The Way Love

The Way Love
XXIV


__ADS_3

Hubungan Sya membaik dengan Arda sejak Arda mengantar Sya pulang. Hal itu membuat nyonya Ken dan ibu Zein merasa senang. Bagaimanapun tidak ada hal yang membuat mereka khawatir lagi.


"Kau tahu. Hubungan mereka yang membaik membuat aku senang," kata nyonya Ken yang disetujui anggukan oleh ibu Zein.


"Bagaimanapun terima kasih. Kau sudah mau menerima putriku."


Nyonya Ken tertawa kecil. Dia menepuk pundak ibu Zein.


"Jangan sungkan. Bagaimanapun, kau sudah menolong aku. Hingga akhirnya kau harus rutin ke dokter."


"Tidak masalah. Bagaimanapun, saat itu aku hanya memikirkan anakmu. Aku tidak mau dia kehilangan ibunya."


Kali ini nyonya Ken berkaca-kaca mendengar jawaban ibu Zein. Dia tidak tahu jika ibu Zein dulu tidak datang. Mungkin saat ini Arda sudah menjadi anak tanpa ibu sejak kecil.


Tiba-tiba ponsel nyonya Ken berdering. Membuat percakapan mereka terputus. Melihat nama yang tertera di layar ponsel membuat nyonya Ken diam.


"Angkat saja jika itu penting," kata ibu Zein yang melihat raut wajah nyonya Ken berubah.


Klik, nyonya Ken memilih mematikan telfon itu. Dia juga mematikan ponselnya.


"Apa ada masalah?" tanya ibu Zein.


"Tidak. Hanya urusan kecil."


Ibu Zein yang tidak ingin ikut campur hanya diam saja. Dia tidak ingin mood temannya itu hancur.


Merasa sudah tidak ada hal yang perlu mereka bahas. Nyonya Ken dan ibu Zein berpisah di luar tempat makan. Mereka kembali ke rumah masing-masing.


Walau begitu, nyonya Ken masih saja diam sampai di dalam mobil. Dia tidak berniat untuk menyalakab ponselnya. Dia tidak berfikir jika Mila sejak tadi menelfonya.


"Bagaimana? apa mama mengangkat telfonmu?" tanya Jovi.


Mila menggeleng.


Jovi terlihat sangat kesal, "Selalu saja begini. Dia tidak pernah memikirkan kamu. Dia hanya memikirkan Arda. Aku menyesal menikahimu."


Ucapan Jovi berhasil membuat Mila diam. Hanya tetes air matanya saja yang berkata-kata.


Mereka sedang di rumah sakit anak. Dimana Sima di rawat. Ya, mereka berniat untuk mencari rumah sampai akhirnya Sima kembali merasakan sakit.


Banyak orang yang berlalu lalang, namun tidak bisa membuat hati Mila merasa ramai. Dia hanya merasa terluka karena Sima berada di ruang ICU. Sementara Jovi terus menyalahkannya.


"Bagaimana keadaan Sima?" tanya Arda begitu sampai di dekat Mila.

__ADS_1


Mila menoleh dan langsung memeluk Arda dengan erat. Selama ini hanya Arda yang peduli saat Sima di rumah sakit. Apa lagi saat Mila terpuruk.


"Kau hanya bisa menangis," kata Jovi. Dia terlihat sangat kacau.


"Apa kau tidak bisa lembutkan bicaramu?!" kali ini Arda terlihat kesal dengan tingkah kakak iparnya.


Jovi terkekeh, "Kau tidak bisa mengaturku hanya karena Mila. Kau tahu alasan aku masih mau dengannya."


Mila melepaskan pelukannya dari Arda. Dengan gerakan cepat Arda berhasil memukul wajah Jovi.


Mila terbelalak melihat hal itu. Dia tidak tahu jika Arda bisa tersulut emosinya karena Jovi. Hampir saja Jovi membalas pukulan itu. Sampai Sya datang dan menarik tubuh Arda.


"Apa yang kalian lakukan? ini di rumah sakit."


Arda hanya diam. Sementara Jovi tersenyum dan hendak mendekat pada Sya.


"Jangan mendekat padaku," ucap Sya, "aku kesini bukan karenamu. Aku kesini karena Sima."


"Setidaknya kau sudah berusaha menghentikan aku. Aku berterima kasih padamu," ucap Jovi dengan senyuman menggoda.


Arda kembali tersulut emosinya karena tingkah Jovi pada Sya. Sya mendekat dan memegang tangan Jovi.


"Biarkan dia pergi. Tidak baik ribut disini," kata Sya.


Arda mengangguk. Dia tidak ingin Sya marah padanya karena hal ini. Beberapa hari ini Arda merasa jika Sya adalah wanita baik. Tidak seperti yang dia pikirkan dulu.


"Bagaimana keadaan Sima?" tanya Sya pada Mila yang sedang berdiri dengan pandangan kosong.


Mila menggeleng.


"Tidak apa. Kita akan meminta dokter melakukan dengan semaksimal mungkin."


Sya terus mencoba menenangkan Mila. Walau sesekali mata Sya melirik kearah Arda. Disaat seperti ini, Arda terlihat sangat khawatir. Baru kali ini, Sya melihat tatapan itu dari Arda.


"Kau istirahat dulu. Aku dan Arda akan disini," kata Sya.


"Aku merepotkanmu," ucap Mila.


"Tidak. Aku sudah menganggap Sima sebagai anakku. Kau tenang saja."


"Benar yang dikatakan Sya," kata Arda.


Mila mengangguk. Lalu dia pergi meninggalkan Sya dan Arda. Dia tahu, jika Sya dan Arda akan menepati janji mereka.

__ADS_1


***


Sya masih terus memandang Arda. Orang yang dulu dia benci. Kini, rasa benci itu sudah berubah. Ada hal lain yang membuat Sya bertahan dan mampu menatap Arda.


Apa lagi, sifat Arda sekarang lebih baik. Dia tidak lagi suka marah dan kesal. Bahkan, Arda kini lebih perhatian pada Sya.


"Kau mau kemana?" tanya Sya.


"Aku harus menemui teman dulu. Apa kau mau ikut?" tanya Arda.


Sya menggeleng, "Aku akan ke rumah sakit dengan Mila."


Arda mengangguk, lalu pergi dari kamar. Sya melihat jam tangan yang biasa di pakai Arda. Jelas jika Arda lupa memakainya. Karena baru saja keluar, Sya bergegas menyusul untuk memberikan jam itu.


Sya melihat jika Arda tadi menutupi sesuatu. Dia terlihat gelisah dan pucat di wajahnya. Tentu saja membuat Sya merasa khawatir, apa lagi Arda sampai melupakan jam tangannya.


Sampai saat Sya berhenti di tempat. Dia melihat Arda sedang duduk dengan wajah pucatnya. Nyonya Ken terlihat khawatir dan langsung memberikan dia air putih. Dia juga memberikan sebuah pil pada Arda.


"Kenapa kau selalu seperti ini Arda," kata nyonya Ken.


"Ma, aku tidak ingin bergantung pada obat lagi. Aku sudah sembuh, ada Sya di sampingku."


Nyonya Ken berdecak, "Arda. Jika kau sampai lupa meminum obatmu. Kau bisa kembali seperti dulu, Sya akan terluka karenamu."


Diam. Sya tidak tahu apa yang terjadi. Dia baru tahu jika Arda selama ini meminum sebuah obat. Sya hanya bisa diam dan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh nyonya Ken.


"Dengarkan Mama. Jika kau memang mencintai Sya, kau terus minum obat ini. Hanya dengan cara ini kau bisa memberikan apa yang kau inginkan apda istrimu."


Arda menoleh pada mamanya itu, "Apa sifatku sangat buruk saat tidak meminum obat?"


Nyonya Ken tidak menjawab. Hanya saja matanya berkaca-kaca. Dia tahu, Arda memiliki perasaan yang sangat sensitiv disaat seperti ini.


"Ma, apa sifatku sangat buruk?" tanya Arda kembali.


Nyonya Ken menggeleng, namun dengan tetesan air mata. Lalu, nyonya Ken mendekat pada Arda. Dia memeluknya dengan erat, pelukan seorang ibu.


"Mama mencintaimu. Semua orang mencintaimu, sifatmu tidak buruk. Kau hanya perlu tenang," kata nyonya Ken.


Sya merasa tidak pantas melihat hal itu. Dia memilih masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Dia merasa berhak tahu akan apa yang diderita oleh Arda.


Lemari bahkan sampai laci meja Sya buka. Dia mencoba mencari, hanya saja dia tidak menemukan obat itu.


"Dimana kau menyimpannya," lirih Sya.

__ADS_1


Sampai Sya ingat, dimana Arda akan pergi saat tidak menyukainya. Dimana Arda akan merasa lebih tenang tanpa teman dan semua orang.


***


__ADS_2