
Suara tangisan Sya begitu keras. Membuat Bi Sali yang sedang masak di dapur langsung mematikan kompor. Dia berlari ke kamar Sya dan masuk.
Bi Sali begitu terkejut melihat Sya yang hanya mengenakan handuk sedang menangis. Tangisannya begitu memilukan, Bi Sali yang tidak tega mendekat.
"Nyonya. Ada apa?" Bi Sali mencoba bertanya.
Sya menatap Bi Sali. Tanpa ragu Sya langsung mendekat dan memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Bi Sali menepuk punggung Sya dengan perlahan.
"Nyonya bisa cerita dengan saya. Ada apa sampai seperti ini?"
"Bi, dunia memang tidak adil." Sya mengatakan dengan isak tangisnya.
"Nyonya harus sabar."
"Aku terus mencoba. Berharap jika yang melakukan kejahatan pada suamiku bisa mendapat balasan yang setimpal. Kini dia memilih pergi dan menolak balasan itu Bi."
"Nyonya jangan seperti itu. Orang itu pasti akan mendapatkan balasan di akhirat sana."
Sya terus saja menangis. Dia merasa kesal dengan apa yang terjadi padanya dan Lufas. Terpisah oleh maut dan Sya harus menghadapi semua ini.
"Sekarang Nyonya harus tenang. Bagaimanapun ini adalah takdir, bukalah hati nyonya. Jangan terkurung di dalam kesedihan."
Sya mendengar apa yang dikatakan Bi Sali. Hatinya menerima itu, tapi tidak dengan pikirannya. Dia masih saja menyalahkan takdir yang begitu menyedihkan.
Bel apartemen berbunyi. Bi Sali mencoba untuk menghiraukannya. Dia hanya ingin menghibur Sya yang saat ini sedang terguncang hati dan jiwanya.
Suara bel semakin sering dan keras. Sya melepas pelukannya dari Bi Sali. Dia menghapus air matanya dan memilih untuk menerima tamu yang datang itu.
"Tolong bukakan pintu itu Bi. Mungkin ada hal penting," kata Sya.
"Baik. Nyonya bisa pakai baju lebih dulu."
Sya mengangguk. Dia masuk ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Setelah itu berganti pakaian rumah. Dia merasa lebih lega setelah menangis.
Bi Sali membuka pintu. Dia langsung melihat tubuh tegap Ben. Ben terlihat begitu khawatir saat ini.
"Dimana Sya?" Ben langsung menanyakan Sya.
"Nyonya ada di kamar."
Ben masuk dan langsung mencari kamar Sya. Bi Sali ingin mencegahnya, tapi terhenti karena tangisan Danendra. Bi Sali memilih untuk datang pada Danendra.
Pintu tiba-tiba terbuka. Sya menoleh dan melihat Ben yang berdiri disana. Mata Sya kembali berkaca-kaca.
Ben langsung mendekat dan memeluk Sya. Saat ini dia hany memikirkan perasaan Sya. Bukan hal yang lain, Ben hanya menganggap Sya istri Lufas dan kakak. Tidak lebih.
Sya yang mendapat pelukan itu kembali menangis. Dia merasa tidak sendiri lagi saat ini. Hanya saja, rasa sakit di dalam hatinya masih saja terasa.
"Aku disini. Tenanglah," ucap Ben.
Sya tidak menjawab. Dia hanya menangis saja.
"Aku akan terus bersama denganmu. Kau tidak perlu takut. Jika ada masalah, kau bisa datang padaku. Aku akan selalu ada untuk kamu."
__ADS_1
Tok tok tok.
Pelukan Sya dan Ben terlepas. Bi Sali berada di pintu dengan tangan menggendong Danendra. Saat ini Danendra sudah bangun.
Sya mengusap air matanya dan mendekat pada Bi Sali. Dia mengambil Danendra dari Bi Sali. Senyum langsung terukir diwajah Sya.
"Kamu sudah bangun Sayang. Sekarang kita main ya," kata Sya.
Bi Sali menatap Ben. Mengisyaratkan agar Ben ikut dengannya saat ini.
"Sya aku duduk di luar ya," kata Ben.
"Ya. Aku akan menemuimu lagi."
Ben mengangguk. Meninggalkan Sya yang sibuk bermain dengan anaknya.
Bi Sali duduk di kursi makan. Berhadapan dengan Ben. Ben hanya menunduk tanpa berani menatap pada Bi Sali.
"Apa yang sudah kau lakukan?"
"Aku hanya ingin menghiburnya. Dia kakakku."
"Bagaimanapun, lebih baik jaga jarak."
"Aku tidak tega melihat Sya seperti itu."
"Kau tahu alasanku melakukan ini. Jaga jarak sebelum semuanya terlambat."
"Ya."
***
Anna masuk ke vila. Dia melemparkan tasnya sembarangan. Hal ini dia lakukan karena begitu kesal dengan sikap Sya. Sya begitu sombong dan angkuh bagi Anna.
"Apa yang terjadi padamu sayang?" Tanya Tom yang melihat wajah cemberut Anna.
"Untuk apa aku katakan padamu."
"Apa kau masih cemburu pada Sya? Aku hanya mencintaimu sayang," kata Tom yang langsung memeluk tubuh Anna.
Anna menolak pelukan itu. Dia duduk di sofa dan meminta seorang pelayan membawakan minuman dingin untuknya.
"Sayang."
"Apa lagi Tom?"
"Kau marah karena aku menemui Sya? Itu tanda kau sudah mencintaiku."
"Sudah aku katakan. Aku hanya mencintai Lufas, tidak mencintaimu."
"Kalau begitu. Susul dia ke akhirat," kata Tom.
Anna langsung menoleh mendengar perkataan Tom. Jika Tom benar-benar kesal dia pasti melakukan hal yang diluar akal.
__ADS_1
Baru saja Tom akan mendekat pada Anna. Pengawal pribadi Tom masuk. Dia tidak mengatakan apapun dan hanya menatap Tom. Meski begitu, Tom tahu maksud dari tatapan itu.
"Pikirkan apa yang baru saja kau katakan. Ada hal penting dulu yang harus aku urus."
Anna tidak bicara dan hanya menatap pada Tom. Ada rasa ingin tahu, tapi Anna menahan dirinya. Dia tidak ingin sampai membuat Tom semakin marah. Semua itu begitu mengerikan.
"Ada hal apa?" Tanya Tom saat sudah berada di ruangannya.
"Dia sudah mati."
"Apa yang sudah dia lakukan sampai kau membunuhnya?"
"Dia bertemu dengan Nona Sya. Cepat atau lambat dia pasti akan bicara."
"Lalu kenapa kau membunuhnya?"
"Aku tidak membunuhnya. Dia bunuh diri."
Wajah Tom berubah.
"Semua ini dia lakukan agar Nona Sya tidak tahu jika Tuan Tom yang melakukannya."
Tom menatap pengawal itu.
"Jika Tuan menginginkan Nona Sya. Nona Sya tidak boleh tahu tentang hal ini."
"Bagus. Berikan hadiah untuk keluarganya. Aku tidak mau jika mereka terlantar setelah ini."
"Baik, Tuan."
Pengawal itu sudah berniat untuk pergi, tapi Tom mencegahnya.
"Apa ada yang dekat dengan Sya saat ini?"
"Tidak. Saat ini hanya ada Ben yang berada disisinya."
Tom tersenyum licik. Jelas sekali jika dia memiliki niat yang tidak baik. Meski begitu, pengawalnya akan selalu mendukung.
***
Sya keluar dari kamar dengan Danendra di pelukannya. Dia melihat Bi Sali yang sedang masak.
"Bi. Dimana Ben?" Tanya Sya.
"Tuan Ben ada urusan mendadak. Jadi dia harus pergi."
Sya mengangguk. "Begitu ya."
"Nyonya mau makan apa. Biar saya masakan."
"Apa saja. Tolong diantarkan ke kamar ya. Saya mau menemani Nendra dulu."
"Akan saya antarkan nanti."
__ADS_1
Dengan lembut Sya meletakan Danendra ke kasur. Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Ben. Dia berterima kasih atas apa yang sudah Ben lakukan. Sya merasa lebih baik saat ini.
***