The Way Love

The Way Love
CXLII


__ADS_3

Mata Sya mengerjap. Dia melihat sekeliling. Bukan kamarnya, dia mencoba untuk duduk. Badannya terasa sakit semua.


Dengan rasa sakit itu Sya mencoba mengingat kembali kejadian kemarin. Dia hanya ingat saat itu berdebat dengan Tom.


Rasa takut tiba-tiba saja menghampiri Sya. Bagaimana tidak, saat itu tidak ada yang menolongnya. Sudah pasti jika ini ditempat Tom, tapi kenapa begitu tenang.


Tuk tuk tuk. Suara langkah kaki mendekat. Sya menarik selimutnya dan pura-pura kembali tidur.


Pria itu membuka pintu. Menatap wajah Sya, dia kembali merasa tersihir saat ini. Perlahan dia mendekat dan mencoba untuk menyingkirkan rambut di wajah Sya.


"Jangan pegang aku, Tom." Teriak Sya.


Mata mereka bertemu. Bukan sosok Tom yang saat ini berada di depannya. Mata Sya terbuka lebar. Dia berfikir bagaimana bisa sampai di kamar ini.


"Apa kau kira Tom berhasil membawamu?"


Sya mengangguk pelan.


"Aku tidak akan diam Sya. Kau akan aman disini, bersamaku."


"Bagaimana kau bisa mendapatkan aku dari Tom?"


"Kau tidak perlu memikirkannya. Saat ini, kau sudah selamat."


"Mike."


Mike menoleh dan tersenyum. Lalu dia duduk di depan Sya. Banyak pertanyaan yang Sya ingin tanyakan, hanya saja dia memilih bungkam.


"Apa saat ini kau sudah jatuh padaku?" Tanya Mike kemudian.


Sya menggeleng. "Aku hanya ingin pulang."


"Kenapa? Apa kau perlu sesuatu? Kau bisa mengatakannya padaku."


"Tidak begitu Mike. Aku hanya ingin pulang saja. Hanya itu."


"Kau tidak bisa kembali saat ini. Tom masih mengincarmu."


Sya diam.


Mike melihat wajah sedih saat ini. Dengan lembut Mike memegang tangan Sya.


"Apa kau ingin bertemu dengan Nendra?"


"Ya. Aku sudah berjanji untuk menemuinya setiap hari."


"Kau bisa menemui dia kapanpun kau mau."


"Terima kasih."


"Bersiaplah. Aku akan mengantarmu."


Sya mengangguk. Untuk memberikan ruang untuk Sya bersiap-siap. Mike turun, dia kembali fokus dengan ponsel di tangannya.


Dia meminta asistenya untuk mencari tahu motif Tom membawa Sya. Apa mungkin berkaitan dengan Lufas atau tidak. Dia tidak mau, wanita yang dia suka dan kagumi harus bersama orang lain.


Sementara di dalam kamar. Sya sedang duduk dengan dress polos berwarna putih. Dia begitu kaget saat tahu banyak sekali baju perempuan di kamar itu. Pelayan yang membantu Sya mengatakan jika pakaian itu milik Sya.

__ADS_1


"Nona. Tuan Mike sudah menunggu."


"Aku akan segera turun."


Sya kembali memikirkan Mike. Sudah pasti jika identitas Mike bukan hanya seorang model. Mana mungkin seorang model memiliki rumah yang besar dengan banyak sekali keamanan. Bahkan di rumah Lufas dulu tidak seketat ini.


Baru saja Sya keluar dari kamar. Dua pengawal sudah menantinya. Sya merasa begitu risih dengan semua itu.


"Mobil sudah disiapkan." Ucap Mike yang langsung berjalan keluar.


Sya mengekor padanya. Kali ini Mike tidak membawa mobil sendiri. Seorang sopir sudah menunggu didalam mobil saat ini.


***


Lufas masih terlihat tidak senang. Saat mendapat kabar jika Sya dibawa Tom. Dia meminta beberapa orang untuk menyelamatkannya. Berharap setelah itu Sya tidak lagi merasa marah.


Naas. Saat kelompok Lufas datang. Tom sudah dikalahkan dan Sya sudah dibawa pergi. Mendengar kabar itu Lufas tidak bisa menahan emosinya. Dia meluapkan amarahnya, meski begitu dia masih saja tidak merasa puas.


Xiu masuk. Dia tahu, saat ini Lufas begitu marah dengannya. Meski begitu, Xiu merasa senang. Dia bisa dekat dengan Lufas tanpa ada Sya.


"Kau sudah datang? Bagaimana dengan berkas yang aku minta?"


Xiu memberikan berkas itu. Lufas membuka dan hanya melihat intinya saja. Setelah itu dia membuang berkas itu dan menghampiri Xiu.


Xiu masih diam saat Lufas mendekat. Saat itu Lufas langsung mendorong Xiu kedinding. Dia mencekik Xiu dengan begitu kuat. Xiu tidak mengatakan apapun.


"Kenapa kau melakukannya pada Sya? Kenapa?!" Suara Lufas menggema.


Xiu mencoba untuk menggeleng, tapi kekuatan Lufas begitu besar.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Ben.


Lufas tidak menjawab. Dia menatap Xiu yang lemas dan terbatuk-batuk di lantai. Saat ini amarah Lufas masih saja berkobar. Dilihat dari mata yang terus menatap dengan tajam.


Ben membantu Xiu untuk berdiri. Saat ini, Xiu masih belum mengatakan apapun. Dia masih mencoba untuk mendapatkan nafasnya kembali.


"Apa yang sudah Xiu lakukan sampai kau begitu marah?"


"Tanyakan saja padanya," jawab Lufas dengan kasar.


Ben menatap pada Xiu. Xiu juga hanya diam saja. Sampai Ben melihat berkas di lantai. Ben mengambil berkas itu. Dia melihat semua isi berkas yang Lufas buang.


Senyuman Ben muncul. Dia tahu, saat ini Xiu sudah berani mengambil langkah yang cepat. Tanpa disadari, Xiu sudah memperlihatkan sifat aslinya.


"Aku akan bawa Xiu. Kau bisa tenang sekarang," kata Ben.


Ben membantu Xiu untuk berdiri. Di luar, Ben mencoba mengingat apa yang sudah Xiu lakukan. Mike bukan orang biasa, bahkan mungkin Sya bisa saja celaka. Pantas, jika Lufas begitu marah.


"Apa kau akan menjauhkan aku dan Lufas lagi?" Tanya Xiu.


"Tidak. Aku tidak akan menghalangimu."


"Kenapa?" Xiu menatap pada Ben tidak percaya.


"Untuk apa aku menghalangimu. Jika kau pintar, kau pasti akan memilih untuk jauh. Lufas punya banyak cadangan wanita."


"Apa maksudmu Mika?"

__ADS_1


"Entahlah."


***


Sya dan Mike baru saja berhenti di depan rumah Lufas. Sya bersiap turun, tapi tangan Mike menahanya.


"Ada apa lagi? Kau sudah mengantarku."


"Aku ingin kau pulang ke rumahku lagi."


"Tidak. Aku punya rumah sendiri."


"Di sekitar rumahmu sudah banyak orang Tom. Apa kau mau kembali?"


Saat ini apa yang dikatakan Mike benar. Meski begitu, Sya masih menolak kembali ke rumah Mike. Sya merasa tidak nyaman berada disana.


"Aku harap kau tidak menolakku sekarang. Bagaimanapun, aku sudah menyelamatkanmu."


"Aku sudah berterima kasih."


"Dan aku masih ingin kau berterima kasih lagi. Dengan cara lain."


Sya mengernyitkan dahi.


Lufas hanya menatap Sya dengan senyum aneh.


Sya tidak mengatakan apapun lagi. Dia langsung turun dari mobil Mike. Dia masuk, saat baru saja melewati pintu. Sya berpapasan dengan Ben dan Xiu.


Mereka saling diam. Hanya tanpa mereka sadari mereka bertatapan cukup lama. Suara Bi Sali membuat Sya sadar. Dia langsung masuk ke kamar Danendra.


"Jika Sya tahu apa yang sudah kau lakukan. Dia pasti akan sangat marah."


Xiu menoleh pada Ben. "Jadi, kau hanya perlu diam dan tidak mengatakan padanya."


Ben tidak menjawab. Dia langsung masuk ke mobil diikuti oleh Xiu.


Dari lantai atas Lufas melihat semuanya. kedekatan Sya dan Mike, membuatnya merasa sangat marah. Bahkan dengan tangannya sendiri dia memecahkan gelas.


Darah mulai mengucur dari sela jari Lufas. Meski begitu, Lufas merasa tidak sakit. Dia merasa hatinya lebih membutuhkan obat dari pada lukanya itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jo saat melihat tangan Lufas yang berdarah.


Naluri Jo yang seorang dokter langsung mengambil kotak P3K. Lufas hanya diam saat Jo mulai membersihkan luka itu. Beberapa kali Lufas terlihat kesakitan karena pecahan gelas yang Jo ambil dari tangannya.


"Kau masih merasakan sakit. Kenapa kau melakukannya."


"Kau jomblo mana tahu yang aku rasakan."


Jo diam begitu Lufas mengatakannya. Saat itu Lufas menceritakan semua hal tentang Sya. Jo mendengarkan dengan seksama. Sampai Lufas kembali diam.


"Jadi apa yang mau kau lakukan?" Tanya Jo.


"Apa kau mau membantuku?" Lufas menatap pada Jo.


"Aku akan mencoba membawa cintamu kembali padamu."


Lufas mengatakan banyak hal. Jo hanya perlu melakukan apa yang Lufas mau. Lufas berharap dengan cara ini Sya mau kembali padanya.

__ADS_1


__ADS_2