
Suasana ruang makan begitu hening. Hanya ada Sya yang duduk dengan gelas berisi air putih ditangannya. Beberapa kali dia terlihat minum, lalu melihat kearah pintu masuk.
Jelas sekali jika Sya sedang menunggu seseorang. Sya sudah meyakinkan dirinya sendiri agar mau bicara pada Ruka. Walau perasaan takut membuat Ruka marah hadir didalam hatinya.
Suara mobil menderu. Beberapa pelayan langsung bersiap diposisi masing-masing. Seperti biasa, mereka akan menyambut kedatangan Ruka.
"Mira. Kau ingat apa yang aku katakan padamu, kan?"
"Tentu, Nona."
"Lakukan sekarang."
Mira mengikuti beberapa pelayan keluar. Tidak lama Ruka masuk. Mira sendiri yang datang dan membawakan tas Ruka. Hal itu membuat Ruka langsung tahu apa maksud Mira.
"Dimana Sya?"
"Diruang makan, Tuan."
Langkah Ruka kali ini berbelok keruang makan. Dia melihat Sya yang duduk dengan tangan yang masih memegang gelas. Ruka meminta para pelayan untuk pergi dari sana.
"Ada apa? Tidak biasanya kau menungguku untuk makan malam."
"Kak.."
"Apa yang kau mau? Katakan dengan jelas."
"Kak. Aku ingin menemui Arda. Bagaimanapun, aku tetaplah istrinya sampai saat ini. Dia juga harus tahu tentang kehamilanku," kata Sya.
"Bukankah dia masih menganggap anak itu bukan anakmu."
Sya memegang tangan Ruka dengan lembut. "Kak. Aku akan menjelaskan semuanya pada Arda. Jika dia masih tidak percaya padaku. Aku akan mengambil keputusan lain."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya. Aku merasa bingung dengan statusku yang sekarang. Aku berstatus janda atau istri orang. Biarkan aku melakukannya sendiri kali ini Kak."
Wajah Sya memancarkan pengharapan dan sebuah izin dari Ruka. Tidak ingin melihat adiknya terus terluka dan menahan perasaanya. Ruka akhirnya mengangguk.
"Kau harus memikirkan baik-baik apa yang sudah kau katakan padaku."
"Ya. Terima kasih, Kak."
"Sama-sama. Kalau begitu aku mau kekamar. Katakan pada pelayan, antarkan makan malam kekamarku."
"Baik, Kak."
Ruka berdiri dan meninggalkan Sya yang masih duduk. Setelah kepergian Ruka, Sya mengirim pesan pada Arda. Dia ingin menemui Arda secepatnya. Malam ini di sebuah restoran dekat rumah mereka.
***
Gaun malam yang digunakan Sya begitu indah. Tatanan rambutnya juga semakin memancarkan aura kecantikan. Sya menggunakan sebuah mantel bulu untuk sedikit menghangatkan tubuhnya.
__ADS_1
Sudah lima belas menit Sya menunggu. Sampai detik itu Arda belum juga datang. Hati Sya mulai gelisah, jika dia tidak bertemu dengan Arda malam ini. Bisa jadi niat didalam hatinya berubah.
Mencoba menghilangkan bosan karena menunggu. Sya mengirim pesan pada Eri. Setidaknya Eri akan menemaninya walau hanya lewat ponsel. Hal itu juga cukup menguras waktu.
Sampai akhirnya Arda masuk kerestoran. Dia tidak sendiri, disampingnya ada Aila yang setia. Dengan baju yang senada lagi, hal itu membuat Sya tersenyum tipis.
"Aku kira kau akan datang sendiri," kata Sya yang menyambut kedatangan Arda dan Aila.
Aila tersenyum. "Aku adalah istrinya. Jadi, aky harus setia mendampingi."
"Kau benar." Ucap Sya.
Arda menatap Sya dari ujung kaki hinga ujung rambut. Gaya dan pakaian yang dikenakan Sya begitu berbeda. Lebih terlihat berkelas dan penuh gaya.
"Silahkan duduk."
Mereka duduk. Sya memesan beberapa makanan. Sudah pasti makanan itu adalah makanan yang biasa dipesan oleh Arda saat dulu bersamanya.
Tidak perlu menunggu lama sampai semua makanan yang Sya pesan datang. Kini meja yang awalnya kosong kini penuh dengan makanan.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"
Sya yang sudah memegang sendok kini kembali meletakan sendok itu. Dia mengusap perlahan bibirnya dengan tisu.
"Aku ingin membicarakan hal yang penting. Tentang kandunganku," kata Sya.
"Apa sekarang kau akan mengakuinya?" Tanya Arda.
"Ya. Anak yang aku kandung adalah anakmu. Kau juga tidak punya bukti tentang aku berselingkuh karena memang aku tidak berselingkuh."
"Sya. Jujur saja, setidaknya jika kau jujur Arda akan tetap menganggapmu sebagai istri," kata Aila.
Sya menghela nafas panjang. "Aku memang mencintaimu Arda. Hanya saja aku tidak bisa terima begitu saja tentang tuduhanmu."
Brak. Sya menggebrak meja dengan sebuah amplop. Dia mendorong amplop itu pada Arda. Belum sempat Arda mengambil amplop itu. Aila sudah lebih dulu mengambilnya, dia bahkan langsung membuka amplop itu.
Arda dan Aila menatap bukti dan foto yang sama. Hanya wajah sang wanita yang berbeda. Bukan wajah Sya ataupun Aila. Wajah itu adalah wajah dari mantan istri Jovi. Mila.
"Mila sudah mengatakan semuanya padaku. Dia juga mengatakan jika hubungannya dengah Jovi sudah berakhir."
Arda menatap wajah Sya. "Apa kau sedang mencoba mempermainkan aku? Sampai saat ini Jovi masih memegang kendali perusahaan Mila. Jadi tidak mungkin mereka bercerai."
"Aku..."
"Sayang," Aila memegang tangan Arda, "dia hanya ingin mencari simpatimu saja tentang anak yang dikandungnya," lanjut Aila.
"Maksudmu apa?! Aku bahkan sudah kehilangan anakku karena kejadian dipesta itu."
Arda menoleh dengan pernyataan Sya. Dia mendekat pada Sya dan, plak. Sebuah tamparan mendarat diwajah Sya. Sya memegang wajah yang baru saja ditampar oleh Arda.
"Apa yang dikatakan Aila benar. Anak itu bukanlah anakku. Jika memang benar itu anakku, tidak mungkin kau menggugurkannya."
__ADS_1
"Menggugurkannya? Siapa yang bilang aku menggugurkan kandunganku?"
"Aila yang mengatakan padaku. Dia sendiri yang melihat kamu membeli racun untuk kandunganmu."
Sya tersenyum kali ini. Sementara Aila belum sadar dengan apa yang terjadi saat ini. Sya mendekat pada Aila, dia memegang tangan Aila dan menunjukannya pada Arda.
"Kau bilang aku membeli racun itu? Tangan ini, tangan ini yang sudah mencampurkan obat dalam minumanku dipesta itu."
Aila menarik tangannya. Dia menggeleng dengan cepat. Beberapa langkah dia mundur dari tempatnya berdiri.
"Aku tidak mungkin melakukan hal itu."
"Benarkah? Lalu bagaimana bisa aku keguguran dan kau tahu. Padahal, aku sudab mengatakan padamu jika kandunganku baik-baik saja. Hanya kau yang tahu tentang semua ini."
Sya akan mendekat kembali pada Aila, namun Arda sudah menahan tangan Sya lebih dulu. Beberapa kali Sya mencoba melepaskannya, tapi semuanya percuma.
"Kau tidak usah menyalahkan Aila. Dia tidak salah dimalam itu. Kau hanya mengarang agar aku dan Aila berpisah. Mulai saat ini, aku menceraikanmu."
Sya membelalakan matanya. Dia tidak percaua dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Arda. Malam dimana Sya ingin membuka kedok Aila, kini berubah menjadi malam yang buruk baginya.
Dengan kasar Arda melepaskan tangan Sya. Dia mendekat pada Aila yang saat itu sedang menangis. Dengan penuh perhatian Arda memeluk Aila didepan mata Sya.
Hancur, Sya merasa sangat hancur. Dia sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Dia hanya bisa diam dengan air mata yang mulai menetes dengan deras.
Brak. Beberapa polisi masuk keruangan itu. Mereka memperlihatkan sebuah surat pada Arda. Arda membaca surat itu dan menatap pada Aila.
"Aku tidak melakukannya Arda," kata Aila.
"Jangan bohong Aila. Percuma saja kau menutupinya, semua sudah ketahuan. Ruka sudah tahu semuanya."
Ya, itu adalah suara Jovi yang masuk dengan tangan yang sudah diborgol. Tidak lama Ruka masuk, dia melihat Sya yang berdiri mematung.
"Kenapa kau tidak tangkap langsung. Sudah jelas semua buktinya bukan," kata Ruka.
Dengan paksaan akhirnya Aila dibawa juga oleh polisi itu bersama dengan Jovi. Sudah sejak lama Ruka merencanakan semua ini. Dia tidak merencakan akan membuat adiknya diceraikan begitu saja.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Ruka.
Sya hanya diam. Dia hanya menatap kosong.
Arda berjalan mendekat kearah Sya dan Ruka. "Sya. Aku..."
"Berhenti disana," kata Ruka.
Arda langsung berhenti.
"Mulai saat ini. Kau bukan lagi suami Sya, kau hanya partner bisnisku. Jadi, jangan coba-ciba untuk mendekati adikku lagi."
Setelah itu Sya dibawa pergi oleh Ruka. Arda terduduk, dia merasa begitu menyesal sudah mengucapkan kata cerai pada Sya. Dia kini hanya bisa pasrah melihat Sya dibawa pergi oleh Ruka.
"Jika saja aku tidak menuruti kata Jovi dan Aila. Aku tidak akan kehilanganmu Sya," lirih Arda.
__ADS_1
***
Mohon kritik dan sarannya teman-teman