The Way Love

The Way Love
CXXXVIII


__ADS_3

Danendra sudah mulai membuka matanya. Sya mendekat dan mencium keningnya. Rasa gelisah berangsur hilang dengan Danendra yang membaik.


"Papa."


Wajah Sya langsung berubah begitu Danendra mencari Lufas. Jika boleh, Sya tidak ingin mempertemukan Danendra dengan Lufas lagi. Dia ingin memiliki Danendra untuk dirinya sendiri.


"Papa tidak bisa datang. Dia masih memiliki banyak pekerjaan."


Seperti tidak mendengar Sya. Danendra terus memanggil Papanya. Sya merasa tidak tega. Keluar, dia mencari nomor telfon Lufas. Tapi tidak ada, ya sejak Lufas kembali Sya tidak memiliki nomornya lagi.


Tidak ingin membuat Danendra menunggu terlalu lama. Sya memutuskan untuk ke kantor. Sudah paati jika Lufas berada disana saat ini.


Dengan sebuah taxi akhirnya sampai di kantor. Sya turun dan langsung menuju ke ruangan Bos. Banyak karyawan yang menyapa, dengan ramah Sya membalasnya.


Sampai di lantai paling atas Sya berpapasan dengan Rista. Rista sedikit berlari begitu melihat Sya keluar dari lift.


"Apa Lufas ada?" Tanya Sya.


"Ya, Bu. Dia ada di ruanganya."


Sya berjalan menuju ruangan yang dimaksud. Rista masih setia di sampingnya.


"Apa kita bisa bicara setelah ini?" Tanya Rista.


"Baiklah. Nanti aku akan menghubungimu."


"Aku senang kau mau berbicara denganku."


Sya membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu. Wajah Sya berubah, dia langsung berbalik badan. Saat ini, dia tidak tahu harus apa. Hanya saja, ada rasa sakit yang menjalar ditubuhnya.


Sejak kembalinya Lufas. Dia selalu membujuk Sya untuk kembali bersama. Awalnya Sya memikirkan untuk kesempatan itu. Kini, kesempatan itu langsung hilang saat Sya melihat ini.


Rista berjinjit untuk melihat apa yang ada di dalam. Sya langsung menariknya.


"Jangan lihat. Kembalilah bekerja," kata Sya.


Melihat ekspresi Sya saat ini Rista tidak mampu untuk menolaknya. Dia meninggalkan Sya disana.


Setelah mengatur nafasnya. Sya memilih untuk kembali menutup pintu. Dia memilih kembali ke rumah sakit. Memang seharusnya dia tidak datang kesini. Sya merasa begitu menyesal.


Di dalam ruangan. Lufas yang tengah asik bercumbu dengan Mika melihat sebuah bayangan. Lufas menatapnya, dia tahu jika dia adalah Sya.


Buru-buru Lufas membenarkan bajunya. Dia meminta Mika untuk segera pergi. Meski begitu, Mika memilih untuk memeluk tubuh Lufas.


"Sudah aku bilang pergi." Kali ini Lufas mendorong tubuh Mika hingga terjatuh.


"Apa yang kamu lakukan Fas?" Tanya Mika yang merasa bingung.


Lufas tidak berkata apapun. Dia keluar dan melihat Rasti di depan lift.


"Apa tadi Sya kesini?" Tanya Lufas.


Rasti mengangguk, tapi tidak ada kata apapun yang terucap. Rista tahu apa yang Sya lihat, dari cara berpakaian Lufas saat ini.


"Lufas. Kenapa kau meninggalkan aku?"

__ADS_1


Rista menoleh. Kini dugaanya benar. Saat ini Sya pasti merasa sangat sedih. Rista yang awalnya begitu menghormati Lufas. Rasa hormat itu langsung hilang.


"Fas. Jawab aku."


Pintu lift terbuka. Lufas masuk diikuti oleh Mika. Sementara Rista langsung melihat ke bawah melalui jendela. Dia melihat Sya yang sudah masuk ke dalam sebuah taxi. Rista merasa lega.


Sampai di bawah. Lufas tidak bisa menemukan Sya. Saat dia melihatnya, Sya sudah pergi dengan taxi. Lufas mengayunkan tinjunya pada tiang.


"Lufas." Mika mendekat.


"Pergi sebelum aku membuat luka diwajahmu," kata Lufas dengan wajah marah.


Mika ketakutan. Dia akhirnya menghentikan sebuah taxi. Untuk saat ini, dia tidak bisa mendekat pada Lufas.


***


Danendra melihat Sya masuk, tapi tidak melihat siapapun di belakangnya. Wajah bingung langsung tercetak di wajah Danendra.


"Dimana Papa? bukankah Mama mencari Papa?"


"Maaf Sayang. Mama tidak bisa Menemukan Papa." Sya mengatakan itu dengan menahan air mata.


"Kenapa Mama terlihat sedih?"


Sya langsung menggeleng. Dia mencoba untuk tersenyum di depan Danendra.


"Kata siapa Mama sedih. Mama hanya lelah karena menaiki tangga."


"Kenapa tidak menggunakan lift?"


Danedra akhirnya tersenyum. Saat ini Danendra begitu membutuhkan orang tuanya. Sya tahu dia akan sering bertemu dengan Lufas nantinya. Meski begitu, Sya mencoba tetap tenang saat bersama Danendra.


'Apa Ibu baik-baik saja?'


Sya membaca pesan dari Rista sembari tersenyum.


'Ya. Aku baik saja.'


'Apa kita bisa bertemu. Sudah lama aku tidak berbincang dengan Ibu.'


'Panggil saja aku Sya. Aku merasa lebih baik. Kita akan bertemu besok. Kau yang pilih tempatnya.'


'Tentu. Aku akan mengabarimu besok Sya.'


Sya kembali memasukan ponselnya.


"Siapa yang mengirim pesan?" Tanya Danendra.


"Teman Mama."


Pintu terbuka. Lufas masuk dengan waja datarnya. Lalu menyapa Danendra dengan senyuman. Dia juga menyapa Sya, tapi Sya hanya tersenyum kecil.


Saat Danendra dan Lufas sedang bermain. Sya memilih duduk di sofa dan berbalas pesan dengan Mike juga Rista.


Berita tentang skandal itu masih panas. Meski begitu, saat ini hanya Mike yang baru bertemu dengan wartawan. Sementara Sya masih mencoba mengumpulkan mentalnya. Dia tidak ingin dihujat karena hal ini.

__ADS_1


Seorang perawat masuk. Memberitahukan jika ini sudah waktunya Danendra untuk istirahat. Lufas dan Sya dipersilahkan untuk keluar.


Sya keluar lebih dulu, baru diikuti oleh Lufas. Sya tidak berniat membuka percakapan, tapi Lufas memilih untuk duduk di samping Sya.


"Apa kau melihatnya?" Tanya Lufas langsung.


Sya mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Apa maksudmu?" Sya balik bertanya.


"Jangan seperti itu Sya. Aku tahu kau sudah melihatnya."


"Ya. Lalu?"


"Aku bisa jelaskan. Dia Mika, wanita yang menjadi teman bermainku saat kau tidak ada."


Sya tertawa. "Kau bisa bermain dengannya sepuasmu. Lagi pula, bukankah kita sudah mengakhiri semuanya."


"Jangan katakan itu Sya."


"Kita pisah atau tidak pisah itu sama saja. Kau bermain dengan wanita lain, sementara aku sudah bahagia dengan anakku dan temanku."


Lufas kembali akan menyentuh Sya. Meski begitu, Sya menghindar dan bangun dari duduknya.


"Aku ada urusan lain. Selamat malam," Ucap Sya.


***


Anna dan Tom masih duduk di mobil. Kali ini Tom begitu kuat dalam geng gelap. Anna Merasa puas karena bisa menghabiskan banyak uang tanpa berfikir.


Walau Anna tahu, Tom masih sama. Dia suka bermain wanita. Walau Hanya Anna yang berhasil menjadi istri satu-satunya.


"Apa kau menginginkan sesuatu?" Tanya Tom.


"Belikan saja aku kalung model terbaru saat kau pulang meeting nanti."


"Tentu saja."


Sampai di vila Anna turun, tapi Tom tetap melanjutkan perjalananya. Dia ada meeting dengan beberapa bos gelap lainya. Dia masih saja mengincar Lufas, saat ini tujuannya hanyalah menghancurkan Lufas.


"Bagaimana kabar Lufas dan Sya?" Tanya Tom pada anak buahnya.


"Sya dikabarkan selingkuh dengan seorang model terkenal. Mike."


"Apa berita itu benar?"


"Masih belum ada kejelasan. Hubungan Sya dan Lufas terlihat renggang, walau Lufas masih terus Mengejarnya."


Tom tersenyum licik. Kecantikan dan raut wajah Sya memang memabukan. Jika saja Anna tidak melakukan operasi plastik. Sudah pasti Tom akan terus berada disisinya.


"Saat ini Lufas sudah melepaskan geng mafianya pada Ben. Meski begitu, Lufas masih memantaunya."


Tom mengangguk. "Cari tahu tentang Sya. Saat ini, aku ingin bertemu dan dekat dengannya."


"Baik."

__ADS_1


__ADS_2