
Operasi sedang berjalan. Lufas dan Sya sedang menunggu di luar ruang operasi. Wajah mereka sama-sama terlihat gelisah. Hanya saja, Lufas lebih terlihat tidak senang.
Sya duduk di kursi. Lufas mengikutinya duduk. Mereka tetap saling diam. Sampai akhirnya Lufas merasa bosan dengan kediaman itu.
"Kenapa kau setuju dengan pernikahan ini?" Tanya Lufas.
"Kau tahu alasanku."
"Apa kau mencintainya?" Tanya Lufas lagi.
"Tidak."
"Apa kau tahu dia yang sebenarnya?"
"Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan hanya anakku."
"Kau juga harus memikirkan dirimu. Jika kau tidak bahagia, kau akan terus terluka."
Sya diam. Dia menoleh dan menatap pada Lufas. Saat ini, Sya hanya ingin anaknya sehat dia tidak peduli kehidupan apa yang harus dia jalani.
"Diam. Jangan urusi aku lagi. Kita berhubungan hanya karena Danendra tidak lebih."
Saat itu operasi sudah selesai. Sya lebih memilih meninggalkan Lufas. Dia ingin melihat Danendra.
Saat ini kondisi Danendra masih belum stabil. Sya tidak bisa masuk dan menemani Danendra. Sya hanya bisa menatap Danendra dari luar ruangan.
"Nona, Tuan Mike ingin bertemu."
Sya menoleh. Ternyata asisten Mike.
"Aku akan segera ke ruangannya."
Setelah menatap Danendra sebentar. Sya pergi untuk bertemu dengan Mike.
Mike terbaring saat ini. Wajahnya yang tampan masih tetap sama. Sya duduk di samping tempat tidur Mike.
"Maaf," ucap Sya.
"Kenapa kau meminta maaf?" Tanya Mike.
"Karena aku kau melakukan hal ini. Pasti sakit, kan?"
"Apa kau sedang khawatir padaku?"
Sya menatap Mike. "Tidak. Kau terlalu percaya diri."
Mike tertawa.
Lufas melihat hal itu. Sebenarnya dia berniat untuk berterima kasih pada Mike. Hanya saja pemandangan itu membuatnya enggan masuk. Dia memilih kembali ke ruangan Danendra.
"Bagaimana keadaan anak kita?" tanya Mike.
Sya menoleh dengan penuh tanya.
"Anak kita. Danendra, bukankah kau akan menikah denganku. Danendra akan menjadi anak kita."
"Dia baik-baik saja. Hanya saat ini dia belum bisa dijenguk."
"Jangan bersedih. Dia akan cepat pulih dan sehat kembali."
"Aku sangat mengharapkan hal itu."
Mike selalu saja seperti itu. Mencoba terus menghibur Sya dalam setiap kesedihan. Mike juga selalu mencoba selalu ada untuk Sya.
***
"Ma. Aku ingin makan masakan Mama lagi," kata Danendra saat bersiap menyuapi Danendra.
Sya melirik pada Dokter Jo. Dokter Jo mengangguk, namun tangannya hanya menunjukan telunjuk. Yang berarti hanya sesekali.
"Baiklah. Besok Mama akan bawakan."
"Bukankah Mama akan menginap disini?"
__ADS_1
"Maaf. Mama tidak bisa menginap. Mama ada urusan lain."
"Apa urusan itu lebih penting dariku?"
Sakit. Pertanyaan itu membuat sakit di dalam hati Sya. Meski begitu Sya masih tetap tersenyum.
Dokter Jo keluar. Membiarkan ruang untuk ibu dan anak bicara saat ini. Setelah selesai operasi dan kondisinya baik. Danendra memang langsung di pindahkan ke rumah Lufas lagi.
Sya duduk di tepi tempat tidur Danendra. Dengan masih tersenyum, Sya memegang tangan Danendra.
"Sayang. Tidak ada yang lebih penting darimu bagi Mama. Hanya saja, ada hal lain yang harus kita urus."
"Lalu Mama mau pergi kemana?"
"Mama ingin berterima kasih pada orang yang sudah menolongmu."
"Yang memberikan hati untukku?"
Sya mengangguk.
Danendra tersenyum dengan senang.
"Kapan aku bertemu dengannya?" Tanya Danendra.
"Mama akan membawanya lain kali."
"Mama janji padaku?"
"Ya. Mama janji, tapi sekarang kau harus makan. Jika Nendra sehat, Nendra bisa pergi bersekolah."
"Ya. Suapi aku."
Sya menyuapi Danendra dengan lemah lembut. Dia juga memberikan obat untuk Nendra minum.
Lufas masuk ke rumah. Dia melihat dokter Jo berdiri di depan pintu kamar Danendra.
"Ada apa kau disini?" tanya Lufas.
"Sya dan Danendra membutuhkan waktu bersama."
"Ya. Setelah Sya selesai."
Raut wajah Lufas terlihat tidak senang. Dia langsung masuk begitu saja. Saat itu, Sya sedang membersihkan bekas makanan Danendra.
"Papa." panggil Danendra.
Sya ikut menoleh. Ternyata benar, ada Lufas disana. Hanya saja wajahnya tidak terlihat baik-baik saja.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Lufas.
"Ya."
"Minum obat?"
"Sudah."
"Bagus. Bisakah saat ini kau istirahat? Mama dan Papa akan keluar."
Danendra menoleh pada Sya.
"Ya. Kau harus istirahat. Besok Mama akan datang lagi."
Danendra mengangguk.
Sya dan Lufas keluar bersama. Dokter Jo langsung masuk ke dalam kamar Danendra. Mengecek beberapa hal dan kondisi Danendra.
Lufas manarik tangan Sya dengan kasar. Sya menatap Lufas dengan penuh tanya.
"Bukankah kau sedang melakukan persiapan pernikahan? Kenapa kau masih datang kesini?"
"Aku ingin bertemu dengan Nendra."
Lufas terlihat mengejek Sya.
__ADS_1
"Apa kau begitu peduli denganya. Kau juga harus peduli pada calon suamimu itu."
"Kenapa kau mengatakan semua ini?" Tanya Sya.
"Aku hanya ingin mengatakan. Jika kau memang peduli dengan Nendra. Datanglah saat Jo tidak sedang memeriksanya."
"Dokter Jo tidak masalah dengan itu."
"Dia memang tidak masalah. Aku yang tidak suka."
Sya menatap dengan bingung.
"Danendra dibawah asuhanku. Kau harus tahu, jadi kau datang saat aku mengijinkanmu."
"Apa kau ingin menjauhkan aku dari anakku sendiri?"
"Tidak. Aku hanya ingin memberikan waktu berdua untuk kau dan calon suamimu itu."
"Kau memang kejam," kata Sya.
***
Mike meminta jadwal pada asistenya. Hari ini jadwalnya begitu padat. Belum lagi jadwal di dalam kehidupan aslinya. Mike menatap pada asistenya.
"Batalkan semua jadwal pemotretanku. Lalu, antar aku ke markas."
"Bukankah Tuan masih harus istirahat."
"Lakukan saja apa yang aku minta."
Kebetulan sekali. Saat Sya kembali asisten mike, Lee. Sedang menyiapkan sebuah mobil.
"Asisten Lee. Mau kemana?" Tanya Sya.
"Tuan meminta saya menyiapkannya."
"Bukankah dia harunya istirahat?"
Asisten Lee yang ditanya hanya diam saja. Sya masuk dan langsung menuju ke kamar Mike. Mike sudah bersiap dengan setelan jas, dia sedang mencoba memakai dasi.
"Kau mau kemana?" tanya Sya.
"Kerja."
"Tidak boleh. Kau harus istirahat, itu kata dokter."
Sya mengambil dasi dari tangan Mike dan meletakan ke tempat semula. Mike menarik tubuh Sya. Dia menatap Sya lalu tersenyum.
"Kau sudah mulai perhatian padaku," kata Mike.
"Untuk kebaikanmu. Teman."
"Aku calon suamimu."
"Masih calon."
"Apa kau sedang menggodaku?" Mike mengerlingkan matanya.
Sya buru-buru melepaskan pelukan itu. Dia menjauh beberapa langkah dari Mike.
"Aku tidak menggodamu sama sekali."
"Lihatlah setelah kita menikah nanti."
Sya tidak mengatakan apapun.
"Aku akan membuatmu bahagia," tambah Mike.
Saat ini Sya tersenyum karena ucapam mike itu.
"Baik-baiklah di rumah. Aku mengurus pekerjaan hanya sebentar."
Mike mengambil lagi dasi yang diletakan Sya. Dia menggunakan dasi itu sembari berjalan keluar.
__ADS_1
Saat ini Sya berfikir. Apa pernikahan ini harus dilanjutkan atau tidak. Mike begitu perhatian dan selalu baik. Sementara Sya masih saja menganggapnya sebatas teman.