
Suasana pagi seperti biasanya. Sya selesai menyiapkan baju untuk Arda yang akan pergi ke kantor. Sementara nyonya Ken sedang ada perjalanan bisnis.
Tidak adanya nyonya Ken di rumah itu membuatnya lebih bebas. Dia bisa masak untuk Arda dan melakukan aktivitas lainnya. Jika ada nyonya Ken, Sya tidak akan bisa melakukan semuanya.
"Apa kau memasak lagi hari ini?" tanya Eri pada Sya.
Sya mengangguk dengan semangat.
"Bukankah Nyonya Ken sudah mengatakan. Kau tidak boleh kelelahan. Kau nyonya di rumah ini."
Sya menghela nafas dan tetap melanjutkan pekerjaanya itu. Eri begitu suka mengatur, seperti nyonya Ken. Kini Sya dan Eri juga jarang melakukan hal bersama.
Eri lebih sering bersama nyonya Ken. Dia sudah seperti asistenya saja. Padahal awalnya Eri menjadi asisten untuk Sya.
"Sya!"
Kali ini Eri berteriak cukup keras pada Sya. Dia bahkan membuat beberapa pelayan di dapur itu menoleh.
"Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan? kau tidak boleh masak. Apa lagi sampai kelelahan."
"Kau bilang aku ini nyonya disini. Jadi, aku bisa melakukan apapun yang aku mau."
"Kau adalah tanggung jawabku selama Nyonya Ken tidak ada disini."
"Aku kira kau temanku. Ternyata kau adalah bawahannya Nyonya Ken. Aku pergi."
Sya berlalu begitu saja dari dapur. Dia tidak menyelesaikan memasaknya. Rasa yang awalnya begitu diliputi semangat. Kini lenyap.
Brak. Sya membuka pintu kamar dengan kasar. Begitu juga saat menutupnya kembali. Dia langsung melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kau kenapa?" tanya Arda yang melihat tingkah aneh dari Sya.
"Apa aku salah jika aku memasak dan membersihkab rumah. Aku wanita, sudah seharusnya aku melakukannya."
Arda tersenyum geli melihat tingkah Sya. Dia mencoba mengelus rambut Sya dengan perlahan. Tetap saja Sya tidak terlihat senang.
"Apa yang kau mau saat ini?" tanya Arda kemudian.
"Aku ingin kita pindah. Hanya ada aku dan kau," kata Sya.
Wajah Arda langsung terlihat berubah. Dia tidak terlihat senang saat Sya meminta hal itu. Dia merasa takut dan tidak bisa membuat Sya bahagia. Seperti yang dikatakan nyonya Ken.
"Apa kau tidak ingin bersamaku?"
"Bukan begitu Sya. Kita harus memikirkannya lagi. Kita juga harus meminta ijin pada orang tua kita. Mereka setuju atau tidak."
__ADS_1
Sya mengangguk. Dia setuju dengan apa yang dikatakan Arda. Mereka akan meminta ijin lebih dulu nanti.
"Baiklah. Aku akan menunggu Mama pulang dan mengatakan semuanya," kata Sya dengan senyuman.
Hanya anggukan yang diberikan Arda. Walau raut wajahnya tidak berubah. Sya tidak tahu jika Arda tidak setuju untuk pindah. Apa lagi hanya berdua.
"Kalau begitu. Aku pergi ke kantor dulu," pamit Arda.
"Aku akan mengantarkan kamu sampai ke depan."
Setelah Sya memastikan Arda benar-benar pergi. Sya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu. Apa lagi, Eri juga tidak di rumah. Dia sendirian kali ini.
Langkah Sya masuk menuju ruang kerja Arda. Dia mulai mencari barang yang sejak kemarin dia cari. Sampai saat Sya membuka laci meja. Sya menemukan apa yang dia cari.
"Akhirnya aku menemukannya."
Sya menggenggam satu botol obat itu. Dia memasukannya ke dalam saku dan keluar dengan tenang. Untuk sementara ini, Sya akan menyembunyikan obat itu. Dia ingin melihat seperti apa Arda tanpa obat itu.
***
Malam sudah semakin larut. Sya masih setia menunggu kembalinya Arda dari kantor. Tidak ada yang akan menyambutnya jika nyonya Ken tidak di rumah.
Sementara ini, Jovi dan Mila tidak tinggal di rumah itu. Mereka memilih tinggal di dekat rumah sakit anak. Tentunya agar Sima tetap dalam pengawasan mereka.
"Sya. Kau lebih baik tidur di kamar saja. Aku yang akan menunggu Arda," kata Eri.
Eri tertawa. Jika diingat lagi, sampai saat ini belum ada kata cinta diantara Arda dan Sya. Walau begitu dia melihat Arda dan Sya sudah saling nyaman.
"Bukankah kau tidak mencintainya?"
Sya diam. Dia tidak menjawab, entah karena malu atau apa yang jelas wajah Sya memerah.
"Aku pulang."
Tanpa aba-aba Sya langsung mendekat pada Arda. Dia terlihat lelah dan tidak bersemangat. Sya tahu hal itu, jadi dia sudah membuatkan minuman khusus untuk suaminya itu.
Eri memilih untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak mungkin mengganggu sepasang kekasih itu. Dia tidak ingin ada masalah nantinya.
"Apa kau sangat lelah? aku sudah membuatkan minuman untukmu. Di kamar."
Arda tersenyum. Dia berjalan di depan Sya. Sampai saat ini, Sya masih merasakan Arda seperti biasa. Tidak ada yang berubah.
Di dalam kamar Arda juga melakukan hal yang sama. Tidak berubah, dalam sikap maupun fisik. Sya merasa jika obat itu tidak penting untuk Arda. Itu hanya sebuah vitamin.
"Arda. Apa kau ingin tidur lebih awal kali ini?"
__ADS_1
"Ya. Aku sangat lelah. Aku akan tidur lebih dulu," kata Arda.
Sya hanya bisa mengangguk dan membiarkan suaminya itu tidur. Sementara kantuk belum juga datang menghampirinya. Sya memilih untuk membaca buku dengan teh hangat yang menemaninya.
***
Dya terbangun karena cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya. Tubuhnya terasa sakit dan lelah saat bangun. Dia bangun masih berada di atas sofa.
Biasanya Arda akan memindahkannya saat malam. Malam tadi sepertinya Arda sangat lelah. Dia tidak membangunkan atau memindahkan Sya.
"Apa kau sudah bangun sejak tadi?" tanya Sya yang melihat Arda keluar dari kamar mandi.
Diam. Arda bahkan tidak menoleh pada Sya. Lalu, Sya bergegas mendekat pada almari Arda. Dia akan menyiapkan baju seperti biasanya.
"Bukankah aku sudah pernah bilang. Aku bisa melakukannya sendiri," kata Arda dengan nada ketus.
"Arda, biasanya aku yang menyiapkannya untukmu."
"Apa kau sudah mulai bermimpi. Sejak kapan kau melakukannya. Apa kau sudah benar-benar jatuh cinta padaku."
"Arda," lirih Sya yang tidak percaya dengan tingkah Arda pagi ini.
Saat Sya akan pergi. Arda mencegahnya, dia menarik Sya mendekat padanya. Sya kira, Arda hanya bercanda padanya.
"Kau itu hanya wanita perebut. Jadi, jangan harap aku akan mencintaimu."
Sya hanya bisa menatap Arda dengan tidak percaya. Bagaimana bisa Arda mengatakan hal itu lagi. Padahal, dia dan Arda sudah lama berbaikan. Hubungan mereka sangat baik sampai tadi malam.
Sya mencoba mencari botol obat itu, tapi tidak ketemu. Sya mencoba mengingat dimana dia meletakan obatnya.
"Aku ingat."
Sya berlari dengan cepat ke tong sampah. Dia mencari obat itu disana. Tadi malam Sya memang membuangnya. Dia menyangka obat itu hanya vitamin. Bukan obat yang penting.
"Kau sedang apa Sya?" tanya Eri.
"Dimana semua sampah?" tanya Sya.
"Semuanya sudah dibersihkan. Apa ada sesuatu yang hilang atau kau tidak sengaja membuangnya?"
Sya terlihat gelisah dan ragu.
"Aku tidak sengaja membuang gelangku tadi malam."
"Sudahlah Sya. Kau bisa membelinya lagi," kata Eri.
__ADS_1
Sya mengangguk dan kembali ke kamar. Jika sampai nyonya Ken pulang dan Arda masih seperti ini. Dia pasti akan marah. Sya tidak tahu harus bagaimana lagi saat ini. Mau tidak mau dia harus menunggu nyonya Ken kembali dan memberikan Arda obat itu.
***