The Way Love

The Way Love
LXXVIII


__ADS_3

Malam itu Aila terlihat begitu sibuk menyiapkan meja makan. Dia memesan makanan hotel, namun bukan makanan biasa. Dia memesan beberapa makanan kesukaan Arda.


Aila memiliki alasan kuat untuk melakukan hal itu. Dia ingin tahu apa Arda yang tidak minum pil, atau pil yang diberikan si wanita itu yang salah.


Setelah ruangan itu dihias dengan sedemikian rupa. Aila menghela nafas panjang. Dia benar-benar merasa lelah hari itu. Dia memikirkan berbagai cara agar tahu apa yang dilakukan Arda.


Tuk tuk tuk. Aila menoleh kearah belakang. Benar saja, Arda sudah kembali dengan wajah letih. Tas yang dia bawa bahkan dilempar kesembarang arah.


Tanpa ragu Aila berlari kecil kearah Arda. Dia juga langsung memeluk tubuh Arda yang tegap itu. Dia hanya ingin melakukan itu, tentunya dengan hati yang terus mencoba meyakinkan dirinya sendiri.


"Lepaskan aku," kata Arda.


Aila melepaskan pelukan itu. Dia menatap Arda dengan tatapan seperti biasa. Penuh cinta.


"Apa yang kau lakukan dengan kamar kita?" Tanya Arda.


"Kau tahu. Sejak datang kesini, aku merasa kau berubah. Kau menjauh dariku."


Arda hanya tidak menanggapi hal itu. Dia memilih diam agar Aila tidak merasa curiga.


"Aku bahkan takut saat kau dekat dengan Sya. Tatapanmu begitu berbeda, padahal kau tahu jika Sya akan bertunangan dengan pria lain."


Aila kembali mendekat. "Apa kau sudah jatuh cinta padanya?"


"Cukup Aila. Aku sangat lelah."


"Apa yang aku katakan benar? Arda. Aku ini istrimu, tapi beberapa hari ini kau terus menghindar."


"Aila."


"Katakan saja kau tidak mencintaiku. Kau sudah melupakan cinta kita. Padahal, saat belum ketempat ini. Kau begitu ingin membalas dendam pada Sya. Kini, aku harus kehilangan dirimu karenannya."


Setelah mengatakan hal itu. Aila berjalan kearah pintu. Dia mungkin ingin pergi saat itu. Hanya saja, Arda menahannya.


"Aku masih sama Aila. Aku mencintaimu."


Aila tidak menanggapinya. Dia tetap berjalan lurus kedepan. Sampai Arda menariknya ke dalam pelukan.


"Apa kau marah padaku? Aila. Aku tetap mencintaimu."


Aila hanya diam.


"Aku akan melakukan apapun yang kau mau Aila. Jangan tinggalkan aku," kata Arda.


Aila mengambil sebuah botol kecil dari saku bajunya. Dia memperlihatkan botol itu pada Arda, lalu tersenyum.


"Apa itu?" Tanya Arda.


"Jika kau mau minum ini untukku. Aku akan percaya kau mencintaiku."


Raut wajah Arda berubah. Dia merasa terjebak kali ini. Dokter sudah mengatakan padanya agar tidak meminum pil atau apapun yang diberikan oleh Aila. Jika Arda saat ini menolak semuanya akan ketahuan.


"Ternyata kau memang tidak mencintaiku lagi."


Aila melepaskan pelukan Arda.

__ADS_1


"Tunggu. Aku akan meminumnya."


Tanpa terlihat oleh Arda. Aila tersenyum begitu lebar. Kali ini, dia berhasil membuat Arda kembali tunduk.


"Baiklah. Minum ini," kata Aila menyodorkan botol itu.


"Apa ini aman untukku?"


"Tentu. Jika tidak, mana mungkin aku memberikannya padamu."


Tanpa pikir panjang. Arda langsung meminum air dalam botol itu. Sembari berharap, tidak ada campuran apapun di dalamnya.


***


"Apa yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Sya pada Lufas.


Saat ini mereka tengah duduk disebuah cafe yabg dekat dengan hotel. Mereka tidak ingin ada yang menguping tentang pembicaraan itu.


"Apa kau keberatan dengan pernikahan ini?" Tanya Lufas selanjutnya.


Sya tersenyum. "Kau tahu. Walau aku keberatan, pernikahan ini akan tetap terjadi."


"Jika kau tidak mau menikah denganku. Kau bisa pergi dari sini, aku akan membantumu."


Kali ini Sya tertawa kecil. Dia tidak mungkin melakukan hal gila itu. Dia akan membuat Ruka kembali sendiri. Hal itu pasti sangat mengerikan, bagi Sya maupun Ruka.


"Apa tidak ada cara lain?"


Lufas menyodorkan sebuah kertas. Sya menatap Ruka.


Perlahan Sya membacanya. Kata demi kata dia baca dengan teliti. Dia tidak mau ada satu hal pun yang terlewat.


"Bagaiman? Apa kau setuju?"


Sya menatap Lufas. "Bagaimana jika salah satu dari kita memiliki perasaan lain?"


Lufas menggeleng. "Aku tidak memikirkan hal itu."


"Baiklah. Aku setuju."


Perjanjian itu disetujui satu sama lain. Dimana pernikahan itu hanya akan mengikat mereka dalam kertas. Tidak boleh ada yang tahu selain mereka berdua. Jika rahasia itu bocor, Sya dan Lufas akan melakukan hal yang tidak diduga nantinya.


Tidak lama pelayan membawakan beberapa makanan. Sya menoleh pada Lufas, begitupun sebaliknya. Tidak ada yang memesan makanan saat itu. Mereka hanya memesan minuman, dan itupun sudah datang.


"Siapa yang memesan ini?" Tanya Sya.


Lufas menggeleng.


"Aku."


Lufas dan Sya langsung menoleh kearah suara. Dimana Ruka tersenyum lebar dengan sebuah tablet ditangannya. Sya melirik kearah meja, untung saja kertas perjanjian itu sudah tidak ada disana.


"Ka...kakak ada disini?" Sya mencoba melihat kesekeliling.


"Aku baru saja meeting dengan beberapa teman. Tidak disangka aku melihat kalian disini. Kalian sedang membicarakan apa? terlihat sangat serius."

__ADS_1


Melihat Lufas yang tidak bisa berkata apapun. Sya menarik tangan Ruka untuk duduk disampingnya.


Dia memeluk tangan Ruka sembari berkata, "Kami sedang membahas pertunangan kami. Kau tahu, kau memberikan tanggal yang cukup dekat. Jadi,..."


"Aku tahu Sya. Aku sudah menyiapkan segalanya," kata Ruka.


Lufas mengembangkan senyumnya, "Baguslah. Aku tidak perlu repot memikirkan hal itu."


"Tentu. Kalian hanya harus memikirkan satu sama lain. Aku pergi dulu."


"Kenapa Kakak tidak ikut makan?"


Ruka menepuk pundak Sya. "Aku ada urusan. Kalian saja yang makan. Nikmati waktu ini."


Sya dan Lufas mengangguk. Mereka melihat Ruka yang keluar melewati pintu. Setelah itu, mereka bernafas lega. Mereka tidak menyangka jika ada Ruka disana.


Jika Ruka sampai tahu akan hal itu. Sudah pasti Lufas dan Sya akan berada dalam masalah besar.


"Ayo kita makan," kata Sya.


"Tentu."


Mereka mulai makan dengan tenang. Tanpa ada gangguan. Hal itu membuat Sya dan Lufas sama-sama bingung untuk membuka pembicaraan.


"Lufas. Sebenarnya, aku ingin tahu tentang dirimu. Tapi, kau jangan menganggap aku ada perasaan lebih," kata Sya.


"Ya. Kau ingin tahu aku yang seperti apa?"


Sya meletakan alat makannya.


"Aku dengar kau sudah pernah menikah dan istrimu, maaf, istrimu sudah tiada. Apa kalian tidak memiliki anak?"


"Belum, tapi hampir."


"Maksudmu?"


Mata Lufas terlihat berkaca-kaca. "Istriku meninggal saat dia mengandung anakku."


"Maaf aku sudah menanyakannya."


"Tidak masalah. Aku juga ingin tahu tentang dirimu yang dulu. Hanya saja, waktu ini tidak tepat."


Sya terlihat bingung dengan perkataan Lufas. Sya berharap, Lufas juga mau mendengarkan ceritanya saat ini.


"Lihat. Mantan suamimu ada disini dengan istrinya."


Sya menoleh ke belakang. Benar, Arda masuk dengan Aila. Mereka terlihat begitu mesra.


"Aku tahu kau merasa tidak nyaman. Jadi, ayo pergi."


Tanpa sadar Sya menyambut uluran tangan Lufas. Dia mengikuti langkah kaki Lufas. Ya, mereka tidak melewati pintu depan. Mereka melewati pintu belakang.


Sya masih tidak tahu alasan Lufas begitu perhatian padanya. Lufas, mengaku jika dirinya masih mencintai mendiang istrinya. Saat ini, Lufas begitu perhatian pada Sya. Walau Sya masih saja belum memperhatikannya dengan jelas.


***

__ADS_1


__ADS_2