The Way Love

The Way Love
CVIII


__ADS_3

Apartemen itu terlihat begitu sepi. Hanya cahaya matahari yang masuk. Hanya ada suara tetes air di kran cuci piring. Sang pemilik terlihat tertidur di dalam selimut. Tidak di atas kasur kamar. Melainkan di sofa depan tv.


Sejak Lufas pergi. Sya terus meratapi dirinya dalam kesendirian. Rasa takut akan ancaman tidak lagi ada. Yang ada hanya rasa takut kehilangan dan akhirnya sendiri dalam kehidupan.


Sya masih memikirkan apa yang harus dia lakukan agar Lufas kembali. Tanpa harus menggugurkan kandunganya. Bagaimanapun, janin dalam kandungan adalah bukti cintanya. Mana mungkin dia akan melepaskan begitu saja.


Di luar sana, banyak orang yang meminta untuk kehadiran malaikat kecil dalam kandungan. Sya yang sudah diberi kepercayaan itu merasa bahagia. Hanya kenapa Lufas tidak ingin menerimannya.


"Haruskah aku menggugurkannya," lirih Sya sembari menutup mata.


Dalam ratapan itu sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Sya. Sya menyibak selimut yang mengurungnya. Lalu dia melihat siapa yang menelfon. Xiu.


"Halo."


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Xiu.


"Aku baik-baik saja."


"Apa kau yakin? Suaramu tidak tedengar baik-baik saja."


"Aku akan datang ke rumahmu nanti. Aku tutup dulu," kata Sya yang langsung menutup panggilan itu tanpa persetujuan Xiu.


Sya meletakan ponselnya sembarangan. Lalu Sya masuk ke kamar mandi. Mengisi bak mandi hingga penuh dengan air hangat. Tidak lupa Sya memberikan aroma terapi. Dia ingin berendam dan sedikit mengistirahatkan pikirannya.


Sementara Xiu tidak senang. Dia melempar ponselnya begitu Sya menutup telfon. Selama ini dia sudah menjaga agar Sya tetap tersenyum. Kini dia mendapat kabar jika Sya terluka karena kelakuan Lufas. Xiu merasa dirinya harus bertindak saat ini.


"Siapkan sebuah mobil dengan sopir yang terlatih. Aku akan pergi hari ini," kata Xiu pada asisten pribadinya.


"Hari ini Nona Xiu memiliki banyak acara."


"Lupakan semua acara itu. Ada hal yang ingin aku lakukan saat ini."


"Tapi jika kita membatalknnya. Kita akan mendapat kerugian besar, milyaran."


Xiu menoleh dengan tatapan tajam. Dia tidak suka diatur dengan ketat oleh siapapun.


"Jika kau masih protes. Lebih baik kau tidak usah bekerja lagi untukku."


"Maaf, Nona. Saya akan siapkan mobilnya sekarang."


Asisten itu langsung pergi. Xiu melihat baju yang akan dia pakai. Tentunya bukan baju yang feminim. Dia akan terlihat lemah nantinya. Xiu memilih celana dan blouse kali ini.


***


Rapat yang begitu penting sedang diadakan. Banyak pengusaha besar yang ikut andil di dalamnya. Lufas yang sengaja melakukan itu dinilai begitu nekat. Tapi jika tidak nekat bukanlah Lufas.


Saat ini Lufas hanya ingin perusahaanya lebih maju dan berkembang. Bukan untuk bersaing, dia hanya ingin menguji kemampuanya sendiri dalam bidang ini. Jika sudah benar-benar mampu, Lufas akan melepaskan gelarnya dalam dunia yang gelap.


Dunia yang tidak mengenal adil dan belas kasihan. Dunia yang membawanya selalu dalam sebuah pertumpahan darah. Hanya karena sebuah ambisi agar terlihat kuat dan luas akan daerah kekuasaan.

__ADS_1


Ditengah-tengah acara rapat itu Ben masuk. Dia mendekat pada Lufas dan membisikan sesuatu. Lufas tahu jika ada masalah saat ini, jadi dia mempercepat rapat itu. Tentunya agar masalah yang datang cepat berakhir.


"Sekian untuk rapat kali ini. Untuk rapat mendatang, akan saya kabari nanti. Secara pribadi," kata Lufas untuk mengakhiri rapat itu.


Ben mengikuti Lufas keluar. Langkah mereka tenang namun lebar, jadi terlihat lebih cepat. Ben mencoba sejajar dalam berjalan dengan Lufas.


"Untuk apa Xiu datang kali ini?"


Ben menggeleng. "Aku tidak tahu, tapi terlihat serius."


"Aku akan masuk sendiri. Kau bisa tunggu di luar."


"Baik."


Lufas membuka pintu. Terlihat Xiu sedang duduk dengan ponsel ditangannya. Terlihat sedang sibuk. Sampai Xiu sadar jika Lufas sudah kembali.


"Kau bisa pergi," kata Xiu pada asisten pribadinya.


Dalam ruangan itu kini hanya ada Xiu dan Lufas. Dengan tenang Lufas duduk di hadapan Xiu.


"Ada hal penting apa sampai kau datang padaku sendiri?"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang sudah kau lakukan pada Sya?"


Lufas diam.


"Apa kau sudah tahu jika dia hamil anakmu?"


"Lalu kenapa kau malah meninggalkannya saat ini. Dia begitu tertekan karena ancaman seseorang."


Lufas menyunggingkan senyum dingin. "Ternyata kau lebih tahu tentang Sya dari pada aku."


"Ada apa denganmu?" Tanya Xiu, "Jika alasanmu meninggalkan Sya karena kandungannya. Kenapa kau tidak berfikir tentang dirimu saat bayi."


Lufas tidak berkata apapun.


"Kau merasa malu saat kau tahu ayahmu adalah seorang mafia. Saat itu kau sudah besar, tapi saat kau bayi. Kau tidak tahu apapun, yang kau tahu hanya cinta dari orang tuamu."


Xiu menatap Lufas.


"Jadilah seperti bayi itu. Hanya membutuhkan cinta dan perhatian. Kamu jangan terlalu tenggelam dalam masa lalu. Bicarakan hal ini dengan Sya secara baik-baik."


"Apa dia akan mengerti?" Tanya Lufas dengan tatapan putus asa.


"Aku tidak tahu. Yang aku tahu, Sya masih mau kembali padamu. Walau sudah kau lukai."


"Apa aku sejahat itu?"


"Pikirkan saja sendiri. Aku hanya berharap Sya bahagia, jadi jangan sakiti dia lagi."

__ADS_1


Xiu mengmbil ponselnya yang berada di meja. Lalu dia keluar tanpa pamit. Menyisakan pertanyaan-pertanyaan di benak Lufas. Membuat Lufas merasa semakin jahat jika tidak menerima anak yang saat ini dikandung oleh Sya.


Langkah Xiu begitu tegas saat meninggalkan ruangan. Asisten pribadinya langsung menyusul di belakangnya. Ben yang melihat itu langsung masuk.


Terlihat sekali jika Xiu baru saja membuat Lufas jatuh semakin dalam. Ben meletakn berkas perusahaan di meja Lufas, lalu duduk menemaninya.


"Apa aku harus mengatakan alasanku pada Sya? Apa dia akan menerimanya?"


Pertanyaan itu tidak di jawab oleh Ben. Ben hanya duduk dan mendengarkan. Semua pertanyaan itu hanya Lufas yang tahu jawabannya. Dia lebih tahu tentang Sya dari siapapun.


***


Seduhan susu menemani Sya yang masih dalam kegalauannya. Dia tidak meminum kopi demi kebaikan janinya saat ini. Sya sudah berkomitmen, jika Lufas tetap meminta anak itu digugurkan. Sya memilih untuk berpisah. Bagaimanapun anak itu tidak bersalah.


Perlahan Sya menyesap susu digelas. Lalu memakan kue yang kemarin diberikan oleh nenek. Untung saja Sya sempat menyimpannya di dalam lemari pendingin.


Suara bel apartemen membuat Sya kaget. Dia mendekat ke pintu, tapi sebelum membuka Sya mengintip dari lubang pintu. Dia takut jika yang datang bukanlah orang yang dia kenal. Bisa saja mereka memiliki niat jahat.


"Buka pintunya. Ini aku, Lufas."


Mendengar suara Lufas. Sya buru-buru membukanya. Benar saja Lufas sudah berdiri di depan pintu dengan bungkusan di tangannya. Tanpa kata Lufas menyodorkan bungkusan itu. Sya menerimanya dengan tangan gemetar.


"Apa kau sudah makan?"


Pertanyaan aneh itu muncul dibibir Lufas. Sya sedikit kaget tapi mencoba menyembunyikannya.


"Sudah."


"Duduklah. Aku ingin bicara denganmu."


Sya mengekor pada Lufas. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Sya meletakan bungkusan itu di sampingnya.


"Apa kau sudah memikirkan tentang bayi itu?" Tanya Lufas.


"Aku akan tetap mempertahankannya."


Lufas yang mendengar hal itu terlihat tidak senang.


"Aku suamimu. Turutilah apa yang aku katakan," kata Lufas.


"Aku tidak peduli apa alasanmu ingin anak ini lenyap. Aku hanya berfikir jika anak ini tidak bersalah. Untuk apa aku membunuhnya."


"Aku hanya tidak ingin anakku nanti malu karena aku seorang mafia." Kali ini nada suara Lufas meninggi.


"Ya. Kau memang mafia yang sangat kejam. Kau ingin melenyapkan anakmu sendiri. Kau bahkan lebih rendah dari singa. Singa hewan tapi tidak pernah ingin membunuh anaknya sendiri."


"Sya. Aku hanya ingin kau mengerti aku. Aku...."


"Cukup. Kau bisa pergi sekarang. Aku hanya ingin tenang dengan anakku."

__ADS_1


Sya masuk ke dalam kamar dengan tangisan yang pecah. Dia kira Lufas datang membawa hadiah untuk minta maaf. Ternyata keinginanya masih sama. Melenyapkan anak yang ada di perut Sya saat ini.


****


__ADS_2