
Prosesi pemakaman berlangsung dengan penuh duka. Nyonya Ken merasa sangat terpukul dengan kepergian teman sekaligus penolongnya itu.
Beberapa kali Mila mencoba menenangkan ibunya itu. Tetap saja, derai air mata terus menerus keluar dengan kenangan yang kembali hadir.
"Ma. Sudahlah, jangan menangis lagi."
"Mila. Kau tidak tahu apa yang sudah dilakukan dia untukku. Dia bukan hanya penyelamat. Dia temanku juga."
"Aku tahu, Ma. Hanya saja, jika Mama terus seperti ini bagaimana Sya bisa bertahan."
Nyonya Ken menghela nafas. Apa yang dikatakan Mila benar. Jika dia terus menerus terpuruk siapa yang akan menghibur Sya. Dia juga pasti merasa sangat kehilangan.
Sementara itu. Arda masih setia menunggu Sya yang belum juga sadar. Sejak tadi, Arda tidak meninggalkan Sya sedetikpun. Dia tidak ingin membuat istri tercintanya itu merasa sendiri di dunia ini.
"Bangunlah Sya." Lirih Arda.
***
Malam sudah mulai datang. Sya masih saja belum membuka matanya. Dokter mengatakan jika Sya merasa sangat terkejut dengan kematian ibunya. Belum lagi tentang kakaknya.
Sejak kembali Arda belum juga beranjak dari samping Sya. Dia terus berada di dekatnya. Kadang Arda akan mengatakan kata-kata indah untuk Sya. Walau dia tidak tahu, apa Sya mendengarnya atau tidak.
"Aku janji. Aku akan selalu berada di sampingmu. Aku tidak akan melakukan hal bodoh hingga kau pergi dariku."
Perlahan mata Sya mulai terbuka. Dia melihat kesekelilingnya, sampai tatapanya tertuju pada Arda yang berada di sampingnya.
Sya mencoba untuk mendekat pada Sya. Sampai dia ingat apa yang dikatakan oleh Jeremy. Sya kembali mengurungkan niatnya.
"Kau sudah bangun?" tanya Arda.
Sya hanya diam sembari terus mengingat perkataan Jeremy.
"Sya. Maafkan aku, aku seharusnya mengatakan yang sebenarnya."
Sya masih tidak memberikan respon apapun. Dia hanya menatap suaminya itu. Dia merasa apa yang dikatakan Jeremy tidak benar, tapi Jeremy sampai menyamar dan membalaskan dendam Dava. Hal itu membuat Sya yakin.
"Kau tidak akan sendiri di dunia ini Sya. Aku akan selalu di sampingmu."
"Apa ibuku sudah dimakamkan?" tanya Sya kemudian.
Arda mengangguk.
"Apa aku bisa kesana? kau tahu. Dia keluargaku satu-satunya."
"Baiklah. Aku akan menemanimu," kata Arda.
Setelah selesai membersihkan diri. Sya keluar dari kamar dibantu oleh Arda. Di depan sudah ada mobil yang disiapkan oleh sopir Arda.
Sampai di teras depan. Mila dan nyonya Ken datang, mereka baru kembali dari tempat pemakaman. Sya merasa perlu untuk bertanya pada ibu mertuanya itu. Dia berhak untuk tahu semuanya.
"Arda. Aku tidak ingin ke pemakaman sekarang," kata Sya.
"Ada apa? apa kau merasa sakit?"
Sya menggeleng. "Tidak. Aku ingin menemui Mama. Aku ingin bicara dengannya."
"Kau mau kemana?" tanya Mila pada Sya.
__ADS_1
"Tidak. Aku ingin berbicara dengan Mama saja," kata Sya.
Nyonya Ken menatap Sya, lalu dia mengangguk.
"Kau ikut denganku," kata nyonya Ken.
Tanpa perintah ke dua kali. Sya mengekor pada nyonya Ken. Mereka masuk ke dalam kamar nyonya Ken.
Suasana hening menyelimuti mereka berdua. Sya tidak tahu harus memulai dengan pertanyaan seperti apa. Sementara nyonya Ken merasa sangat bersalah karena tidak bisa menyelamatkan ibu Zein.
"Ma. Aku ingin bertanya sesuatu."
Nyonya Ken mengulas senyum. "Katakan. Aku akan menjawab semuanya."
"Apa benar. Ibuku.... mendonorkan ginjal untukmu?"
"Ya."
"Apa karena hal itu. Mama, menerima aku sebagai menantu di rumah ini?"
"Ya."
"Ma. Ada satu pertanyaan lagi, tapi Mama harus menjawab dengan jujur. Aku tidak mau hatiku hancur karena sebuah kebohongan."
Nyonya Ken terlihat menahan air matanya. Dia mendekat dan duduk di samping Sya. Dia menatap Sya dengan tatapan lembut.
"Aku Mamamu. Mana mungkin aku berbohong padamu," kata nyonya Ken.
"Apa Mama tahu tentang Dava? kakakku?"
"Ada apa? bukankah kakakmu sudah kembali?"
"Dia bukan kakakku."
"Benarkah? apa dia sudah membohongimu dan ibumu? seharusnya Arda mampu membuatnya jera."
Merasa hatinya belum tenang. Sya akhirnya bercerita tentang Jeremy. Sya mengatakan semuanya, jika memang Arda yang sudah membunuh Dava. Seharusnya nyonya Ken akan kaget, atau dia akan mencari alasan untuk hal itu.
"Jeremy mengatakan jika Arda yang sudah membunuh kakakku."
Nyonya Ken terlihat tenang. Dia meletakan tangannya ke pangkuan. Lalu dia mengatakan, "Jika memang Arda yang melakukannya. Dia harus membayar hal itu."
"Maksud Mama?"
"Mama memang tidak tahu tentang hal ini. Lebih baik, kau cari tahu saja sendiri."
Sya terdiam. Penuturan nyonya Ken membuat Sya tidak bisa berkata apapun lagi. Jika sudah seperti ini, mana mungkin Sya akan menyalahkan nyonya Ken dalam kematian kakaknya.
"Sya. Mama hanya minta satu dari kamu, jangan tinggalkan Arda. Dia berubah karenamu," kata nyonya Ken.
Sya mengangguk. Dia juga tidak mungkin meninggalkan Arda. Walau mungkin kenyataanya pahit, Sya tidak bisa membohongi hatinya. Dia mencintai suaminya. Arda.
***
Sya bangun dengan badan yang terasa sangat sakit. Mungkin karena kemarin dia baru saja diselamatkan oleh Arda dari Jeremy.
Melihat matahari sudah mulai tinggi. Sya bangun dan menyibakkan korden kamarnya. Taman bunga yang indah langsung terlihat. Sya menghirup udara dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Kau sudah bangun?"
Sya menoleh. "Apa kau akan pergi hari ini?" tanya Sya yang melihat Arda berpakaian rapi.
Arda mendekat dan memeluk pinggang Sya. Dia mengecup pelan kening Sya.
"Aku akan mengantar Mama dan Kak Mila. Kasihan Sima, dia sendiri di rumah."
"Aku kira kau akan kemana."
"Apa kau mau ikut?" tanya Arda.
Sya diam. Dia terlihat berfikir.
"Baiklah jika kau tidak mau ikut. Aku akan belikan sesuatu untukmu."
Senyum Sya mengembang. Dia memeluk Arda dengan erat. Walau beberapa kali perkataan Jeremy terngiang di telinganya. Dia mencoba tetap mengacuhkannya.
"Aku tidak ingin apapun darimu. Aku hanya ingin kau mencintaiku dan jujur padaku," lirih Sya.
"Ya. Aku akan melakukan hal itu dengan segenap hatiku. Kau adalah cintaku."
"Terima kasih."
Tok tok tok.
Arda dan Sya kompak melepaskan pelukan. Mereka langsung memandang kearah pintu kamar.
"Biar aku saja yang buka."
Seorang pelayan berdiri di depan pintu. Dia menundukkan wajahnya.
"Nyonya Ken dan Nona Mila sudah menunggu," kata pelayan itu.
"Sebentar lagi kita akan turun."
"Baik."
Sya menoleh pada Arda. Dia tersenyum, Arda yang paham langsung mendekat. Mereka turun bersama untuk bertemu nyonya Ken dan Mila.
"Apa kalian benar akan pulang saat ini?" tanya Sya dengan raut wajah sedih.
"Ya. Sima hanya dengan pengasuhnya. Lagi pula, kami tidak ada alasan lagi disini."
Sya mendekat. "Mama punya alasan disini. Karena aku butuh Mama saat ini," kata Sya.
Nyonya Ken memeluk Sya dengan erat. Ya, saat ini yang Sya miliki hanya keluarga suaminya. Jika mereka meninggalkannya, Sya tidak tahu akan bersama dengan siapa.
"Kami akan datang jika kau minta Sya," kata Mila.
"Aku akan merindukan kalian," kata Sya.
Setelah selesai berpamitan. Sya mengantar nyonya Ken dan Mila sampai depan rumah. Lalu dia kembali masuk ke kamarnya. Dia memikirkan cara agar Arda mengatakan apa yang Sya inginkan.
Hati Sya menjadi bimbang antara cinta dan apa yang dikatakan Jeremy. Hanya Jeremy yang bisa memberi tahu Sya dimana letak makam Dava. Jika Dava benar-benar sudah tiada.
***
__ADS_1