The Way Love

The Way Love
LXXXII


__ADS_3

Suara kicauan burung memberi tanda bahwa hari sudah mulai pagi. Perlahan, Sya membuka matanya. Beberapa kali matanya mengerjap.


Pagi yang indah. Baru saja membuka mata Sya sudah disuguhi pemandangan yang memanjakan mata. Buk. Sya kaget saat sebuah tangan tiba-tiba hadir di pangkuannya.


Saat Sya menoleh, Sya melihat Lufas yang masih terlelap. Dia tidak tahu kapan Lufas berada disana. Semalam, Sya hanya ingat jika dirinya merasa sangat mengantuk dan memutuskan tidur.


Perlahan Sya memegang tangan Lufas. Dia mencoba menyingkirkan tangan itu. Jika sampai Lufas terbangun. Suasananya pastu akan sangat canggung jadinya.


"Pagi," ucap Lufas.


Sya kaget. Dia sedang fokus memindahkan tangan Lufas. Kini Lufas sudah membuka matanya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Lufas kemudian.


"Aku...aku... Selamat pagi Lufas."


Sya merasa dirinya sangat lucu kali ini.


Lufas bangun dan duduk di samping Sya.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Sya, "Maksudku. Semalam kau pulang jam berapa?"


"Aku pulang jam dua tadi. Melihatmu sudah sangat lelap. Aku tidak tega membangunkannya."


"Benarkah?"


"Ya."


Mereka berdua kini hanya saling diam. Sya merasa sangat canggung dalam hal ini. Walaupun dia pernah menikah. Ini berbeda, dia belum mencintai Lufas.


Sampai akhirnya Sya memutuskan untuk bangun dari tempat tidur. Dia masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh pada Sya.


Diam. Itulah yang dilakukan Sya. Dia tidak tahu situasi macam apa ini. Rasa gugup menguasai dirinya. Dia dan Lufas memang sudah menikah, tapi ikatan itu hanya di atas kertas. Belum mengikat hati mereka.


Hidangan sarapan sudah disiapkan. Sya keluar dari kamar tamu dengan sebuah handuk di tangan. Ya, karena tidak ingin menunggu. Sya memilih untuk mandi di kamar tamu.


"Nona, Tuan sudah menunggu."


"Sebentar lagi aku akan datang."


Saat kembali ke kamar. Sya melihat kamar itu sudah seperti kemarin. Rapi, tanpa barang tercecer. Hal itu memang menyenangkan, tapi menurut Sya. Dia tidak memiliki ruang privasi.


"Aku sudah lama menunggumu."


"Maaf. Baru saja aku mau ke ruang makan."


"Baiklah. Ayo kita kesana bersama," ucap Lufas.


"Ya."


Hidangan pagi itu sangat sederhana. Roti dengan selai. Melihat susu di dalam gelas, Sya merasa dirinya seperti anak kecil.


"Tolong ganti minumanku dengan jus."


"Baik, Nona."


Saat sarapan. Sya hanya diam, sementara Lufas sibuk dengan ponselnya. Tanpa sadar Lufas dan Sya menampakan kepribadian masing-masing. Tidak seperti awal bertemu.


"Lufas," panggil Sya kemudian.


"Ya. Ada apa?"


"Boleh aku minta sesuatu?"


Lufas meletakan ponselnya dan menatap pada Sya.


"Katakan saja."


"Apa kau tidak akan marah?"


"Tentu saja. Untuk apa aku marah."


"Sebenarnya, aku ingin meminta sebuah kamar. Aku tahu. Kita sudah resmi menikah. Hanya saja, kau tahu bukan apa yang aku rasakan."


Senyum diwajah Lufas memudar. Walau begitu, sebuah senyuman tipis yang dipaksakan hadir kembali di bibir Lufas.

__ADS_1


"Ya. Kau bisa pakai kamar utama. Aku akan pindah ke kamar tamu."


Mendengar hal itu Sya merasa tidak enak hati.


"Jangan begitu Lufas. Aku saja yang pindah."


"Aku membuat kamar itu untukmu. Pakai saja sesuka hatimu."


Wajah Sya tertunduk. Dia mwrasa bersalah dengan semua kebaikan yang diberikan oleh Lufas.


"Kenapa kau begitu baik padaku?" lirih Sya.


"Karena kau istriku."


Jawaban itu seketika membuat Sya diam. Istri. Dia bukanlah wanita bebas lagi. Dia memiliki suami yang sah saat ini. Dirinya sudah terikat dengan ikatan itu, walaupun masih dalam perasaan yang datar.


"Aku pergi ke kantor dulu. Kau bisa lakukan apa yang kau suka."


"Terima kasih."


Dengan kemauannya sendiri. Sya mengantar Lufas sampai depan rumah. Setelah itu dia kembali masuk ke dalam.


Matanya tiba-tiba saja tertuju pada sebuah ruangan dengan cat pintu yang berbeda dari yang lain. Yang lain berwarna coklat, sementara pintu itu berwarna merah.


Perasaan penasaran menuntun Sya untuk mendekat. Dia ingin tahu apa yang ada di dalam ruangan itu. Apa ada hal yang indah, atau sebaliknya.


"Nona," panggil seorang pelayan saat Sya sudah memegang gagang pintu.


Sya menoleh. "Ya."


"Maaf, Nona. Nona tidak boleh masuk ke ruangan ini."


"Kenapa?"


"Tuan sendiri yang menguncinya. Tidak ada yang boleh masuk selain dia."


"Baiklah."


Tidak ingin mengganggu privasi siapapun. Sya memilih untuk diam di kamar. Dia akan menelfon Eri atau Ruka. Tentunya untuk mengisi waktu luangnya.


***


Eri tertawa kecil. "Apa kau tahu tentang mantan istrinya dulu?"


"Aku hanya tahu jika dia mirip denganku."


"Mungkin itulah yang membuatnya jatuh cinta padamu."


"Tetap saja. Aku masih tidak percaya. Kau tahu bukan aku dan dia sepakat dalam hal ini."


Kali ini bukan tawa kecil lagi. Eri tertawa dengan cukup keras.


"Kau dan kakakmu sama saja. Kalian hanya fokus pada diri sendiri. Sya, perasaan itu bisa berubah. Kau saja ingin melupakan Arda."


Kali ini tidak ada jawaban yang Sya berikan. Dia hanya tersenyum kecut mendengar nama Arda.


"Lalu apa maumu saat ini?" Kali ini Eri bertanya serius.


"Aku ingin membuka hatiku untuk Lufas. Dia terlalu baik selama ini."


"Baguslah. Fokus saja menerimanya. Kalau begitu sudah dulu. Aku ada urusan lain."


"Ya, baiklah."


Telfon iti terputus. Dengan adanya Eri, Sya merasa tidak sendiri. Apa lagi saat ini dia tinggal di vila. Tidak ada tetangga yang dekat disana. Hanya ada beberapa pelayan yang kadang pulang.


Tok tok tok.


"Siapa?"


"Saya, Nona."


Sya membuka pintu. Dia melihat seorang pelayan yang tersenyum manis padanya.


"Ya, ada apa?"

__ADS_1


"Saya kesini karena diperintah Tuan untuk mengambil barang-barangnya."


Kali ini Sya diam. Dia tidak tahu harus mengizinkannya atau tidak. Dia memang belum mencintai Lufas. Hanya saja, Lufas adalah suaminya saat ini.


"Apa Lufas sudah kembali?"


"Belum, Nona."


"Kalau begitu. Biarkan saja semuanya disini. Tidak usah dipindahkan."


Pelayan itu mengangguk. Lalu, dia berkata lirih, "Nona sangat berbeda dengan mantan istri Tuan."


"Apa kamu bilang? Apa kamu tahu tentang masa lalu Lufas? Maksudku mantan istrinya."


Pelayan itu hanya diam menunduk.


"Sepertinya Lufas kembali. Aku akan berbincang denganmu nanti. Aku akan menemuinya lebih dulu," kata Sya.


"Baik, Nona."


"Tolong buatkan teh hijau untuk Lufas."


"Baik."


Sya bergegas turun dan menyambut kepulangan Lufas. Terlihat sekali jika Lufas begitu lelah.


"Kau kembali," kata Sya.


"Ya. Sedang apa kau disini?" Tanya Lufas.


Sya tersenyum. "Aku mendengar suara mobil. Jadi, aku langsung turun untuk melihatmu."


"Apa aku sedang bermimpi saat ini? Istriku menyambutku."


Sya sedikit tersindir dengan perkataan Lufas.


"Tuan ini teh hijaunya."


Lufas menoleh pada Sya. Kali ini Sya tersenyum. Hal itu juga membuat Lufas mengulas senyum.


***


Malam itu Lufas langsung masuk ke ruang tamu. Dia melihat ruangan itu masih bersih. Tidak ada barang miliknya disana. Hal itu membuat rasa kesalnya muncul.


"Pelayan!" Teriak Lufas.


Pelayan itu langsung datang mendekat. Dia menundukan wajahnya saat itu.


"Apa kau lupa dengan perintahku?"


"Tidak, Tuan."


"Lalu kenapa ruangan ini masih bersih. Kau letakan dimana barang-barangku?"


"Dikamar kita," ucap Sya.


Pelayan dan Lufas menoleh hampir bersamaan. Kali ini Pelayan itu merasa dirinya sudah terselamatkan. Sementara Lufas tidak paham dengan jalan pikiran Sya saat itu.


"Kau bisa pergi," kata Sya pada pelayan itu.


Lufas menatap pada Sya. Tentu saja meminta penjelasan dari Sya saat itu juga.


"Lufas. Aku salah, tidak seharusnya aku melakukan hal itu. Bagaimanapun, kita sudah menikah. Kau adalah suamiku."


"Lalu?"


Sya bingung dengan pertanyaan itu. Kini dia hanya menatap pada Lufas tanpa pikiran apapun.


"Jadi kau ingin kita sekamar?" Tanya Lufas lagi.


"Ya. Tapi, kau tahu aku tidak akan tidur bersamamu. Aku akan tidur di sofa."


"Terserah kau saja."


Setelah mengatakan hal itu. Lufas langsung masuk ke kamar. Dia mencoba untuk tenang dan tidak merasa marah karena perlakuan Sya yang plin plan. Kadang Sya terlihat begitu dekat dengannya, tapi kadang Sya terasa sangat jauh darinya.

__ADS_1


***


__ADS_2