
Mata Sya masih saja belum terpejam. Dia duduk dekat dengan jendela kamarnya. Matanya tidak memandang kearah manapun. Tatapan itu kosong.
Dia masih saja memikirkan perkataan Ruka. Sya sangat ingin menemui Lufas dan bertanya langsung padanya. Hanya saja, sejak tadi sore Lufas tidak berada ditempatnya.
Lufas mengatakan pada Sya jika mereka tidak saling mencintai. Lalu untuk apa mempercepat pernikahan. Bahkan, jika mereka melakukan hubungan jarak jauh. Itu hal yang mudah.
Tok tok tok.
Tubuh Sya terlonjak karena kaget. Dia menoleh kearah pintu. Tidak ada yang masuk. Hanya ada ketukan pintu. Biasanya jika Mira atau Ruka yang datang, mereka akan langsung masuk.
Tok tok tok.
Kembali pintu itu diketuk. Sya akhirnya beranjak dari duduknya. Dia membuka pintu. Tidak ada siapapun disana. Hanya ada sebuah kotak putih yang berukuran cukup besar.
Lorong itu terlihat cukup gelap. Jadi, pandangan Sya tidak begitu jelas. Walau sebenarnya disana ada seseorang yang mengamatinya.
"Kenapa ini cukup berat," lirih Sya sembari mengangkat kotak itu.
Dia meletakan kotak itu diatas tempat tidurnya. Kotak yang berwarna putih bersih. Perlahan Sya membuka kotak itu.
Matanya tidak bisa berkedip dengan apa yang dilihatnya. Gaun yang begitu indah dengan sepatu yang memang di desain sama dengan gaun itu.
Sebuah memo kecil terselip diantara gaun itu. Sya membacanya dengan perlahan. Sebuah puisi cinta. Dibawahnya tertulis nama Lufas dengan tanda tanganya juga.
"Ternyata dia bisa romantis juga."
Senyuman diwajah Sya perlahan mengembang dengan indahnya.
Sementara itu, Lufas hanya bisa menatap dari jauh. Ya, dia berada di gedung sebelah. Bahkan dia bisa melihat apa saja yang terjadi di kamar Sya saat tirai tidak ditutup.
Setelah puas menatap Sya. Lufas duduk dan meminum minuman soda. Dia mulai menekan remot TV dan mulai menonton acara berita. Sampai sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Pesan dari wanita yang berada diseberang. Sya. Dia mengucapkan terima kasih karena sudah memberikan gaun yang begitu indah.
"Kau memang cocok menggunakan gaun itu," lirih Lufas tanpa membalas pesan.
Lufas menoleh kearah kamar Sya. Tirai disana sudah tertutup dengan rapat. Sudah jelas jika Sya akan segera memejamkan matanya dengan tenang.
***
Pagi yang cerah dengan mentari bersinar dengan sangat terang. Membuat siapapun merasa bersemangat di pagi itu.
Namun tidak bagi Sya. Dia masih terlelap di dalam selimut tebalnya. Matanya masih tertutup rapat. Tidak ada yang bisa mengganggu tidur paginya itu.
Mira beberapa kali mengetuk pintu. Hanya saja pintu tetap saja tidak dibuka dari dalam. Mau tidak mau akhirnya Mira menggunakan kunci cadangan yang dia bawa.
Betapa kagetnya Mira saat melihat Sya masih lelap dalam selimut. Kamar yang begitu berantakan karena baju yang berserakan.
"Nona. Nona, ini sudah pagi." Mira mencoba membangunkan Sya perlahan.
"Aku masih ingin tidur. Kenapa kau menggangguku," terdengar suara khas Sya.
Mira menghela nafas dan langsung menarik selimut tanpa permisi. Dia menatap Sya dengan tatapan yang tegas.
"Ada apa?" Akhirnya Sya menanyakan hal itu.
"Hari ini Anda harus menikah."
"Apa?!"
"Ya. Semuanya sudah disiapkan. Anda hanya tinggal bersiap."
Mata Sya berputar. Dia melihat kalender di sampingnya. Seharusnya dia menikah tiga hari lagi. Kenapa bisa hari ini dia harus menikah. Padahal, Sya juga masih belum mendapatkan penjelasan dari Lufas.
"Nona jangan banyak berfikir. Tuan Lufas dan Tuan Ruka sudah menunggu."
Entah motivasi dari mana dan alasan apa Sya menikah. Dia bangun dan mulai mempersiapkan dirinya. Sya pikir, pernikahan ini akan membuat Ruka tenang.
Mira membantu sebisanya dalam persiapan Sya. Sampai saat Sya sedang dipolesi make up. Sya tidak tersenyum. Dia hanya menatap kosong kearah kaca.
"Nona, apa ada masalah?"
Sya menggeleng.
"Lalu kenapa Nona terlihat tidak senang?"
"Entahlah."
__ADS_1
Setelah semuanya selesai. Sya berjalan menuju mobil yang sudah siap. Dia akan datang ketempat acara itu diadakan. Kali ini, Sya tidak memikirkan apapun. Dia hanya berharap Ruka berhenti menghawatirkan dirinya.
Acara terlihat begitu tenang. Hanya ada beberapa tamu. Sya tidak mengenal mereka. Hanya ada Ruka dan Lufas yang dia kenal. Walau begitu, Sya mengulas senyum agar terlihat baik.
"Akhirnya kau datang juga," lirih Ruka sembari menghampiri Sya.
"Aku tidak tahu acaranya sekarang."
"Maaf. Ini sangat mendadak Sya," ucap Ruka lagi.
"Tidak masalah, Kak."
Tenang dan begitu khidmad. Tidak ada gangguan sama sekali. Acara yang begitu sakral kini telah selesai. Hanya ada satu pasangan yang sedang diliputi sebuah kebahagiaan.
"Lufas," panggil Sya dengan lirih.
"Ya. Ada apa?"
"Kenapa kau mau menikah denganku begitu cepat. Bukankah kita..."
"Aku tahu Sya. Hanya saja, entah bagaimana aku bisa merubah perasaanku secepat itu."
Kali ini Sya dibuat diam. Dia tidak tahu jika Lufas akan mengatakan hal itu. Bagi Sya, tidak masuk akal jatuh cinta hanya beberapa detik. Walau dia pernah melakukan kesalahan itu.
"Sya. Percayalah padaku. Aku akan membuatmu bahagia."
Tidak ada jawaban. Hanya ada senyuman tipis yang diulas Sya. Lalu dia memilih untuk duduk tenang di dalam mobil.
***
Arda melemparkan barang-barang yang ada di depannya saat itu. Kali ini, perasaanya sudah hancur lebur. Apa yang dia perjuangkan kini tepah dimiliki oleh orang lain.
Craaang. Kaca diruangan itu bahkan dipukul dengan keras. Tangan Arda berdarah, hanya saja luka itu tidak mampu menghapus luka di dalam hatinya.
"Kenapa kau mau menikah dengannya? Kau sangat mencintaiku bukan?" lirih Arda di dalam kesendirian.
"Aku memang sangat mencintaimu."
Arda menoleh. Wanita yang selama ini di sampingnya datang dengan sebuah kotak P3K. Dia menarik tangan Arda perlahan dan mengobatinya.
Dengan cara yang kasar Arda menarik tangannya. Dia menatap penuh kebencian pada Aila. Kali ini, dia tidak bisa menyembunyikan rasa dihatinya lagi.
"Kau hanya menambah luka di dalam hatiku Aila. Jika saja tidak ada kau di dunia ini. Sudah pasti Sya akan menjadi milikku."
Aila dibuat kaget dengan pernyataan Arda. Dia mundur beberapa langkah hingga meja disampingnya terjatuh. Hampir mengenai kakinya.
"Seharusnya aku sudah memenjarakanmu dari awal. Betapa bodohnya aku yang mengikuti cara mainmu."
"Ka... kau... kau sudah ingat semuanya?"
"Ya. Aku mengingatnya."
Aila menggeleng-nggelengkan kepalanya. Dia hampir menangis saat itu.
Mata Arda menatap dalam pada Aila. Lalu dia menarik tangan Aila dengan kasar. Tidak lama beberapa orang masuk. Mereka menggunakan seragam polisi lengkap.
"Arda. Aku mohon maafkan aku."
"Aku akan memaafkan kamu. Asal kamu mau masuk penjara."
"Arda. Aku mohon, Arda."
Tanpa kata Arda menyerahkan Aila ke tangan polisi. Sudah pasti jika Aila akan dihukum sangat berat.
Masih terus dengan penolakan Aila meronta saat dibawa polisi. Sementara Arda duduk di samping meja. Dia menatap kosong dengan pikiran yang masih tertuju pada Sya.
Sya yang kini sudah menjadi milik orang lain. Sya yang tidak akan bisa dia miliki lagi.
Tuk tuk tuk.
Seseorang masuk dan menghampiri Arda. Dia mencoba membantu Arda berdiri. Arda menolak dan malah menonjok wajahnya.
"Kenapa kau melakukan hal ini padaku?"
"Arda. Tenangkan dulu diri kamu."
"Kamu menyuruhku tenang? Aku sudah mencoba segalanya dan kau membiarkan Sya menikah dengan orang lain."
__ADS_1
Ruka membuang muka. "Seharusnya kau ikut bahagia. Sya tidak akan terpuruk lagi karena saat ini dia bersama pasangan yang tepat."
Arda tidak bisa berkata-kata lagi. Dulu memang dia yang salah. Tidak pernah memikirkan perasaan Sya. Kini disaat Sya sudah dimiliki orang lain, Arda begitu menyesal dan terpuruk.
"Arda. Bukalah lembaran baru untuk hatimu."
"Aku tahu."
***
Baru saja Sya selesai mandi. Dia melihat Lufas yang sedang sibuk dengan kopernya. Sya mendekat dan langsung bertanya.
"Kenapa kamu berkemas?" Tanya Sya.
"Ya. Kita harus pergi dari sini besok pagi-pagi sekali."
Mata Sya membulat, "Besok? Kenapa harus besok. Aku masih ingin disini."
"Sya. Aku juga inginya begitu. Hanya saja perusahaan disana butuh pemimpin."
Tidak ada kata yang terucap dari bibir Sya. Hanya tatapan gelisah dan kecewa disana.
"Kamu sudah menjadi istriku. Jadi, kamu harus ikut kemanapun aku pergi."
"Aku tahu. Hanya saja, aku dan Kak Ruka..."
"Tenang saja. Kita akan sering mengunjunginya."
Mendengar hal itu. Sya merasa lebih tenang. Dia mengangguk dan mulai membantu Lufas. Walau pikiranya masih saja tertuju pada Ruka.
Setelah selesai menyiapkan semuanya. Lufas keluar dari kamar. Tidak lama dia kembali membawa makanan. Tentunya makanan kesukaan Sya. Hal itu membuat Sya tersenyum.
"Terima kasih makanannya."
"Tidak masalah. Oh ya, apa kau masih menyimpan surat perjanjian pernikahan kita?"
Sya meletakan kembali sendok dan garpunya. Lalu dia menoleh pada Lufas. Melihat hal itu, Lufas duduk di depan Sya.
"Kau tahu, kita tidak perlu memilikinya lagi. Aku akan membuka hatiku untukmu," kata Lufas.
"Lufas. Baru kemarin kau mengatakan tidak akan ada hal macam itu dalam pernikahan ini. Lalu kenapa sekarang kau berubah secara tiba-tiba?"
"Aku tahu ini gila. Sungguh, aku mulai menyukaimu."
Merasa ada yang salah. Sya memutuskan untuk diam saja.
"Dimana kau menyimpanya?" Tanya Lufas lagi.
"Aku akan menyimpanya sampai aku mampu mencintaimu," ucap Sya.
"Ba...baiklah. Terserah padamu saja."
Mata Sya kembali menatap makanan di depannya. Lalu dia mendorong piring itu. Selera makannya saat ini sudah hilang.
"Lufas. Kau tahu aku sangat menyayangi kakakku. Malam ini, aku akan bersamanya. Setelah itu, aku akan sulit menemuinya lagi."
"Ya. Aku akan menunggumu."
Sya keluar dari kamar. Dia berjalan di lorong-lorong hotel dengan pikiran yang tidak tenang.
Dia memang menikah tanpa cinta. Hal itu tidak ada masalah baginya. Yang menjadi masalah adalah Ruka, Sya merasa sedih saat tahu akan jauh dari kakaknya itu.
"Nona," panggilan Mira membuat Sya terkejut, "Nona mau kemana?"
"Aku ingin menemui Kak Ruka."
"Tuan Ruka sedang pergi."
Raut kecewa muncul diwajah Sya.
"Apa ada masalah, Nona?"
"Tidak. Kalau begitu aku akan kembali ke kamar."
Malam itu, Sya tidak bisa bertemu dengan Ruka. Dengan rasa kecewa Sya masuk ke dalam kamar lagi. Melihat Lufas yang sudah terlelap diatas tempat tidur.
Dengan langkah pelan. Sya mengambil selimut di dalam lemari. Malam ini, dia akan tidur di sofa. Alasanya karena memang tidak ada cinta dalam pernikahan itu.
__ADS_1
***