
Pagi ini Sya bersiap untuk datang kekantor. Dia ingin melihat pekerjaan model yang saat ini dilakukan.
Sya mencoba untuk melupakan kejadian kemarin. Dia ingin menjalani hidupnya seperti biasa, tanpa suami dan hanya memikirkan anak saja.
"Mama mau kerja?" Tanya Nendra yang melihat Sya sudah rapi.
"Iya. Kamu pergi sekolah dengan Bi Sali ya."
"Kata Papa, Mama tidak perlu pergi ke kerja lagi. Papa akan memberikan apa yang Mama dan Nendra mau."
"Nendra. Mama masih bisa buat kerja. Kamu hanya perlu fokus dengan sekolah kamu."
Sya keluar dari rumah. Tidak ada mobil kantor maupun pemberitahuan dari Rista. Sya memutuskan untuk pergi dengan taxi saja.
Sampai di kantor. Hal mengejutkan terjadi, para karyawan tidak lagi menyapa Sya dengan halus dan lembut. Merea juga terlihat acuh dengan Sya.
Awalnya Sya masih biasa saja. Sampai saat dia mendengar beberapa karyawansedang bergosip dengan begitu serius.
"Ternyata bos kita yang dulu sudah kembali." Kata seorang wanita.
"Benar. sudah pasti bos yang sekarang akan dipecat."
Sya diam. Jika apa yang mereka katakan benar, saat ini Lufas sudah menampakan dirinya lagi. Dia bahkan meminta kembali kantor ini.
Dengan senyum tipis Sya masuk ke dalam lift. Dia sampai di lantai atas. Rista masih menyambunya dengan sangat baik.
"Rista. Maaf, sepertinya..."
"saya sudah tahu. Suami Bu Sya udah kembali. Bu Sya pasti senang, bukan?"
Sya hanya diam. Dia masuk k ruangannya. Benarr. Lufas sudah duduk manis disana. Sya tidak mengatakan apapaun. dia hanya meletakan berkas yang dia bawa. Lalu mengambil foto Danendra yang berada di atas meja.
"Sya. Aku ingin bicara denganmu."
Sya menghentikan langkahnya. Dia menatap pada Lufas saat ini. Bahkan tidak nampak rasa bersalah diwajahnya.
"Aapa lagi yang mau katakan? Bukankah kau sudah puas melakukan semua ini padaku?'
"Sya aku bisa jelaskan."
"Kau tidak perlu menjelaskan apapaun. Bagiku, Lufas suamiku sudah mati."
Setelah mengatakna itu Sya keluar dari kantor. Dia kegat begitu banyak wartawan yang langsung mengerubunginya. Pertanyaan-pertanyaan tentang kembalinya Lufas diberikan pada Sya.
Sya hanya diam seribu bahasa. Dia tidak tahu harus mengatakan apasaat ini. Bahkan dirinya sendiri tidak tahu kenapa semua ini terjadi.
Sya meraa begitu terpojok saat sebuah tangan meraih tangannya. Sya mengikuti langkah orang yang menariknya. Mereka masuk ke sebuah mobil.
"Terima kasih," ucap Sya.
"Sama--sama. Sudah sepatutnya aku melakukan hal ini pada bosku."
Sya melihat wajah orang yang baru saja menolongnya. Mike.
"Aku bukan lagi bosmu."
"Apa Lufas tidak memilihmu lagi?"
Sya hanya diam.
"Aku akan membawamu kesebuah tempat yang indah. Mau?" Tawar Mike.
"Tidak. Aku hanya ingin pulng dan istirahat saja."
"Baiklah."
Mike memutar mobilnya untuk segera mengantar Sya kembali. Di dalam mobil mereka hanya saling diam. Mike memang tidak terlalu mengenal Sya, hanya dari cerita Xiu. Mike tahu, Sya begitu mencintai Lufas sampai tidak bisa dekat dengan pria lain.
Mike merasa begitu kagum dengan Sya. Sya adalah tipe waita yang begitu setia. Hanya saja, kenapa Lufas melakukan semua itu padanya.
Mata Lufas tidak berhenti tertuju pada Sya. Sampai seseorang datang dan menyelamatkan Sya dari kerumunan itu.
Sampai saat ini, dia masih tetapberada di samping Sya. Meski Sya tidak tahu, Lufas tetap selalu menjaganya dan Danendra. Rasa cintany apada Sya juga masih sama.
***
"Terima kasih," ucap Sya sebelum turun dari dalam mobil.
"Ya. Apa bisa kita bertemu lagi?" Tanya Mike.
"Aku tidak tahu," jawab Sya.
Mike mmberikan sebuah kartu nama pada Sya.
"Jika kau butuh bantuanku. Telfon saja ke nomor ini."
"Ya. Sekali lagi terima kasih," ucap Sya.
Sya turun dan melihat rumah sudah sepi. Sepertinya Danendra sudah pergi ke sekolah. Sya masuk, Bi Sali terlihat sedang melakukan pekerjaan di dapur.
"Bi," panggil Sya.
Bi Sali mendekat.
"Apa BiSali sudah tah semua ini sejak lama?" Tanya Sya.
B Sali hanya diam.
"Bi. Jangan hanya diam, kau katakan semuanya padaku sekarang."
"Bi Sali mengangguk. Dia mulai mengatakan semuanya tentang kematian palsu Lufas. Semua itu untuk memancing para musuh yang sellama ini bersembunyi di dalam kelompoknya.
"Apa hanya aku yang tidak tahu hal ini?"
Bi Sali mengangguk.
"Ben dan Xiu juga tahu?"
Bi Sali kembali mengangguk.
Sya merasa begiitu hancur. Dia tidak tahu lagi harus percaya dengan siapalagi saat ini. Orang yang awalnya dia anggap begitu baik dan peduli ternyata sama saja. Mereka menyembunyikan banyak hal.
"Bi. Aku minta Bi Sali tetap menjaga Nendra."
"Maafkan saya, Bu."
Sya tidak mengatakan apapun Dia masuk ke dalam kamar dan mengrung diinya sedniri. Dia memikirkan apa yang haru dilakukan saat ini. Dia tidak memiliki pekerjaan, dia juga tidak memiliki orang disampingnya.
Hanya tangis yang mampu Sya berikan untuk dirinya sendiri. Denganrasa lelah Sya tertidur.
__ADS_1
***
Sya terbangun dari rasa lelahnya. Dia melihat ponsel yang sisinya berita kembalin Lufas. Sya langsung melempar ponselnya. Dia marsa benar-benar kesal dan marah dengan sikap Lufas.
Suara Danendra membuat Sya memilih membuka pintu kamar. Danendra sedang bermain dengan Bi Sali.
"nendra," panggil Sya.
"Mama sudah bangun?"
Sya mengangguk.
"Mma sakit?" tanya Nendra kemudian.
"Tidak."
"Wajah Mama terlihat jelek. Pasti Mama sakit."
"Saya akan ambilkan obat." kata Bi Sali.
"Tidak. Aku tidak ingin makan apapun saat ini."
Sebuah mobil hitam berhenti di de;an rumah. Sya tahu, Lufas datang dengan segalanya untuk Nendra. Meski begitu, Sya sudah memilih untuk bicar pada Lufas.
"nendra, Papa datang," kata Lufas sembari masuk ke rumah.
Nendra langsung menghambur kepelukan Lufas. Sya hanya diam danmengamati aja.
"Ini bukan hari minggu," kata Nendra.
"papa tahu. nendra, bisa main sam Bi Sali di kamar? Papa mau bicara sama Mama."
Dengan begitu patuhnya Nendra masuk ke kamar dengan Bi Sali di sampingnya. Sya masih duduk di sofa dengan tenang.
Lufas menghampiri dan duduk di samping Sya. Tanpa sadar, Sya menggeser posisi duduknya, kjarak terbentuk diantra mereka.
"Maaf," ucap Lufas.
Sya hanya diam.
"Aku melakukan ini karena aku..."
"Karena kau tidak mencintaiku. Kau menganggap u musuhmu."
"Bukan begitu Sya."
"Jika bukan begitu lalu apa? Semua orang tahu kau masih hidup. Hanya aku dan para msusuhmu yang tidak tahu. Aku aladah usuhmu," Sya mengatakan semua itu dengan manahan air matanya.
"Sya. Kamu masih tetap istriku. Aku masih sangat mencintaimu."
"Sejak kau meninggal hari itu. Aku dan kau sudah tidak ada hubungan lagi."
Lufas menoleh pada Sya. Sya bahkan tidak menatap Lufas sedikitpun.
"Kau bisa datang kesini semaumu. Karena bagaimanapun kau adalah ayah dari Danendra. Selain bertemu dengan anakmu, kau tidak ada alasan untuk datang kesini."
"Apa kau yakin? Kau bahkan tidak bisa melupakan aku selama ini. Kau masih mencintaiku bukan?"
"Beberapa hari ini aku sudah tidak memikirkanmu. Aku ingin mencoba dekat dengan pria lain."
"Kau masih istriku." Lufas masih bersikeras akan hubungan pernikahan itu.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Mike pada Sya.
"Ya. Aku baik saja, masuklah dulu."
Mike masuk ke rumah Sya. Matanya bertemu dengan mata Lufas. Mereka saling menatap dengan tatapan aneh.
"Mau minum apa?" Tanya Sya kemudian.
"Aku tidak ingin minum apapun. Aku hanya khawatir karena ponselmu tidak aktif," ucap Mike.
Sya ingat jika dia sudah membanting ponselnya. Pasti ponsel itu sudah mati saat ini. Sya menyunggingkan senyum pada Mike.
"Terima kasih sudah khawatir padaku."
"Kalau begitu aku pergi dulu. Ada pemotretan di sebuah mall."
"Ya. Lain kali kau bisa datang lagi," ucap Sya.
Mike mengangguk. Dia kemudian keluar dari rumah Sya. Sya kembali sadar jika disana ada Lufas. Saat ini Lufas menatapnya dengan tatapan tajam, lebih tepatnya tatapan cemburu.
Sya mencoba tidak mempedulikan semua itu. Dia berjalan melewati Lufas, tapi Lufas menariknya hingga bisa memeluk Sya.
Tangan Sya mencoba mendorong Lufas, tapi pelukan Lufas begitu kuat. Sya tidak bisa melepaskannya saat ini.
"Kenapa kau terang-terangan bertemu dengan pria lain?" Tanya Lufas.
"Bukan urusanmu." Kali ini Sya berhasil mendorong tubuh Lufas menjauh.
"Sya. Kau..."
"Tidak ada hubungan lagi diantara kita. Jadi, jangan coba mengurus hidupku."
Brak. Sya masuk ke kamar dan membanting pintunya. Sya memang menolak Lufas, tapi di hatinya masihama. Saat ini, dia hancur karena penghianatan yang dilakukan Lufas. Walau sebenarnya, dia sangat merindukan Lufas untuk hadir di hati dan kehidupannya.
Kali ini Lufas memilih untuk pergi dari rumah Sya. Dia ingin menemui Xiu dan Ben. Semua ni adalah rencana mereka bertiga, tanpa sadar rencana ini membuat Lufas kehilangan Sya dan juga cintanya.
***
Tanpa permisi Lufas masuk ke kantor Xiu. Dengan senyum lebar Xiu menyambut kedatangan Lufas.
"Bagaimana kabarmu? Kau sudah lama di kota ini?"
Lufas tidak menjawab dan langsung duduk di sofa.
"Apa kau sudah menemui Sya?"
"Dia tidak melihatku llagi. Bahkan dia mengatakan jika pernikahanku dan dia sudah berakhir."
"Dia mungkin marah untuk sesaat," uap Xiu dengan santainya.
"Jika hanya marah. Sya pasti akan menatapku, kali ini dia bahkan menerima tamu pria di hadapanku."
"Siapa? Dia hanya mengenal Ben."
"Apa kau fikir aku bodoh? Bukankah kau yang mengenalkan Mike dengan Sya?"
"Mike? Sya mengatakan tidak tertarik dengannya."
__ADS_1
"Mereka begitu akrab, bahkan di depanku mereka berniat untuk bertemu lagi."
Xiu tertawa dengan keras.
"Apa yang kau tertawakan. Ini tidak lucu."
"Salah siapa kau datang secara tiba-tiba. Sya pasti masih sangat kaget. Apa lagi kau terus menerus menemui Nendra."
Lufas hanya diam. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara agar Sya kembali seperti dulu. Mencintainya dan mau berbagi kasih lagi.
Lufas sadar. Apa yang dilakukannya selama enam tahun ini begitu salah. Bahkan membuat Sya terus menerus sedih ditahun itu.
"Minumlah. Kau akan lebih tenang," kata Xiu.
"Dekatkan aku dan Sya lagi. Aku pasti akan tenang."
"baiklah. Bagaimanapun, tujuan kita sudah berhasil. Baanyak musuh yang sudah kita musnahkan."
Lufas mendekat pada Xiu. "Jika kau tidak berhasil membuat Sya kembali padaku. Aku akan membuat kau bangkrut dan tidak bisa bangkit lagi."
Xiu melihat wajah Lufas yang begitu kejam. Mau tidak mau Xiu akhrinya mengangguk setuju. saat ini, Sya masih percaya dengan Xiu, itu yang dipikirkan Xiu.
Lufas keluar dari kantor Xiu. Dia begegas menemui Ben di markas besar. Sudah lama mereka tidak bertemu, banyak hal yang harus mereka bicarakan.
Tidak membutuhkan waktu yang lama. Markas geng mafia itu masih sama, hanya saja suasananya begitu berbeda. Bahkan penjagaan begitu ketat.
Para anggota yang melihat kedatangan Lufs langsung mencoba menyapa. Mereka tahu, Lufas tidak terlalu senang bertegur sapa dalam masalah ini.
Sampai di ruang utama. Lufas masuk dan melihat Ben yang sedang duduk dengaan gelas anggur di tangannya.
"Kakak. Kau sudah datang?" tanya Ben dengan senang.
Buk. Sebuah pukulan mengenaai wajah Ben. Orang-orang yang berada di ruuangan itu hanya bisa diam.
"Kenapa kau memukulku?" Tanya Ben.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Sya?" Tanya Lufas.
"Aku tidak melakukan apapun."
Lufas tersenyum dengan licik."Pukulan itu sebagai hukman karena kau telah berani mendekati istriku."
Ben hanya diam. Dia lupa kalau pernah mendekati Sya dan berharap padanya. Hal ini pasti diketahui oleh Lufas. Bi Sali yang mengatakan semuanya.
"Walau aku mendekat padanya. Dia tetap menganggapku seorang adik."
Lufas menyunggingkan senyum. Dia tahu, Sya masih sangat mencintainya.
"Kalau begitu bantu aku dekat lagi dengan Sya."
"Apa kalian sudah bertemu?" Ben merasa penasaran.
"Dia memergoki aku saat menemui Nendra. Sepertinya dia sangat marah dan kesal padaku."
"Aku akan mencobanya," jawab Ben tanpa ragu.
Ben tahu, saat ini kekuatan Lufas sudah sangat bertambah. Jika dia sampai menyinggung Lufas. Sudah pasti dia akan celaka.
***
Sya sedang berada di sebuah mall. Dia berniat mencari ponsel baru. Dia ingin menggantinya begitu juga dengan nomor telfonya. Dia tidak mau jika kelompok Lufas sampai tahu.
"Apa boleh aku tahu tentang ponsel ini?" Tanya Sya sembari menunjuk kearah ponsel berwarna biru.
Belum juga pelayan menjelaskan. Seseorang sudah merangkul Sya dengan erat. Sya menoleh, Xiu. Tanpa ragu Sya menyingkirkan tangan Xiu dari pundaknya.
"Kau sedang mencari ponsel baru?" Tanya Xiu.
"Ya."
"Ada masalah dengan ponsel lamamu?"
"Bukan urusanmu."
Xiu merasa ada yang salah dengan Sya. Dia duduk di samping Sya.
"Kau kenapa?" Tanya iu.
"Tidak ada apa-apa?"
"Apa Mike terlalu mengganggumu. Aku akan memperingati dia."
Sya menoleh pada Xiu.
"Tidak usah ikut campur dalam hidupku lagi. Oh ya, Mike tidak menggangguku. Dia sudah membantuku tadi."
Sya tidak jadi memilih ponsel yang dia inginkan. Dia memilih pergi dan mencari toko ponsel yang lain. rasa kecewa begitu membalut hati Sya.
Tanpa sengaja Mike dan Sya berpapasan. Mike langsung menyapa Sya dengan sebuah senyuman.
"Kau disini?" Tanya Sya.
"ya. Aku baru saja selesai melakukan pemotretan. kau sedang apa?" Tanya Mike.
"Mencari ponsel baru."
"Aku tahu toko ponsel yang murah tapi bagus."
"Benarkah?'
Mike tersenyum. "tentu saja."
Mereka menuju ke toko yang dimaksud. Sya tidak sadar jika disana juga ada Lufas. Lufas begitu memperhatikannya.
"Cari tahu tentang Mike sedetail-detailnya. Aku mau tahu siapa dia sebenarnya," kata Lufas pada pengawalnya.
"Baik."
Xiu menghampiri Lufas yang masih setia menatap pada Sya. Dia menepuk pundak Sya secara perlahan.
"Bagaimana?" Tanya Lufas langsung.
"Sepertinya dia sudah tahu. Aku dan kau bersekongkol."
"Bagaimana bisa?"
Xiu hanya bisa mengedikkan bahnya. Jika sudah seperti ini, Lufas akan sangat sulit mendekat pada Sya. Alasan dia bisa bertemu Sya hanya satu orang lagi. Danendra.
Lufas harus pintar-pintar mencuri hati anaknyaitu. Dengan begitu, Nendra bisa mendekatkan Lufas dengan Sya lagi.
__ADS_1
***