The Way Love

The Way Love
LXII


__ADS_3

Ruangan itu tampak sepi dengan kaca jendela yang terbuka. Hanya ada suara angin yang berhembus lembut melewati dedaunan. Bunga-bungapun bergoyang karena terpaan angin.


Ruka sengaja datang kerumah itu. Dia tidak ingin detektifnya datang sendiri ke kantor atau rumah sakit. Jika ada yang tahu Ruka meminta seorang detektif, sudah pasti akan ada yang menyembunyikan bukti.


Seorang pria paruh baya keluar dari dalam rumah dengan nampan berisi dua cangkir teh. Dia duduk dengan perlahan di depan Ruka.


"Maaf membuat Tuan repot datang kesini," kata Pria itu.


"Tidak apa, Pak. Aku hanya ingin mendengar laporanmu saja."


Pria itu mengangguk. "Saya akan ambilkan berkasnya."


"Ya."


Pria itu kembali masuk. Terlihat dari jalannya sudah susah, tapi kemampuan dalam menyelidiki pria itu tidak kalah dengan detektif saat ini. Alasan itulah yang membuat Ruka mengandalkannya.


Dering pesan masuk keponsel Ruka. Dia mendapat kabar jika Sya sudah mulai siumaj. Hal itu membuatnya merasa senang. Apa lagi, sejak kemarin Sya memang belum membuka matanya.


Walau dia sangat ingin berlari kerumah sakit. Ruka menahannya, dia akan melihat berkas laporan dari detektifnya. Dia ingin tahu apa yang menyebabkan hal mengerikan itu terjadi.


Sementara itu diruangan rumah sakit.


Sya mengerjapkan mata beberapa kali. Dia mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk kematanya. Sampai akhirnya Sya benar-benar membuka matanya.


Tidak lama seorang perawat mendekat pada Sya. Dia mengecek infus dan beberapa hal lain. Sya hanya diam sampai perawat itu bertanya, "Apa kau merasa lebih baik?"


"Ya," ucap Sya dengan lirih.


Perawat itu tersenyum, "Aku akan mengabari kakakmu. Dia pasti merasa senang."


"Dimana Kak Ruka?" Tanya Sya.


"Dia sedang pergi. Baru saja dia pergi, semalaman dia menunggumu tanpa tidur."


Sya diam. Dia tidak tahu jika kakaknya begitu sayang padanya. Bahkan rela tidak tidur untuk menjaganya semalaman. Ada rasa senang dihati Sya.


Hanya saja, dia merasa terluka saat mengingat kejadian malam itu. Kejadian dia harus merasakan sakit di area perutnya. Lalu, Sya ingat dengan kandungannya.


"Tunggu," kata Sya saat perawat itu akan keluar dari ruangannya.


"Apa kau membutuhkan sesuatu?"


"Aku hanya ingin bertanya. Bagaimana kandunganku?"

__ADS_1


Wajah Perawat yang semula ceria berubah. Wajah itu jelas sekali memancarkan kabar yang tidak baik pada Sya.


"Apa kandunganku baik-baik saja."


"Maaf, kami sudah melakukan semuanya semaksimal mungkin. Hanya saja, racun yanh kau minum terlalu banyak. Jadi, kami tidak bisa menyelamatkan kandunganmu."


"Apa? Ra...racun?"


Perawat itu mengangguk.


Sya merasa sangat hancur mendengar hal itu. Ternyata minuman yang diberikan oleh Arda adalah racun. Apa yang dikatakan Arda kini menjadi kenyataan, kandungan itu kini sudah gugur.


Tetes air mata keluar tanpa henti dari kedua mata Sya. Perawat yang memang sudah disewa oleh Ruka mendekat. Dia membantu Sya untuk duduk. Beberapa kali, Perawat itu memberikan tisu pada Sya.


Tanpa dikatakanpun, Perawat itu sudah tahu jika Sya merasa sangat terpuruk. Sampai akhirnya Ruka kembali. Dia melihat Sya yang sedang menangis.


"Apa yang sudah terjadi? Apa dia sudah tahu semuanya?" Tanya Ruka.


Perawat itu mengangguk.


"Kau bisa pergi. Aku yang akan mengurusnya," kata Ruka.


Perawat itu keluar. Sya masih saja menangis dengan segala luka didalam hatinya. Ruka mendekat dan duduk di samping Sya.


"Kenapa Arda tega Kak. Dia membuat kandunganku gugur," kata Sya.


"Kita cari pelaku sebenarnya. Kau harus ingat, jangan katakan pada siapapun jika kandunganmu sudah gugur."


Sya menoleh pada Ruka. Dia tidak tahu cara berfikir kakaknya itu. Walau begitu, Sya tahu jika apa yang dilakukan Ruka untuk kebaikannya.


"Kita bisa mengetahui pelaku sebenarnya jika kau melakukan hal ini."


"Baiklah."


Pelaku dalam hal ini memang belum terlihat jelas. Ruka masih mencoba untuk menyelidikinya. Walau harus mengesampingkan perasaan Sya saat ini.


"Kau harus tetap terlihat bahagia."


Sya hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia akan mengikuti semua yang dikatakan kakaknya. Dia tidak akan melanggarnya.


Ruka tidak ingat jika Jovi juga ada disana saat Dokter mengatakan hal tentang Sya. Hal itu mungkin akan jadi masalah nantinya.


***

__ADS_1


Sebuah rumah mewah berwarna biru muda terlihat sangat sepi. Bahkan tidak tampak jika ada penghuninya. Walau beberapa tetangga rumah itu tahu. Sang pemilik bukanlah orang sembarangan.


Beberapa orang terlihat berlalu lalang melewati rumah itu. Mereka tidak tahu pasti siapa sang pemilik rumah. Mereka hanya mendengar desas desus saja.


Sampai sebuah mobil berwarna merah masuk kedalam rumah itu. Di dalamnya ada dua orang yang duduk dengan tenang. Satu pria dan satu wanita.


Aila turun dengan dress selutut dan tas mewahnya. Diikuti oleh Jovi yang ikut turun. Mereka masuk ke dalam rumah, beberapa pelayan langsung menyambut mereka dengan senyuman.


Walau begitu, Aila dan Jovi mengacuhkan mereka. Mereka tidak peduli dengan sikap para pelayan dirumah itu.


"Jadi bagaimana keadaan Sya? Apa kandungannya sudah gugur?" Tanya Aila.


"Ya. Bukankah aku sudah katakan jika rencana kita berhasil."


"Kau memang sudah mengatakannya. Hanya saja aku merasa gelisah."


"Mungkin karena kau sudah diusir dan tidak tahu harus kemana. Sampai kau menelfonku malam-malam," kata Jovi.


Aila membuang muka. Malas mengomentari perkataan Jovi. Aila memilih untuk masuk kedalam kamar yang sudah disediakan dirumah itu.


Sampai dikamar dia mengecek ponselnya kembali. Berharap ada pesan atau panggilan masuk dari Arda. Hanya saja harapan itu kembali harus pupus. Arda bahkan tidak merindukannya sama sekali.


Kesal dengan hal itu, Aila melempar ponselnya. Lalu dia menghempaskan dirinya keatas kasur yang lembut. Aila memeluk dirinya sendiri dengan erat.


Hanya tetes air mata yang saat ini menemaninya. Orang tuanya bahkan sudah tidak peduli apa Aila masih hidup atau tidak. Mereka hanya mengingat kejadian memalukan yang dilakukan oleh Aila.


"Kenapa semua ini terjadi padaku," rintih Aila.


Dalam tangisnya Aila terus saja menyalahkan Sya. Sampai rasa kantuk menyelimuti mata Aila dan membuatnya memejamkan mata.


Sementara itu Jovi duduk diruang tamu dengan tangan yang memegang ponsel. Dia beberapa kali mengirim pesan pada Sya. Berharap dia akan membalas pesan itu. Walau kemungkinannya sangat sulit.


"Cepat atau lambat kau akan menjadi milikku Sya." Perkataan Jovi terdengar begitu optimis.


Belum juga mendapat balasan. Kembali Jovi mengirimkan sebuah pesan. Kali ini, Jovi menanyakan tentang Sya dan juga bayi yang dikandungnya.


Seorang pelayan datang membawakan secangkir kopi untuk Jovi. Pada saat yang sama, Jovi mendapatkan pesan balasan dari Sya. Sya mengatakan jika dia dan kandungannya baik-baik saja.


Jovi menjatuhkan cangkir yang berada ditangannya. Dia lalu mengirim pesan lagi, dia mengatakan apa yang dikatakan pada Sya sama seperti kata-kata dokter dimalam itu.


Kali ini balasan Sya begitu cepat. Dia menjelaskan jika dokter sudah salah memeriksanya. Kandungannya baik-baik saja dan saat ini Sya dan Ruka sedang dalam perjalanan pulang.


***

__ADS_1


__ADS_2