
Suara dentingan peralatan dapir beradu dengan harumnya masakan. Para pelayan hanya bisa menatap dengan rasa tidak percaya. Baru kali ini tuan mereka masuk ke dapur dan memasak.
Rasa khawatir menghantui para pelayan. Mereka takut jika nanti tuan akan membuat kesalahan dan menghancurkan segalanya. Apa lagi, di dapur bukanlah tempat yang aman.
"Kenapa kalian hanya menatapku?" tanya Arda.
Para pelayan tidak berani menjawab. Mereka memilih menundukan kepala.
"Kalian lakukan pekerjaan lain. Aku yang akan mengurus sarapan Sya."
"Baik, Tuan."
Para pelayan mulai bubar. Mereka melakukan pekerjaan yang biasa mereka lakukan. Sementara Arda masih tetap asik dengan pekerjaan barunya di dapur. Tidak ada hal yang membebaninya selain saat Sya marah dan tidak ingin menatapnya.
Bau harum masakan mulai masuk ke dalam kemar Sya. Hal itu membuat Sya merasakan lapar yang sangat. Dengan malas, Sya membuka matanya.
"Siapa yang masak? begitu wangi," lirih Sya dengan suara khas bangun tidur.
Tangan Sya meraih jaket dan memakainya. Dia keluar dengan wajah kusut dan belum mandi. Walau begitu, pesonanya tetap saja terpancar.
Para pelayan masih sibuk dengan pekerjaan rumah mereka. Sya masuk ke dapur, meja makan sudah siap dengan segala makanan kesukaan sya.
Sya menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada siapapun, biasanya pelayan akan menyiapkan segalanya. Arda keluar dengan baju yang tidak biasa. Dia mulai menyiapkan makanan untuk Sya.
"Hari ini aku akan melayanimu," ucap Arda.
Wajah Sya tidak berubah. Dia masih terlihat sama seperti tadi malam saat melihat Arda. Ada rasa kesal yang sampai saat ini belum juga reda.
Piring dengan nasi dan lauknya kini sudah berada di hadapan Sya. Walau begitu Sya tidak menyentuhnya sama sekali. Dia hanya menatap piring itu dengan rasa ingin melahap tapi gengsi.
"Makanlah. Apa mau aku suapi?"
Sya menoleh. "Aku tidak lapar."
Langkah Sya langsung berlalu begitu saja. Dia ingin melihat sampai mana Arda akan berjuang mendapatkan hatinya kembali. Apa hanya sebatas ini?
***
Dress merah kini semakin membuat Sya memancarkan pesonanya. Dia menggunakan gelang dan juga anting yang tidak terlalu mewah. Setalh itu, dia meraih tas tangan berwarna hitam.
Mobil sudah siap di depan rumah. Dia akan pergi bertemu dengan Eri di cafe tempat Sya sering nongkrong dulu. Arda hanya bisa melihat Sya pergi dengan tatapannya. Dia tidak ingin mengganggu istrinya itu.
"Nona, tunggu."
Sya berbalik dan melihat seorang pelayan mendekat.
"Apa?" tanya Sya.
"Ini," pelayan itu menyodorkan kartu kredit dan kunci mobil.
"Apa ini?"
"Tuan yang meminta saya memberikannya."
__ADS_1
"Katakan padanya. Berikan sendiri, jangan meminta bantuan orang lain."
Sya kembali berjalan. Arda hanya menggelengkan kepalanya melihat semua itu. Kali ini, Sya benar-benar marah dan merasa kesal padanya. Semua ini karena Arda terlalu sibuk dengan kantor dan pekerjaanya.
Dering ponsel kembali terdengar. Sudah hampir sepuluh kali sekretaris baru Arda menelfon. Dia meminta Arda untuk cepat datang ke kantor karena sudah ada tamu yang menunggu.
"Hari ini aku tidak ke kantor," ucap Arda dengan manahan amarah.
"Tapi ini tamu dari perusahaan yang bapak inginkan."
"Aku akan segera datang."
Dengan waktu singkat Arda sudah berganti pakaian kantor. Dia sudah siap dengan mobil yang dia bawa sendiri. Ya, sopirnya baru saja pergi dengan Sya. Tidak mungkin dia akan mencegahnya, atau Sya akan bertambah marah.
Pikiranya saat ini sangat kacau. Dia memikirkan cara agar Sya tidak marah dan pekerjaanya tetap berjalan. Saat ini dia tidak ingin kehilangan keduanya. Apa lagi Sya, Arda sudah berjanji untuk tidak meninggalkan Sya sendiri.
***
Sore ini Arda dan Ruka berjanji untuk berbicara berdua. Arda ingin meminta saran padanya. Dia sudah ahli dalam hal itu, walau sampai saat ini Ruka masih belum memiliki pasangan hidup.
Kopi yang mereka pesan sudah datang. Arda mengatakan semuanya. Dia merasa sangat kacau saat ini.
"Kenapa kau tidak suruh orang kepercayaanmu mengurus pekerjaanmu. Bagaimanapun, Sya juga membutuhkanmu."
"Kau benar."
"Kalau kau sudah tahu apa yang akan kau lakukan kenapa meminta bertemu?" tanya Ruka.
"Aku hanya merasa sangat bosan dengan semua ini. Aku lelah."
"Cintailah wanita yang sedang kau miliki. Sebelum dia pergi darimu," kata Ruka.
"Ya, ya."
"Kalau kau sudah paham. Aku akan pergi, ada urusan."
"Baiklah."
Tangan Ruka mengambil ponsel diatas meja. Lalu dia pergi dari cafe itu. Dia memang akan mengadakan pertemuan dengan beberapa temannya.
Di depan cafe Ruka mencari mobil yang akan membawanya pergi. Sampai dia melihat Sya yang terlihat kebingungan. Sepertinya dia sedang mencari seseorang.
Ruka memilih untuk mendekat pada Sya. Pandangan Ruka tertuju pada wajah cantik Sya. Rambut yang tergerai dan dress pendek berwarna merah yang dia pakai.
"Kak Ruka," panggil Sya.
Ruka tersenyum.
"Kakak sedanga apa disini?" tanya Sya kemudian.
"Aku baru bertemu suamimu."
"Kebetulan sekali. Aku sedang mencarinya, Kak."
__ADS_1
"Dia di dalam. Ada di meja nomor dua puluh."
"Terima kasih, Kak."
Setelah itu Sya langsung masuk. Dia meninggalkan Ruka yang masih setia menatapnya. Hingga saat Sya hilang dibalik pintu.
"Kau begitu cantik, Sya."
Tuk tuk tuk. Langkah kaki yang anggun itu mendekat pada Arda yang masih terus menunggu. Dia melihat wanita dengan dress merah mendekat padanya.
"Aku mencarimu."
"Kenapa kau datang kesini?" tanya Arda dengan wajah tidak suka.
"Aku hanya ingin menemuimu. Lagi pula, tidak ada Sya disini."
Brak. Sya meletakan tasnya dengan kasar di meja Arda. Dia menatap Aila yang sedang duduk dan mencoba menggoda Arda.
"Apa kau tidak malu? menemui suami orang dengan cara seperti ini."
"Ka..kau disini?"
"Kenapa tidak. Aku ada janji dengan suamiku. Lalu kenapa kau disini?"
"Aku..." Aila tidak melanjutkan ucapanya. Dia memilih pergi begitu saja.
Kini mata Sya tertuju pada Arda yang hanya diam. Bahkan dia tidak menolak saat Aila datang dan duduk di hadapannya. Kembali rasa cemburu datang dihati Sya.
"Kenapa kau hanya diam saat dia datang? apa kau mencintainya?"
"Sya. Jangan marah, dia temanku."
"Teman kau bilang?" Sya duduk dihadapan Arda, "mana ada teman yang begitu terobsesi. Padahal dia tahu kau sudah menikah."
"Apa kau sedang cemburu?" tanya Arda dengan senyuman.
Wajah Sya berubah, dia sadar apa yang baru saja dia lakukan. Dia sudah begitu ekspresif sampai lupa jika dia terlihat begitu cemburu.
"Benarkan apa yang aku katakan?"
Sya sangat malu. Padahal dia saat ini masih pura-pura kesal pada Sya. Semua rencananya hancur begitu saja karena tingkag bodohnya.
"Sya."
"Diam. Aku tidak ingin bicara denganmu."
"Ayolah Sya. Kita bukan anak kecil lagi, katakan apa maumu dan jangan mendiamkan aku."
Sya merubah posisi duduknya dengan tangan yang dia letakan di dagu. Matanya menatap jauh kedalam mata Arda.
"Kau tahu apa yang aku mau," ucap Sya.
Senyuman kini menghiasi wajah Arda. Wanita yang ada di depannya ini sudah pandai menggoda. Entah dia belajar dari mana, yang jelas Sya akan menjadi wanita satu-satunya di dalam hati Arda.
__ADS_1
***