The Way Love

The Way Love
LXXIX


__ADS_3

Hari pertunangan sudah mulai dekat. Hal itu mampu membuat Sya gugup. Apa lagi saat bertemu dengan Arda. Ya, bagaimanapun Sya masih saja menyimpan rasa itu untuknya.


Jika mengingat kejadian di masa lalu. Sya memang tidak seharusnya memiliki perasaan lagi. Walau begitu dalam lubuk hati Sya masih tidak bisa memungkirinya.


Cinta? Pembodohan yang benar-benar nyata. Mampu membuat sebuah jalan yang tidak bisa terduga. Bahkan mampu memecahkan ikatan yang begitu kuat.


"Nona Sya. Bagaimana dengan baju ini?" tanya seorang pelayan butik.


"Apa menurutmu itu bagus?" Sya malah melontarkan sebuah pertanyaan pada pelayan itu.


Pelayan itu mengangguk seperlunya. Sya mengambil baju itu dan masuk ke dalam ruang ganti. Sebenarnya, Sya datang dengan Lufas tadi. Hanya karena sebuah telfon Lufas pergi untuk menemui si penelfon.


Mau tidak mau Sya akhirnya sendirian memilih baju untuk acara tunangan. Ya, memang benar Lufas begitu perhatian pada Sya. Hanya saja, Sya tetaplah nomor dua dibandingan mendiang istrinya. Hal itu cukup masuk akal.


Pantulan dicermin membuat Sya yakin mengambil baju itu untuk acaranya. Dia langsung keluar dan mengatakan pelayan jika dia akan mengambil baju itu.


"Tolong kirimkan baju ini ke alamat ini," kata Sya sembari menyodorkan sebuah kertas.


"Baiklah, Nona."


"Kalau begitu aku pergi dulu."


Sampai di luar butik. Sya kembali menemui hiruk pikuk jalanan yang ramai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang. Begitupun dengan beberapa orang yang terlihat kepanasan menyusuri jalan.


Hari itu memang cukup panas. Untung saja Sya keluar menggunakan baju yang tidak terlalu tebal. Jadi, dia tidak akan tersiksa karenanya.


"Kau disini?"


Sya menoleh keasal suara.


Arda berdiri dengan sebuah tas ditangannya. Terlihat jika dia baru saja keluar dari gedung yang berada disamping butik itu.


"Mau aku beri tumpangan sampai ke hotel?" Tanya Arda.


Sya tidak menjawab. Setelah sekian lama mereka bertemu lagi. Arda kini menyapanya dan mencoba untuk bicara. Tanpa beban dan terlihat seperti bukan Arda.


"Aku bisa naik taxsi."


"Benarkah? Kau itu adik temanku. Jadi, aku juga harus menjagamu."


"Terima kasih, tapi tidak perlu. Lihat, taxsi yang kupesan sudah datang."


"Kalau begitu hati-hati."


Tanpa berkata apa-apa lagi. Sya masuk ke dalam taxsi. Dia memikirkan apa yang terjadi. Arda berubah-ubah tanpa bisa diprediksi.


Awal bertemu Arda dihotel, Arda begitu terlihat membencinya. Lalu, Arda terlihat begitu ingin kembali pada cintanya. Sampai tadi, Arda bahkan terlihat biasa saja pada Sya.


***


Sampai diluar hotel Sya turun dan memberikan bayaranya pada sang sopir taxsi. Dia melihat seorang pria bersama dengan Lufas. Lsbih tepatnya Lufas sedang mengantar pria itu ke mobilnya.


Entah perasaan dari mana. Sya kini merasa penasaran dengan hubungan Lufas dan pria itu. Tidak ingin menunggu lama untuk rasa penasaranya. Sya langsung menuju keruangan kakaknya. Ruka.


Hampir sepuluh menit Sya berada diluar pintu ruangan Ruka. Ya, dia menunggu tamu yang berada di dalam keluar dulu. Sebelum dia masuk dan mulai mengganggu kakaknya.


Tiba-tiba saja seseorang keluar dari ruangan itu. Sya langsung menahannya.


"Nona Sya. Ada apa disini?"


"Apa tamunya masih lama. Aku ingin bertemu dengan kakakku."


"Apa ini penting?" Tanya sekretaris Ruka.


"Tentu. Jika tidak penting untuk apa aku kesini."


"Aku akan aturkan. Kau bisa menunggu sebentar lagi."

__ADS_1


Sekretaris itu kembali masuk. Dia membisikan sesuatu ketelinga Ruka. Hal itu mampu membuat raut wajah Ruka berubah. Lalu, dengan santainya Ruka mengatakan jika meeting itu telah selesai.


"Kita akan lanjutkan meeting ini besok. Ada hal penting yang harus saya urus."


"Baiklah, Pak Ruka. Kami pergi dulu."


Setelah tamu-tamu itu keluar. Ruka langsung melontarkan beberapa pertanyaan saat Sya masuk.


"Sya. Apa yang terjadi? Apa ada hal yang membuatmu terganggu?"


"Ya. Aku bahkan merasa sangat terganggu."


Ruka mendekat dan duduk disamping adiknya itu.


"Ada apa sebenarnya?"


Sya akhirnya mengatakan apa yang terjadi hari ini. Lufas yang meninggalkannya di butik sendirian. Sampai Sya melihat Lufas dengan seorang pria.


Ruka langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan adiknya itu.


"Kenapa malah tertawa. Aku sangat penasaran."


"Pria itu adalah kenalan Lufas. Dia yang selama ini mencari tahu tentang kematian istri Lufas."


"Kenapa? Apa kematiannya dibunuh?"


"Hal itulah yang harus dicari tahu." Jawab Ruka.


"Jika dia masih berkutat dengan masa lalunya. Lalu untuk apa kau menikahkanku dengan Lufas?"


Ruka menatap Sya dengan lekat. Bagaimanapun, Sya masihlah belum dewasa. Dia selalu mempertanyakan hal kecil.


"Sya. Aku hanya tidak ingin kau disakiti lagi."


Kali ini Sya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia tidak ingin mendengar Ruka yang kembali menjelekkan Arda. Hal itu akan membuat hati Sya kembali merasa sakit.


"Aku kembali ke kamarku dulu kak. Aku lelah."


Saat di depan ruangan Ruka. Sya berpapasan dengan Lufas. Kali ini, Lufas tidak tersenyum dan menyapanya. Dia berlalu dengan tatapan dingin masuk ke ruangan Ruka.


"Apa yang sudah membuatnya seperti ini?" lirih Sya. Sembari menatap pintu ruangan Ruka.


"Kita bertemu lagi."


Sya menoleh dan melihat Arda disana.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Sya.


"Aku ada perlu dengan Kakakmu."


"Kalau begitu masuk saja," kata Sya sembari berlalu.


"Tunggu."


Sya berhenti dari langkahnya karena perkataan Arda.


"Apa kau sudah melupakan kakakku Jovi? Apa kau tahu? Mila kakakku masih menahan luka karena Jovi."


Sya kembali mendekat pada Arda.


"Kenapa kau mengatakan hal ini. Aku dan Jovu tidak ada hubungan apapun. Kau harus tahu, aku akan bertunangan dengan pria lain."


"Benar apa yang dikatakan Aila. Kau pasti akan membela diri."


Sya hanya diam. Tidak ingin kembali berdebat karena hal aneh. Sya memilih masuk kedalam lift untuk kembali ke kamarnya.


***

__ADS_1


"Ternyata kau benar. Bukan obatmu yang salah. Arda yang tidak meminumnya."


Wanita bertopi itu tertawa. "Lalu bagaimana sekarang?"


"Aku memberikan obat yang kau berikan padaku waktu itu. Hampir satu jam aku menunggu dia bangun dari pingsan. Sampai dia bangun dan kembali lupa akan segalanya."


Wanita bertopi itu kaget dengan apa yang Aila katakan.


"Apa kau memberikan satu botol penuh?"


Aila mengangguk tanpa rasa bersalah.


"Bukankah kau tahu apa efek samping dari obat itu?"


Aila merubah posisi duduknya.


"Aku tidak peduli dengan efek samping obat itu. Yang aku pedulikan adalah, aku tidak ingin masuk penjara dan ditinggalkan oleh Arda."


Kali ini wanita bertopi itu hanya bisa diam. Dia benar-benar terkejut dengan penuturan yang diberikan oleh Aila.


"Ini uangmu. Aku mau obat itu dikirimkan besok. Tidak boleh telat," kata Aila sembari meletakan sebuah amplop yang cukup tebal.


Tanpa menunggu jawaban dari wanita bertopi. Aila sudah memilih untuk pergi lebih dulu. Dia tidak sabar untuk kembali menemui Arda. Arda yang sangat mencintai Aila.


"Apa dia meminta obat lagi?" tanya wanita yang lebih muda pada wanita bertopi.


Wanita bertopi mengangguk.


"Ini sudah melebihi dosis. Pria itu bisa mati kapan saja karena saraf yang rusak," kata wanita itu lagi.


"Tidak usah membahas hal ini. Kau hanya perlu mengirimkan obat itu besok."


"Baik."


***


Lantunan lagu yang merdu mengisi ruang kamar Sya. Sya sedang berbaring dengan wajah penuh masker bengkuang. Dia juga sesekali tertawa karena pesan yang dikirimkan oleh Eri.


Tiba-tiba musik itu terhenti. Sya bangun dan melihat Ruka yang berdiri disamping pengeras musik.


"Ada apa, Kak? Ini sudah malam dan kakak datang ke kamarku?"


"Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu."


Sya bangun dan meletakan ponselnya. Dia duduk di sofa diikuti oleh Ruka.


"Apa ini masalah yang serius?" Tanya Sya.


"Ya. Lufas ingin kau dan dia segera menikah. Bukan tunangan."


Kali ini Sya hanya menatap kakaknya dengan tatapan penuh tanya.


"Sebenarnya. Lufas bukanlah anak buahku Sya," kata Ruka, "dia adalah anak dari teman lama ayah angkatku. Dia memiliki banyak perusahaan."


"Aku tidak peduli dia anak siapa dan memiliki apa saja. Aku hanya tidak paham kenapa dia menginginkan aku langsung menikah."


Ruka menepuk pundak Sya pelan. "Aku tahu kau kaget dengan kabar ini. Hanya saja, Lufas memiliki alasanya. Dia harus pulang ke kotanya. Ayahnya baru saja meninggal."


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Ayahnya ingin Lufas menikah dan melanjutkan usahanya disana."


"Kak. Kau tahu aku dan Lufas masih belum saling mencintai. Mana mungkin aku harus menikah secepat ini dan pergi."


"Kakak tahu. Tolong, kau setuju saja. Aku tidak tega melihat Lufas begitu terpukul. Dia benar-benar menyesal karena belum menikah sampai ayahnya tiada."


Akhirnya Sya mengangguk dengan lemah. Dia setuju karena ingin membalas semua kebaikan Lufas. Selama disini, Lufas begitu baik padanya. Mana mungkin Sya akan membiarkan Lufas terpuruk.

__ADS_1


"Baguslah. Aku akan katakan kabar baik ini pada Lufas. Kau lanjutkan saja istirahatmu."


***


__ADS_2