"Kenapa kau memakai baju Sya?" tanya Arda.
"Aku tidak melihat baju lain selain ini."
"Kalau begitu istirahatlah. Aku akan mencati udara segar."
Arda langsung masuk kemobil. Aila mencoba mengejar, namun sudah terlambat. Kini Arda pergi dengan kecepatan tinggi pergi entah kemana. Meninggalkan dirinya sendiri.
Walau begitu Sya bisa tersenyum puas. Dia berhasil menjalankan rencananya. Semua itu dia lakukan atas saran dari ayah kandung anaknya saat ini.
"Sayang, mamamu akhirnya bisa mendapatkan Arda," kata Aila sembari mengusap perutnya.
***
Tangan Sya masih memegang sapu di tangannya. Dia mencoba membersihkan rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia tidak mau ada yang berubah dari rumah itu.
Sesaat Sya berhenti dan kembali mengingat hal yang terjadi saat berada di kantor Arda. Rasa marah, cemburu, kesal kini menjadi satu. Walau begitu dia tidak ingin mengungkapkan pada siapapun.
Dia memilih untuk sendiri dengan kehidupan yang dia miliki sebelumnya. Walau sederhana, Sya akan bisa hidup tanpa harus satu rumah dengan Arda dan Aila.
Kembali mata Sya berkaca-kaca. Dia terduduk lemas saat tahu Arda lebih memilih Aila dari pada hubungan pernikahannya. Atas nama teman dekat membuat Arda tidak menoleh padanya.
"Ma, apa aku salah dengan apa yang aku lakukan. Aku memilih pergi dari pada memendam luka hati," lirih Sya.
Ya, kini Sya berada di rumah peninggalan ibunya. Dia merasa lebih tenang di rumah itu. Bahkan dia sengaja mengganti nomor ponsel agar Arda tidak bisa menghubunginya.
Sya sudah tidak peduli dengan apa yang akan Arda lakukan. Dia juga tidak peduli apa Arda mencarinya atau tidak. Yang saat ini Sya butuhkan adalah sebuah ketenangan.
Setelah selesai berbenah. Sya duduk dan menyalakan TV. Dia mencari acara yang mampu menghiburnya. Sampai disebuah chanel, dia melihat berita tentang Arda.
Disana tertulia jika Arda menikahi Aila tanpa kedatangan istri pertama. Sya hanya tersenyum pahit. Bagaimana bisa dia datang sementara hatinya sudah dihancurkan dengan begitu kejam.
__ADS_1
***