The Way Love

The Way Love
CV


__ADS_3

Mobil berwarna putih melaju dengan cepat. Walau cepat mobil itu masih terkendali. Orang yang di dalam mobil itupun terlihat tenang. Dia menatap kearah depan dengan senyuman. Hari ini dia akan bertemu dengan suaminya.


Wajah yang beberapa hari ini terlihat muram, cahaya cerah mulai menggantikannya. Senyuman yang merekah menjadi tandanya. Sya menatap layar ponselnya, dia ingin memberi kabar pada Lufas tentang kabar ini. Hanya saja, dia mengurungkannya. Sya ingin Lufas terkejut akan kedatangannya.


Tujuan Sya bukanlah apartemennya. Dia akan kembali ke vila averest. Dia akan mengejutkan Lufas disana.


Ting. Sebuah pesan masuk. Sya langsung membukannya dengan antusias. Pesan dari Xiu, dia kembali mengingatkan agar Sya tidak mengatakan tentang kehamilan itu pada Lufas.


Peringatan itu memunculkan banyak pertanyaan pada benak Sya. Meski pertanyaan itu terus mengelilinginya. Sya tetap diam, dia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Xiu. Semua untuk yang terbaik.


Tanpa Sya sadari. Mobil itu sudah berhenti tepat di depan vila averest. Sya turun dengan tas tangan merah yang senada dengan pakaian yang dia pakai.


"Terima kasih sudah mengantarku. Kau bisa kembali," kata Sya pada sopir yang mengantarkannya.


Beberapa pelayan yang melihat kedatangan Sya langsung menyambut. Sementara seorang pelayan membukakan pintu untuk Sya.


"Terima kasih," ucap Sya dengan ulasan senyuman.


Sampai di dalam. Sya menghirup nafas panjang. Sudah lama dia tidak menghirup udara disana. Hal itu membuatnya rindu, apa lagi saat teringat kenangan indah dengan Lufas disana.


"Dimana Lufas?" Tanya Sya kemudian.


Seorang pelayan berkata, "Tuan berada di kamar utama."


Mendengar hal itu, Sya langsung melangkahkan kakinya mendekat pada tujuan. Berharap Lufas akan terkejut dengan apa yang dia lakukan saat ini. Senyuman kembali menyinari wajah Sya.


Dengan sekuat tenaga Sya membuka pintu kamar utama. Dia langsung berseru, "Aku datang."


Setelah mengatakan hal itu Sya melihat ke dalam. Bukan hanya Lufas yang berada disana. Dikasur, berbaring Anna yang masih terlihat lemah. Lufas terlihat sedang memberikan obat pada Anna. Rasa kecewa langsung masuk ke dalam hati Sya. Meskipun begitu, Sya tetap memancarkan senyumnya.


Lufas yang melihat Sya datang langsung menghampirinya.


"Kau kembali? kenapa kesini?" Tanya Lufas.


"Aku ingin menemui suamiku. Sekaligus menjenguk temanku yang katanya sedang sakit," jawab Sya.


Lufas hanya tersenyum tipis. Dia menghampiri Anna dan diikuti oleh Sya. Sya duduk perlahan di samping tempat tidur. Reflek Anna mendorongnya. Hampir saja Sya terjatuh, untung saja Lufas menangkapnya.


"Terima kasih," kata Sya.


"Tidak apa."


Sya kembali menatap pada Anna. Rasa ingin memukulnya begitu menggebu dalam hati Sya. Hanya saja, hal itu tidak tepat untuk dilakukan saat ini.


"Ada apa kau kesini?" Tanya Anna dengan nada kasar.


"Aku ingin melihatmu. Bagaimanapun, kita pernah dekat sebagai sahabat, walau akhirnya kamu berhianat."


Anna terlihat mengepalkan tangannya. Hal itu membuat Sya senang. Dalam kebohongan Anna saat ini, tidak mungkin dia akan melawan Sya di depan Lufas.


"Lufas. Bisakah kau biarkan kita bicara berdua?" Tanya Anna.


Lufas terlihat ragu.


"Aku tidak akan menyakiti orang sakit. Kau suamiku, kau sudah tahu aku," kata Sya.


"Baiklah. Setelah ini, temui aku ditaman."


Sya mengangguk. Kemudian Lufas pergi dari ruangan itu. Kini hanya tinggal Anna dan Sya disana. Tentu saja tidak ada kepura-puraan lagi diantara mereka.

__ADS_1


"Aku fikir kau sudah mati dan tidak kembali," kata Anna.


"Aku tidak akan mati semudah itu."


"Baguslah. Aku masih ingin melihatmu menderita."


Sya tersenyum.


"Jangan harap Lufas akan mencintaimu. Sampai saat ini hanya nama Nita yang memenuhi relung hatinya."


Kali ini Sya berdecak. "Benarkah. Jika begitu, posisi kita sama. Kau bukan lagi Nita, kau Anna. Tidak ada nama Anna disana, hanya nama Nita."


Kembali Anna mengepalkan tanganya. Namun kali ini dia berdiri dan bersiap untuk menampar Sya. Sya tidak menghindar dia melangah ke depan Anna dengan senyuman.


"Bahkan jika kau menamparku. Lufas akan tetap sama, menceraikanmu."


"Kau memang wanita ******."


Plak. Kali ini sebuah tamparan mendarat diwajah Anna. Setelah melakukan itu Sya tersenyum menantang.


"Jaga ucapanmu."


Sya keluar dengan amarah, tapi saat sampai diluar pintu. Sya mencoba untuk mengatur nafasnya kembali. Sya tidak ingin acara pertemuannya dengan Lufas hancur karena Anna.


Sya berjalan pelan namun pasti. Dia keluar melalui pintu belakang dan menemukan Lufas sedang duduk di bangku taman sendirian. Sya mendekat dan langsung duduk disampingnya.


Lufas menoleh dan tersenyum. Sya tidak berkata apapun, dia hanya membalas senyuman itu dengan sangat manis.


"Sya." Panggil Lufas.


"Ya."


"Apa kau pergi karena marah padaku?" Tanya Lufas kemudian.


"Maaf. Aku minta maaf karena saat itu aku begitu emosional."


Sya masih diam. Dia mengingat rasa sakit saat Lufas memukulnya dengan keras.


"Waktu itu aku hanya memikirkan satu hal. Menyingkirkan Anna agar kau tidak terluka, tapi kau malah pergi tanpa kabar. Apa kau tahu? aku mencarimu kemanapun. Aku begitu kehilangan."


Sya masih terpaku pada kenangan itu. Tetapi ingatan saat dirumah Xiu datang. Dia sendiri yang memutuskan untuk memberi kesemapatan dan kembali pada Lufas.


"Jangan meminta maaf."


Kalimat itu meluncur begitu saja di bibir Sya. Lufas tersenyum, perlahan dia mendekat dan memeluk Sya. Sya menutup matanya dan mencoba menghilangkan kenangan buruk itu.


Anna yang melihat itu merasa sangat marah. Dia sadar jika Lufas benar-benar sudah melupakannya. Walau begitu Anna tidak ingin menyerah, dia berfikir harus mendapatkan Lufas kembali. Apapun yang terjadi.


Amarah itu sudah menguasai Anna. Dia masuk dan mulai merusak barang-barang disana. Dia merasa kasihan dan kesal pada dirinya sendiri. Emosinya yang campur aduk membuat Anna tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


***


Xiu menunggu begitu lama kembalinya si sopir yang mengantar Sya. Dia sangat berharap jika Sya ada di mobil itu lagi. Tidak kembali pada Lufas.


Sopir itu kembali dan memarkirkan mobilnya dengan rapi. Setelah itu turun dan langsung menemui Xiu yang sudah menunggunya.


"Bagaimana?" Tanya Xiu langsung.


"Nona Sya meminta diantar ke vila averest. Disana dia langsung disambut oleh para pelayan."

__ADS_1


"Kamu bisa kembali kerja," kata Xiu.


Mendengar hal itu, Xiu terlihat mengeluarkan ponselnya. Dia mengetik sebuah nama untuk menelfonya. Tidak lama suara diseberang muncul.


"Kesepakatan kita akan dimulai hari ini. Aku akan mentransfer uangnya."


"Baiklah."


"Syaratku tidak banyak. Kau hanya perlu melapor padaku setiap terjadi hal penting."


"Tentu saja. Terima kasih atas pekerjaanmu ini."


"Sama-sama."


Xiu menutup telfonya. Dia duduk dan langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Rasa khawatir tentang Sya begitu kuat. Dia takut terjadi hal yang tidak diduga pada Sya dan bayi yang dikandungnya.


***


Lufas membuka pintu dan disusul oleh Sya. Mereka baru saja sampai di apartemen. Malam ini Lufas akan menginap diapartemen itu. Sudah lama mereka tidak melakukan waktu berdua.


"Aku akan memasak untukmu. Kau bisa membersihkan diri," kata Lufas.


"Ya."


Sembari berjalan kearah kamar untuk membersihkan diri. Sya mengamati semuanya, apartemen itu tetap bersih padahal dia meninggalkannya beberapa hari.


Baru saja masuk kamar. Sya mendapat sebuah panggilan dari Xiu. Sya tersenyum dan mengangkatnya.


"Halo, kenapa kau tidak menefonku sejak kembali pada Lufas?" Tanya Xiu.


"Maaf. Aku baru saja kembali dari vila."


"Apa kau sudah makan? Aku sudah sangat merindukanmu."


"Kau seperti pacar yang baru saja. Aku belum makan, Lufas sedang memasak."


"Kau benar-benar sudah dibutakan oleh cinta."


"Sudah dulu ya. Aku mau mandi, gerah."


"Baiklah. Jika ada sesuatu kabari aku."


"Tentu."


Sya bergegas untuk mandi. Sementara Lufas masih sibuk dengan alat dapur di tangannya. Sesaat tidak ada yang menyangka jika Lufas adalah ketua geng dan pemilik perusahaan besar.


Wajah Lufas terlihat puas saat melihat meja yang penuh dengan makanan. Dia bergegas ke kamar untuk memanggil Sya. Sya sudah siap untuk keluar.


"Keringkan dulu rambutmu," kata Lufas yang melihat rambut Sya yang masih meneteskan air.


"Nanti juga kering sendiri."


Tidak puas dengan jawaban Sya. Lufas menariknya untuk duduk di meja rias. Lufas menyiapkan alat untuk mengeringkan rambut. Dengan penuh kasih Lufas membantu Sya mengeringkan rambut.


"Aku mencintaimu," kata Sya.


"Aku juga."


Lufas ingin mengatakan tentang proses perceraiannya dengan Anna. Hanya dia tidak ingin suasana malam itu terganggu. Jadi, Lufas mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal itu malam ini.

__ADS_1


Pada saat yang tepat dia akan mengatakanya. Beberapa hari Sya menghilang, Lufas seperti orang yang kehilangan arah. Dia tidak ingin hal itu terjadi lagi.


***


__ADS_2