
Tanpa rencana Sya kembali kerumah sakit itu. Ruka yang sedang menunggu hasil pemeriksaan Sya terlihat begitu gelisah. Apa lagi saat dimobil Ruka melihat beberapa titik darah.
Rasa takut menyelimuti hati Ruka. Dia takut jika sampai Sya keguguran. Sya pasti akan sangat hancur karena hal itu. Apa lagi, Sya sudah menantikan kehamilan itu sejak lama. Walau Arda masih belum menerima anak itu.
Jovi yang baru datang langsung bergegas menuju ketempat Sya. Dia melihat Ruka yang sedang duduk.
"Bagaimana keadaan Sya?" Tanya Jovi.
Melihat kedatangan Jovi. Ruka merasa tidak senang. Bagaimanapun, Jovi juga pernah membuat Sya dalam masalah. Bahkan sampai saat ini Jovi juga masih mengincar adiknya.
"Kak Ruka. Bagaimana keadaan Sya?" Tanya Jovi.
Walau begitu. Ruka melihat kecemasan diwajah Jovi hal itu membuatnya menahan rasa kesal itu. Dia menunjuk keruang periksa sembari berkata, "Dokter masih belum selesai memeriksanya."
Lalu Jovi mendekat pada pintu. Dia mencoba melihat kedalam. Hanya saja, korden diruangan itu menghalanginya.
Tidak lama Dokter keluar dengan seorang perawat. Dia mendekat pada Ruka dan Jovi. Ruka langsung berdiri dan menanyakan keadaan adiknya itu.
"Adik Anda baik-baik saja. Hanya saja, kami tidak bisa menyelamatkan bayi yang dikandungnya."
"Apa?"
"Kami sudah melakukannya sebaik mungkin."
Ruka terduduk. Dia tidak tahu harus bagaimana, apa lagi saat Sya nanti bangun dan bertanya. Walau Ruka bisa berohong. Cepat atau lambat kebohongan itu pasti akan terungkap.
Jovi duduk disamping Ruka. Dia menepuk pundak Ruka, sekedar untuk menenangkannya. Lalu, Ruka menatapnya dengan tajam. Hal itu membuat Jovi terpaku.
"Apa kau yang sudah melakukannya?" Tanya Ruka.
"Maksudmu apa?"
"Hanya kau yang mampu melakukan hal ini pada Sya."
Jovi berdecak. Dia merasa hampir saja ketahuan. Lalu dia mencoba berfikir.
__ADS_1
"Kak, yang memberikan minuman itu adalah Arda. Kenapa kau tidak tanyakan langsung padanya."
Ruka diam. Lalu dia masuk keruangan Sya. Belum sempat Jovi masuk, Ruka sudah menutup pintu itu dan menguncinya. Dia tidak ingin Jovi atau Arda mendekat pada Sya. Atau Sya akan kembali tersakiti karena mereka.
Melihat Sya terbaring lemah dengan selang infus ditangannya. Ruka merasa telah gagal dalam melindunginya. Apa lagi jika mengingat bayi yang dia jaga pergi begitu saja.
Walau begitu, Ruka tidak membiarkan dirimya terus terpuruk. Dia menelfon salah satu detektif miliknya untuk mencari tahu hal ini. Sampai saat ini, Ruka hanya menyalahkan Jovi dan Arda. Yang pada saat itu berada bersama Sya.
***
Aila menyetir mobil itu dengan kecepatan sedang. Saat ini Arda duduk di kursi belakanh dengan tatapan kosong. Beberapa kali Aila mencoba bertanya, namun tidak ada jawaban sama sekali.
Bahkan sebelum itu Arda sempat menyalahkan Aila. Aila hanya diam dan tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Arda. Ya, dia sudah terlalu bahagia karena apa yang dia rencanakan dengan Jovi berhasil.
Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai dirumah. Aila turun dan membantu Arda untuk berdiri. Dia juga membantu Arda masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam rumah, bukannya mendapat ucapan terima kasih. Arda malah mendorong Aila dengan kuat. Aila yang menggunakan sepatu hak tinggi langsung terjatuh begitu saja.
"Semua ini karenamu." Teriak Arda dengan begitu kencang.
Aila bangun, wajahnya masih meringis kesakitan karena jatuh. Bahkan kedua sepatu hak tingginya dia lepaskan.
"Kenapa kau menyalahkan aku? Aku bahkan tidak melakukan apapun."
Arda mendekat dan mencengkeram wajah Aila dengan erat.
"Kau yang sudah menyuruhku untuk datang dan meminta maaf pada Sya. Jika kau tidak menyuruhku. Sudah pasti hal ini tidak akan terjadi."
"Kau sendiri yang setuju untuk datang." Aila masih mencoba membela dirinya.
Arda melepaskan cengkraman itu dengan kasar. Dia menatap mata Aila yang tidak terlihat merasa bersalah. Hal itu membuat Arda semakin marah saja.
"Aku sudah salah menikahimu. Jika kau tidak datang diantara aku dan Sya. Aku pasti akan hidup dengan bahagia bersamanya."
Wajah Aila tidak menunjukan ekspresi apapun. Dia hanya berdiri mematung sembari mendengarkan Arda bicara. Hatinya merasa sakit saat Arda terus menerus membela Sya.
__ADS_1
"Sekarang kau pergi dari rumah ini. Cari ayah dari anakmu itu. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi," kata Arda yang langsung melangkah pergi.
Tangan Aila mengepal dengan erat. Saat ini dia merasa sangat membenci Sya. Bagi Aila, Sya sudah merebut segalanya darinya. Apa lagi cinta Arda yang memang sejak awal diincat oleh Aila.
"Aku pasti akan membuat hidupmu menderita Sya."
Malam itu Aila keluar dari rumah itu dengan koper ditangannya. Tidak ada pelayan apa lagi Arda yang mengantarkannya. Hanya ada angin malam yang menemaninya.
Tidak tahu harus pergi kemana. Aila menelfon Jovi untuk menjemputnya. Bahkan jika Aila kembali kerumahnya, dia pasti akan dihajar kedua orang tuanya. Sudah pasti Aila tidak ingin pulang kerumahnya.
Aila sudah memutuskan, dia akan tinggal dengan Jovi sampai Arda kembali menerimanya. Apapun yang akan terjadi, Aila bertekad untuk membuat Sya hancur. Walau dia harus berkorban lebih untuk hal itu.
***
Arda masuk kedalam kamar Sya. Dia melihat beberapa foto yang terpajang dikamar itu. Baju yang biasa Sya pakai, bahkan handuk yang dia gunakan.
Bayangan Sya muncul dengan tawa yang selama ini dia berikan pada Arda. Perhatianya, juga tentang segala cinta yang mereka bangun bersama.
Rasa sesal yang mendalam kini hadir dihati Arda. Dia benar-benar merasa hancur karena sudah membuat wanitanya menangis.
Padahal dalam lubuk hatinya tetap menerima Sya. Walau jika memang anak yang dikandung Sya bukan anaknya. Saat dia berkesempatan untuk meminta maaf, kejadian tidak terduga itu hadir. Membuat permintaan maaf itu tidak terucap.
Kini, Arda hanya bisa memeluk foto Sya dengan segala kerinduan dan cinta yang dia miliki. Jika saat ini dia mendekat, Ruka pasti tidak akan senang. Dia pasti akan meminta Arda untum pergi menjauh.
Sementara itu, Ruka duduk termenung semabri memegang tangan Sya. Wajah Sya masih terlihat pucat. Bahkan saat ini Sya menggunakan selang oksigen karena susah bernafas.
Hati Ruka hancur melihat semua itu. Dia tidak sabar menerima laporan yang diberikan oelh detektif. Beberapa kali Ruka menelefon detektif itu dan jawabanya masih sama saja. Hasilnya akan keluar besok.
"Maafkan aku Sya. Aku tidak bisa menjagamu dan bayimu," lirih Ruka dalam keheningan malam.
Tidak ada bunyi apapun dalam ruangan itu selain bunyi dari mesin yang terpasang disamping Sya. Walau begitu, Ruka tetap saja tidak bisa memejamkan matanya. Dia akan terus menemani Sya sampai Sya bangun nanti.
Saat ini mereka hanya berdua. Tidak ada orang lain lagi, ayah dan ibu mereka sudah tiada. Jadi tidak mungkin Ruka meminta bantuan mereka. Mereka juga tidak memiliki sanak famili. Jadi, Ruka sangat bertanggung jawab akan adiknya itu.
***
__ADS_1