
Arda merasa sangat kacau. Saat ini ibu Zein sedang berada di ruang operasi. Mila dan nyonya Ken datang begitu mendengar kabar tentang ibu Zein.
Sementara itu Arda masih belum juga mendapat kabar dari Sya. Dia begitu terkejut dengan suara tembakan sampai tidak memperhatikan Dava yang membawa Sya.
"Dimana Sya?" tanya nyonya Ken.
"Sya...dia..."
"Ada apa dengannya."
"Ma, ceritanya cukup panjang. Tidak bisa aku jelaskan saat ini."
Nyonya Ken merasa ada yang tidak benar. Walau begitu dia terus menerus bertanya pada Arda. Dia ingin Arda mengatakannya saat itu juga.
"Ma. Aku harus pergi saat ini," kata Arda.
"Sebelum kamu mengatakan semuanya. Kamu tidak boleh pergi."
Arda tidak bisa menentang nyonya Ken, tapi saat ini Sya dalam bahaya. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sampai seseorang keluar dari ruang operasi.
Arda mengira itu adalah seorang perawat yang membutuhkan sesuatu. Ternyata tidak, dia adalah dokter yang mengoperasi ibu Zein.
"Tuan Arda," panggil dokter itu.
"Bagaimana keadaan ibu mertua saya, Dok?" tanya Arda.
Dokter menatap Arda. Dia memegang pundak Arda dan mengatakan, "Maaf. Ibu mertua anda sudah tidak bisa kami tolong."
"Ini pasti kesalahan, Dok."
"Bukan. Peluru yang mengenai ibu anda sudah tertanam di jantung. Ibu mertua anda sudah tidak bisa kami tolong. Apa lagi, dengan kondisinya."
Arda diam. Sementara nyonya Ken menitikan air mata. Dia menangis mengenang segala kebaikan ibu Zein. Bahkan ibu Zein rela memberikan satu ginjalnya pada nyonya Ken agar dia bisa hidup dengan tenang.
"Kak, aku harus mencari Sya. Apa kau bisa membantuku mengurus ibu mertuaku."
"Tentu. Kau juga sudah membantu suamiku."
"Aku pergi."
Mila tidak tahu jika suaminya di penjara, yang dia tahu Jovi saat ini dalam perjalanan bisnis atas perintah Arda. Karena rasa percaya Mila pada Arda membuatnya tidak merasa khawatir walau tidak mendapat kabar dari Jovi.
Pikiran Arda kali ini semakin kacau. Sya masih belum bisa ditemukan. Dia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Sya tentang ibu Zein.
***
Mata Sya terbuka. Dia merasa tubuhnya diikat oleh sesuatu. Benar saja, dia terikat di kursi saat ini. Sya mengedarkan pandangannya. Seorang pria sedang duduk dengan sebatang rokok di tanganya.
"Dava," panggil Sya.
__ADS_1
Dava tersenyum. "Kau tidak perlu memanggilku Dava. Aku adalah Jeremy. Teman kakakmu, Dava Zein."
"Lalu dimana kakakku?" tanya Sya.
Jeremy tertawa kecil. Lalu dia mematikan rokoknya. Matanya menerawang jauh ke atas. Sya masih menunggu jawaban dari Jeremy.
"Sya. Kau memang cantik, benar apa yang dikatakan Dava. Ibu Zein juga sangat baik hati," kata Jeremy.
Sya diam. Dia menunggu apa yang akan Jeremy lakukan.
"Apa kau tahu bagaimana Dava bisa sampai di kota? apa alasanya pergi?"
"Dia ingin kehidupan keluarga kita lebih baik."
Jeremy kembali tertawa kecil.
"Kau begitu polos Sya. Aku akan katakan sesuatu padamu, tapi kau janji kau tidak akan membenci ibumu."
Kali ini Sya yang tertawa kecil. "Untuk apa aku benci pada ibuku sendiri."
"Apa kau tahu kenapa ibumu harus rutin cek ke dokter?"
"Tentu aku tahu. Ibuku punya penyakit ginjal hingga harus diambil salah satu ginjalnya."
Kali ini suara tawa Jeremy memenuhi ruangan itu. Semua yang dikatakan Dava padanya benar. Sya hanya bisa melihat apa yang berada di luar.
"Ibumu tidak sakit apapun. Dia mendonorkan ginjalnya pada seseorang yang hampir tiada. Alasan itulah yang membuat Dava pergi ke kota. Dia ingin menemui orang yang ibumu tolong."
"Sampai disini. Dia sangat berharap jika keluarga kaya itu mau membantu perekonomian keluargamu. Hanya saja, Dava tidak mendapat sambutan baik."
"Dia malah terbunuh oleh anak buah suamimu. Hal itulah yang membuat nyonya Ken mau menerimamu."
"Maksudmu apa? kenapa bisa Arda yang membunuh kakakku."
"Karena orang yang ibumu tolong adalah nyonya Ken. Bukan orang lain," kata Jeremy.
"Alasan Arda membunuh kakakku apa. Bukankah dia seharusnya berterima kasih."
"Orang kaya selalu dibutakan oleh harta. Kau tahu itu, jadi karena permintaan kakakmu. Arda rela membunuh Dava."
Sya baru tahu semua ini. Saat ini, dia ingin bertemu ibunya dan bertanya tentang semuanya. Dia ingin tahu kebenaran yang sebenarnya.
"Lalu kenapa kau membakar rumah suamiku?"
Jeremy hanya menyunggingkan senyum.
"Sejak awal aku melakukan ini hanya karena satu alasan. Dava, dia sudah memberikan jantungnya padaku. Jadi, aku punya alasan untuk membalaskan dendamnya."
Sya hanya bisa diam. Dia tidak tahu apa semua perkataan Jeremy ini benar. Jika benar, dia sudah salah jatuh cinta pada seseorang. Dia sudah masuk ke keluarga pembunuh.
__ADS_1
"Karena kau sudah tahu. Aku ingin saat ini kau yang harus membalaskan kematian kakakmu."
"Aku?"
"Ya, karena kau adalah adiknya. Kau yang harus membunuh Arda untuk Dava."
Brak. Door.
Sya kaget saat melihat pintu dibuka paksa dan suara tembakan. Dia melihat beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu. Sampai akhirnya Arda masuk dengan setelan jas dan kaca mata hitam.
"Aku ingin dia dipenjarakan."
Beberapa orang mendekat dan langsung menangkap Jeremy. Jeremy terlihat biasa saja. Dia bahkan tersenyum pada Sya. Hal itu membuat Sya yakin tentang apa yang Jeremy katakan.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Arda sembari membuka ikatan Sya.
Sya diam. Dia masih mencoba mencerna semua perkataan Jeremy tadi.
"Sya. Apa kau tidak apa-apa?" tanya Arda.
Sya menatap Arda. Pria yang kini dia cintai, mana mungkin dia membunuhnya. Apa lagi, Sya belum tahu kebenarannya. Bruk, Sya langsung memeluk tubuh Arda dengan erat.
Arda tersenyum. Jika Sya melakukan ini bararti Sya tidak apa-apa. Dia baik-baik saja. Walau begitu Arda akan merahasiakan kematian ibu Zein. Tentunya agar Sya tenang lebih dulu.
***
Sejak bertemu Arda. Sya terus menerus menanyakan kabar ibu Zein. Hanya saja Arda memilih bungkam. Dia tidak tahu cara menyampaikannya pada Sya. Dia takut hal ini akan membuat Sya terpuruk.
"Kenapa kau hanya diam sejak tadi Arda. Biasanya kau akan langsung mengatakan semuanya padaku."
"Sya. Aku minta kau istirahat lebih dulu. Aku akan mengatakannya nanti di rumah."
Sya membuang muka. Jelas sekali jika Arda sedang menyembunyikan sesuatu. Walau begitu, sampai saat ini Sya belum tahu siapa yang melontarkan tembakan itu. Dia tidak melihat dengan jelas karena Jeremy sudah lebih dulu membiusnya.
Sampai di rumah. Banyak orang berkerumun di rumah itu. Tentu saja mereka menggunakan pakaian serba hitam. Sya kembali bertanya pada Arda, namun Arda tidak juga membuka suara.
"Arda! apa yang terjadi pada ibuku?"
"Sya. Maaf," kata Arda.
Merasa kurang jelas Sya langsung masuk ke dalam rumah. Disana sudah ada beberapa orang yang duduk dengan air mata. Nyonya Ken dan Mila juga ada disana.
Sya melihat sekeliling. Dia melihat foto ibunya dengan tubuh kaku yang berada di sampingnya. Sya mendekat dengan langkah terseret seret. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi.
Perlahan tangan Sya membuka penutup wajah itu. Apa yang dia lihat membuatnya diam dengan air mata yang tidak bisa dibendung.
"I...ibu."
Bruk. Tubuh Sya ambruk begitu saja di samping jenazah ibunya. Arda sigap dan langsung membawanya masuk ke dalam kamar. Dia juga sudah memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Sya.
__ADS_1
***