
Para tamu sudah mulai berdatangan. Banyak sekali teman Mike yang datang. Bukan hanya dari kalangan model, banyak juga dari kalangan artis dan pebisnis.
Mike menyapa beberapa orang. Saat ini acara pernikahan inti hampir di mulai, tapi Sya masih saja mengurung diri di kamarnya.
Sya menatap keluar jendela. Hari ini acara pernikahannya dan Mike. Sya tidak bisa menolak lagi, apa lagi memikirkan untuk pergi. Mike sudah mau membantunya, Sya juga sudah menerima Syarat itu.
Tok tok tok.
Dengan gaun pengantin yang begitu indah dan besar. Sya membuka pintu. Saat ini Sya langsung mundur beberapa langkah. Bukan Mike yang datang, melainkan Lufas.
"Kenapa kau datang kesini?"
"Mantan istriku akan menikah. Mana mungkin aku tidak datang."
Sya hanya diam. Setahu Sya, Mike tidak mengundang Lufas. Kenapa dia bisa datang dan melewati para penjaga.
"Sya. Apa kau benar ingin melakukan ini?"
"Kau sudah tahu jawabanku."
"Saat ini Danendra sudah mulai pulih. Dia bisa pergi kesekolah kapan saja."
Sya menoleh. "Jika begitu bagus. Mike tidak melakukan hal yang sia-sia."
"Mike bukan orang baik. Saat ini, aku benar-benar mengingatkanmu."
"Mau dia baik atau tidak. Aku tidak peduli lagi, anakku sudah baik-baik saja sekarang. Walau masih ada penyakit lain di otaknya."
Lufas hendak mendekat. Kali ini Sya mundur dan mengambil sebuah tongkat di belakangnya.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Sya. Lakukan denganku sekali lagi. Mike tifak akan curiga."
Wajah Sya memerah. Dia terlihat marah dengan perkataan Lufas.
"Jangan mendekat." Ucap Sya dengan cukup keras.
Lufas melangkah maju, tanpa ragu Sya mengayunkan tongkat itu. Dengan santainya Lufas memegang tongkat itu dan merebutnya dari Sya.
Sya mencoba berlari dengan gaun yang berat itu. Dia mencoba menghindari Lufas yang terus mengejarnya. Sampai di sebuah tikungan, Sya menabrak seseorang.
Mata Sya melihat siapa orang yang baru saja dia tabrak. Wajah Mike terlihat bingung menatap Sya. Sya langsung memeluk Mike pada saat itu juga.
"Kenapa kau berlari? Ada yang mengejarmu?"
"Ya. Lufas datang, dia mengejarku."
Mike melihat ke lorong yang baru saja Sya lewati. Tidak ada apapun, atau siapapun. Mike melihat Sya yang saat ini masih menunduk.
"Tidak ada siapapun."
"Mana mungkin. Dia datang, dia juga mengejarku."
"Sya. Kau mungkin hanya panik saja. Sekarang kita turun. Acara akan segera di mulai."
Sya mengira itu hanya halusinasinya saja. Hanya saja, halusinasi itu begitu nyata. Bahkan sangat nyata bagi Sya.
***
__ADS_1
Dengan langkah gontai Lufas berjalan keluar dari lift. Bau alkohol begitu menyengat. Lufas tidak peduli. Dia membuka pintu sebuah apartemen.
Mika saat itu sedang duduk santai dengan baju yang cukup terbuka. Dia kaget saat Lufas masuk dengan wajah mabuknya. Buru-buru Mika bangkit dari duduknya, lalu memapah Lufas.
Setelah meletakan Lufas di sofa. Mika berniat untuk mengambilkan minuman. Saat itu tangan Mika dipegang oleh Lufas.
"Aku akan mengambilkan kamu minum," kata Mika.
Tidak ada jawaban. Lufas malah menarik tubuh Mika. Saat itu Mika tahu betul apa yang diinginkan oleh Lufas.
Tanpa mereka sadari. Kini mereka sudah menyelam terlalu dalam. Bukan karena rasa cinta, hubungan itu berjalan dengan nafsu saja.
"Syaheila." panggil Lufas.
Mika berhenti sebentar. Dia menatap Lufas yang terus memanggil nama Sya. Marah. Jelas saja Mika marah. Tanpa memberi tahu Lufas? Mika menghentikan semuanya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Lufas dengan tatapan tidak senang.
"Lupakan saja. Kau berhubungan denganku. Nama wanita lain yang kau sebut."
Lufas sadar. Dia memakai kembali semua bajunya dan bersiap pergi. Mika hanya diam dan menatap kepergian Lufas. Sebenarnya Mika tidak rela Lufas pergi begitu saja. Meski begitu, Mika tetap merasa cemburu dengan Sya.
***
Para tamu bergiliran untuk memberi selamat pada Sya dan Mike. Mereka ikut bahagia dengan hubungan yang baru saja disahkan itu. Meski banyak teman yang mengingatkan Mike untuk menjaga Sya dari para fansnya.
Mika tersenyum dan memeluk pinggang Sya. Saat ini Sya hanya diam. Dia tidak bisa menolak bagaimanapun Mike sudah menjadi suaminya.
"Aku lelah," ucap Sya kemudian.
"Kau bisa pergi dulu ke kamar. Aku akan menyusulmu."
Dia memang sejak pagi merasa begitu lelah. Apa lagi ditambah dengan gaun yang cukup berat itu.
Tangan Sya meraih ponsel di atas meja rias. Banyak sekali panggilan masuk yang tidak terjawab. Sya melihat siapa yang menelfonya, bi Sali.
Wajah Sya berubah pucat. Dia mencoba menelfon balik, tapi tidak ada jawaban. Hal ini membuat Sya semakin panik. Buru-buru Sya melepas gaunya. Dia juga membersihkan make up diwajahnya.
Baru saja membuka pintu Sya bertatapan langsung dengan Mike.
"Mau kemana?" Tanya Mike yang melihat Sya sudah berganti pakaian.
"Pengasuh Nendra menelfon. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Hanya saja aku merasa gelisah."
"Aku akan menemanimu," tawar Mike.
"Tidak. Aku akan pergi sendiri saja."
"Jika ada apa-apa cepat kabari aku."
"Ya."
Mike membiarkan Sya pergi. Meski begitu Mike tidak benar-benar membiarkanya sendiri. Mike meminta dua pengawal untuk terus mengikuti Sya.
***
Lufas masuk ke rumah. Dokter Jo sedang mencoba untuk membantu Danendra yang mengeluhkan kepalanya sakit. Lufas datang dan ikut membantunya.
Saat itu Lufas melihat Bi Sali sedang mencoba untuk menelfon seseorang. Tanpa ijin Lufas mengambil ponsel di tangan Bi Sali. Nama Syaheila tertera disana.
__ADS_1
Wajah emosi terlihat saat ini. Bi Sali ketakutan, dia bahkan tidak berani bicara lagi. Ponsel itu langsung di banting oleh Lufas.
"Beli ponsel yang baru. Jangan pernah menghubunginya lagi," kata Lufas sembari memberikan Bi Sali uang.
Bi sali menerima uang itu. Dia masih saja menunduk ketakutan.
"Jika kau masih ingin bekerja disini. Jangan katakan apapun pada Sya. Apa lagi tentang Danendra."
"Baik, Tuan."
Kondisi Danendra sudah mulai stabil. Dokter Jo menyuntikan sesuatu ke tangan Danendra. Lufas hanya diam dan terus menatap tubuh anaknya yang lemah itu.
"Bagaimana? Apa bahaya?"
"Dia begitu merindukan Sya sampai tidak bisa mengontrol emosinya lagi."
Lufas diam.
"Apa kau yang memisahkan mereka?" Tanya dokter Jo kemudian.
"Kau tidak perlu memikirkan hal ini. Kau hanya perlu merawat anakku saja."
"Dia masih membutuhkan sosok ibu, Fas."
"Aku akan mencarikanya. Asal dia tidak bertemu dengan Sya lagi."
Dokter Jo tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia memilih untuk pergi ke tempatnya praktek. Saat ini, dokter Jo hanya datang sesekali untuk melihat pemulihan Danendra. Kondisi anak itu memiliki kemajuan yang baik setelah mendapatkan donor hati.
***
Sya mencoba untuk masuk ke rumah Lufas. Tidak bisa, satpam yang menjaga disana tifak mengizinkan Sya masuk. Bahkan Sya sampai memanggil nama Bi Sali.
Bi Sali mendengarnya, hanya saja dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bi Sali sebenarnya sangat ingin membantu, tapi saat ini keluarganya hanya mengandalkanya. Jadi, tidak mungkin Bi Sali membantu Sya untuk saat ini.
"Biarkan saya masuk, Pak."
"Maaf, Nona. Tuan Lufas tidak mengizinkan anda masuk."
"Lufas. Keluar kau Lufas." sya berteriak memanggil nama Lufas.
Lufas mendengarnya. Dia melihat Sya di luar gerbang rumahnya. Tanpa di duga Lufas tersenyum.
"Kenapa kau memisahkan aku dan Nendra?" Tanya Sya begitu Lufas berada di depanya.
"Bukan aku yang memisahkan. Kau sendiri yang memilih pergi dengan pria lain."
"Kau tahu alasanku melakukan ini."
Lufas hanya tersenyum.
"Jika kau ingin anakmu. Kau seharusnya menginginkan ayahnya juga."
"Jangan melantur Lufas. Biarkan aku menemuinya."
"Pak.Tolong bawa pergi wanita ini. Jika dia datang lagi, jangan biarkan dia masuk." Lufas berbalik untuk kembali masuk.
"Lufas. Aku mohon Lufas."
Usaha Sya sia-sia. Bahkan saat ini satpam mendorongnya menjauh dari rumah itu. Sya menatap rumah Lufas dengan tatapan marah dan kecewa. Bahkan rasa rindu pada Danendra membuat Sya semakin tersiksa
__ADS_1