
Sinar matahari mulai masuk melalui celah korden. Sinar itu perlahan menyinari semua yang ada di dalam. Cerah dan menghangatkan.
Mata Sya masih terpejam. Dia bahkan menarik selimutnya lagi karena sinar yang masuk. Entah kenapa Sya merasa malas untuk beranjak dari sana.
Di dapur, Xiu sedang menyiapkan sarapan. Tidak lupa juga dengan sarapan untuk Sya. Setelah selesai, Xiu masuk ke dalam kamar Sya. Dia melihat Sya yang menggulung dirinya di dalam selimut.
"Apa kau masih ingin di dalam selimut di pagi yang cerah ini?"
"Kak, aku merasa nyaman disini," kata Sya dengan polosnya.
"Jika begitu kau bisa sering datang. Aku akan selalu membuka pintu untuk kamu."
Sya menyingkap selimut yang menutupinya. Dia langsung duduk sembari menatap Xiu yang berdiri di samping tempat tidur.
"Aku punya suami. Kakak tahu hal ini."
Xiu tersenyum. Dia lalu duduk di samping Sya. Sya rela kehilangan kenyamanan ini dan mengingat suaminya.
"Sarapan. Lalu kau bisa kembali pada suamimu."
"Ya. Aku akan mandi lebih dulu."
Xiu mengangguk. "Aku akan menunggumu dimeja makan."
Tanpa sadar merasa sangat hangat dengan keberadaan Sya saat ini. Dia merasakan lagi apa itu sebuah keluarga. Hal itu membuat Xiu enggan ditinggalkan Sya lagi.
Dengan naluri seorang ibu Xiu menghidangkan sarapan untuk Sya. Hal itu membuat Sya tersenyum. Dia belum pernah merasakan hal semacam ini sebelumnya.
"Sya. Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Tanya Xiu disela makan.
"Katakan saja."
"Apa kau mau menjadi adikku? Maksudku, aku tidak memiliki siapapun. Jadi, aku ingin kau menjadi adikku."
Sya menghentikan makannya. Dia menatap pada Xiu yang baru saja mengatakan hal itu. Sya merasa ada yang berbeda dari Xiu saat ini.
"Jika kau tidak mau. Aku tidak apa-apa."
"Kenapa Kak Xiu ingin aku menjadi adik? Apa ada alasan tertentu. Kita kenal belum lama."
"Aku tahu. Aku hanya merasa jika kau mampu membuat aku merasakan menjadi kakak."
"Maksud Kak Xiu?"
__ADS_1
Akhirnya Xiu mengatakan apa yang selama ini dia rasakan. Dia merasa sepi dalam kehidupan ini. Dia merasa sendiri.
Orang tuanya dan seorang adik meninggal dalam sebuah kecelakaan. Hanya Xiu yang selamat. Xiu bisa bangkit sampai saat ini karena tekad dalam hatinya yang kuat. Dia ingin menemukan orang yang menabrak mobil keluarganya saat itu.
"Selama ini, aku hanya memiliki alasan itu."
Mendengar semua itu membuat Sya tersentuh. Bagaimanapun, dia hanya merasakan sekejap cinta dari orang tuanya.
"Kita bisa jadi saudara. Akan sangat menyenangkan jika aku memiliki kakak sepertimu."
Xiu mendongakkan wajahnya tidak percaya. Dia melihat Sya tersenyum dengan lembut padanya. Hal itu sangat menyenangkan. Mulai dari hari ini, mereka akan menjadi saudari yang saling menguatkan.
Alarm di jam tiba-tiba berbunyi. Hal itu membuat Xiu sadar jika dia ada meeting dengan klien penting. Dia buru-buru mengambil tasnya.
"Aku ada meeting penting. Kau bisa pergi setelah sarapan," kata Xiu.
"Baik, Kak."
Setelah Xiu keluar dari apartemen. Sya sendiri kembali ke dalam kenyataannya. Dimana dia sudah memiliki suami walau saat ini ada kerentangan. Sya mencoba memikirkan cara untuk menghilangkan kerentangan itu.
Sarapan sudah selesai. Sya mencuci peralatan makan dan bersiap pergi. Kunci apartemen milik Xiu sudah otomatis. Jadi, Sya tidak perlu memikirkan cara menguncinya.
Baru saja sampai di bawah. Sya sudah dikejutkan dengan Lufas yang langsung menarik tangannya. Dengan kasar Lufas memasukan Sya ke dalam mobil.
Mereka tidak mengatakan apapun saat di dalam mobil. Lufas hanya mengunci pintu agar Sya tidak keluar. Sampai tiba-tiba Lufas mencium Sya dengan paksa.
Sya yang kaget langsung mencoba melepaskan pelukan Lufas. Dia menampar Lufas pada saat itu juga. Hal itu berhasil membuat Lufas tersulut emosinya. Tanpa kata Lufas balik menampar Sya.
"Kenapa kau menamparku? Aku menciummu karena kau istriku," kata Lufas.
"Ya, tapi kau melakukannya disaat yang tidak tepat. Beberapa hari ini kau mendiamkan aku. Lalu tiba-tiba kau datang dan melakukan hal ini padaku. Lufas, aku bukan bajumu yang bisa kau kenakan dan kau lepas begitu saja. Aku manusia yang memiliki perasaan."
Lufas tersenyum jahat. Dia memperlihatkan sebuah foto pada Sya.
"Apa ini yang kau maksud dengan perasaan. Kau sudah memiliki suami, namun terang-terangan bertemu dengan pria lain."
"Kau dapat foto itu dari mana?"
"Kau tidak perlu tahu. Aku hanya ingin kau menjelaskan apa yang terjadi padaku."
Karena tidak ingin bertengkar terlalu lama. Sya mencoba menceritakan semuanya. Alasan dia bertemu dengan Arda pada saat itu. Namun apa yang dilakukan Lufas tidak terduga.
Setelah mendengarkan semua cerita Sya. Lufas menurunkan Sya dari mobil. Dia juga langsung tancap gas tanpa memikirkan Sya.
__ADS_1
Sya membenarkan bajunya. Lalu menatap mobil Lufas yang mulai menjauh. Entah apa yang sudah dilakukannya, tapi terlihat jelas jika Lufas saat ini begitu marah.
***
Beberapa kali Lufas meninju tembok di ruang kerjanya. Dia merasa begitu marah dengan apa yang dikatakan oleh Sya. Dia merasa jika saat ini Anna benar mengenai apa yang dilakukan Sya.
Rasa curiga tentang perasaan Sya dan Arda yang saling mencintai membuat Lufas naik darah. Tangan yang terlukapun tidak dia rasakan, dia masih saja meninju tembok itu.
Ben yang mendengar hal itu dari sekretaris Lufas langsung datang. Dia masuk ke ruangan Lufas dan melihat tangan Lufas yang sudah berlumuran darah. Tanpa pikir panjang Ben langsung menghentikannya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Ben dengan sedikit berteriak.
Ben menarik Lufas dan mendorongnya keatas kursi. Dia menatap Lufas tanda tidak mengerti. Kali ini Ben duduk di hadapan Lufas. Berharap jika Lufas akan mengatakan sesuatu untuk sebuah penjelasan.
"Sepertinya aku kembali jatuh pada hal yang sama. Aku kembali dihianati," kata Lufas kemudian.
Ben hanya menatap Lufas. Dia tidak ingin berkata apapun. Jika dia melakukannya, Lufas pasti akan kembali diam.
"Setiap kali aku mencintai seseorang. Dia pasti akan pergi disaat cintaku semakin kuat. Sepertinya aku akan gila saat ini juga."
"Apa karena Anna?"
"Bukan. Sya, dia sudah menghiahatiku. Dia masih menemui mantan suaminya. Kini aku tidak tahu harus apa. Aku hanya berharap Sya menjadi milikku."
"Jika kau bersikap terlalu keras padanya. Dia pasti akan pergi. Cintai dia sebagai Sya, bukan Nita," kata Ben.
Lufas hanya menatap kosong.
"Aku tidak bermaksud memberimu nasehat. Aku hanya tahu jika Kak Sya juga mencintaimu. Dia bahkan bisa sabar saat kau dan Anna begitu dekat waktu itu. Sekarang kau malah menuduhnya seperti ini."
"Aku tidak pernah menganggapnya Nita. Aku hanya menganggap dia sudah menghianatiku."
"Apa Kau tahu alasan dia bertemu Arda?"
Lufas mengangguk. "Dia sudah mengatakan padaku."
"Lalu apa yang kau lakukan?"
"Aku meninggalkannya di parkiran apartemen Kak Xiu."
"Kau sudah gila. Kali ini aku hanya akan memberimu satu saran. Kau lebih baik memperbaiki semuanya."
Ben langsung keluar dari ruang kerja. Dia membiarkan Lufas untuk memikirkan segalanya. Dia tahu, Sya tidak mungkin menghianati Lufas. Dia sama sekali tidak seperti Nita.
__ADS_1
***