
Tiga hari Sya di dalam rumah sakit. Sampai akhirnya dia diperbolehkan pulang. Kali ini Arda tidak bisa menjemputnya karena dia sedang ada urusan di luar kota.
Kali ini Dava yang akan menjemput Sya. Dia menjemput adiknya setelah mendapat persetujuan dari Arda.
"Mau aku bantu?" tanya Dava yang melihat jalan Sya yang masih tertatih.
"Tidak perlu. Kau pergi saja dulu ke mobil, aku masih ada urusan," kata Sya.
"Baiklah."
Dava keluar dari ruang rawat Sya dengan tas di tangannya. Tas itu berisi barang-barang Sya saat di rumah sakit.
Merasa hatinya tidak tenang. Sya mengambil ponselnya dan memanggil suaminya. Setelah dering kesekian kalinya akhirnya panggilan itu dijawab oleh Arda.
"Halo, Sya. Apa ada masalah?" tanya Arda langsung.
"Tidak. Aku hanya merasa aneh saat kau jauh dariku."
"Maaf aku tidak bisa menjemputmu. Aku ada urusan mendadak diluar kota. Maaf," ucap Arda yang merasa menyesal karena tidak bisa menjemput Sya.
"Tidak masalah. Cepat kembali, aku tidak suka sendirian di rumah."
Terdengar jika Arda menghela nafas. "Apa kakakmu tidak mengatakan padamu?"
"Mengatakan apa?"
"Aku meminta kakakmu untuk menginap di rumah kita."
Sya merasa aneh. Kenapa bisa Arda langsung begitu dekat dengan Dava. Padahal dia biasanya sangat dingin dengan orang lain.
"Sya. Apa kau masih disana?"
"Ya. Aku akan pulang dulu, cepatlah kembali."
"Iya. Jaga diri. Aku mencintaimu," kata Arda.
"Aku juga mencintaimu."
Sya menutup telfon itu. Dia keluar dengan langkah yang masih lemah. Walau bukti Dava adalah kakaknya sudah kuat. Tetap saja Sya belum merasa nyaman seperti dulu. Dia masih merasa ada yang salah.
Sampai di parkiran. Sya melihat mobil Arda, tapi Dava yang berada di tempat kemudi. Di dalam mobil Sya juga melihat seseorang. Wanita dengan baju sexsi dan sebuah tindik di hidungnya.
"Kak," panggil Sya.
Dava menoleh dan tersenyum. "Perkenalkan. Dia Eva, pacarku."
Sya hanya tersenyum. Hanya saja hatinya merasa tidak nyaman. Sya masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Eva. Dia terlihat seperti gadis yang kurang baik. Bahkan bahasanya juga cukup kasar bagi Sya.
***
Sampai di rumah. Sya meminta beberapa pelayan untuk membersihkan dua kamar tamu. Tidak mungkin jika Dava dan Eva tidur di ruang tamu.
"Tolong bersihkan dua kamar tidur untuk kakakku," kata Sya.
"Dua?" tanya Eva "kami sudah biasa bersama."
Sya menoleh tidak percaya. Setahu Sya Dava dan Eva belum menikah. Bagaimana bisa mereka tidur di kamar yang sama dan tinggal bersama.
"Ayolah Sya. Jangan terlalu kuno. Kau dulu juga pasti melakukan hal itu dengan Arda."
Sya hanya menggeleng. Lalu dia memilih masuk ke dalam kamar. Sementara Dava terlihat biasa saja. Dia juga meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Sya terus berfikir, dia tahu jika kakaknya tidak mungkin melakukan hubungan semacam itu. Hubungan yang tidak baik bagi beberapa orang.
Tok tok tok.
Sya membuka pintu kamar. Dava berdiri di depan pintu dengan tatapan aneh. Sya tidak memintanya masuk. Dia hanya ikut menatap kakaknya.
"Sya. Aku kesini untuk minta maaf," kata Dava kemudian.
"Maaf?"
"Ya. Pacarku terlalu bebas, jadi kami melakukan hal ini."
"Lalu?"
"Aku ingin kau menerimanya. Kau tahu, aku sangat mencintainya."
"Apa ibu tahu tentang hal ini?"
"Ya. Dia tidak masalah dengan hubungan kami."
Sya tidak percaya dengan jawaban itu. Tidak mungkin ibu Zein akan melakukan hal itu. Memberikan restu untuk hubungan yang tidak sah.
"Jika sudah selesai aku akan menutup pintu lagi," kata Sya.
"Tunggu."
"Apa lagi?"
"Sya. Sebenarnya aku ingin meminjam uang darimu. Suamimu kan kaya, aku ingin meminjam beberapa uang."
"Untuk apa, Kak?"
Meras kurang pantas berbincang di pintu. Sya meminta untuk duduk di ruang keluarga. Dia mendengarkan semuanya dari Dava. Banyak kecurigaan yang kembali muncul di hati Sya.
"Kak. Aku tidak punya uang sebanyak itu. Aku juga tidak mungkin untuk meminjam uang pada suamiku."
"Tolong aku. Jika tidak aku akan dipenjara."
"Maaf. Aku tidak bisa."
Sya masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Dia tidak ingin diganggu kali ini. Sebuah dering telfon membuat Sya langsung mendekat ke arah ponselnya. Arda menelfon.
"Halo," sapa Sya dengan semangat.
"Kau terdengar bersemangat."
"Ya. Hanya saja aku masih merasa sepi. Kau tidak ada disini," ucap Sya.
"Aku akan cepat kembali jika urusan sudah selesai."
"Oh ya. Aku ingin sedikit bercerita, apa kau ada waktu luang?" tanya Sya.
"Saat ini aku tidak sibuk."
"Baguslah. Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Katakan saja."
Sya mengatakan semuanya. Kegelisahannya tentang Dava juga pacarnya. Dia juga tidak percaya jika ibunya bisa memberikan ijin pada Dava mengenai hal itu.
Terdengar jika Arda menjadi orang yang mau mendengarkan keluh kesah istrinya. Walau dia tahu sudah ada yang salah sejak awal. Walau begitu, dia juga harus menjadi suami yang baik. Menyelesaikan masalah tanpa perlu membuat sang istri khawatir.
__ADS_1
"Walau dia punya bukti yang kuat. Aku tetap tidak percaya jika dia adalah kakakku," itu kalimat terakhir yang dikatakan Sya.
"Jika kau percaya padaku. Aku akan selesaikan semuanya untukmu."
"Benarkah? apa itu tidak merepotkan untukmu?"
"Tentu saja tidak."
Sya tersenyum.
Sudah beberapa hari ini Arda tidak meminum obat, tapi sikapnya tidak berubah. Dia malah terlihat lebih perhatian pada Sya. Setelah menutup telfon. Sya masuk ke dalam kamar mandi. Dia berniat untuk berendam disana.
Perlahan bayangan kakaknya muncul. Walau Dava berada di dekatnya, Sya masih saja tidak bisa menghilangkan rasa rindu dihatinya. Dia masih saja menyebut nama kakaknya.
***
Bruk. Sya meletakan sebuah tas dihadapan Eva dan Dava. Mereka terlihat senang dengan apa yang Sya berikan. Bahkan Eva terlihat akan berliur melihatnya.
"Aku sudah bawakan uangnya. Kau bisa menggunakannya, Kak."
"Bukankah kau mengatakan jika kau tidak punya uang?"
Sya tersenyum dan duduk di hadapab Eva dan Dava. "Aku memang tidak punya, tapi suamiku punya. Apa lagi kau adalah kakakku."
Dava tertawa dengan lebar. Dia merasa senang karena sudah dianggap kakak oleh Sya.
"Besok aku akan mengajak kalian jalan-jalan. Bersama ibu," kata Sya.
Dava merubah ekspresi wajahnya. "Kemana?"
"Rahasia."
Eva mengambil uang itu dan berkata, "Aku akan senang jika kau mengajak kami jalan-jalan."
"Kalau begitu aku harus pergi ke kantor suamiku dulu. Kalian bisa tinggal disini," kata Sya.
Helaan nafas keluar dari bibir Sya. Ternyata akting bukanlah bakatnya. Dia harus menahan segala perasaan yang ada di dalam hatinya.
Sampai di kantor Arda. Sya diantar oleh seorang wanita yang mengaku sebagai bawahan Arda. Dia mengantar Sya sampai di ruangan yang sudah ditentukan.
"Silahkan masuk," kata wanita itu.
"Terima kasih."
Sya membuka pintu. Terlihat Arda sedang berdiri menatap keluar jendela. Sya mendekat dan langsung memeluknya.
"Apa kau sudah melakukan apa yang aku katakan?" tanya Arda langsung.
"Tentu. Aku sudah melakukannya, hanya saja aku masih merasa tidak nyaman di hatiku."
"Apa karena kau bohong pada mereka?"
Sya menggeleng. "Tidak. Aku hanya merasa gelisah."
Arda menangkup wajah Sya dengan kedua tangan. Dia menatap lekat wajah Sya. Dia tahu, ini berat jika Sya sendiri.
"Kegelisahanmu ini akan segera sirna. Aku janji padamu."
Kemudian Arda menarik Sya masuk ke dalam pelukannya. Sya tidak tahu jika Arda tidak pergi karena pekerjaan. Arda pergi karena ingin melihat apa yang dilakukan Dava pada Sya.
***
__ADS_1