
Suara riuh terdengar dari luar kamar Sya. Sya yang sedang duduk ditemani bukunya kini merasa terganggu. Dengan malas Sya keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Beberapa pelayan terlihat berlarian kearah ruang kerja nyonya Ken. Mereka terlihat membawa air di tangan mereka. Sya berlari kearah yang sama.
Dia melihat api yang mulai berkobar di ruangan itu. Sementara nyonya Ken diam terpaku melihat semua itu. Sya mendekat pada nyonya Ken.
"Apa yang terjadi Ma?" tanya Sya.
Nyonya Ken menggelengkan kepalanya. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sya tahu nyoya Ken tidak akan merelakan hal itu begitu saja.
Perlahan kobaran itu mulai mengecil. Sya membawa nyonya Ken duduk di kursi. Dia juga mengambilkan air untuk nyonya Ken.
Tidak lama Arda datang. Dia terlihat sangat khawatir. Apa lagi melihat kondisi mamanya pada saat itu. Arda langsung duduk di depan nyonya Ken.
"Mama tidak apa-apa, kan?" tanya Arda.
"Mama tidak apa-apa. Hanya saja semua dokumen dan berkas berharga kita..."
"Mama tidak perlu memikirkan hal itu. Aku yang akan mengurusnya," kata Arda sembari memegang tangan mamanya.
Kali ini nyonya Ken tidak bisa menahan air matanya. Dia hanya menatap ruangan yang kini sudah hancur karena api.
"Mama mencari semua ini untuk kamu. Kini semuanya hancur." Nyonya Ken meratap.
"Sya. Bawa Mama ke kamar, setelah itu kau temui aku."
"Ya."
Sya membantu nyonya Ken berdiri dan masuk ke dalam kamarnya. Setidaknya nyonya Ken bisa menenangkan dirinya. Sementara beberapa pelayan mulai membersihkan tempat itu atas perintah Arda.
"Apa kau melihat Arda?" tanya Sya pada seorang pelayan.
"Dia berada di ruang kerjanya."
"Terima kasih."
Sya bergegas menemui Arda. Dia membuka pintu dan melihat Arda sedang menatap layar laptopnya. Sya mendekat. Dia melihat rekaman cctv di rumah itu.
"Apa kau kenal dengan pria ini?" tanyanya pada Sya.
Sya menatap gambar itu. Lalu, dia menggeleng dengan cepat. Sya memang tidak tahu tentang pria di video itu.
"Apa benar?"
"Ya."
"Kalau begitu kau bisa pergi."
Tidak ingin berdebat dengan Arda. Sya keluar dari ruangan itu. Banyak pelayan yang mulai membicarakan kejadian itu. Mereka mengatakan jika aneh karena hanya ruangan nyonya Ken saja.
Apa lagi semua barang di ruangan itu hangus. Tidak ada yang bisa diselamatkan. Sya mencoba tidak memiikirkan hal itu da kembali masuk ke dalan kamarnya. Walau hatinya juga merasa ada yang salah.
***
Sya terbangun saat mendengar ponselnya berdering. Nama ibu Zein tertera di layar ponselnya. Dia mengangkat dengan mata yang masih sedikit terpejam.
__ADS_1
"Ada apa Bu?" tanya Sya.
"Sayang. Apa kau bisa pulang ke rumah. Ibu punya kabar baik."
"Kabar apa?" tanya Sya yang mendengar nada bicara ibunya sangat bahagia.
"Kau datang saja ke rumah."
"Baiklah Bu."
Dengan mata yang masih terpejam Sya mematikan telfon itu. Lalu dia mulai membuka mata dan melihat jam sudah waktunya bangun. Sejak tadi Sya belum melihat suaminya itu.
"Arda. Kau dimana?" panggil Sya.
Tidak ada jawaban di kamat itu. Akhirnya Sya dengan muka bantalnya keluar menuju keruangan Arda. Arda tidak sadar dengan kedatangan Sya. Dia sedang menelfon seseorang.
"Aku minta secepatnya," kata Arda.
Sya mendekat dan melingkarkan tangannya ke tubuh Arda dari arah belakang. Arda kaget, namun mencoba tetap tenang.
"Sudah dulu. Aku sedang ada urusan," kata Arda dan langsung mematikan ponselnya.
Perlahan Arda memegang tangan Sya dan menghadap padanya. Dia melihat wajah Sya yang masih terlihat mengantuk.
"Ada apa kau menemuiku? apa kau mengenal pria yang tadi?"
Sya mengernyitkan dahi. Dia tidak datang untuk hal itu. Dia datang karena akan pergi ke rumah ibunya.
"Apa kau mengingatnya?" tanya Arda lagi.
"Kenapa kau terus bertanya tentang pria itu. Sudah aku bilang aku tidak tahu. Apa lagi ada hubungan dengannya, jelas tidak mungkin."
"Aku mau ke rumah ibu. Dia tadi menelfonku."
"Apa ada masalah?" tanya Arda.
Sya menggeleng. "Aku tidak tahu, yang pasti Ibu menelfon dengan nada senang."
Arda diam, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sya berdehem cukup keras agar Arda sadar. Benar, Arda kembali menempatkan fokusnya pada Sya.
"Apa kau mau menginap disana?" tanya Arda.
"Tidak tahu," jawab Sya.
"Kalau begitu pergilah. Ibu pasti sudah menunggumu."
Arda membantu Sya pergi dari ruangan itu. Setelah Sya berada di luar Arda kembali menutup pintu ruangan itu. Sya menoleh kebelakang. Biasanya Arda akan mengantarnya sampai depan rumah. Kali ini Sya harus melakukannya sendiri.
Seorang berlari kecil kearah Sya. Dia terlihat sedang buru-buru. Sya menatapnya dengan penuh tanya.
"Nyonya meminta Nona Eri kembali. Dia butuh asisten untuk saat ini."
"Lalu?"
"Apa kau bisa memintanya kembali kesini?"
__ADS_1
"Tentu. Aku akan melakukannya. Suruh Mama untuk menunggu."
"Baik."
"Kau bisa pergi sekarang."
Pelayan itu kembali ke kamar nyonya Ken. Sementara Sya bersiap untuk ke rumah ibu Zein. Di dalam perjalanan dia menelfon Eri. Dia meminta Eri untuk datang ke rumah.
"Apa kau serius? lalu bagaimana dengan Nyonya Ken?" tanya Eri dengan nada khawatir.
"Kebakaran itu cepat diatasi. Hanya saja Mama masih kaget dengan hal itu. Dia memintamu kembali."
"Baiklah. Aku akan segera datang. Kau di rumah saat ini kan?" tanya Eri kemudian.
"Tidak. Aku dalam perjalanan kembali ke rumah. Ibu ingin melihatku."
"Hati-hati di jalan."
"Ya."
Tut. Sya menutup telfonya dan meletakan ponsel itu ke dalam tas. Dia kembali menatap keluar kaca mobil. Banyak orang yang berlalu lalang. Sore hari memang sangat indah untuk jalan santai di dekat rumah.
***
Kaki jenjang Sya kini sudah membawanya sampai di depan pintu rumah. Dia menghela nafas panjang. Ibunya yang menelfon terdengar bahagia.
Rumah itu kini terlihat lebih berwarna. Bahkan Sya mendengar ibunya sedang berbicara dengan seseorang. Karena tidak ingin mengganggu Sya mengetuk pintu lebih dulu sebelum masuk.
"Aku pulang, Bu."
Ibu Zein menoleh dan berlari kecil kearah ibunya itu. Tidak ada siapapun disana. Hanya saja di meja tamu banyak sekali kue dan makanan ringan.
"Apa ibu baru saja menerima tamu?" tanya Sya yang penasaran.
Ibu Zein mengangguk. Lalu dia menarik tangan Sya untuk duduk di sofa. Dia juga langsung menyuapi Sya dengan roti dari meja itu.
"Ada apa ini, Bu?" tanya Sya dengan mulut penuh makanan.
"Ibu ada kabar baik. Untuk kamu dan untuk Ibu. Ibu sangat bahagia."
"Kabar baik apa? katakan padaku Bu."
Ibu Zein tersenyum. Dia mengambil selembar foto dan memberikannya pada Sya. Disana ada gambar kakak Sya sebelum dia pergi dari rumah.
"Kakak. Apa maksud Ibu?"
"Kakakmu sudah kembali."
Sya membulatkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya. Sudah hampir 12 tahun dan kini kakaknya tiba-tiba kembali.
"Ibu tidak bermimpi, kan?"
"Tidak. Kau tahu? dia baru saja dari sini. Semua ini makanan yang dia bawa. Lihat," Ibu Zein menunjuk ke sebua roti basah, "itu kue blueberry kesukaanmu."
Sya masih tetap tidak percaya, namun dia memilih pura-pura percaya. Tentunya agar ibunya merasa senang. Bahkan Sya melahap roti itu dengan semangat.
__ADS_1
Memang benar, dia sangat suka roti itu. Sudah lama dia tidak memakannya. Hanya saja, dia masih terganggu dengan apa yang dikabarkan ibunya ini.
***