The Way Love

The Way Love
LXXXVII


__ADS_3

Mata Sya mulai terbuka secara perlahan. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya matahari yang masuk. Sya masih merasakan kepalanya berat dan seperti berputar-putar.


Lufas yang masuk ke kamar Sya kaget saat melihat Sya mencoba bangun. Tanpa pikir panjang Lufas membantu Sya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Lufas. Kali ini nadanya begitu lembut.


Sya menoleh.


"Berbaringlah. Kau belum sepenuhnya pulih karena alkohol yang kau minum."


Kali ini Sya duduk dan kemudian berbaring. Melihat Lufas yang lembut dan perhatian, Sya merasa ada yang salah. Walau begitu, ada rasa tenang yang menghampiri Sya.


Mata Sya terus menatap Lufas tanpa henti. Dia tidak ingat apa yang terjadi semalam. Apa mungkin kejadian semalam yang merubah Lufas.


"Apa kau butuh sesuatu?" Tanya Lufas yang membuyarkan lamunan Sya.


"Aku ingin ke kamar mandi."


"Aku akan meminta pelayan menyiapkan semuanya. Kau duduk dan tunggu saja."


"Baiklah," lirih Sya.


Saat Lufas keluar, Sya mengecek ponselnya. Tidak ada yang aneh, hanya ada pesan dari Anna. Dia menanyakan bagaimana kondisi Sya pagi itu.


Tidak lama Lufas masuk dengan dua pelayan di belakangnya. Pelayan itu menyiapkan semuanya tanpa ada yang kurang. Lalu, membantu Sya masuk ke kamar mandi.


"Aku akan pergi ke kantor saat ini. Kau di rumah dan jangan pergi kemanapun," kata Lufas.


Sya mengangguk.


Saat Arda akan keluar dari kamar Sya. Ponsel Sya tiba-tiba berbunyi. Lufas yang merasa penasaran menghampiri ponsel itu. Dia membuka pesan dari sebuah nomor tanpa nama.


Raut wajah Lufas langsung berubah begitu saja. Dengan kemarahan Lufas melemparkan ponsel Sya. Tas yang dia bawapun dia biarkan terjatuh.


Dengan kasar Lufas membuka pintu kamar mandi. Dua pelayan yang melihat tatapan garang dari majikan langsung keluar. Sementara Sya menatap dengan penuh tanya.


Baru saja Lufas begitu perhatian padanya. Kini dia mendapat tatapan yang begitu mengerikan. Belum sempat Sya bertanya, Lufas sudah mendekat dan langsung mencekik Sya.


Sya kaget dan mencoba berontak. Dia mencoba melepaskan tangan Lufas, namun sia-sia. Sampai Lufas melihat Sya yang hampir tidak bisa bernafas. Kemudian melepaskannya dengan kasar.


"Apa...apa yang kau lakukan?" Tanya Sya yang sesekali terbatuk.


Lufas tidak menjawab. Dia malah menampar Sya dengan begitu keras.


"Lufas. Aku salah apa sampai kau melakukan ini?" Sya akan berdiri di bak mandi, namun Lufas mencegahnya.


Sya kembali terduduk. Ya, karena mandi dengan pelayan Sya masih menggunakan sehelai baju.


"Saat aku menciummu. Kau begitu ingin pergi dan menolak. Lalu kenapa kau melakukannya dengan pria lain."


Sya mendongakkan wajahnya.


"Aku akan mencari pria itu dan membunuhnya."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Lufas keluar dari kamar mandi. Sya mencoba memikirkan apa yang baru saja dikatakan Lufas. Dia membahas tentang ciuman, lalu seorang pria.


Sampai saat membasuh wajah, Sya merasakan perih di tepi bibirnya. Tamparan Lufas berhasi membuat Sya terluka. Walau begitu, Lufas tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Aku harus cari tahu kenapa Lufas begitu marah."


***


Beberapa kali Lufas memukul setir dengan keras. Dia tidak habis fikir dengan apa yang dilakukan oleh Sya. Saat memanggil nama Arda, Lufas masih bisa menahan emosinya.


Foto itu, foto yang menjijikan membuat emosi Lufas tidak terkendali. Dia meminta anak buahnya untuk mencari pria menjijikan itu. Bagaimana bisa Sya berhubungan dengan pria yang bahkan Lufas tidak kenal dengannya.


Sampai di kantor. Lufas masuk dan tidak memperlihatkan senyumannya. Hal itu membuat seluruh karyawan disana gelisah. Mereka tahu, sudah terjadi masalah yang cukup serius. Membuat mood sang bos berubah mengerikan.


"Pak, client sudah menunggu," kata sekretaris.


"Batalkan semuanya."


"Baik," sekretaris itu keluar.


Kini Lufas tenggelam dalam ruangannya yang sepi. Dia ditemani dengan rasa cemburu dan emosi yang memuncak. Entah apa yang akan menjadi pelampiasan untuk Lufas saat ini.


***


Cafe yang terlihat begitu ramai. Bahkan beberapa pelayan dibuat kewalahan oleh para tamu itu. Diantara mereka ada Anna dan Sya. Mereka sengaja bertemu ditempat itu, tentunya agar Lufas tidak menemukan Sya.


Anna terlihat sedang menjelaskan sesuatu. Hal itu membuat Sya begitu gelisah. Bahkan sesekali membenarkan posisi rambutnya.


"Kenapa kau tidak menanyai pria itu?" Tanya Sya kemudian.


"Jika begini. Aku akan sulit keluar lagi."


"Apa ada sesuatu?" Tanya Anna.


Sya menggeleng. Dia sedang memikirkan cara untuk meredam emosi Lufas. Jika tidak, pria itu akan hancur karena kemarahan Lufas.


"Kenapa bisa suamimu tahu hal ini?"


"Benar juga. Apa mungkin kau yang cerita?"


"Aku?" Sya menunjuk dirinya sendiri, "Dia bahkan tidak menyapaku. Bagaimana bisa aku mengatakan padanya."


"Kau benar. Lalu, bagaimana bisa dia tahu?"


Dengan paksa Anna mengambil ponsel di tangan Sya. Dia membuka sebuah kotak pesan tanpa nama. Disana terpampang jelas fotonya dengan pria itu. Sebuah caption bertuliskan 'Aku harap bisa bertemu lagi'.


Anna menunjukan hal itu. Sya menyadari jika semalam dia pasti sudah salah orang. Jika tidak, mana mungkin dia bisa bersama pria itu. Lalu, Sya mengemas tasnya dan bergegas pergi.


Tanpa pamit. Walau begitu, Anna tidak mencegahnya atau bertanya lagi. Anna kembali menyesap minuman di tanganya. Sembari menatap Sya yang sedang mencoba menghentikan sebuah taxi.


Sebuah taxsi berhenti di depan Sya. Sya masuk dan menyandarkan dirinya di kursi jok. Pikirannya masih terus mencoba mengingat, apa yang terjadi semalam. Semua itu kesalahannya, atau pria itu, atau hanya salah paham saja.


Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya Sya turun di vila Averest. Dia masuk dan menemukan Lufas sedang duduk. Bukan hanya Lufas, masih ada beberapa orang disana. Satu orang bahkan terikat dengan tali.

__ADS_1


"Lihatlah. Kekasihmu sudah datang," kata Lufas.


Sya yang awalnya enggan ikut campur kini menoleh pada Lufas.


"Apa kau tidak mengenalnya?" Tanya Lufas padanya.


Sya memberanikan diri menoleh pada pria yang diikat tali itu. Wajahnya sudah banyak lebam, mulutnya juga disumpal dengan kain. Walau begitu Sya masih mengenalinya. Dia pria yang mengirimkan pesan padanya tadi.


Melihat hal itu Sya mendekat pada Lufas. Dia tidak tega melihat hal itu.


"Lepaskan dia. Dia tidak bersalah," kata Sya mencoba membela.


Lufas tertawa. Dia bangun dari duduknya dan menarik tangan Sya mendekat.


"Apa alasanmu mengatakannya. Apa kau punya bukti?"


"Lufas. Semalam aku mabuk, aku tidak ingat apapun. Setidaknya biarkan pria ini menjelaskan semuanya." Sya tahu jika Lufas belum mendengar penjelasan pria itu.


"Aku mohon Lufas."


Dengan gerakan tangan Lufas meminta anak buahnya melepas sumpalan mulut pria itu. Terlihat pria itu mencoba mengatur nafasnya.


"Katakan, apa yang terjadi semalam. Jika kau bohong kau akan tahu akibatnya."


Perlahan pria itu mengatakan apa yang terjadi semalam. Dia tidak melewatkan setiap detailnya. Hal itu membuat Sya kini khawatir pada dirinya sendiri. Semalam, dirinyalah yang salah.


"Lalu apa maksud foto dan captionmu?" Tanya Lufas lagi.


"Aku tidak tahu jika dia sudah menikah. Jika aku tahu, aku tidak akan melakukannya," kata pria itu dengan terbata.


Lufas yang sudah salah paham menoleh pada Sya. Sya hanya bisa menunduk malu. Dia malu dengan apa yang dia lakukan. Tanpa sadar, dia masih mengakui jika Arda adalah cinta yang disimpan.


"Bawa dia pergi dan berikan pengobatan terbaik. Jangan lupa, berikan juga hadiah untuknya," kata Lufas bernada memerintah pada anak buahnya.


"Baik."


Mereka semua pergi. Kini tinggal Lufas dan Sya di ruangan itu. Masih sama, Sya menunduk dan tidak menoleh pada Lufas. Hal itu membuat Lufas kesal. Lalu dia menarik Sya masuk ke dalam kamar.


Disana dia melempar tubuh Sya ke atas tempat tidur. Tanpa persetujuan Sya, kini Lufas berada dekat dengannya. Dengan brutal Lufas mencium Sya.


Diam. Itu yang dilakukan oleh Sya. Dia tidak tahu harus bagaimana membela dirinya sendiri. Saat ini dia sudah menjadi milik Lufas, tapi hatinya masih menyimpan cinta lain.


Setelah puas menciumi istrinya itu. Lufas bangun dan menatap Sya yang menitikan air mata. Dengan lembut, Lufas mendekat dan menyeka air mata itu.


"Kau harus ingat. Aku suamimu," kata Lufas.


Sya masih saja diam. Dia bahkan menatap kosong. Walau begitu, Lufas tidak ingin terlalu baik pada Sya. Dia takut Sya akan memanfaatkan kebaikannya itu.


"Ganti bajumu dan istirahatlah."


Brak. Lufas menutup pintu dengan keras. Sya sadar dan kembali menangis. Dia tidak tahu harus menyalahkan siapa saat ini. Walau dia sudah menikah dengan pria lain, tetap saja hatinya berkata lain.


Sudah pasti Lufas merasa dihianati. Hanya saja dia tidak melakukan kekerasan seperti tadi pagi. Tidak tahu bagaimana menanggapi perilaku Sya, Lufas memilih Ruka untuk datang. Dia ingin Ruka yang memberikan perintah pada Sya. Untuk melupakan Arda.

__ADS_1


***


__ADS_2