
Malam pertama.
Sya baru saja mandi. Dia keluar dengan rambut yang basah dan handuk saja. Dia tidak ingat jika saat ini dia sudah sah dengan Mike. Sya melepas handuknya dan mencari baju untuk tidur.
Sebuah baju piyama tipis di pilih oleh Sya. Tidak lupa, Sya menggunakan skin care juga parfum kesukaanya. Sya berbalik dan berniat untuk tidur. Tubuhnya terlonjak kaget, bahkan sampai menabrak meja rias di belakangnya.
"Ka...kamu. Sejak kapan kamu disini?" Tanya Sya.
"Sejak kau pulang dari rumah lufas."
"Ja...jadi..."
"Aku melihat semuanya."
Wajah Sya memerah. Dia hanya menundukan kepalanya. Malu, itu yang membuatnya tidak berani menatap pada Mike.
Mike mendekat. Dia menarik pinggang Sya. Tubuh mereka kini begitu dekat. Sya sadar, dia tidak bergerak sama sekali. Bahkan dia menahan nafasnya.
Wajah Mike mendekat dan mencium pelan kening Sya. Sya memejamkan matanya, dia memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu saja, aku janji," bisik Mike di telinga Sya.
Bisikan itu membuat Sya membuka mata. Dia kira, Mike akan memaksanya di malam pertama ini. Mike begitu pengertian padanya.
Belum juga Sya tersadar dari pikirannya tentang
Mike. Mike sudah menggendong tubuh Sya dan membaringkannya di tempat tidur. Mata mereka bertemu, Sya mendapat tatapan yang begitu membuatnya mabuk.
"Tidurlah. Aku akan selalu di sampingmu."
Mike memeluk tubuh Sya dengan erat. Sampai akhirnya nafas teratur membuat Mike tersenyum. Sya kini bisa tidur di pelukannya dengan tenang.
Sebenarnya Mike bisa saja memaksa Sya untuk melayaninya sebagai istri. Hanya saja, Mike tahu Sya memiliki masalah yang tidak mudah. Dia selalu dihantui oleh masa lalunya. Kini, dia juga harus bermasalah dengan anaknya.
Perlahan Mike melepaskan pelukanya dari tubuh Sya. Dia memakai mantel hangat dan keluar. Asisten Lee sudah menunggu untuk datang bersama ke markas besar.
"Apa Nona Sya sudah tidur?" Tanya Asisten Lee.
"Sudah. Tolong urus hak asuh anak Sya, Danendra. Aku melihat dia begitu tersiksa."
"Baik."
Mike masuk ke dalam mobil. Mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Malam, tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Asisten Lee begitu memperlihatkan keahlianya dalam menyetir.
Sampai di sebuah jalan. Asisten Lee sadar jika ada sebuah mobil yang mengikuti mobilnya. Beberapa kali asisten Lee membelok dengan mendadak. Mobil itu masih saja mengikutinya.
"Siapa?" Tanya mike.
"Suruhan Lufas."
Mike tersenyum. Dia menekan sebuah tombol di dekat pintu mobilnya. Dia ingin anak buahnya mengurus masalah ini. Bagaimanapun, Mike tidak suka ada yang mengganggu jalan transaksinya.
Dua mobil muncul. Mereka menghadang mobil yang mengejar mobil Mike. Mike tidak berekspresi apapun. Dia terus menatap pada ponselnya. Dia melihat Sya yang masih tertidur dengan lelap.
***
Markas besar. Acara pelelangan senjata berjalan dengan lancar. Mike tentu saja mendapat keuntungan yang tidak sedikit. Hal ini membuatnya tersenyum dengan puas.
__ADS_1
"Ini orangnya," kata asisten lee pada Mike yang sedang duduk dengan bir di tanganya.
Mike menatap dua orang pria dengan rambut panjang. Tanpa ragu Mike menendang dua orang itu hingga tersungkur.
"Tolong ampuni kami. Kami hany di suruh."
"Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?" Tanya asisten Lee.
Mata dua orang itu saling melirik.
"Siapa?!" Suara asisten lee bahkan sampai menggema.
"Bos lufas."
"Lufas?" Asisten lee mencoba memastikan.
"Ya. Kami memang disuruh olehnya."
"Kurung mereka." Asisten lee menyuruh dua orang pengawal membawa orang berambut panjang.
Tangan Mike terlihat mengetuk-ngetuk meja. Dia memikirkan apa yang baru saja dikatakan du orang itu. Sudah jelas jika lim tahun lalu Lufas berhenti di dunia gelap ini. Lalu untuk apa dia kembali.
"Cari tahu alasan Lufas kembali."
"Baik."
Tidak menunggu waktu lama. Mike sudah kembali ke rumah. Baru saja meletakan mantelnya Sya terbangun.
"Kau baru keluar?" Tanya Sya.
"Ya. Ada urusan penting."
Diam. Mike memang belum menjelaskan pekerjaan lainya pada Sya.
"Sejak aku bersamamu. Aku selalu melihatmu berpakaian rapi. Tidak seperti model," kata Sya.
Mike mendekat dan duduk ditepi ranjang. Dia membelai wajah Sya dengan lembut.
"Sudah aku bilang. Aku memilik bisnis lain."
Sya mengangguk.
"Apa ada sesuatu sampai kau terbangun di malam hari?"
"Aku merindukan Nendra."
Wajah Sya langsung terlihat sedih. Mike tanpa ragu memeluk Sya. Sya diam, dia tidak menolak seperti saat sebelum menikah.
"Aku akan membawamu menemuinya."
"Jangan berjanji. Aku tidak ingin berharap."
Mike tidak tahu. Masa lalu seperti apa yang membuat Sya seperti itu.
"Baiklah. Aku tidak akan berjanji lagi padamu. Kembalilah tidur."
"Apa kau akan menemaniku lagi?"
__ADS_1
"Tentu saja. Kau istriku."
Sya memeluk tubuh Mike. Mike kaget saat Sya berinisiatif untuk memeluknya. Padahal, Sya melakukanya karena hanya Mike yang saat ini di sampingnya. Jauh di dalam lubuk hati Sya, Sya sangat ingin memeluk Danendra.
Jahat. Sya merasa begitu jahat pada Mike yang selalu baik padanya. Hal ini membuat Sya tidak ingin membuat Mike terus memberi padanya. Itu akan membuat Sya semakin merasa bersalah.
***
Tubuh Danendra sudah semakin membaik. Bahkan hatinya yang awalnya dikira akan kembali bermasalah kini juga pulih dengan baik. Dokter Jo merasa puas dengan hasil yang diberikan tubuh Danendra.
"Dokter. Dimana Papa?"
"Dia di ruang kerja."
"Apa aku bisa datang kesana?"
Dokter Jo terlihat berfikir.
"Dokter?" panggil Danendra lagi.
"Ya. Kau bisa menemuinya."
Hari ini hari dimana Danendra kembali merasa bebas. Infus tidak lagi menjadi temanya. Danendra bisa bergerak semaunya kali ini.
Sampai di lantai dua Danendra langsung masuk ke ruangan Lufas. Lufas menoleh dan hendak marah karena sedang menelfon. Saat matanya melihat Danendra yang datang, Wajah marahnya langsung berubah.
"Apa aku mengganggu?" Tanya Danendra.
Lufas meletakan ponselnya. Dia mendekat dan langsung memeluk tubuh Danendra.
"Kau sudah baik?"
"Ya. Bukankah ayah sudah melihatnya."
Lufas mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kapan aku bisa sekolah Pa?"
"Secepat yang kamu mau."
"Apa aku bisa memilihnya sendiri?"
"Tentu saja. Ini daftar sekolah yang bisa kamu pilih."
Lufas menyodorkan sebuah kertas berisikan nama sekolah ternama dan elite di kota itu. Wajah serius terlihat pada Danendra. Hal ini membuat Lufas yakin jika Danendra punya ambisi yang tidak bisa menunggu.
"Aku ingin di sekolah permata."
"Pilihan bagus," jawab Lufas.
"Kapan aku mendaftar."
"Kau sudah terdaftar disana. Besok, mulailah berangkat sekolah."
Mendengar hal baik itu. Danendra memeluk Lufas dengan begitu erat. Dia tidak pernah meras sebahagia ini.
Lufas melakukan semua ini bukan hanya karena sayang dan cinta pada anaknya itu. Lufas juga ingin membuat Sya menyesal sudah menolaknya. Lufas akan membuat Danendra membenci Sya, hal ini akan semakin menyiksa batin Sya.
__ADS_1
***