
Taxi berhenti di depan rumah Xiu. Sya turun dengan Danendra di pelukannya. Bi Sali tidak bisa ikut dan memilih untuk menjaga apartemen.
Seorang penjaga rumah langsung membukakan pintu. Sya berjalan, sembari sesekali bercengkrama dengan Danendra. Danendra hanya tertawa saja.
Langkah Sya terhenti. Dia melihat seseorang keluar dari rumah Xiu. Dia langsung naik ke mobil, bahkan pengawalnya yang membakan pintu mobil.
Dari aura pria itu. Sya merasa tidak asing. Bahkan Sya merasa sangat familiar. Siapa lagi jika bukan Lufas.
Mobil itu berjalan melewati Sya begitu saja. Sya mencoba melihat ke dalam, tapi tidak nampak apapun di sana.
Mata Sya masih saja menatap pada mobil itu. Sampai pintu gerbang rumah Xiu tertutup. Sya meresam bajunya sendiri, dia nodoh karena tidak mengehentikan mobil itu. Sehrusnya dia memastikan siapa orang it.
"Hey, kenapa diam disini?"
Sya kaget dengan tepukan di pundaknya.
"Ada apa?"
"Siapa orang tadi?" tanya Sya langsung.
"Maksudmu, orang yang menggunakan mobil berwarna hitam?" Tanya Xiu.
Sya mengangguk.
"Dia rekan bisnisku dari luar kota."
"Aku kira Lufas."
Xiu menatap sedih dengan keadaan Sya. Dia sudah sukses dan berubah, tapi hatinya masih sama saja. Sya masih berharap jika Lufas akan datang dengan keadaan yang baik-baik saja.
"Nendra. Ayo sama tante," Xiu mencoba mencairkan suasana dengan menggendong Nendra.
Sya membiarkan naknya di bawa oleh Xiu. Sementara dirinya berjalan plan di belakang. Masuk ke rumah Xiu, Sya melihat beberapa gelas kotor di meja. Sudah pasti Xiu baru saja menerima tamu.
"Oh ya. Bukankah kamu datang karena ada hal penting?"
"Ya. Aku ingin berdiskusi banyak hal."
"Diama pngasuh anak ini. Tidak mungkin kita berdskusi dengan Nendra. Semuanya akan kacau," kata Xiu dengan tawa.
"Bi Sali tidak bisa ikut. Dia lebih memilih membersihkan apartemen."
"Kalau begitu. Biarkan Nendra dengan suster yang ada disini. Dia juga akan teang."
"Tapi,.." Sya terlihat keberatan dengan apa yang Xiub putuskan.
"Tenang saja. Kemanan disini sangat ketat."
Akhirnya Sya seetuju. Danendra di asuh oleh suster di rumah Xiu. Setelah itu mereka naik ke tempat Xiu kerja.
Mereka membahas banyak hal. Sampai saat Sya menyinggung tentang Tom yang akan berinvestasi. Xiu terihat berikir dan menatap pada Sya.
"Menurutmu, apa Tom benar-benar ingin melakukannya. Maksudku, apa murni investasi."
"Aku tdak tahu."
"Apa sebelum ini dia pernah menemuimu?"
"Tidak. Kami hanya bertemu sekali, saat dia menikah dengan Anna."
"Lalu bagaimana bisa dia tahu banyak hal tentang perusahaan dan juga kamu."
"kak Xiu, aku tidak tahu ha itu. Hanya saja sebelum ini dia sempat memberikan barang padaku."
Xiu mengangguk-angguk. Sementara Sya hanya diam.
"terima saja investasi itu," kata Xiu kemudian.
"Lufas melarangku berhubungan dengannya. Ben juga setuju akan hal itu."
"Ya. Sejak awal Lufas dan Tom memanglah musuh. Wajar saja Lufas melakukan hal itu. Hanya saja, keadaan saat ini berbeda. Kau sudah tidak memiliki Lufas lagi. Jadi, mungkin saja Tom ingin murni investasi."
"Jika dia hanya menggunakan untuk alasan lain bagaimana?"
Kembali Xiu terlihat berfikir.
"Aku akan ikut investasi. Lebih besar dari Tom. Jadi, jika dia membuat keributan, aku yang akan menanganinya."
"Terim kasih."
"Untuk apa?"
"Kamu mau membantuku. Tanpa alasan apapun," kata Sya.
__ADS_1
Xiu berpindah duduk di dekat Sya. Dia memegang tangan Sya pelan.
"Apa ada masalah lain?"
Sya menggeleng pelan. "Bukan masalah. Hanya saja menggangguku."
"Apa itu?"
"Apa kau yakin Lufas sudah meninggal?"
"Apa maksudmu? Dia sudah meninggal. Kau sudah melihat jasadnya, kita juga mengantarnya ke pemakaman."
"Tapi hatiku mengatakan jika Lufas masih ada. Dia hanya menghindar dariku, terutama anakku."
"Apa kau memiliki alasan itu? Sya, kau hanya berhalusinasi saja."
"Beberapa kali aku melihsat seseorang mirip Lufas di daerah apartemenku. bahkan, di tempat lain dimana aku sering datang kesana dengan Lufas."
"Apa kau butuh psikolog?"
"Apa kau menganggap aku gila, Kak?"
"Tidak. Aku hanya ingin kau sadar, Lufas sudah tiada." Xiu memegang tangan Sya dengan erat.
Sya menahan air matanya.
"Sya. Ini baru bberapa hari, lambat laun kau akan terbiasa tanpa adanya Lufas. Bertahanlah untuk Nendra."
Sya mengangguk dan mengatur nafasnya. Dia melihat jam dan berpamitan dengan Xiu. Dia mengambil Danendra dari suster yang membawanya tadi.
"Aku sudah siapkan mobil," kata Xiu.
"Terima kasih."
Sya masuk ke mobil dengan Nendra. Xiu menatap ampai mobil itu tertutup gerbang. Dia merasa begitu kasihan pada Sya. Dia menjalani hari yang tidak mudah.
***
Sampai di apartemen Sya memberikan Nendra pada Bi sali. Sya langsung menyandarkan tubuhnya di sofa. Baru kali ini dia keluar dengan Nendra saja. Hal itu cukup melelahkan.
Mata Sya tiba-tiba melihat kearah meja. Dia melihat ada dua gelas kotor disana. Sya langsung memanggil Bi Sali.
"Ya, Nyonya."
Bi Sali menoleh kearah meja.
"Maaf Nyonya. Tadi dua anak saya datang kesini. Saya tidak mungkin mengusir mereka."
"Begitu ya. Tidak masalah kok Bi, aku hanya memastikan saja."
"Oh ya, Nyonya. Besok saya akan libur."
"Libur?"
"Anak saya akan membawa wanita kerumah. Dia mengatakan jika akan mengenalkannya pada saya."
"Berita bagus. Kalau begitu, Bi Sali bisa libur. Berapa hari?"
"Hanya satu hari."
"Baiklah."
Bi Sali terlihat bahagia mendengar ijin liburnya diterima oleh Sya.
"Bi. Aku akan istirahat. Nanti maalam aku akan ke kantor untuk acara peluncuran."
"Baik Nyonya."
Sebelum Sya masuk ke kamarnya. Dia endekat pada Nendra. Dia mencium keningnya dan membisikkan sesuatu. Setelah itu dia benar-benar masuk ke kamar untuk istirahat.
***
Malam datang. Sya yang sudah siap pergi mencium dan menggendong Danendra lebih dulu. Dia bahkan menidurkan Danendra di kamarnya sebelum berangkat.
Melihat Danendra yang terlelap. Sya merasa Lufas berada di sampingnya. Rasa rindu akan kehangatan cinta muncul di hati Sya. Dia merasa kesepian.
Tidak ingin berlarut-larut dalam rasa itu. Sya bangun dan menatp kembali pada danendra. Dia keluar dan melihat Bi Sali yang duduk di samping jendela.
"Bi, aku berangkat dulu ya."
"Baik, Nyonya."
Mobil jemputan dari kantor sudah menunggu di depan gedung apartemen. Kembali, sosok bayangan Lufas muncul. Kali ini, Sya menepinya. Dia merasa benar dengan apa yang dikatakan oleh Xiu. Dia hanya berhalusinasi saja.
__ADS_1
Sya melihat gedung kantornya. Banyak tamu undangan yang datang. Para karyawan dan model juga terlihat begitu sibuk. Rasti yang melihat kedatangan Bosnya langsung mendekat.
"Selamat malam Bos."
"Malam. Bagaimana keadaan disini?"
"Baik. Semuanya berjalan lancar."
Sya tersenyum. Seorang karyawan datang mendekat dan memberikan sesuatu pada Rasti. Daftar tamu VIP. Tanpa sadar Sya melihat nama Anna disana.
Tangan Sya merebut daftar nama tamu undangan itu dari Rasti. Rasti kaget dan hanya diam. Dia merasa jika bosnya saat ini tidak suka dengan pekerjaanya.
"Apa ada yang salah Bos?" Rasti mencoba berani menanyakanya.
"Apa ini adalah Anna istri Tom?" Sya menunjuk ke sebuah nama.
"Benar."
"Kenapa dia diundang?"
"Dia adlah nama tamu VIP. Jadi, jelas dia harus diundang."
Sya diam dan terus menatap nama itu.
"Apa ada hal lain Bos?"
"Tidak, Lanjutkan saja pekerjaanmu."
Sya mencoba mengatur nafas. Saat ini, tidak seharusnya dia mencampurkan maslah pribadi dan kantor. Jadi, Sya mencoba tenang dan kembali berjalan, melihat apa ada yang salh atau tidak. Dia tidak ingin acara hari ini kacau hanya karena masalah kecil.
Acara berjalan dengan begitu lancar. Sekarang saatnya jamuan makanmalam. Sya melihat-lhat para tamu. Kadang Sya juga bertegur sapa, hanya untuk sekedar formalitas saja.
"Sya."
Sya menoleh karena ada yang memanggil. Ternyata Anna, Sya hanya tersenyum tipis.
"Kau pasti sangat bahagia," kata Anna kemudian.
Sya hanya diam. Tidak paham dengan apa yang Anna maksudkan.
"Lufas mati dan kau mendapatkan perusahaan ini."
"Dia masih hidup dihatiku," jawab Sya dengan datar.
Anna tertawa. "Jangan membohongi dirimu sendiri Sya. Saat ini kau pasti kesepian bukan."
"Maaf. Aku harus kembali bertemu tamu yang lain."
"Sya. Jika kau kesepian, carilah pria yang masih sendiri. Atau kau akan benar-benar di panggil seorang pelakor."
Sya pergi begitu saja. Dia malas berdebat dan mengingat hal dimasa lalu. Hal itu akan membanggkitkan kenangannya akan Lufas. Hal itu sangan menyakitkan.
Beberapa tamu sudah kembali. Sya juga bersiap untuk pulang. Dia merindukan Danendra saat ini. Pasti si mungil sedang terlelap saat ini.
Sya keluar dari kantor. Dia melihat Tom dan Anna sedang bersama. Merasa tidak enak, Sya memilih menghindar. Namun sayang, tatapan Tom sudah jatuh padanya.
"Nona Syahela."
Sya berhenti di tempat. Tom menghampirinya.
"Nona, apa pegawalku sudah menympaikannya?"
"Sudah."
"Lalu apa jawabanmu?"
"Kau bisa berinvestasi."
Tom tersenyum. "Bagaimana jika kita besok bertemu secara langsung. Akan lebih mudah membahasnya."
"Bicarakan dengan asistenku. Maaf, aku harus pergi."
Sya berjalan melewati Tom dan masuk kesebuah taxi. Anna melihat tingkah suaminya itu. Kesal, walau tidak ada cinta dihati Anna, tetap saja dia tidak suka Tom mendekati wanita lain.
Tom merasa kesal tapi semakin terpikat dengan Sya. Tom mencoba mendekat padanya, walau Sya tidak menatap padanya sedikitpun. Hal itulah yang membuat Tom semakin tertarik padanya.
"Apa kau cemburu?" Tanya Tom pada Anna.
"Untuk apa aku cemburu."
Tom hanya tertawa mendengar jawaban Anna. Lalu masuk ke mobil dengan Anna yang disisinya.
***
__ADS_1