The Way Love

The Way Love
XXIII


__ADS_3

Hari yang cukup cerah bagi Sya. Dia bangun dengan tubuh yang lebih segar. Ya, acara semalam membuatnya tidur dengan nyenyak. Walau tetap saja Arda kembali berubah setelah di rumah.


Sya bangun dan melipat selimutnya. Sampai dia sadar jika dia tidur di tempat tidur, bukan di sofa. Dia melihat kesampingnya, tidak ada Arda.


Lalu, matanya tertuju ke sofa. Dimana dia biasanya tidur. Arda masih terlelap disana dengan dengkuran halus. Seingat Sya dia tidur disana tadi malam. Apa Arda yang memindahkannya?


Sya berniat untuk mendekat dan membangunkan suaminya itu. Dering ponsel membuatnya mengurungkan niat. Sya mengambil ponsel dan langsung mengangkatnya.


"Pagi, Bu. Ada apa?" tanya Sya.


"Apa kau tidak merindukanku?"


Sya tersenyum, "Aku selalu merindukanmu."


"Jika begitu kenapa kau tidak datang berkunjung. Apa disana karena suamimu tidak membolehkanmu?"


Sya menggeleng walau tahu ibunya tidak melihat.


"Bu, aku akan datang ke rumah nanti. Jangan marah-marah lagi ya."


"Ya, ibu akan menunggumu."


Klik. Sya menutup telfon itu. Dia terduduk di samping tempat tidur. Dia tidak tahu apa nyonya Ken akan membiarkannya dia pergi. Dia juga harus meminta izin pada Arda.


Untuk beberapa saat Sya hanya diam. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Untuk saat ini, Sya akan menemui Nyonya Ken lebih dulu.


"Kau mau kemana?" tanya Arda begitu Sya berada di dekat pintu.


Sya menoleh, "Aku mau ke ruangan Mama. Apa kau butuh sesuatu?"


Arda mencoba bangun, namun terlihat kesakitan.


"Bagaimana bisa kau tidur disini? apa kau tidak merasa sakit pada tubuhmu?" tanya Arda.


Sye menggeleng dengan cepat sembari berfikir.


"Apa kau bukan manusia?" tanya Arda.


"Apa kau hanya ingin bertanya seperti itu? aku mau keluar."


"Keluarlah."


Sya keluar dari kamar. Dia bertemu dengan Eri yang terlihat sibuk. Bahkan dia sampai tidak menyapa Sya.


Sampai di ruangan nyonya Ken. Sya mengetuk pintu beberapa kali. Jika dia langsung masuk akan tidak sopan nantinya.


"Masuklah," ucap nyonya Ken.


Sya masuk dengan perasaan dag dig dug. Dia tidak bisa tenang jika berhadapan dengan mertuanya itu.


"Ada apa kau kesini?" tanya nyonya Ken yang melihat Sya masuk, "duduklah dulu."


Sya duduk dan menunggu nyonya Ken selesai dengan laptopnya. Setelah selesai, nyonya Ken mendekat dan ikut duduk di sofa. Sebenarnya dia ingin dekat dengan menantunya itu, hanya saja belum bisa.


"Katakan saja. Apa yang kau mau," kata nyonya Ken.


Sya tersenyum, "Ma. Apa aku bisa menemui ibuku. Dia merindukan aku." Sya tidak bisa mengurangi rasa gugupnya itu.


Wajah nyonya Ken berubah. Ada rasa tidak senang disana. Hal itu membuat Sya merasa nyalinya semakin ciut.


"Kenapa kau harus mengatakan ini padaku?"


Pertanyaan nyonya Ken membuat Sya diam seribu bahasa.

__ADS_1


"Sya. Kau bisa kesana kapanpun kau mau. Dia ibumu, orang yang sudah melahirkan dan menjagamu."


Kali ini rasa gugup dan takut telah lenyap sudah. Sya tersenyum dan merasa senang dengan apa yang dikatakan nyonya Ken.


"Lain kali kau tidak perlu izin. Kau bisa pergi."


"Apa Arda perlu tahu?" tanya Sya.


Nyonya Ken mengangguk, "Dia suamimu. Dia harus tahu kemana kau pergi dan dengan siapa."


"Aku akan mengatakannya."


Nyonya Ken mengangguk. Lalu Sya pergi dari ruangan itu dengan bahagia. Dia kira, nyonya Ken akan melarangnya. Ternyata tidak.


***


Sejak kembali dari ruangan nyonya Ken. Sya tidak melihat Arda dimanapun. Ponselnya tergeletak di atas meja. Mobilnya juga berada di depan rumah.


Merasa tidak perlu meminta izin pada Arda. Sya memilih untuk bersiap pergi. Dia tidak ingin ibu Zein menunggu terlalu lama. Dia juga sudah merasa rindu ingin memeluk ibunya itu.


"Sya kau mau kemana?" tanya Eri yang melihat Sya sudah rapi dengan tas kecil di tangannya.


Sya menoleh, "Aku ingin ke rumah ibu. Apa kau mau ikut?" Sya menggeleng, "kau pasti sedang membantun nyonya Ken. Benrakan?"


Eri mengangguk dan tersenyum.


"Baiklah. Aku pergi sekarang, sampai ketemu nanti."


Dengan bahagianya Sya berjalan meninggalkan Eri. Sebenarnya, Sya merasa ada yang aneh dengan Eri. Bagaimana bisa dia begitu akrab dengan nyonya Ken. Hanya saja, Sya lebih memilih diam.


Brak. Tidak sengaja Sya menabrak seseorang. Sya memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Apa kau memang suka menabrak?" tanya Arda.


Arda terlihat bingung. Tidak biasanya Sya mencarinya.


"Memangnya ada apa?"


"Aku mau ke rumah ibu. Aku sudah mengatakan pada Mama. Dia mengizinkan aku."


Arda mengangguk, "Mau aku jemput jam berapa?"


Sya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Arda akan menjemputnya? apa benar?


"Sya. Mau dijemput jam berapa?" kembali Arda bertanya.


"Terserah kau saja."


"Bagaimana kalau kau mengirim pesan agar aku tahu kau sudah akan pulang."


Sya mengangguk, "Baik."


Sebuah taxsi sudah menunggu di depan gerbang. Tangan Sya meraih pintu taxsi itu dengan perasaan senang. Sampai seseorang datang dan menutup pintu taxsi itu.


Sya menoleh. Arda berdiri dengan senyuman disana. Dia terlihat rapi dan tampan, namun Sya tidak tahu alasan Arda menghentikannya.


"Pak. Kau bisa pergi, ini uang untukmu," kata Arda pada sopir taxsi itu.


"Terima kasih, Pak."


Dengan senang sopir itu menerima uang sari Arda. Tidak lama dia langsung tancap gas meninggalkan Sya yang masih bingung.


"Kenapa kau melakukannya? apa kau tidak ingin aku pergi? apa kau berubah pikiran?" Sya terlihat kesal.

__ADS_1


Arda tersenyum.


"Aku tahu kau tidak suka padaku, tapi setidaknya biarkan aku menemui ibuku."


Arda tidak menggubris dan tetap menatap istrinya yang sedang marah itu.


"Jika kau memang tidak mencintaiku. Setidaknya hargai aku," kata Sya.


Karena Arda masih tidak menjawab. Sya memutuskan untuk pergi. Hanya saja tangan Arda lebih dulu menahan tubuhnya.


"Apa lagi? apa kau ingin menyakitiku lagi?" itulah pertanyaan yang Sya lontarkan.


"Sya. Apa aku begitu buruk di matamu. Aku hanya ingin mengantarmu."


Diam. Sya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Arda. Dia masih tidak menatap suaminya itu.


"Masuklah ke dalam mobil. Aku akan mengantarmu."


Sya hanya berfikir satu hal. Arda pasti mau mengantarnya karena nyonya Ken. Tidak mungkin dia sendiri yang berinisiatif melakukan hal itu.


***


Tidak lama untuk sampai ke rumah Sya dari rumah Arda. Dengan hangat ibu Zein menerima kedatangan anak dan menantunya.


"Aku kira kau datang sendiri," kata ibu Zein.


Sya tersenyum.


"Aku ingin datang kesini, Bu. Bagaimanapun ini adalah rumahku juga. Aku juga ingin makan masakanmu."


Sya merasa suaminya itu sangat berbeda kali ini. Sya hanya mampu menatapnya.


"Benarkah? kalau begitu aku akan memasakkan untukmu. Sya kau bisa mengantarkan suamimu istirahat dikamarmu."


Sya mengangguk. Lalu, Arda mengekor pada Sya. Diam, tidak ada yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya mereka masuk ke dalam kamar Sya dulu.


Kamar yang dulu selalu menemani suka dan duka Sya. Bahkan, di kamar ini juga Sya merasakan kehilangan ayahnya.


"Kau istirahat. Aku akan membantu ibu."


"Tunggu."


"Apa lagi?"


"Apa kau tidak mencintaiku?"


Sya mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan itu muncul dari mulut Arda.


"Apa maksudmu?" Sya balik bertanya.


"Tidak. Aku hanya memastikan saja."


Sya mengangguk, "Aku tidak mencintaimu. Bagaimana aku bisa mencintai pria plin plan sepertimu. Kadang kau baik, kadang kau sangat jahat."


Tidak ada tanggapan selain senyuman yang diberikan Arda.


"Aku akan membantu ibu. Kau bisa melakukan apapun disini."


Sya keluar dari kamarnya. Entah kenapa Sya merasa sakit saat mengatakan tidak mencintai Arda.


"Jika aku jujur, aku akan semakin terluka," lirih Sya.


***

__ADS_1


__ADS_2