
Tangan Sya dengan telaten memotong-motong bahan makanan. Dia ingin masakan yang dia buat sendiri. Angin malam masuk ke dalam ruangan, menyeruakan hawa dingin yang cukup menusuk.
Sya melihat jendela masih ada yang terbuka. Buru-buru dia menutup jendela itu. Sampai saat dia melihat Lufas berdiri di sebelah mobil. Kali ini Sya tersenyum, Lufas akan datang malam ini.
Merasa senang, Sya berfikir untuk menelfon Lufas saat itu juga. Tanpa menunggu lama akhirnya telfon itu diangkat. Sya masih setia menatap Lufas dari jendela apartemennya.
"Halo."
"Ada apa?" Tanya Lufas.
"Apa kau ingin dimasakan sesuatu?" Kali ini Sya bertanya tanpa basa-basi.
"Aku tidak bisa ke apartemenmu. Tidak usah masak untukku," Jawab Lufas.
Sya yang tahu Lufas sudah di bawah merasa begitu kecewa. Kenapa juga Lufas harus berbohong.
"Kalau begitu kau sedang apa sekarang?"
"Aku dalam perjalanan meeting. Sudah dulu aku buru-buru," kata Lufas.
"Ya."
Lufas mematikan telfon itu. Sya masih terus menatapnya. Entah apa yang dilaku kan Lufas saat ini. Sampai tega berbohong. Perlahan Sya duduk di sofa, ada pikiran untuk mengikuti apa yang dikatakan Lufas. Hanya karena ingin Lufas kembali. Hanya saja Sya merasa begitu bodoh saat harus memilih cinta dari pada buah cinta yang saat ini bersamanya.
"Apa mungkin Lufas tidak mencintaiku karena anak ini?" tanya Sya pada dirinya sendiri.
Entah apa yang sedang dia pikirkan. Tiba-tiba Sya menggelengkan kepalanya dengan keras. Dia merasa sendiri saat ini. Sampai dia teringt dengan nenek yang beberapa hari ini selalu mengamatinya. Sya juga sudah berjanji akan datang mengunjunginya.
Dengan semangat yang kembali datang. Sya melupakan rencananya masak. Dia akan mengunjungi nenek dulu.
Sementara Lufas masih diam di samping mobilnya. Dia menatap kearah apartemen Sya yang sepi. Bahkan jendelanya juga sudah kembali ditutup.
Awalnya Lufas memang ingin mengunjungi Sya. Hanya dia tidak tahu harus mengatakan apa. Tidak mungkin jika dia datang dan tiba-tiba bersikap baik. Hal itu pasti akan membut Sya merasa curiga nantinya.
Hal itulah yang membuatnya memilih untuk berbohong. Lufas tidak tahu jika dalam jendela yang tertutup itu ada mata yang terus mengamatinya.
Setelah lama berfikir. Lufas memutuskan untuk kembali ke rumah yang sedang dia tmpati saat ini. Dia akan beristirahat beberapa hari dan memikirkan alasan kenapa dia akan kembali pada Sya.
Lufas tidak berfikir jika caranya ini membuat Sya merasa kesepian dan sendirian. Lufas juga telah menyakiti hati Sya yang sudah tulus mencintainya.
***
Malam sudah semakin larut, nmun di pusat kota masih begitu ramai. Lampu-lampu menyala dengan terang. Banyak orang yang berlalu lalang hanya untuk mencari kesengangan sementara.
Sebuah bar dengan nama yang terkenl menjadi pusat hingar bingar di kota itu. Banyak anak muda dan orang berpunya yang datang dan bersenang-senang. Bahkan ada yang datang hanya untuk menecari uang yang mudah.
Tanpa ragu Anna masuk ke dalam bar itu. Dia memiliki janji dengan orang yang selalu datang di bar tersebut. Dia akan menjalankan rencana terakhirnya di bar itu.
Pakaian yang terbuka dengan kaca mata bermerk menghias tubuh Anna. Tidak lupa dengan perhiasan keluaran terbatas yang mengundang banyak perhatian.
beberapa lelaki terlihat mendekat dan mencoba menarik perhatian Anna. Sayang sekali, saat ini Anna tidak tertarik dengan kesenangan itu. Dia terus berjalan sampai disebuah lorong yang memiliki pencahayaan yang rendah.
"Aku ingin bertemu Tom." Kata Anna tanpa basa-basi.
"Kau siapa berani menyebut nama bosku?" Tanya seorang penjaga.
"Katakan saja padanya. Nita sudah kembali."
__ADS_1
"Baik."
Penjaga pintu itu terlihat masuk kesebuah ruangan VVIP. Tidak lama penjaga itu sudah keluar lagi. Wajahnya kali ini lebih ramah pada Anna.
"Silahkan masuk," kata Penjaga sembari membukakan pintu untuk Anna.
Masuk. Anna mencoba memancarkan auranya yang elegan dan sorot mata yang tajam. Tom menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat. Tanp ragu Anna membalas pelukan itu.
"Apa kau benar-benar Nita yang ku kenal?" Tanya Tom.
"Menurutmu?"
Tom adalah ketua mafia yang bekerja dalam kegelapan. Menyelundupkan narkoba dan senjata ilegal adalah pekerjaan mereka. Tentu saja Tom adalah musuh terbesar bagi Lufas dari dulu hingga saat ini.
"Ada apa kau datang tiba-tiba?" Tanya Tom tanpa basa-basi.
"Bagaimana kabarmu dan semua pekerjaanmu?"
Tidak menjawab Anna malah balik bertanya pada Tom. Tom tahu apa yang dimaksud Anna saat itu juga.
"Apa dia menyakitimu lagi?"
"Kau tahu sifatnya yang begitu setia."
Tom langsung tertawa dengan keras. Sementara Anna hanya tersenyum tipis untuk menanggapinya.
Tangan Tom meraih gelas dan meminum semua isinya. Lalu dia meminta semua anak buahnya keluar dari ruangan itu.
Setelah semuanya pergi Tom mendekat pada Anna. Tangannya menyentuh dagu Anna dan mendongakkanya. Lalu sebuah ciuman mendarat dibibir Anna saat itu juga.
"Kenapa kau datang hanya disaat seperti ini?" Tanya Tom.
"Kau tahu harga yang pantas untuk kemauanmu?"
"Aku akan memberikan apapun itu. Asal kau malakukan semua permintaanku."
Tom tersenyum mengerikan. Dia mendekat dan membisikan sesuatu pada Anna. Anna mendongakkan kepalanya. Matanya menyiratkan tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tom.
"Bagaimana?"
"Kau bercanda kan?" Tanya Anna untuk memastikan.
"Untuk apa aku bercanda kepadamu. Jika kau setuju, besok malam datanglah ke vilaku."
"Bisakah aku berfikir dulu?" Kali ini nada suara Anna tidak selantang tadi.
"Tentu. Aku hanya memberimu waktu satu hari."
"Ya. Jika aku sudah mendapat jawaban. Aku akan menghubungimu."
Tom akan kembali menyentuh Anna, tapi Anna sudah beranjak untuk pergi. Anna memikirkan apa yang baru saja Tom katakan. Jika dia mengiyakan, sudah jelas hidupnya akan menjadi milik Tom sampai akhir hidupnya. Atau sampai Tom bosan bermain dengannya.
***
Sya terihat begitu bahagia di depan nenek. Kini Sya sudah tahu siapa nama nenek itu. Nenek Maria. Walau sudah tahu namanya, Sya merasa lebih tenang memanggilnya nenek tanpa harus menyebut namanya.
Mereka membicarakan banyak hal. Termasuk keluarga nenek. Nenek sudah lama sendiri, keluarganya hanya berkunjung satu bulan sekali. Itupun kadang tidak datang.
__ADS_1
Nenek sudah biasa dengan kesendiriannya. Hanya saat melihat Sya, nenek merasa dekat seperti ada keluarganya. Sya yang mendengar hal itu cukup senang.
"Apa kamu mau makan malam disini?" Tanya nenek.
Sya menggeleng. "Aku sedang tidak selera makan. Ini juga sudah malam, sebaiknya nenek istirahat saja."
"Orang hamil memang kadang seperti itu. Pagi juga kadang mual-mual."
Sya hanya tersenyum.
"Mau nenek pijitin pundakmu?"
"Tidak perlu, nek. Aku akan kembali ke apartemenku. Lain kali aku akan datang lagi," kata Sya.
"Baiklah. Aku senang kau mau berkunjung."
Akhirnya Aya keluar dari apartemen nenek. Sya merasa kembali sepi dan sendiri. Dengan langkah pelan Sya naik menggunkan tangga. Lift sedang ada perbaikan rutin.
Sampai di apartemennya. Sya merasa lelah. Dia langsung masuk dan berniat untuk istirahat. Niatnya itu langsung hilang begitu melihat Lufas sudah duduk di ruang tamu. Kali ini Sya sudah siap dengan apapun yang dikatakan oleh Lufas.
"Dari mana?" Tanya Lufas.
"Dari tempat nenek."
"Jangan terlalu dekat dengan orang asing," kata Lufas selanjutnya.
Sya hanya diam. Lalu duduk di samping Lufas.
"Kau bilang tidak akan datang. Aku tidak masak malam ini."
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk masak."
Sya diam.
"Apa kau mencintaiku?"
Pertanyaan Lufas membuat Sya menelan ludah. Sya menoleh pada Lufas, "Kau tahu masa laluku dengan cinta begitu tidak karuan. Kenapa kau bertanya seperti itu padaku. Jika aku tidak mencintaimu, untuk apa aku bertahan dan rela bertengkar dengan wanita lain."
Emosi Sya kali ini terlihat meluap. Lufas melihat jika Sya benar-benar mencintainya tanpa pamrih. Hanya saja, Lufas masih belum bisa menerima bayi itu.
"Lalu bagaimana dengan bayi itu?" Tanya Lufas.
"Aku tidak akan menggugurkannya. Jika kau tidak menginginkannya, aku menginginginkannya."
"Aku merasa sengsara saat jauh darimu Sya. Hanya aku masih belum bisa menerima bayi itu. Aku takut dia malu saat tahu ayahnya adalah seorang mafia. Kau tahu mafia tidak ada yang baik."
"Berhentilah jadi mafia," kata itu muncul begitu saja dari mulut Sya.
"Tidak semudah itu."
"Lalu?"
"Aku akan berusaha."
"Berusaha untuk apa?"
"Untuk mencintai bayi itu dan keluar dari dunia mafia."
__ADS_1
Percakapan itu berhenti begitu saja. Sya menoleh dan tersenyum. Setidaknya saat ini Lufas tidak membenci dirinya atau anak yang dikandungnya. Lufas hanya perlu belajar untuk mencintai. Hanya itu.