
Arda masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia melihat Aila duduk dengan rok pendek dan baju dengan kancing terbuka. Entah apa yang dipikirkan Aila saat ini.
Dia merasa cemburu karena Arda setuju untuk bulan madu dengan Sya. Jadi, dia memutuskan untuk memberikan segalanya untuk Arda.
"Kenapa diam? ayo kemari," goda Aila dengan mengerlingkan matanya.
Arda mendekat dan membantu mengancingkan baju Aila. Dia tahu jika Aila tidak suka dengan caranya itu.
"Kenapa kau menutupnya kembali. Aku memberikannya untukmu," ujar Aila.
"Kau bukan istriku."
"Jadi, apa kau sudah menyentuh dan mencoba istrimu itu. Apa aku kurang cantik dimatamu?"
"Aila. Apa yang kamu pikirkan. Kau cantik dan pantas mendapatkan pria yang baik. Keluar dari ruanganku," kata Arda dengan keras.
Aila tidak menggubrisnya. Dia malah mendekat dan memeluk erat tubuh Arda.
"Aila. Kamu dengar apa yang aku katakan bukan. Aku ingin kau keluar dari sini."
"Sebelum aku pergi. Katakan dulu alasan kau menikah dengan wanita itu. Apa karena dia cantik?"
"Aku tidak ingin mengatakan apapun padamu."
Aila berganti posisi di depan Arda. Dia melingkarkan tangannya di leher Arda. Senyuman menggoda juga ia sunggingkan.
"Katakan atau aku akan membuat istrimu pergi dari sini."
"Aila. Aku menikah dengan Sya karena alasan tertentu, hal ini yang membuat mamaku ingin cucu dariku dan Sya."
"Jadi kau mencintainya?" tanya Aila.
"Ya. Aku sangat mencintainy," jawab Arda dengan mantap.
Dengan keras Aila mendorong Arda. Dia menatap dengan rasa kesal yang tidak pernah dia tunjukan sebelumnya.
"Aku kira kau mencintaiku. Ternyata kau hanya bermain dengan perasaanku."
Arda mencoba mendekat, "Aila. Aku memang mencintaimu, cinta untuk adik dan sahabat."
"Aku tidak butuh cinta seperti itu. Aku butuh cinta dari seorang lelaki."
"Aila."
Kali ini Arda dan Aila menoleh kearah yang sama. Nyonya Ken mendekat dan langsung menampar Aila dengan keras.
"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak melakukan hal ini. Arda sudah punya istri," kata Nyonya Ken.
Aila tersenyum sinis, "Bukankah tante yang memintaku kesini. Tante sendiri yang berjanji akan menikahkan aku dan Arda."
"Aila. Apa orang tuamu tidak mengatakan hal selain perjodohan. Aku dan orang tuamu sudah lama membatalkan perjodohan ini."
Aila menggeleng tidak percaya. Dia merasa sudah diberi harapan kosong oleh keluarga Ken. Dengan perasaan marah, Sya keluar dari ruang kerja Arda. Dia bahkan beberapa kali mengumpat dengan kasar.
Kini nyonya Ken menatap Arda dengan penuh tanya. Dia tidak tahu apa anaknya itu akan berkata jujur atau tidak. Setidaknya, dia sudah membantu Arda menjauh dari Aila.
"Mama sudah bilang agar kau tidak terlalu baik pada Aila. Dia bukan gadis biasa," kata nyonya Ken.
"Aku tahu. Aku mendekat padanya karena ingin menyakiti Sya."
"Mama tahu kau belum mencintainya, tapi cobalah belajar. Jangan kecewakan mamamu yang sudah berharap besar pada Sya."
"Ma, apa hubungan mama dan mama Sya?" tanya Arda.
__ADS_1
"Kami teman."
Setelah menjawab pertanyaan Arda. Nyonya Ken keluar dari ruangan itu. Dia kembali masuk ke dalam ruang kerjanya.
***
Sya sedang duduk dengan buku ditangannya. Dia memilih duduk di taman belakang agar tidak ada yang mengganggunya.
Sret, brak. Aila datang dan mengambil buku itu, dia juga langsung membuangnya begitu saja. Sya menatap dengan penuh tanya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada keluarga Ken? sampai-sampai mereka mencampakan aku dan memilihmu."
"Apa maksudmu Aila?"
"Jangan berlaga bodoh. Asal kau tahu, Arda milikku. Aku akan mengambilnya darimu."
Sya berdiri dan mendekat pada Aila. Dia mencoba menenangkan Aila yang sedang dalam kemarahan. Sya memang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Aila.
"Aila. Di dunia ini bukan hanya ada Arda. Masih ada banyak pria lain, lagi pula Arda bukanlah pria yang baik."
"Apa sekarang kau sedang menjauhkan aku dari pria pilihanku. Aku akan tetap merebut Arda darimu," Aila mengatakannya sembari mendorong Sya.
Untung saja saat itu ada Eri yang datang. Sya langsung ditangkapnya dan tidak sampai terjatuh. Eri membantu Sya berdiri lagi, lalu dia mendekat pada Aila.
"Apa yang kau lakukan? kau bukan siapa-siapa disini."
"Aku adalah kekasih Arda. Apa kau tahu itu?"
Eri tersenyum, "Jika kau kekasihnya, Sya adalah istrinya. Dia lebih berhak darimu."
"Awas kalian," ucap Aila dan langsung pergi dari sana.
Sya hanya bisa memandang kepergian Aila. Dia tidak tahu penyebab kemarahan yang terjadi pada Aila. Entah siapa yang bisa membuatnya semarah itu.
"Apa kau tidak apa?" tanya Eri.
"Kenapa kau tidak melawanya. Kau istri Arda."
"Aku memang istrinya, tapi aku tidak mencintainya. Sedangkan Aila mencintainya," jawab Sya polos.
Eri hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Apa kau tidak terluka saat Aila bersama Arda?" tanya Eri kemudian.
Sya diam. Sya memang merasakan luka saat melihat Arda bersama dengan Aila. Ada rasa tidak rela dan marah.
"Jika iya, itu tanda kau cemburu. Kau tidak ingin kehilangan Arda, jadi kau harus mempertahankannya."
"Tapi Arda tidak mencintaiku."
"Jika dia tidak mencintaimu. Untuk apa dia menghentikan bus karena kau bersandar pada pria lain."
"Kau benar," lirih Sya.
"Kau bisa berfikir dulu. Apa kau mencintainya atau tidak. Setidaknya pertahankan pernikahan ini untuk ibumu."
Setelah itu Eri meninggalkan Sya kembali sendiri. Dia ingin Sya memikirkan apa yang dia rasakan sebenarnya.
Sementara itu, Arda menatap Sya dari kaca jendela. Dia melihat Sya sedang duduk dengan tatapan kosong. Ada rasa bersalah di hati Arda, dia berfikir jika sudah merusak Sya.
"Dia pasti sedang memikirkan kejadian gila itu. Dia pasti sangat marah padaku," lirih Arda.
Alasan itu membuar Arda berfikir bagaimana caranya membuat Sya tersenyum dan memaafkannya. Walau Arda tahu, kejadian itu bukanlah kesalahannya.
__ADS_1
Perubahan sifat Sya yang menjauh membuat Arda merasa gelisah.
***
"Kenapa anda tidak mengatakan alasan menjodohkan Arda dan Sya. Jika mereka tahu, mereka pasti akan menerimanya dengan senang."
Nyonya Ken merubah posisi duduknya.
"Kau tidak tahu Arda seperti apa. Dia sangat susah dekat dengan wanita."
"Dalam hal ini, Sya lah yang terluka. Dia kira, dia menikah karena Jovi," ucap Eri
"Aku tahu, tapi lebih baik seperti ini. Kau hanya perlu fokus mendekatkan Arda dan Sya."
"Baik."
Eri keluar dari ruangan nyonya Ken. Dia kembali bekerja dengan apa yang tertulis di kontrak. Sampai saat ini, Eri masih setia pada nyonya Ken. Dia tidak ingin rencana itu berubah.
Brak. Tanpa sadar Eri bertabrakan dengan Jovi yang terlihat siap pergi. Eri membenarkan posisi bajunya dan berdiri.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Jovi.
"Untuk apa lagi, aku adalah asisten pribadi Sya. Mana mungkin aku pergi," jawab Eri.
"Apa kau masih ingin membantunya. Padahal kau juga pernah disakiti olehnya."
"Masa lalu biarlah menjadi masa lalu. Setidaknya karena dia aku tidak menikah dengan pria yang salah."
Jovi berdecak mendengar apa yang dikatakan Eri. Dia lalu berlalu dari hadapan Eri untuk pergi keluar. Banyak hal yang belum Sya tahu dari keluarga Arda. Keluarga yang hampir hancur dulunya.
***
Sya masuk ke dalam kamar. Arda memang sudah menunggunya dengan seikat bunga di tangannya.
"Ini untukmu," kata Arda sembari menyodorkan bunga itu.
Sya menerima dengan rasa bingung. Kenapa Arda tiba-tiba memberikan sebuah bunga padanya.
"Ada acara apa ini?" tanya Sya.
"Tidak. Aku hanya ingin meminta maaf atas kejadian kemarin. Aku sudah salah menyentuhmu tanpa izin."
Kali ini Sya tersenyum dengan lembut, "Kau tidak salah. Kita tidak tahu siapa yang melakukan ini."
"Kau tidak marah padaku?" tanya Arda.
Sya menggeleng dan meletakan bunga itu ke meja. Dia lalu berbalik kearah Arda. Setidaknya, pria yang berada dihadapannya kali ini sudah sedikit berubah.
"Arda. Apa kau mencintai Aila?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Sya.
"Apa kau cemburu?" Arda balik bertanya.
"Tidak. Aku hanya..."
"Tidak usah memikirkannya. Dia memang selalu seperti itu. Aku hanya menganggapnya seorang adik. Tidak lebih."
Ada rasa lega di hati Sya mendengar jawaban Arda. Kini dia yakin untuk tetap mempertahankan pernikahan itu. Dia akan membuat Arda menyatakan perasaanya juga.
"Kau bisa istirahat. Aku harus kembali ke kantor," ucap Arda.
"Ya. Hati-hati di jalan."
Dengan perasaan senang Arda keluar dari ruangan itu. Dia merasa senang karena Sya tidak marah padanya. Apa lagi saat Sya mengatakan untuk berhati-hati di jalan.
__ADS_1
Apakah cinta itu akan tumbuh dengan indah? atau akan banyak rintangan yang menghadang. Entahlah, mereka hanya bisa menjalaninya saja.
Tidak ada alasan yang pasti untuk sebuah cinta.