
Crak. Arda melempar ponselnya entah kemana. Sejak kemarin dia terus mencoba menghubungi Sya. Sampai detik ini tidak ada jawaban.
Anak buahnya sudah dia kerahkan untuk mencari Sya. Dimanapun Sya berada, Arda hanya ingin istrinya itu kembali. Kata maaf memang tidak cukup, tapi setidaknya Arda masih berharap akan sebuah kesempatan.
"Arda. Apa kau mau pergi hari ini?" tanya Aila.
"Ya."
"Bisakah aku ikut dengamu?"
"Untuk apa?" tanya Arda tanpa menoleh pada Aila.
Aila mendekat dan duduk di samping Arda. Dia tahu, saat ini Arda pasti sangat kacau karena kehilangan Sya. Walau begitu, hal sekecil itu tidak akan mempengaruhi niat Aila untuk mendapatkan Arda.
"Kau tahu aku sedang hamil. Aku merasa bosan jika di rumah terus menerus. Bisakah aku ikut denganmu."
"Kenapa kau tidak pergi jalan-jalan denganmu. Lagi pula aku punya banyak urusan."
Aila membuang muka. Dia merasa kembali dicampakan. Bahkan tadi malam Arda tidak tidur bersamanya. Arda memilih untuk tetap diruang kerja sampai pagi.
Saat Aila akan kembali bicara, Arda sudah pergi dari sana. Aila berlari mencarinya, tapi tidak ketemu. Sampai dia mendengar suara deru mobil dari arah depan.
Dengan cepat Aila berlari. Dia melihat Arda yang sudah pergi dengan mobilnya. Brak, tangan Aila memukul daun pintu. Tangannya terasa sakit memang, tapi tidak sesakit di dalam hatinya.
"Jika aku menemukannya lebih dulu. Aku akan pastikan dia tidak akan pernah kembali padamu."
Dering telfon membuat Aila tersenyum. Dia tahu jika ayah anaknya akan segera menelfon dan mengatakan dimana Sya.
"Baiklah. Aku akan datang kesana," ucap Aila dengan senyuman.
***
Rasa lelah kini menghampiri Sya. Dia baru saja menyulap rumahnya menjadi ruko. Setidaknya dia akan membuat cafe kecil-kecilan di rumahnya itu.
Dia tidak mungkin kembali untuk meminta uang pada Arda. Bahkan, kartu kredit yang diberikan Arda tidak dia gunakan. Dia lebih suka menyimpannya di dalam dompet.
"Wow. Kau yang melakukan semua ini?"
Sya bangun dari duduknya dan menyambut kedatangan Eri. Ya, Eri yang sudah membantunya untuk berbelanja dan memenuhi kebutuhan cafenya.
"Aku lapar," lirih Sya.
"Kebetulan sekali aku bawa makanan kesukaanmu. Ayo makan."
Tangan Sya mulai membersihkan meja. Tentunya meja itu akan digunakan untuk makan siang mereka saat ini. Roti keju dan roti coklat kini sudah berada di meja.
"Aku akan ambil air minum sebentar," ucap Sya.
Saat makan, Eri beberapa kali melihat air mata Sya keluar. Walau langsung dihapus oleh Sya, Eri tahu jika temannya itu sedang mencoba untuk tetap tenang di depannya.
__ADS_1
"Apa kau tidak ingin menghubungi Arda?"
Pertanyaan Eri membuat Sya berhenti mengunyah makananya. Dia mengambil gelas dan langsung meminumnya.
"Untuk apa aku kembali. Bukankah dia sudah bersama wanita lain."
"Kau mencintainya bukan?" tanya Eri lagi.
Sya mengangguk. "Walau begitu. Bukan berarti aku harus di sampingnya. Aku akan menahan cinta ini."
Eri diam. Dia tahu Sya begitu kecewa dengan apa yang sudah dilakukan oleh Arda. Tanpa kata sebelumnya atau alasan yang masuk akal. Arda memilih untuk menikahi Aila.
Kali ini Eri tidak bisa membantu lebih. Dia hanya bisa diam saat ada yang bertanya tentang Sya. Dia ingin kepercayaan Sya padanya akan tetap ada. Sampai mereka tua bersama.
"Kalau begitu. Aku pulang dulu ya, besok aku harus kembali ke kantor."
"Ya. Jika ada waktu mampirlah."
"Tentu saja."
Sya memeluk Eri sebelum pergi. Setelah itu dia mengantar Eri sampai ke halte bus. Dia ingin memastikan jika Eri benar-benar akan pulang.
Langkah Sya limbung. Dia duduk di kursi dekat pintu. Kali ini dia tidak bisa menahan tangisnya lagi. Dia merasakan rindu yang sangat pada Arda, tapi saat ini dia tidak bisa datang padanya.
Orang yang pernah berjanji akan terus disampingnya kini sudah menikah lagi. Pria itu kini bukan hanya menjadi miliknya. Jadi tidak mungkin bagi Sya untuk mendapatkan Arda kembali dengan hati yang utuh.
***
Sampai akhirnya Sya memilih untuk mencari udara segar. Hanya untuk mengembalikan semangat di dalam hatinya.
Sampai saat Sya melewati sebuah mini market. Dia melihat berita yang ditayangkan disana. Hal itu membuat Sya memutuskan untuk masuk. Dia melihat berita tentang Arda yang kembali berhasil bekerja sama dengan sebuah perusahaan besar.
Sya tersenyum. Dia merasa bangga dengan apa yang dilakukan oleh Arda. Sampai saat foto Arda dan Aila diperlihatkan. Dulu, dialah yang menemani Arda disana. Kini, ada Aila yang sudah siap dengan apapun kondisi Arda.
"Nona," panggil seseorang yang menepuk pundak Sya.
Sya menoleh. Dia melihat seorang pria yang terihat seperti pengawal.
"Apa Anda nona Syaheila Ken?"
Mendengar nama Ken membuat Sya terkesiap. Dia tahu siapa yang ada di depannya saat ini. Dia pasti orang yang disuruh Arda mencarinya.
"Ma...maaf. Anda salah orang. Saya adalah Heil."
"Kalau begitu saya sudah salah orang," kata pria itu.
Melihat peluang untuk kabur. Sya langsung bergegas pergi sebelum pengawal itu sadar. Jika dia tertangkap pasti dia akan dibawa ke rumah Arda. Dia akan melihat Arda yang kini sudah bersama dengan wanita lain.
"Lihat. Dia pergi," kata teman si pengawal.
__ADS_1
Sya berlari sekencang mungkin. Dia tidak berlari kearah rumahnya. Dia berlari kesebuah gang yang belum pernah dia masuki sebelumnya. Saat ini Sya hanya berfikir untuk berlari dan jangan sampai tertangkap.
Sampai, hap. Sebuah tangan mencengkram tangan Sya dan menariknya. Sya hanya diam saat mulutnya dibekap. Sampai beberapa pengawal itu terlihat melewatinya begitu saja.
Sya mencoba melihat orang yang sudah menolongnya itu. Hanya saja dia tidak bisa melihatnya. Suasana gelap membuat dia tidak bisa melihat dengan jelas.
"Apa kau tidak apa-apa?"
Sya tahu suara itu. Hal itu membuatnya tersenyum.
"Aku baik-baik saja, Kak. Terima kasih," ucap Sya.
"Kenapa kau memanggilku Kak?"
"Karena kau adalah Ruka."
Ruka tertawa mendengar penuturan Sya. Mereka keluar dari gang itu dengan senyuman yang terpancar di wajah mereka.
"Bagaimana kakak bisa tahu aku disini?"
"Apa yang tidak bisa aku lakukan untukmu."
Karena Ruka ada disana membuat Sya merasa khawatir. Jika ada Ruka pasti ada Arda. Bagaimana jika dia bertemu dengan Arda disana.
"Tenang saja. Arda tidak tahu kau disini."
"Kakak jangan katakan padanya ya. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi."
"Aku tahu kau sudah kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Arda. Tapi sebaiknya kau datang padanya, bukankah kalian masih suami istri sah."
"Aku tahu. Hanya saja aku belum siap bertemu dengannya. Biarkan aku seperti ini dulu."
Ruka mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jika kau sudah siap. Katakan padaku, aku akan membantumu sebisaku."
"Baik, Kak."
Mereka berpisah di jalan besar yang menuju rumah Sya. Ruka tidak tahu jika rumah Sya ada disekitar sana. Ruka hanya tahu jika saat ini Sya tinggal seorang diri.
***
"Apa!" Arda tidak percaya dengan apa yang dilaporkan oleh anak buahnya itu.
Bagaimana bisa anak buah yang sudah terlatih tidak bisa mendapatkan Sya. Hal itu semakin menyulut kemarahan Arda. Dia memukul beberapa anak buahnya dengan penuh emosi.
"Cari lagi sampai dapat. Aku tidak mau ada alasan lagi," kata Arda.
"Baik."
__ADS_1
Arda terduduk di kursi. Dia kembali terbayang wajah Sya saat tersenyum dan tertawa. Bahkan dia mengingat saat Sya merasa putus asa dengan hubungan itu. Kini, Arda kehilangan senyuman itu.
***