
Sang mentari sudah mulai bersembunyi. Sang bulan menampakan diri dengan cahaya yang sendu. Membuat siapapun yang menatap merasa tenang dan terhanyut.
Meski begitu, Anna menatapnya sedingin es. Dia merasa bulan tidak ikut merasakan apa yang dia rasakan. Tidak seperti hujan yang kadang menemaninya dalm setiap tetes air mata.
Di aula Vila milik Tom. Banyak orang yang sudah mulai hadir. Mereka ingin memberi selamat pada Tom dan Anna sebelum yang lain. Tom yang melihat banyak orang datang merasa bangga pada dirinya sendiri.
Seseorang mendekat dan menepuk pundak Tom. Tom menoleh dan melihat orang yang dia kenal disana. Tanpa kata mereka berpelukan sebentar.
"Kau berhasil mendapatkannya," kata pria itu.
Tom tersenyum sombong. "Bukankah sudah aku bilang. Dia akan datang padaku sendiri."
"Bagaimana dengan Lufas? Apa dia tidak merasa kesal?"
"Kita akan melihatnya nanti," jawab Tom.
"Kau mengundangnya?"
"Sudaha tentu."
Mereka tertawa dengan keras. Pria itu adalah teman lama Tom. Banyak orang yang mengenal Tom dan Lufas, mereka juga tahu jika Tom dan Lufas tidak akan pernah bersatu. Untuk cinta maupun untuk bisnis.
Anna melihat Tom yang tertawa puas dari sela pintu kamarnya. Kali ini Anna tidak tahu apa dia bodoh atau tidak. Intinya, dia akan menjadi istri orang yang menjadi musuh Lufas. Orang yang selama ini mengisi relung hatinya.
"Nona Anna. Kau harus bersiap dengan baju yang sudah disiapkan Tuan Tom."
"Ya. Aku akan menggantinya sendiri. Kau bisa pergi."
"Maaf, Tuan Tom tidak ingin Anda sendirian."
Anna menatap pelayan itu dengan kesal. Bahkan jika pelayan itu pergi, Anna tidak bisa berbuat apa-apa. Penjagaan di vila itu diperketat. Semua itu Tom lakukan agar Anna tetap di sampingnya dan tidak berfikir untuk kabur.
"Apa kau sudah sia?" Tanya Tom sembari membuka pintu kamar tanpa permisi.
Anna yang kaget buru-buru menutup tubuhnya dengan baju yang baru saja dia gunakan.
Tom mendekat. "Apa kau malu saat ini?" Tanya Tom dengan senyuman mengejek.
Anna menepis tangan Tom yang akan menyentuhnya.
"Aku sudah pernah menyentuhmu. Untuk pa malu."
Anna menatap sinis pada Tom. Bahkan dia merasa jijik pada Tom kali ini.
"Hubungan ini sudah berbeda. Kau bahkan mengingkari pperjanjian yang sudah dibuat."
Plak. Tom menampar Anna dengan keras. Anna mengaduh tapi tidak terlalu terdengar.
"Apa dengan kau elakukan ini aku akan melepaskanmu? Tidak. Aku sudah pernah melakukannya, namun kau memilih datang lagi padaku."
Anna hanya bisa memegang pipinya yang memerah karena tamparan itu.
__ADS_1
"Aku bukan Lufas yang bodoh. Melepas wanita yang begitu cantik dan seksi." Tom akan kembali menyentuh Anna.
Anna mundur beberapa langkah.
"Cepat bersiap atau aku akan membuatmu merasakan sakitnya pukulanku lagi."
Tom peri begitu saja. Membiarkan Anna menahan sakit itu. Seorang pelayan mendekat. Dia membantu Anna untuk berganti pakaian dia juga mengompres bekas tamparan Tom. tentunya agar tidak kelihatan oleh orang lain.
***
Banyak baju yang sudah Sya lempar keatas tempat tidur. Sejak tadi dia mencoba mencari baju yang pantas untuk dibawa keacara pernikahan Anna.
Hasilnya saat ini adalah Sya duduk termenung. Dia tidak menemukan baju yang cocok. Bahkan semuanya kekecilan karena perutnya yang semakin membesar.
Saat ini Sya juga tidak ingin menggunakan sepatu ber hak tinggi atau heels. Dia ingin membuat dirinya nyaman, namun terlihat elegan dan sedap di pandang.
"Kenapa kau hanya duduk. Sebentar lagi kita akan berangkat," kata Lufas.
"Apa kau sedang mengejekku?" Tanya Sya dengan sewot.
"Apa ada masalah saat ini?" tanya Lufas sembari duduk di depan Sya.
Sya memanyunkan bibirnya. "Semua bajuku tidak cocok. Aku juga tidak mau memakai semua sepatu dan sandalku."
"Bagaimana dengan ini?" Lufas mengeluarkan bungkusan untuk Sya.
"Apa ini untukku?"
"Ya. Aku tahu kau membutuhkan baju untuk saat ini. Aku baru sempat membelikannya."
Di dalam bungkusan itu sudah lengkap. Gaun yang indah untuk ibu hamil dan sepatu flat. Sya begitu menyukainya. Setelah memakainya, Sya menatap dirinya sendiri di cermin. Dia terlihat cantik dengan gaun itu.
"Kenapa aku memuji diriku sendiri," lirih Sya yang terlihat tidak senang dengan pujian itu.
Entah sejak kapan Lufas masuk ke ruang ganti. Dia memeluk Sya dari belakang dan berbisik, "Kau cantik. Sangaat cantik, tidak salah jika kau memuji dirimu sendiri."
"Kau terlalu memuji. Aku tidak secantik wanita lain diluar sana, aku juga tidak seksi lagi saat ini."
"Mau kau cantik atau tidak di mata orang lain. Kau tetaplah istri tercantik bagiku."
"Setelah Anna," ucap Sya dengan sorot mata sedih.
"Ada apa kenapa kau membahas Anna?"
Sya menghadapkan tubuhnya pada Lufas. Dia menatap Lufas dengan tatapan yang aneh.
"Aku tidak tahu apa ini perasaanku saja atau memang benar. Setelah kau tahu undangan itu, kau terlihat gelisah dan tidak fokus dengan kerjaanmu. Apa semua ini karena Anna?"
"Sya. Hubunganku dan Anna sudah tidak ada lagi. Kau tahu itu, jangan berfikiran yang aneh-aneh. Buat dirimu bahagia, demi bayi kita."
"Apa kau masih mencintainya?"
__ADS_1
"Sayang. Untuk apa aku memilihmu jika masih ada cinta untuknya?"
Sya diam.
"Aku mau datang keacara ini. Hanya ingin mereka tahu, jika aku benar-benar mencintaimu."
"Kau begitu pandai bermain kata," ucap Sya.
"Kau yang mengajariku."
Sya menghela nafas panjang. Lufas selalu saja mendapatkan jawaban dalam setiap pertanyaan. Mampu menenangkan dalam setiap kegundahan.
"Ayo berangkat," kata Lufas.
Dengan senyuman yang merekah. Sya mengandeng tangan Lufas dengan mesra.
***
Sampai di tempat acara. Lufas turun lebih dahulu, dia membukakan pintu untuk Sya. Lufas juga membantu Sya untuk turun dari mobil.
Melihat tamu undangan yang begitu banyak. Acara yang begitu megah. Sya hanya bisa menghela nafas. Dia merasa bukan apa-apa saat ini. Jika itu tentang harta.
"Kenapa hanya diam?" Tanya Lufas.
"Acara ini begitu mewah. Aku merasa kecil."
"Jangan merendah. Ayo masuk."
Anna dan Tom terlihat mesra. Tangan Anna menggandeng Tom, senyumannya merekah. Banyak tamu yang memuji tentang kecantikan Anna.
Beberapa kali Anna harus menyapa teman dekat Tom. Hal itu menyebalkan menurut Anna, tapi dia harus melakukannya.
Sampai saat beberapa orang mulai berbisik tentang tamu yang datang. Siapa lagi jika bukan Lufas dan Sya. Mereka terus mengatakan tentang masa lalu Lufas dan Anna yang begitu indah dan manis.
Sya yang mendengar itu hanya bisa diam dan terus mengulas senyum. Bagaimanapun, dia memanglah bukan yang pertama untuk Lufas. Hanya saja, Sya begitu yakin jika Lufas akan memilihnya sampai akhir.
"Ayo kita sapa mereka," kata Tom yang langsung menarik tangan Anna.
Anna tidak terlihat senang dengan apa yang dilakukan Tom saat ini.
"Kalian datang," ucap Tom dengan suara lantang.
Lufas tersenyum. "Tentu. Bagaimanapun, istriku dulu pernah bersahabat dengannya," Lufas melirik pada Anna.
"Selamat untuk kalian berdua," ucap Sya.
"Terima kasih, Nyonya Lufas," jawab Tom.
Tangan Sya terus menggandeng Lufas. Dia sudah cukup gugup menjadi pergunjingan tadi.
"Nikmatilah pesta ini sampai akhir. Anna pasti bahagia karena kalian sudah datang."
__ADS_1
Anna yang mendengar itu langsung terkesiap. Dia tersenyum dan mendekat pada Tom. Lalu mengatakan, "Ya. Aku bahagia kalian datang. Nikmatilah pesta ini."
***