The Way Love

The Way Love
LI


__ADS_3

Suasana ruang makan pagi itu sama seperti biasa. Hanya saja, Sya masih merasa aneh saat kembali ke rumah itu. Ya, Aila memang belum pulang dari rumah sakit. Walau begitu, hal itu tidak bisa membuat hati Sya tenang.


Sudah dua hari Sya kembali ke rumah dengan Arda. Selama itu pula Arda terus bertanya tentang Ruka. Bahkan beberapa kali hal itu membuat Sya merasa bosan.


Kali ini Sya menatap mata Arda. Terlihat jelas jika Arda masih tidak percaya mengenai Ruka. Hal itu membuat Sya merasa kesal. Padahal beberapa kali Sya mencoba menjelaskannya.


"Kau masih tidak percaya tentang Kak Ruka?"


"Bukan. Hanya saja selama aku kenal dengan Ruka, dia..."


"Sudahlah. Aku percaya pada tes DNA yang aku lakukan. Jika kau tidak mempercayainya. Lakukan saja," kata Sya dan langsung pergi begitu saja.


Langkah Sya terhenti saat berada di ruang tamu. Dia melihat mobil yang biasa dipakai oleh Arda. Aila turun dengan dibantu beberapa pelayan.


Sya hanya bisa diam. Dia hanya menatap pemandangan itu. Dimana perut Aila yang semakin terlihat dan raut wajah bangga pada diri Aila.


"Kau sudah kembali?" tanya Aila begitu melihat Sya yang diam terpaku.


"Ya."


"Kakak. Apa aku boleh memanggilmu seperti itu?"


Pertanyaan itu membuat Sya tersenyum tipis. Dia melihat kearah Aila dan menatap matanya.


"Kenapa tidak memanggil nama saja. Bukankah kau yang lebih tua dariku."


Aila mendekat, tapi Sya pergi begitu saja. Dia sudah merasa kesal dengan sikap Arda. Kini Aila datang dan semakin membuatnya bertambah kesal.


Brak. Suara pintu ditutup dengan keras oleh Sya. Dia duduk dengan tangan terlipat didadanya. Kenapa juga dia harus mengatakan tentang Ruka pada Arda. Hasilnya sama saja, Arda tidak percaya dengan hal itu.


***


Arda sedang duduk diruang kerjanya. Dia menatap layar laptop tanpa berkedip sampai saat sebuah tangan muncul dari arah belakang. Arda tersenyum.


"Aku tahu kau sudah memaafkan aku, Sya."


Tangan itu kembali. Kali ini tubuh sang pemilik tangan berada didepan Arda dengan tatapan tajam. Dia merasa kesal dengan nama yang dipanggil oleh suaminya.


"Kenapa kau hanya tahu tentang Sya. Istrimu bukan hanya dia," protes Aila.


"Kenapa kau kesini?" kali ini nada bicara Arda tidak selembut tadi.


"Aku kesini ingin memperlihatkan sesuatu padamu."


"Jika tidak penting jangan menggangguku," ucap Arda tanpa melepas pandangannya dari laptop.


Dengan kasar Aila menutup paksa laptop Arda. Lalu dia menunjukan sebuah foto dari ponselnya pada Arda. Diam, Arda hanya menatap foto itu.


"Kau sudah dihianati oleh Sya dan Ruka. Kenapa kau masih ingin dengannya," kata Sya yang memperlihatkan foto Sya dan Ruka yang saling memeluk.


Tidak ada komentar yang diberikan oleh Arda. Dia kembali membuka laptopnya dan menatapnya lagi. Mata Aila membulat dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan Arda. Dia bahkan tidak marah sama sekali.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak marah?"


"Tanyakan saja pada Sya. Siapa Ruka dan kenapa mereka melakukannya."


"Tidak mau. Kau saja yang jelaskan. Mana mungkin aku menemui wanita yang selalu kesal padaku."


Mengingat kembali jika Sya masih kesal. Arda menutup laptopnya. Aila terlihat senang karena Arda sudah meresponya. Hanya saja, dia kembali ditinggalkan oleh Arda tanpa kata.


Arda mengurungkan niatnya masuk kedalam kamar. Dia melihat Sya sedang berada di ruang tamu. Dia melihat keluar dengan tangan memegang kaca. Arda sangat tahu jika istrinya itu merasa gelisah.


Tanpa membuat suara. Arda mendekat dan memeluk pinggang Sya dengan erat. Sya hanya diam, dia tidak menanggapi hal itu. Arda merasa menyesal sudah membuat istrinya kesal.


"Maaf. Aku sudah membuatmu marah," ucap Arda didekat telinga Sya.


"Untuk apa meminta maaf? Kau tidak berbuat salah," ucap Sya.


"Lalu kenapa kau enggan menatapku? kau juga tidak mengatakan apapun padaku."


Sya berbalik badan. Kini mereka saling berhadapan dan menatap. Melihat sepasang mata sedang menatap tingkahnya. Sya sengaja meletakan tangannya dileher Arda.


"Aku tahu. Kau masih sulit menerima Ruka sebagai kakakku."


Arda tersenyum.


"Tapi tolong. Terima dia untukku. Hanya dia keluargaku saat ini."


"Baiklah, Sayang. Aku akan melakukan apa yang kau minta."


Sepasang mata itu tidak lain dan tidak bukan adalah Aila. Dia meremas bajunya dengan sangat kuat. Rasa cemburu dan marah beradu menjadi satu. Jika saja bukan karena Arda, Aila sudah mendekat dan memukul wajah kemenangan Sya.


"Aku akan merebut semuanya darimu Sya."


Aila berlalu masuk ke dalam kamar. Dia menumpahkan segala kekesalanya itu di dalam kamar. Dengan penuh air mata Aila merobek foto pernikahannya dengan Arda.


***


Sore ini Sya sudah siap dengan dress frolarnya. Dengan make up yang tidak terlalu tebal Sya siap pergi. Dia akan menemui Ruka dan membahas beberapa hal. Arda juga sudah tahu jika Sya akan pergi.


"Apa kau mau menemui pria lain?"


Mendengar pertanyaan itu. Sya berbalik badan. Dia melihat Aila dengan tangan yang dia lipat didada. Matanya memancarkan amarah dan kekesalan.


Sya mengulas senyum. Dia mendekat dan membalas tatapan yang diberikan oleh Aila. Bagaimanapun, dia adalah nyonya sebenarnya dirumah itu.


"Apa kau mau ikut?" tawar Sya.


Aila merasa tidak senang dengan jawaban itu.


"Aku akan melaporkannya pada Arda jika kau sampai keluar dari rumah ini."


"Memangnya kau siapa? kau hanya istri kedua yang bahkan tidak dicintai Arda. Kau dinikahi hanya karena belas kasihan."

__ADS_1


Tes. Air mata keluar dari sudut mata Aila. Sya merasa terlalu kasar sudah mengatakan hal itu. Sya akan mendekat dan meminta maaf, tapi Aila malah menamparnya dengan keras.


"Cepat atau lambat. Aku akan mengungkap perselingkuhanmu dan Ruka. Arda pasti akan memilihku pada saat itu," ucap Aila.


"Aila. Sepertinya aku harus menjelaskan sesuatu padamu. Aku dan Ruka..."


"Tidak perlu kau jelaskan. Aku sudah tahu semuanya. Lebih baik kau pergi sekarang," kata Aila.


"Baiklah jika itu maumu."


Sya keluar dengan perasaan aneh. Dia mengira jika Arda sudah mengatakan semuanya pada Aila. Ternyata tidak. Aila belum tahu hal yang sesungguhnya.


Mobil berhenti disebuah restoran mewah. Sya tidak tahu jika Ruka mengajaknya ketempat itu. Dengan langkah santai Sya masuk. Dia melihat Ruka sedang duduk di pojok ruangan.


"Maaf, aku lama Kak."


"Tidak masalah," ucap Ruka sembari meletakan ponselnya kemeja. "Apa dijalan macet?" tanya Ruka kemudian.


Sya menggeleng. Dia merasa Ruka berbeda saat dia mengetahui semuanya. Ruka terkesan menghindar dan enggan membahas namanya. Walau begitu Sya tidak pantang menyerah. Dia tahu, Ruka punya alasan tersendiri mengganti identitas dirinya.


"Kau pasti ingin menanyakan hal yang sama padaku?"


"Tentu. Aku ingin tahu semuanya. Aku bukan anak kecil lagi, Kak. Aku sudah tidak suka permen."


Ruka tertawa.


"Aku mengganti namaku karena sebuah alasan. Kau tahu, aku pergi dari rumah tanpa arah dan tujuan yang jelas. Sampai aku memasuki sebuah organisasi gelap."


Sya membelalakan matanya.


"Ya. Organisasi yang penuh dengan kekerasan dan dunia gelap. Entah itu narkoba dan sejenisnya."


"Apa kakak mengonsumsiny?" tanya Sya.


"Tidak, tapi hampir saja. Saat itu, Jeremy yang mengacaukan pikiranku. Dia mengatakan jika aku harus mengambil ginjal mama dari nyonya Ken."


Sya tahu apa yang dikatakan Jeremy pada kakaknya. Hanya saja, situasinya yang berbeda. Sya diam dan terus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ruka.


"Jadi, bagaimana kakak keluar dari organisasi itu? wajah kakak juga berbeda. Hanya auranya saja yang masih kakak."


Kembali Ruka dibuat tertawa oleh Sya.


"Aku tidak melakukan pada diriku. Aku tetaplah Dava kakakmu. Hanya saja, aku merubah namaku."


"Kenapa?"


"Saat aku tertembak oleh Arda. Aku dibuang karena dikira sudah meninggal. Untung saja ada orang yang menolongku. Dia membawaku dan mengganti namaku."


"Kenapa kakak mau?" tanya Sya.


"Karena dia orang yang memberikan semua ini untuk kakak. Kekayaan dan segala kemuliaan. Dia tidak mau dengan namaku yang dulu. Orang dari organisasi gelap itu mengejarku."

__ADS_1


Sya mengangguk-angguk paham. Kini dia bisa menerima Ruka apa adanya. Tanpa harus memikirkan hal yang lain lagi. Nostalgia yang mereka lakukan membuat hubungan mereka lebih dekat.


***


__ADS_2