
Pagi yang begitu cerah tidak bisa membuat Sya menjadi dirinya sendiri seperti biasanya. Pagi itu, Sya duduk sendiri di taman belakang. Dengan selimut kecil yang membalut tubuhnya.
Semalaman dia tidak bisa tidur. Dia memikirkan apa saja yang terjadi di pesta tadi malam. Sejak dia keluar dengan gaun yang diberikan oleh Lufas.
Semua orang memang memandang takjub. Hanya saja, bukan nama Sya yang mereka sebut. Melainkan nama Nita yang mereka sebut. Hal itu cukup mengganggu Sya. Apa lagi, ekspresi Lufas. Jelas sekali jika dia memandang Nita. Bukan Sya.
"Nona. Masuklah, cuaca masih sangat dingin."
"Tidak. Aku ingin disini. Kau pergilah."
"Tapi Tuan sudah menunggu di kamar."
Sya menoleh. "Apa kalian juga mengira aku ini adalah Nita?"
Pelayan itu terdiam. Dia semakin menundukan kepalanya karena sebuah pertanyaan yang dilontarkan Sya.
"Apa kami begitu mirip sampai tidak bisa dibedakan?"
"Maaf, Nona."
"Pergilah. Aku ingin sendiri."
"Baik, Nona."
Pelayan itu pergi dari hadapan Sya. Sya memeluk dirinya sendiri. Entah kenapa dia merasa sangat sakit hati. Ada rasa kesal juga karena mirip dengan seseorang. Yang bahkan Sya sendiri tidak kenal dengannya.
Ponsel Sya berdering keras. Sya menatap layar itu dengan wajah datar. Nama Eri tertera disana. Biasanya Sya begitu semangat, tapi kali ini Sya mengangkat telfon itu dengan malas-malasan.
"Halo, Sya. Bagaimana kabarmu?" Tanya Eri.
"Aku baik. Kau sendiri?"
"Aku sangat baik. Aku menelfonmu juga karena ada hal lain."
"Apa?"
"Kau tahu. Kakakmu Ruka melamarku."
Sya tersenyum kecil. Ternyata Ruka benar-benar melakukannya. Hal itu sedikit membuat Sya tenang.
"Apa kau tahu apa yang dia berikan padaku untuk melamar?"
"Apa yang dia berikan?" Tanya Sya kemudian.
"Dia memberikan sebuah mobil."
"Baguslah. Aku harap kau dan Kakak bahagia."
Kali ini Eri merasa ada yang salah. Biasanya Sya akan lebih heboh darinya. Kini, Sya langsung mendo'akanya. Bahkan tanpa candaan seperti biasanya.
"Apa ada masalah disana?"
Sya sebenarnya ingin bercerita, tapi karena Eri sedang bahagia. Sya memilih diam.
"Aku baik saja. Hanya tidak enak badan. Sudah dulu, aku mau istirahat lagi."
"Kau bohong," kata Eri.
__ADS_1
"Untuk apa aku bohong. Sudah dulu ya. Selamat pagi."
Tanpa menunggu jawaban Eri. Sya langsung menutup telfonya. Dia meletakan ponsel itu disamping kanannya.
Kembali Sya memikirkan dirinya. Dirinya yang mirip dengan orang lain. Kenapa juga harus mirip? Sya terus memikirkanya.
"Kau bisa kedinginan," kata Lufas sembari memberikan sebuah selimut pada Sya.
Sya tidak menjawab sepatah katapun.
"Aku sudah menunggumu sejak tadi. Kenapa kau tidak datang dan malah duduk di tempat yang dingin ini."
Sya masih diam dan menatap kosong.
Lufas tahu jika semalam Sya tidak senang. Hampir semua orang dalam pesta memanggilnya dengan Nita. Hal itu sudah tentu mengusik hati Sya.
Tanpa kata Lufas ikut duduk di samping Sya. Dia perlahan memegang tangan Sya yang begitu dingin.
"Maafkan aku," lirih Lufas.
Kali ini Sya bereaksi. Dia berkata, "Apa kau sudah puas menjadikan aku Nita. Kau sukses besar. Semua orang memanggilku Nita."
"Bukan begitu Sya. Aku tidak bermaksud..."
"Kau tidak bisa lepas dari bayang-bayang Nita. Hingga kau memaksaku menjadi dirinya. Aku terluka."
Sya berdiri dan meninggalkan Lufas sendirian. Hal itu membuat Lufas benar-benar merasa bersalah. Bahkan, Lufas mencoba mencari cara agar Sya kembali tersenyum.
Awalnya, Lufas memang berniat membuat Sya menjadi seperti Nita. Mulai dari gaya busanananya dan segala hobbynya, kini Lufas merasa salah. Tidak seharusnya dia memaksakan apa yang dia inginkan pada orang lain.
***
Disaat rasa sepi itu menyelimuti Sya. Sebuah pesan masuk. Pesan yang dikirim Anna. Dengan senyuman tipis Sya membuka pesan itu. Dia merasa punya seorang teman yang begitu baik kali ini.
'Bagaimana pestamu semalam?'
Tanpa ragu Sya membalas pesan itu. Dia meminta bertemu di tempat biasa. Sya ingin memberikan keluh kesahnya. Setidaknya, Sya akan merasa lebih tenang setelah itu.
Anna juga menerima tawaran itu dengan senang. Anna meminta pada Sya untuk menyemputnya. Walau Sya menolak, Anna tetap memaksa. Hal itu membuat Sya harus mengalah.
Kedua tangan Sya membuka lemari pakaian. Banyak sekali pakaian yang belum pernah Sya pakai sebelumnya. Hampir semuanya dress, tidak ada celana.
Akhirnya pilihan Sya jatuh pada sebuah dress abu-abu dengan lengan panjang. Dress itu polos, jadi Sya memilihnya. Setelah selesai memilih baju dan bersiap. Sya mengambil tas tangan berwarna putih, tidak lupa dengan sepatu hak tinggi berwarna putih juga.
Sya turun dan melihat Anna sedang duduk dengan Lufas di ruang tamu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tapi terlihat begitu serius.
"Kau sudah datang?" Tanya Sya memecah keseriusan itu.
Lufas menoleh dan melihat Sya tersenyum pada Anna. Lufas menampakan wajah tidak sukannya.
"Ya. Aku menunggumu sejak tadi, tapi suamimu tidak memanggilmu."
"Biarkan saja. Ayo kita pergi," kata Sya.
"Ayo."
Lufas menahan tangan Sya. Sya menoleh dan menatap tidak senang pada Lufas.
__ADS_1
"Apa? Bukankah aku hanya keluar dengan temanku. Aku tidak akan membuatmu malu, aku akan tetap menjadi Nita impianmu dirumah ini."
"Bukan begitu Sya. Dia bukan wanita yang baik," kata Lufas.
"Kau hanya bertemu dengannya beberapa kali. Jadi, jangan berharap aku percaya padamu. Lepaskan."
Dengan kasar Sya melepaskan pegangan tangan Lufas. Dia berjalan kearah Anna yang sudah menunggu di luar rumah.
Lufas menendang kursi dihadapannya. Dia kesal karena membuat Sya begitu berubah. Niatnya semalam ingin memperkenalkan Sya pada teman dan koleganya, tapi semua orang mengira Lufas kembali menemukan Nita. Nita yang sudah meninggal.
Sya memegangi kepalanya sendiri dan sesekali memijatnya. Jelas sekali jika Sya merasa saangat kacau.
"Ada apa denganmu? Apa kau sakit?" Tanya Anna.
"Tidak. Aku hanya merasa sedikit pusing dikepalaku."
Anna mengangguk. Dia hanya sesekali melihat kearah Sya.
"Apa kau sedang ada masalah dengan Lufas?"
"Tidak. Aku hanya merasa lelah."
"Aku tahu. Kau lelah karena pesta semalam pasti," kata Anna dengan tawa kecil.
"Kau benar."
"Oh ya. Apa dulu kau pernah kesini?" Kembali Anna bertanya.
Sya menggeleng. "Memangnya ada apa?"
"Aku sepertinya pernah melihatmu dulu. Rambutmu pirang saat itu."
Nita. Sya kembali ingat dengan wanita itu. Rasa kesal kembali memenuhi rongga hatinya.
"Apa kau mengenal wanita itu?" Akhirnya Sya terpancing juga.
"Tidak. Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya."
Sya mengangguk.
"Jadi dia bukan kau?" Tanya Anna kembali.
"Dia istri pertama suamiku."
Anna kali ini tersenyum.
"Kalian pasti kembar dan mencintai pria yang sama. Seharusnya kau senang karena kau yang menang bukan kembaranmu."
"Dia bukan kembaranku. Aku tidak menang karena aku hanya pengganti wanita itu. Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya lagi."
Anna mengangguk-anggukan kepalanya. Dia kembali fokus dengan setirnya. Walau masiy banyak pertanyaan yang dia ingin ajukan pada Sya.
Walau begitu Anna tidak ingin membuat Sya terluka dan tersakiti. Jadi, dia memilih untuk mengurungkan semua pertanyaan itu. Dia akan menanyakan lagi pada Sya nanti. Saat Sya sudah tenang.
Jika saja Sya tahu yang sebenarnya. Apa yang akan dia lakukan? Apa akan tetap menjadi Sya yang dicintai Lufas. Atau Sya wanita pengganti untuk Lufas.
***
__ADS_1