The Way Love

The Way Love
LV


__ADS_3

Mobil berhenti tepat di sebuah ruma dengan parkiran yang cukup luas. Sya turun dengan sebuah tas ditangannya. Seorang pelayan datang dan langsung membantu Sya. Sya mengulas senyumnya.


"Terima kasih," ucap Sya.


Pelayan itu mengangguk laludua berkata, "Nona bisa ikut saya. Tuan Ruka sudah menyiapkan segalanya."


Sya masih diam. Dia memandangi rumah itu dengan tatapa takjub. Ya, rumah itu sangat besar dengan gaya modern.


Sya membayangkan jika saat ini orang tuanya masih hidup. Mereka pasti akan sangat bahagia dengan apa yang dimiliki kakaknya. Sya mengusap air mata yang keluar dari matanya. Lalu dia mulai mengikuti pelayan itu masuk.


Kembali dia dibuat terpukau dengan rumah Ruka. Banyak dekorasi yang terbuat dari emas. Bahkan, disana juga ada lukisan keluarganya. Hanya saja, Sya melihat sebuah lukisan lain didekat lukisan keluarga.


Sya mendekat. Dia menatap lukisan itu. Dia tidak pernah melihat pria yang berada dalam lukisan itu.


"Dia adalah Ayah Tuan Ruka," kata pelayan itu dengan nada rendah.


Sya menoleh. Lalu dia mengangguk, ternyata dialah yang sudah menyelamatkan kakaknya dari organisasi gelap. Sya merasa bersyukur. Walau hanya dalam lukisan, dia bisa melihatnya.


"Tunjukan kamarku. Aku merasa lelah," kata Sya.


"Baik, Nona."


Mereka kembali berjalan disebuah lorong. Sampai akhirnya mereka berhenti di kamar nomor dua. Pelayan itu membukakan pintu. Sya melihat ruangan itu dengan tatapan tidak percaya.


Kamar itu adalah kamar impiannya saat kecil. Kamar yang terlihat seperti kamar putri dalam dongeng. Ruka benar-benar menyiapkan semuanya untuk Sya.


"Apa ada yang kurang?" Tanya pelayan itu.


Sya menggeleng.


"Jika butuh sesuatu, katakan saja pada saya. Saya adalah pelayan pribadi Nona."


"Terima kasih. Oh ya, siapa namamu?"


"Panggil saya Mira."


"Baiklah Mira. Kau sudah bisa pergi. Aku ingin istirahat."


Pelayan itu berbalik badan. Dia pergi dengan tangan sembari menutup kamar itu. Sya berjalan menyusuri kamar itu. Banyak buku dongeng dan baju yang didesain seperti putri.


Tanpa terasa air mata keluar dari mata Sya. Dia terharu dengan apa yang dilakukan kakaknya. Dia bahkan ingat segala detail impian yang pernah diucapkan oleh Sya saat kecil. Kini, Sya merasa mimpinya menjadi nyata.


***


Beberapa kali Arda melihat jam tangannya. Dia tampak begitu gelisah. Ya, saat ini dia sedang menuju kerumah sakit. Dia berniat untuk menemui Sya. Walaupun dengan cara sembunyi-sembunyi.


Jika Ruka tahu niatan Arda. Sudah pasti Arda akan kena bogam mentah dari Ruka. Setelah apa yang terjadi. Arda merasa menyesal dengan apa yang dilakukannya.

__ADS_1


Dia mampu menerima Aila walau tahu dia sudah hamil dengan pria lain. Arda menyalahkan dirinya sendiri karena marah dan kesal dengan apa yang dilakukan Sya. Apa lagi pengakuan Jovi atas kehamilan Sya. Arda ingin mendengarnya sendiri dari Sya kabar kehamilan itu.


Sampai dirumah sakit dia langsung naik lift dan melihat Sya diruanganya. Ruangan kosong, semua sudah tertata rapi seperti tidak ada orang yang tinggal. Arda merasa ada yang salah, sampai seorang perawat mendekatinya.


"Cari siapa, Pak?" Tanya Perawat itu.


"Apa pasien disini sudah dipindahkan?"


Perawat itu tersenyum. "Pasien dikamar ini sudah pulang tadi pagi."


Arda kaget. Dia merasa sangat gagal kali ini. Dia tidak bisa menemui istrinya sendiri.


"Terima kasih," ucap Arda.


Arda pergi meninggalkan perawat itu. Dia bergegas ke cafe. Setahunya hanya tempat itu yang akan dituju oleh Sya. Dia tidak mungkin pergi ketempat lain.


Dengan kecepatan penuh Arda membawa mobilnya. Dia hanya ingin bertemu dengan Sya. Kini pertemuan itu dihambat berbagai hal.


Disaat mobilnya melaju dengan cepat. Sebuah telepon masuk kedalam ponselnya. Melihat nama yang tertera, Arda langsung memarkirkan mobilnya kepinggir jalan.


"Ada apa?" tanya Arda langsung.


"Kenapa kau tidak datang. Aku sedang kesakitan saat ini."


"Disana banyak pelayan. Minta tolonglah pada mereka."


Arda memukul setirnya dengan keras. Selalu saja seperti ini. Disaat dia akan menemui Sya, Aila selalu datang mengganggu. Kadang Arda merasa sangat kesal, tapi ketika dia ingat jika Aila hamil. Dia kembali lembut.


Benar. Sampai saat ini Arda belum tahu jika kehamilan Aila adalah kehamilan palsu. Dia sengaja melakukannya agar Arda mau menikah dan menyentuhnya.


"Jika kau tidak kembali. Aku akan lompat dari balkon kamar."


Mendengar hal itu, Arda hanya bisa menghela nafas. Kali ini dia sudah benar-benar terjerat oleh Aila. Sangat sulit untuk melepaskannya.


"Baiklah. Aku akan segera kembali. Kau jangan berbuat yang tidak-tidak."


"Tentu. Aku mencintaimu."


Arda mematikan ponselnya. Dia menghela nafas panjang. Rasa rindu pada Sya yang datang sudah menyiksanya. Dia sangat ingin bertemu dengan Sya.


Kini dia harus kembali menahan rasa rindu itu. Lalu dia mengingat Jovi, kembali rasa kesal menghantuinya. Apa benar Sya hamil anak Jovi? Pertanyaan itu muncul dipikiran Arda.


***


Pekerjaan dikantor sudah selesai. Ruka meminta asistennya untuk membersihkan meja yang penuh dengan berkas-berkas. Dia sendiri memakai kembali jasnya dan tidak lupa mengambil ponsel di atas meja.


Dia sangat ingin bertemu dengan Sya. Apa Sya bahagia dengan apa yang Ruka sediakan atau tidak. Hal itu membuat Ruka sedikit tersenyum.

__ADS_1


"Apa Bapak akan kembali sekarang?" Tanya asistenya.


"Ya. Kau juga bisa kembali lebih awal. Aku akan pulang untuk bertemu dengan adikku."


"Baiklah, Pak. Saya permisi dulu."


Ruka mengangguk. Dia pergi menggunakan lift yang sudah disediakan untuknya. Sementara asistenya menyelesaikan pekerjaanya lebih dulu.


Saat Ruka sampai di pintu keluar. Dia melihat Arda sedang berdiri. Ruka tahu siapa yang sedang dia cari. Walau begitu, Ruks pura-pura tidak melihatnya.


"Ruka." Panggil Arda.


Ruka berhenti ditempat.


"Kau membawa Sya kemana?"


"Bukan urusanmu. Kemanapun aku membawanya. Aku akan membuat dia bahagia."


Arda mendekat. Dia berdiri dihadapan Ruka. Tatapannya begitu tajam dan penuh selidik. Walau begitu, Ruka tidak menunjukan ekspresi apapun. Dia memilih untuk diam.


"Kau tahu aku sangat mencintainya. Kenapa kau malah menjauhkan aku dengannya."


Ruka menatap Arda. "Jika aku memberikannya padamu saat ini. Aku akan lebih menyakitinya. Apa lagi ada anak yang sedang dia kandung."


"Jadi, dia benar-benar hamil?"


"Ya."


Arda merasa sangat kacau. Dia tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya merasa hancur. Hal itu karena apa yang dikatakan oleh Jovi. Rasa percayanya pada Sya kini mulai berkurang.


"Jika kau sudah yakin kembali pada Sya. Aku akan memberikannya padamu. Hanya saja, lebih baik kau menjauh darinya untuk saat ini."


"Aku sudah sangat merindukannya," ucap Arda.


"Tapi kau masih ragu dengan bayi yang dia kandung."


Arda kembali mendekat pada Ruka.


"Aku bisa menerimannya. Aku bahkan menikahi Aila karena hal ini."


Tatapan Ruka berubah. Dia menatap dengan penuh amarah pada Arda.


"Ingat hal ini baik-baik. Adikku tidak seperti Aila."


Setelah itu Ruka masuk kedalam mobil. Dia tidak mempedulikan Arda yang masih mencoba mengejar dirinya.


***

__ADS_1


__ADS_2