The Way Love

The Way Love
CXXIX


__ADS_3

Lima tahun telah berlalu.


Sya masih tetap sama. Hanya dia merasa berbeda, dia memilih untuk tetap menjadi orangtua tunggal bagi Danendra. Dia tidak pernah memikirkan pernikahan dan dekat dengan seorang pria.


Danendra tumbuh menjadi anak laki-laki yang baik juga cerdas. Bagaimana tidak, dia begitu mandiri dengan segala hal. Dia juga mendapat nilai baik saat berada di sekolah.


Ben masih sama. Selalu ada saat Sya membutuhkan. Beberapa kali Ben mencoba memperlihatkan perhatian lebih pada Sya. Walau hasilnya sama, Sya masih mengingat Lufas.


***


"Ma. Papa kenapa tidak datang lagi," kata Danendra saat melihat Sya masuk ke rumah.


Sya menampakan wajah datar dan duduk di depan Danendra. Sejak bisa bicara, Danendra selalu mengatakan jika ada papa di sampingnya. Hal ini cukup mengganggu bagi Sya. Meski begitu, Sya tetap menampakan wajah biasa saja di depan Danendra.


"Sayang. Mama kan sudah bilang. Ayah Nendra tidak lagi sama kita."


"Ma, papa setiap minggu datang dan kali ini tidak."


"Nendra. Mama capek dan baru saja pulang. Bisa Nendra masuk kamar dan kerjakan PR."


"Ma," panggil Danendra.


"Sayang. Tolong," ucap Sya.


"Baiklah Ma."


Danendra mau masuk ke kamarnya. Sya duduk di sofa dengan tangan yang memegang kepala. Dia sudah membawa Danendra ke dokter, hasilnya tidak ada masalah. Hanya saja kenapa Danendra selalu mengatakan tentang papanya.


"Ini tehnya. Nendra buat ulah lagi ya, Bu?" Tanya Bi Sali.


"Bi, apa Bi Sali benar tidak tahu apa-apa tentang ini?"


"Bu, Danendra haya dekat dengan keluarga. Tidak dengan yang lain."


Sya hanya diam dan menyesap teh dari cagkirnya. Dia mersa bersalah disaat Danendra seperti itu. Walau begitu, tidak mungkin Sya menikah hanya karena ingin mencari sosok ayah untuk Danendra.


Ponsel Sya berderiing. Nama Xiu tertera dilayar ponsel. Dengan enggan Sya mengangkat telfon itu.


"Sya. Bisa aku ke rumahmu. Aku lagi sedang meeting di restoran ekat rumah kamu."


"Datanglah," lirih Sya.


"Suaramu terdegar tidak baik. Apa ada masalah?"


"Tidak ada."


"Aku akan segera datang ke rumah kamu."


"Ya."


Tidak membutuhkan waktu lama. Xiu akhirya sampai di rumah Sya. Dengan senyuman Sya mengajak Xiu untuk masuk.


"Dimana Nendra?" Tanya Xiu.


"Di kamar. Baru saja aku memintanya masuk."


"Nnendra. Tante Xiu datang," teriak Xiu.


Sya hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat semua ini. Dengan semnagat yang menggebu, Danendra keluar dari kamar dan langsung meenghmbur pada Xiu.


"Tante datang lagi? Ada apa? Apa mama yang memintamu datang?"


Sya menatap Danendra.


"Tidak. Aku yang ingin datang kesini, aku merindukan kamu."


Lalu Xiu mmeberikan sebuah mainan untuk Danendra. Dengan senang Danendra menerima manan yang Xiu bawa.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Xiu pada Sya.


"Aku baik-baik saja."


"Danendra. Apa mama kamu baik-baik saja?" Tanya Xiu kemudian.


Danendra menggeleng. "Dia tidak baik-baik saja."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Mama masih tidak percaya jika aku bertemu dengan Papa setiap minggu."


"Danendra. Cukup, masuk ke kamar."


Suara kerars ang dibuat Sya membuat wajah danedra langsung berubah. Dia terlihat takut sekaligus sedih.


"Sya. Jangan lakukan lagi," lirih Xiu.


Sya hanya diam. Dengan penuh perhatian, Xiu mengajak Danendra masuk ke dalam kamarnya. Sya hanya menghela nafas berat. Dia memilih untuk kembali duduk dan meminum tehnya.


Setelah beberaa lama menemani Danendra. Xiu keluar dan duduk dengan Sy. Xiu tahu, diia merasa kesal dan terganggu saat Danendra mengatakan tentang papanya. Susah payah Sya melupakan semua itu, tapi Danendra selalu membuatnya teringta.


"Sya. Kamu tidak seharusnya melakukan hal itu. Nendra masih kecil."


"Kak Xiu, aku tahu. Hanya emua ini menambah beban dipikiranku. aku merasa bersalah karena tidak bisa menjadi ayah sekaligus ibu yang baik."


"Sya. Aku beri saran. Carilah pria yang baik, dengan ini mungkin Nendra akan melupakan halusinasi tentang ayahnya itu."


Sya diam.


"Aku tahu Lufas masih ada di dalam hatimu. Hanya saja, ini untuk kebaikan Nendra. Dia butuh sosok ayah."


"Aku akan memikirkannya."


"Baguslah. Oh ya, aku kesini juga mau membahas hal pekerjaan. Banyak hal yang harus kita diskusikan."


"Kita pindah ke ruang kerja saja. Disini, kurang nyaman."


"Ayo."


***


Acara pemilihan model untuk perusahaan Sya sudah dimulai. Banyak berkumpul dewan dan juga orang yang Sya percaya untuk memilih model.


Bukan hanya model perempuan yang cantik. Banyak juga model pria yang datang dan direkomendasikan.


Sya menatap datar ke atas panggung. Dimana model-model akan berlenggak lenggok untuk memikat para juri. Sya duduk di barisan depan dengan Rista juga Xiu.


"Aacara akan segera dimulai," kata Rista.


Wajah Sya masih menunjukan ekspresi yang sama. Xiu beberapa kali melihat earah Sya. Sampai saat model-model pria yang datang. Xiu berharap, ada pria yang mampu membuat Sya jatuh hati. Setidaknya tertarik walau hanya sedikit.


Sampai saat seorang model pria yang datang. Kulitnya tidak putih, hanya cerah. Xiu menatap pada Sya, kali ini Sya sedikit menyunggingkan senyumnya. Tanpa pikir panjang, Xiu langsung memilih pria ini untuk menjadi model perusahaan.


"Namanya Mike," ucap Xiu.


Sya menoleh.


"Umurnya hampir sama dengan Lufas Dia juga perah menjadi model Lufas dulu."


Sya mengangguk-angguk.


"Aku akan perkenalkan dia padamu."


"Tidak perlu," ucap Sya sembari sedikit tertawa.


"Aku tahu, kau cukup tertarik."'


Sya hanya mengedikkan bahunya.


Setelah acara itu selesi. Sya dan Xiu menemui para dewan. Mereka sedikit membahas para model, banyak juga yang setuju jika mike menjadi model.


Sya tidak menanggapi apapun. Dia hanya mengamati saja. Meski begitu, Xiu suah memutuskan untuk mengenalkan Mike dan Sya secara pribadi.


"Sya. Aku pulang dulu ya," kata Xiu saat acara sudah benar-benar selesai.


"Ya. Aku juga akan pulang sebntar lagi."


"Dengan siapa?" Tanya Xiu.


"Sopir kantor."


"Sampai di rumah. telfon aku."


"Ya, hati-hati Kak."


Xiu mengangguk dan keluar dari gedung. Sya dan Rista masih siubuk dengan banyak hal. Sebuah pesan masuk ke ponsel Sya.

__ADS_1


Bisa kita makan malam bersama?


Sya meilhat siapa yang mengirim pesan. Ben. Dengan sedikit senyuman Sya membalas pesan setuju pada Ben.


"Rista. Sepertinya aku akan pergi makan dengan Ben. Kau bisa urus semua ini?"


"Tentu."


"Aku pergi."


Tidak disangka. Ben sudah menunggu Sya di mobil. Tanpa ragu Sya masuk ke dalam mobil yang Ben bawa. Mereka langsung meluncur ke tempat untuk makan malam.


"Bi, sepertinya aku akan pulang terlambat. Tolong jaga Nendra ya," kata Sya.


"Baik, Bu."


Sya meenutup telfon itu. Di dalam mobil Syadan Ben hanya membahas tentang pekerjaan dan geng yang sekarang dipimpin oleh Ben.


Geng mafia itu sebenarnya sudah hampir jatuh karena permusuhan dengan Tom. Hanya saja, Ben mampu mengatasinya. Sekarang geng mafia yang Ben urus sudah semakin besar.


Sampai di restoran. Ben sudah memesan sebuah meja, juga dengan makanan yang Sya sukai. Hal ini sedikit membuat Sya tersanjung.


"Kau melakukan semua ini dengan baik."


Ben mengulas senyum. "Hanya kau wanita yang dekat denganku."


Sya hanya tertawa. Mereka mulai makan dengan banyak obrolan sampai sebuah pertanyaan dari Sya membuat Ben tersedak.


"Menurutmu, apa Lufas masih hidup?"


"Sya. INi sudah berjalan terlalu lama. Jika dia masih hidup, kenapa dia tidak menemui kita."


"Benar juga."


"Kenapa kau menanyakan hal ini?" Tanya Ben.


Sya hanya mengedikkan bahu.


"Apa karena Nendra yang selalu menunggu papanya di hari minggu?"


Kali ini Sya mengangguk.


"Jangan dipikirkan. Itu hanya pemikiran anak kecil."


Setelah selesai. Mereka keluar dari restoran. Sya langsung memeluk irinya karena hawa dingin yang menerpa. Tanpa ragu, Ben melepas jas yang dia pakai, lalu memberikannya pada Sya.


"Kau bagaimana?"


"Aku masih bisa menahan dingin ini," kata Ben.


***


Sampai dirumah Sya langsung masuk. Dia sengaja tdak meminta Ben untuk mampir, karena Ben tidak akan menolak hal itu.


"Nyonya sudah pulang?" Tanya Bi Sali.


"Ya."


"Mama. Apa Om Ben yang mengantar Mama?" Tanya Danendra.


Sya mengangguk. "Bagaimana kau tahu Sayang?"


"Jas itu," Danendra menunjuk ke jas yang Sya pakai.


"Ya. Mama memang diantar oleh Om Ben."


"Apa kalian akan menikah?"


"Nendra. Kamu..."


Bi Sali mendekat pada Danendra. "Nendra Ini sudah malam. Waktunya tidur."


Dengan patuh Danendra masuk ke kamar. Sya hanya diam dan berniat masuk ke kamar. Meja ruang tamu masih belum dibersihkan. Ada beberapa gelas juga camilan. Sya tahu, anak Bi Sali yang baru saja datang.


Tanpa pikir panjang. Sya masuk ke dalam kamar dan memilih untuk membersihkan diri dan istirahat.


***

__ADS_1


__ADS_2