
Danendra masih begitu lemah. Bahkan saat ini dia harus terus berbaring. Kondisinya sejak semalam turun. Saat itu, Sya tidak bisa dihubungi.
Jo masuk. Sya langsung berdiri di samping tubuh Danendra. Tanpa berkata apapun, Jo mulai memeriksa kondisi Danendra. Mulai dari mata dan juga detak jantungnya.
"Bagaimana dengannya? Apa sangat parah?"
Jo menatap Sya dengan wajah datar.
"Semalam dia sangat membutuhkanmu."
Perkataan itu membuat hati Sya langsung hancur. Meski bukan salahnya semalam tidak bisa menemani Danendra. Hanya saja, hatinya merasa begitu menyesal.
"Apa kau sedang ada masalah Nona Sya?" Tanya Jo.
Sya menggeleng. Dia tidak mau orang lain tahu masalahnya saat ini.
"Jika tidak ada masalah. Sebaiknya kau tinggal beberapa hari disini. Danendra begitu membutuhkanmu."
"Maaf."
"Aku tidak peduli urusanmu dengan Lufas. Hanya saja, ini untuk kepentinganmu dan Danendra."
Mata Sya langsung tertuju pada Danendra. Saat ini Sya tidak memiliki siapapun selain anaknya. Mana mungkin Sya tega meninggalkannya di saat yang seperti ini.
"Aku akan bicarakan hal ini dengan Lufas," kata Sya kemudian.
Jo mengangguk. Dia menyuntikan sebuah obat pada Danendra. Sya mengernyit. Dia merasa kasihan pada putranya itu, setiap hari harus menerima suntikan yang tidak sedikit.
"Lufas ada di ruang kerjanya. Kau bisa bicara dengannya saat ini."
Sya mengangguk.
***
Mike sedang melakukan beberapa sesi pemotretan. Banyak fans dan awak media yang sedang menunggunya selesai. Mike merasa bangga dengan dirinya saat ini. Bagaimanapun, dia menjad idola yang begitu diidamkan.
Wajah Sya muncul dihadapan Mike. Dia tahu, hanya satu wanita yang tidak begitu mengidamkannya. Syaheila. Selama ini Sya hanya menganggapnya sebagai teman. Tidak lebih.
Sesi pemotretan akhirnya selesai. Para fans mulai mendekat dan mengitari Mike. Mike tersenyum dan beberapa kali memberikan foto bersama. Sampai seorang wartawan datang mendekat dan bertanya pada Mike.
"Bagaimana hubunganmu dengan wanita bernama Sya itu?"
Mike mengulas senyum. Semua yang ada disana menantikan jawaban Mike dengan jujur.
"Hubungan kami begitu baik. Kalian tidak perlu khawatir."
"Bukankah dia seorang janda dua kali? Kenapa kau masih mau dengannya?"
"Aku tidak peduli statusnya. Aku hanya tahu, aku sangat mencintainya."
Jawaban itu berhasil membuat semua yang ada disana kaget. Saat ini Mike hanya mampu melakukan semua itu. Tentu agar Sya dikejar oleh awak media dan memilih untuk dekat dengannya.
Asisten Mike melihat isyarat mata Mike. Dia masuk ke kumpulan manusia, lalu membantu Mike untuk masuk ke dalam mobil. Hari ini Mike sengaja pulang lebih awal, untuk menjemput Sya lebih dulu.
Di dalam mobil asisten Mike mengambil sebuah berkas dari dalam tasnya. Dia menyodorkan pada Mike.
"Ini informasi yang Tuan Mike minta."
Mike melihatnya. Saat ini dia tersenyum, memang jelas jika Tom mendekat pada Sya karena hubungan Sya dan Lufas. Hanya satu yang Mike pertanyakan, saat ini Lufas dan Sya tidak bersama lagi. Kenapa Tom masih begitu menginginkanya.
"Apa Tom dan Sya pernah dekat selain dengan urusan Lufas?"
"Informasi yang saya dapat. Nona Sya dan Tuan Tom pernah bertemu berdua."
Senyum licik Mike terukir indah diwajah tampannya.
__ADS_1
"Langsung ke rumah Lufas. Aku ingin menjemput Sya."
"Baik, Tuan."
***
Sya masuk ke ruang kerja Lufas. Lufas sedang duduk dan melihat televisi. Sya langsung melihat tangan Lufas yang baru saja diperban oleh Jo. Ingin bertanya, tapi Sya mengurungkan niatnya itu.
Lufas menoleh pada Sya. Dia langsung tersenyum dan menarik tubuh Sya untuk duduk di sampingnya. Sya diam.
"Kau akan menikah dengannya? Dia begitu percaya diri."
Sya melihat pada Lufas. Lufas yang terus menatap televisi dan tersenyum aneh. Sya ikut melihat kearah televisi.
Mike terlihat disana. Dia mengatakan semua kegilaan yang dia inginkan. Mata Sya langsung membulat. Marah, tapi percuma saja. Mike akan terus melakukan hal itu.
"Apa kalian sudah bersama?"
Pertanyaan Mike langsung dijawab dengan sebuah gelengan kepala.
"Sepertinya dia sangat mencintaimu."
"Aku hanya berteman dengannya."
"Baguslah. Aku hanya mau kau dekat denganku."
Perkataan Lufas sudah mulai menjauh dari topik. Sya memilih diam dan tidak mengatakan apapun lagi.
"Oh ya. Ada apa kau sampai datang ke ruang kerjaku ini?"
"Aku..aku.."
"Katakan saja. Bagaimanapun, kau masih kekasih dihatiku."
Sya malah diam mendengar apa yang Lufas katakan.
"Tunggu. Aku hanya ingin meminta ijin untuk menginap beberapa hari."
Lufas mengernyitkan dahi.
"Apa yang terjadi padamu? Bukankah kau waktu itu menolak dengan ajakanku."
"Nendra membutuhkanku saat ini."
"Hanya itu alasanmu?"
Sya mengangguk. "Ya."
"Kau bisa memilih kamarmu. Aku harus pergi saat ini."
"Terima kasih," ucap Sya.
Lufas mengangguk.
Setelah itu Sya kembali ke kamar Danendra. Saat ini mata Danendra sudah terbuka. Wajah Sya terlihat menitikan air mata. Dia memeluk anaknya itu dengan penuh kasih.
"Mama merindukan kamu bermain lagi. Sehat ya sayang," lirih Sya.
"Mama mau tidur disini denganku, kan?"
"Ya. Mama akan selalu menemani kamu."
Tok tok tok. Sya melihat kearah pintu. Jika Lufas atau Jo yang datang. Mereka tidak perlu mengetuk pintu. Sya membuka pintu, seorang satpam.
"Ada apa?" Tanya Sya.
__ADS_1
"Ada seseorang yang mencari Nona Sya."
"Aku akan menemuinya."
Sya keluar. Mobil putih milik Mike. Sya mendekat, kaca mobil diturunkan oleh Mike. Wajah Mike langsung terlihat.
"Sudah mau pulang?" Tanya Mike.
"Aku tidak bisa pulang saat ini. Kondisi Nendra menurun. Aku akan menemaninya beberapa hari," kata Sya.
"Itu hanya akal-akalan Lufas. Dia hanya ingin kau berada di sisinya saja."
"Aku tidak peduli hal itu. Aku hanya peduli dengan buah hatiku."
"Ayolah Sya."
"Kita hanya berteman. Kau tidak perlu melamukan hal ini. Terlalu berlebihan."
"Aku hanya ingin melindungimu Sya."
"Aku bisa jaga diri. Lebih baik kau pulang saja. Sudah waktunya Nendra minum obat."
Sya kembali masuk ke rumah Lufas. Satpam yang berjaga langsung menutup gerbang itu lagi.
Mike memancarkan aura dingin. Dia merasa begitu dicampakan saat ini. Meski begitu, cara Sya terus menolak membuat Mike semakin tertarik dan ingin terus mengejarnya. Sampai Sya mau dan tunduk padanya.
***
"Mike. Dia seorang model dan saat ini diberitakan sedang dekat dengan Sya."
Itulah kata yang diucapkan oleh Pengawal Tom. Tom masih saja merasa kesal. Sya menjauh dari genggamannya bahkan saat ini Tom harus berada di rumah sakit. Dia mendapat sebuah tembakan saat mencoba mempertahankan Sya di mobilnya.
"Aku mau tahu lebih tentang Mike."
"Baik."
Baru saja pengawal Tom keluar. Anna masuk dan kaget melihat kondisi suaminya itu. Dia langsung melangkah mendekat pada Tom.
"Apa yang sudah terjadi sampai kau seperti ini?" Tanya Anna.
"Dalam pekerjaan memang kadang harus seperti ini."
"Apa karna Sya?"
Tom tidak menjawab. Dia menarik tubuh Anna dan mengecup pelan bibirnya itu.
"Sayang. Jangan cemburu."
"Aku tidak cemburu."
"Benarkah. Matamu mengatakan hal yang lain."
Anna mengalihkan pandangannya. Ya, apa yang dilakukan Tom selama ini berhasil membuat Anna sadar. Tidak seharusnya dia terus mengharapkan Lufas. Di sisinya ada orang yang rela mencintainya sementara Anna mencintai orang yang bahkan tidak menatapnya.
"Jika aku cemburu. Apa yang akan kau lakukan?"
"Kau tahu, aku tidak akan melepaskan Sya. Dia sudah membawaku kelingkaran hitam dengan Lufas lagi."
"Jangan jatuh cinta dengannya."
"Aku hanya mengaguminya," ucap Tom.
"Kau terlalu jujur. Membuatku sakit."
"Maafkan aku sayang."
__ADS_1
Perkembangan cinta Anna dan Tom begitu baik. Tidak dengan kehidupan Sya yang terombang ambing dalam cinta yang tidak jelas. Antara mencintai dirinya sendiri atau harus memilih cinta yang menyakiti.