The Way Love

The Way Love
XXXIII


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu sejak Eva dan Dava tinggal di rumah Sya. Malam ini Sya sengaja pulang terlambat. Dia dan Arda sudah membuat rencana agar Dava mengakui hal yang sebenarnya. Cepat atau lambat.


"Kau bisa langsung istirahat," kata Sya pada sopir yang mengantarnya pulang.


"Terima kasih, Non."


Sya masuk. Dia kaget dengan apa yang dilihatnya. Suasana rumah tampak berantakan. Banyak barang yang tidak berada di tempatnya.


Sya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia melihat rumah itu begitu berantakan. Sya mencari pelayan tapi tidak ada satupun yang kelihatan.


"Mereka semua ada dimana?" lirih Sya.


Lalu Sya masuk ke sebuah rumah di samping rumah besar. Disanalah para pelayan tinggal. Sya membuka pintu dan melihat para pelayan sedang terduduk.


"Ada apa ini? apa yang kalian lakukan hingga rumah jadi berantakan." Sya tampak marah dengan apa yang dia lihat.


Seorang kepala pelayan mendekat. Dia menunduk karena merasa bersalah.


"Maaf."


"Katakan apa yang terjadi pada rumah ini," kata Sya.


Pelayan itu mengatakan semuanya. Mendengar penuturan itu, emosi Sya meluap. Walau begitu dia tidak mencoba menahannya. Dia akan mengatakan pada Arda agar lebih cepat membongkar semuanya.


"Kalau begitu kalian bisa keluar. Bersihkan semuanya. Aku akan istirahat."


Langkah Sya menuju kamar tertunda karena Eva mencegahnya. Dia terlihat tidak seperti biasanya. Bahkan beberapa kancing bajunya tidak tertata dengan rapi.


"Apa maumu?" tanya Sya.


Eva memasang wajah memelas. "Maaf. Aku sudah membuat keributan disini. Hanya saja aku ingin menagih janjimu saat ini. Kau janji akan membawaku dan Dava jalan-jalan."


"Lalu?"


"Karena kau tidak membawa kami dengan segera. Aku merasa bosan dan membawa teman-temanku kesini. Kami berpesta."


Sya menghela nafas panjang. Belum sempat Sya berkata-kata. Dava muncul dan langsung menarik Eva dari hadapan Sya.


"Kak. Kau bisa ke kamarku setelah ini," kata Sya.


"Ba...baiklah Sya."


Tangan Sya memijit kepalanya sendiri. Dia kira perjalanan pernikahannya akan mulus. Kini datang orang seperti Dava dan Eva. Sya tidak habis fikir dengan semua ini.


Dengan masih memijit kepalanya Sya duduk du sofa kamar. Dia menunggu Dava masuk kesana. Benar. Tidak lama Dava datang dengan wajah yang tidak terlihat senang.


Sya membenarkan posisi duduknya. Dia menatap orang yang mengaku sebagai kakaknya itu. Banyak pertanyaan muncul di hati Sya.


"Sya. Maaf, aku dan Eva terlalu lancang hingga kami..."


"Cukup. Aku tidak ingin membahas hal itu."


"Lalu kenapa kau memintaku kesini?"


"Besok pagi aku akan membawa kalian pergi. Bukankah aku sudah berjanji pada kalian. Aku juga sudah menghubungi ibu. Dia setuju."


Dava mengangguk-anggukan kepalanya. Tidak ada pertanyaan yang kembali dilayangkan pada Sya. Hingga Sya memintanya untuk keluar dari kamar.


Begitu Dava keluar dari kamar. Sya langsung menghubungi suaminya. Dia mengatakan apa yang ingin dia lakukan besok.


"Kenapa kau mempercepatnya Sya?" tanya Arda.


"Aku sudah tidak tahan lagi dengan apa yang mereka lakukan."


Arda menghela nafas panjang. "Baiklah. Aku akan meminta anak buahku berjaga disana. Ini sudah waktunya istirahat. Akan lebih baik jika kau tidur."


"Ya."

__ADS_1


"Aku mencintaimu," kata Arda.


Sya tidak menjawab dan langsung memutus percakapan itu. Dia memilih untuk mematikan ponselnya dan duduk di pinggir jendela. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan kosong.


***


Dress merah kini sudah bertengger ditubuh Sya. Dengan rambut yang dia ikat Sya keluar dari kamar. Dia melihat beberapa pelayan sibuk. Bahkan tidak seperti biasanya.


"Kalian sedang menyiapkan apa? apa ada sesuatu yang penting disini?" tanya Sya.


Para pelayan berhenti melakukan tugas. Mereka mendekat pada Sya yang masih berdiri di anak tangga.


"Apa yang kalian lakukan?"


"Nona Eva meminta kami menyiapkan semua ini. Dia ingin saat pulang jalan-jalan nanti tidak merasa kesal."


Sya melihat ruangan itu. Sangat berbeda dari sebelumnya. Banyak juga poster-poster yang dipasang. Sya akhirnya tersenyum.


"Lakukan saja seperti apa yang dia inginkan, tapi saat aku pulang nanti. Aku ingin ruangan ini kembali seperti semula."


"Baik."


Para pelayan kembali melakukan tugas mereka. Sementara Sya keluar dari rumah. Di depan sudah menunggu sebuah mobil berwarna merah. Mobil itu yang akan membawa mereka pergi kali ini.


"Maaf. Kami terlambat," kata Dava yang diikuti Eva dibelakangnya.


"Tidak masalah. Ayo masuk."


Mereka semua masuk ke dalam mobil. Sementara sebuah mobil lain sedang menjemput ibu Zein. Sudah tentu rencana Sya kali ini akan berhasil. Arda sudah menunggu mereka disana.


Tidak lama sampailah Sya dan yang lain disebuah perkampungan. Ya, perkampungan itu terletak dipinggir kota. Walau begitu pemandangan disana sangatlah indah.


"Kau membawa kita ke desa?" tanya Eva yang terlihat kecewa.


Sya tidak menjawab. Dia melihat kesekeliling, ibu Zein masih juga belum datang. Eva dan Dava sudah sejak tadi mengeluh. Mereka mengatakan jalan-jalan ini tidak seperti yang mereka bayangkan.


Brummm, brummm. Sebuah mobil mendekat, lalu berhenti di samping Sya. Ibu Zein turun dengan langkah tuanya. Sya mendekat dan membantu ibu Zein berdiri. Terlihat jika Arda disana tidak peduli dengan keberadaan ibunya.


"Maaf kan Ibu. Kau tahu ibumu ini sudah renta."


Sya tertawa. "Aku bercanda Ibu."


"Kenapa kau membawa ibu kesini?" tanya ibu Zein saat sadar dimana dia berada.


Sya menatap kearah rumah-rumah di perkampungan itu. Dia merasa sesuatu patut di jelaskan disini.


Mereka mulai berjalan masuk ke desa. Banyak obrolan yang Sya buat. Bahkan sesekali Sya memancing Dava untuk mengatakan sesuatu.


"Kak. Bukankah dulu kau suka berada disini," kata Sya.


Dava menoleh. "A...aku sudah lupa Sya. Kenapa kau menanyakannya."


"Aku hanya ingin memastikan saja."


Langkah mereka terhenti disebuah rumah yang tampak tidak mewah. Bahkan terkesan jelek dan kumuh. Sya menatap rumah itu dengan perasaan tergoncang di dalam hatinya.


"Kenapa kita kesini. Rumah ini sangat jelek dan tidak pantas ditinggali," kata Eva.


Sya hanya tersenyum. Lalu Eva menoleh pada Dava yang juga memandang tidak suka pada rumah itu.


"Apa dulu kau tinggal disini Dav?" tanya Eva.


Dava merubah ekspresi wajahnya. "Mana mungkin aku tinggal di rumah sejelek ini. Ibuku bahkan tidak rela aku tidur di lantai," kata Dava.


Tanpa sengaja Dava sudah mengakui jika dirinya bukanlah kakak Sya. Dulu, Kakak Sya sangat bangga dengan rumah itu. Bahkan dia tidak rela jika ada yang mencelanya.


"Dava," panggil ibu Zein.

__ADS_1


Dava menoleh dan menyadari apa yang sudah dia lakukan.


"Bu. Aku hanya bercanda. Rumah ini dulu sangat mewah untuk kita. Bahkan, aku tidak ingin meninggalkannya."


"Benarkah? lalu kenapa kakak pergi ke kota meninggalkan kami?"


"Sya. Aku bisa jelaskan padamu. Dulu aku memang tidak memiliki akal. Aku meninggalkan kalian begitu saja tanpa pamit."


Mata Sya melirik pada ibu Zein. Disini ibu Zein terlihat sudah berbeda. Dava mendekat dan mencoba menjelaskan semuanya. Usahanya itu tidak membuahkan hasil. Hal itu malah semakin membuat ibu Zein sedih.


"Kau bukan anakku," kata ibu Zein.


Dava melotot tidak percaya. Dia menatap pada Sya yang saat ini sedang tersenyum. Dava tahu kali ini dia sudah masuk perangkap Sya.


"Kak. Bukan, maksudku Dava. Mungkin namamu memang Dava. Hanya saja, kau bukan kakakku. Apa lagi anak dari ibuku."


"Sya. Aku Dava. Dava Zein."


"Benarkah?" Arda keluar dari rumah itu dengan senyuman khasnya.


"Kau...kau juga ikut menjebakku."


"Bagaimana aku tidak menjebakmu. Sementara istriku merasa gelisah setiap berada di dekatmu."


Situasi disana menjadi kacau setelah Eva berhasil di tangkap oleh anak buah Arda. Merasa terpojokkan Dava mendekat pada ibu Zein dan menjadikannya sandera.


"Tidak. Apa yang kau lakukan pada Ibu?" teriak Sya.


Dava tertawa, perlahan dia membuka topengnya. Dia adalah pria yang berada di video itu. Dia adalah dalang kebakaran di ruangan kerja nyonya Ken.


"Ka...kau?" Sya tidak percaya dengan apa yang dia lihat. "Arda. Tolong ibuku, aku tidak ingin dia kenapa-napa."


"Apa motifmu sebenarnya?" tanya Arda.


"Apa aku perlu mengatakannya?"


Arda mendekat dengan beberapa anak buahnya.


"Jika kau mendekat. Nyawa ibumu ini akan melayang."


Sya menggeleng dengan cepat. Dia tidak mungkin melakukan hal yang gegabah untuk saat ini.


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Sya.


Dava menatap Sya dengan tatapan sendu. Dia merasa sedih juga tersiksa saat menatap Sya.


"Aku ingin dirimu."


"Jangan. Kau tidak boleh bersamanya," kata Arda.


Sya mendekat pada Arda. "Aku akan melakukan apapun untuk ibuku."


"Sya. Apa kau tidak mencintaiku?" tanya Arda.


"Aku mencintaimu. Hanya saja, nyawa ibuku dalam bahaya. Aku harus menggantikannya."


Dengan tekad kuat. Sya mendekat pada Dava. Dia merelakan dirinya sendiri untuk dijadikan sandera bagi Dava. Asalkan nyawa ibunya selamat.


Saat tangan Sya dipegang oleh Dava. Ibu Zein perlahan menjauh dari Dava dan mendekat pada Arda. Sampai.


Dorr. Door.


Suara tembakan menggelegar. Tubuh ibu Zein terhenti. Perlahan darah keluar dari tubuhnya.


"Ibu!" teriak Sya.


Namun teriakan itu tidak ada gunanya. Ibu Zein tergeletak bersimbah darah. Hal itu membuat Arda mendekat dan mencoba membangunkannya.

__ADS_1


Rencana Dava berhasil untuk mengecoh fokus Arda. Dengan begitu Sya bisa dibawa pergi tanpa adanya Arda yang mengikuti. Tubuh Sya lemas saat Dava memberikan obat bius padanya.


***


__ADS_2