
Dengan handuk yang masih basah Sya keluar dari kamar mandi. Dia mendapati beberapa pelayan berada di kamarnya. Terlihat sibuk.
Sya mendekat, dia melemparkan handuk kearah sofa. Tiga pelayan itu langsung menoleh kearah Sya. Menunduk, itulah yang dilakukan mereka.
"Sedang apa kalian?" Tanya Sya.
"Kami diminta Tuan Lufas mendekor ulang kamar ini."
Lagi lagi Lufas yang meminta. Tidak ingin diganggu disaat istirahatnya. Sya meminta para pelayan itu untuk keluar.
"Katakan pada Lufas. Aku tidak butuh semuanya."
"Baik, Nona," kata seorang pelayan yang terlihat cukup dewasa.
Sejak kedatangan Ruka, Lufas begitu berubah. Dia melakukan hal-hal yang tidak terduga. Memberikan apa saja pada Sya, walau dia tahu Sya tidak membutuhkannya.
Makan malam belum juga diantar ke kamar Sya. Membuatnya harus menahan lapar untuk beberapa saat. Sampai lebih setengah jam masih belum ada yang datang untuk membawa makanan.
Mau tidak mau Sya harus turun dan melihat apa yang terjadi di vila itu. Hal apa yang mampu membuatnya tidak mendapat makan malam.
Sya langsung menutup wajahnya begitu dia keluar dari kamar. Setelah mencoba beradaptasi dengan cahaya luar. Sya membuka tangannya. Vila terlihat begitu terang, lampu terpasang disetiap sudut.
Lampu dan tanaman hias juga mulai berjejeran. Sya tidak tahu akan ada acara apa. Hanya acara itu pasti sangat mewah. Terlihat dari cara pelayan mengatur semuanya.
"Kau keluar?"
Sya terlonjak kaget. Dia menoleh dan mendapati Lufas yang tersenyum. Dia tampak berbeda dengan baju saat ini.
"Aku ingin ke kamarmu, tapi kau sudah disini."
"Untuk apa ke kamarku?"
"Makanan. Aku sudah menyiapkan makan malam untukmu."
"Aku tidak lapar," kata Sya.
Tidak lama perut Sya berbunyi. Sya kembali merasakan penghianatan. Ya, perutnya sendiri kini menghianatinya.
"Kau bohong," tanpa persetujuan Sya, Lufas langsung menarik tangan Sya masuk ke dalam kamar.
Lufas mendudukan Sya dan mulai menyiapkan makan malam itu. Sya hanya menatap apa yang dilakukan suaminya itu. Jelas sekali dia bukan Lufas yang kemarin menodongkan senjata padanya.
"Kenapa kau berubah?" Entah bagaimana Sya bisa menanyakan hal itu.
Lufas menghentikan tangannya. Dia mendongak dan duduk di hadapan Sya. Dia menatap lekat wajah itu. Wajah yang sama, hanya sifat yang berbeda.
"Aku mencintaimu," lirih Lufas.
Kali ini Lufas mengatakan dengan sepenuh hatinya. Bukan hanya dibibir. Perlahan Lufas mendekat, dia membenarkan anak rambut diwajah Sya. Lalu, wajah mereka semakin dekat dan dekat.
Sya menahan Lufas. Dia menatap mata Lufas.
"Apa yang mau kau lakukan?"
Lufas sadar. Dia kembali duduk dengan tenang, kembali menyiapkan makan malam untuk Sya.
"Kau makanlah. Aku akan melihat pekerjaan pelayan di bawah."
Lufas langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Sya yang kini merasa ada yang aneh. Lufas mengatakan cinta dengan tatapak yang begitu lembut. Bahkan, hampir saja Sya terlena dan mengikuti permainan Lufas tadi.
__ADS_1
"Apa benar dia mencintaiku?"
Pertanyaan itu terus muncul. Sya merasa bersalah jika memang Lufas mencintainya. Sampai saat ini, Sya masih belum bisa membuka hatinya.
Dering telfon tiba-tiba berbunyi. Sya melihat nama Ruka yang tertera dilayar ponselnya.
"Halo, Kak."
"Halo. Sya, maaf aku langsung kembali tanpa menemuimu."
"Apa Lufas yang memintamu pergi?"
Ruka tertawa. "Tidak. Aku ada urusan mendadak. Lufas bahkan menahanku agar tidak pergi dulu."
"Benarkah. Apa Kakak akan kemari lagi?"
"Aku belum tahu Sya. Saat ini, jaga diri kamu. Lupakan masa lalu dan mulailah mencoba mencintai pria disisimu."
"Aku akan mencoba. Kak, aku masih ingin bersamamu."
"Sya. Kau bukan anak kecil lagi. Sudah dulu ya, aku ada tamu."
"Ya. Selamat malam."
"Malam."
Ruka memutus telfon itu. Sejak pertama bertemu dengan Lufas. Ruka selalu mendorong Sya untuk mencintai Lufas dan menerimanya. Jelas sekali, Ruka ingin menjauhkan Sya dari Arda. Arda yang selama ini masih mengharapn sebuah keajaiban tentang cinta.
***
Arda menatap foto di dalam ponselnya. Dia tidak tahu dimana Sya sekarang. Yang dia tahu, Sya saat ini bahagia dengan Lufas, Ruka yang mengatakan pada Arda.
"Sayang. Kau disini lagi?"
Sepasang tangan memeluk erat tubuh Arda dari belakang. Hal itu membuat Arda buru-buru mematikan ponselnya. Dia menoleh dan mendapati gadis cantik tersenyum padanya.
"Apa kau teringat mantan istrimu lagi?" Tanya wanita itu tanpa ragu.
"Maaf," lirih Arda.
Gadis cantik itu terlihat kecewa, namun dengan kedua tangannya gadis itu memeluk Arda. Dia mencoba menenangkan lelaki itu. Pria yang terlihat begitu kuat, tapi hanya diluar saja.
"Aku tidak masalah kau masih mengingatnya. Aku hanya berharap, kau mau mencoba mencintaiku."
"Ya. Aku terus melakukanya, Mira. Aku terus melakukannya."
"Aku tahu. Tegarkanlah dirimu Arda."
Mira adalah wanita yang selama ini menerima Arda. Dia adalah sekretaris yang selama ini menemani Arda. Jadi, dia sedikit tahu masa lalu dan keadaan Arda.
Hal itu membuat Arda menerima cinta yang diberikan oleh Mira. Dia juga mencoba melupakan Sya, walau sangat sulit dia rasakan.
"Makanlah dulu. Aku sudah masak," kata Mira.
"Baiklah."
Arda tidak tahu jika selama ini Mira selalu mencobanya mencari alamat Sya. Mira berharap jika Arda bertemu dengan Sya dan melepaskan semua yang ada di dalam hatinya. Arda akan kembali seperti dulu, tidak terpuruk dalam cinta yang penuh harap.
Bahkan Mira siap jika memang Sya dan Arda akan bersatu. Mira akan merelakan semuanya.
__ADS_1
***
Brak. Lufas memukul meja yang ada dihadapanya. Dia merasa sangat kesal apda dirinya sendiri. Sampai saat ini belum bisa membuat Sya tunduk dan mencintainya.
"Jika saja dia itu kau. Sudah pasti aku sangat bahagia. Aku tidak perlu melakukan ini itu untuk membuktikan cinta."
Lufas mengatakan semua itu pada foto Nita yang terpajang disebuah ruangan. Ruangan itu dipenuhi oleh barang-barang Nita. Mulai baju, foto dan segala tentangnya. Lufas tidak membolehkan siapapun menyentuhnya.
Cinta Lufas begitu besar pada Nita. Bahkan, dia rela merubah Sya agar bisa seperti dirinya. Hanya saja, usahanya sampai saat ini masih belum membuahkan hasil. Sya tetap menjadi dirinya sendiri.
"Jika kau disini. Aku tidak perlu mencari orang lain untuk mengisi hati ini."
Lufas terduduk sembari memeluk sebuah gaun. Gaun malam yang terakhir dipakai oleh Nita saat bertemu dengannya.
Tok tok tok.
"Siapa?" Tanya Lufas.
"Tuan. Para tamu sudah datang, banyak yang menanyakan Tuan."
"Aku akan segera datang."
Tanpa sadar Lufas membawa gaun itu keluar. Dia masuk ke kamar Sya untuk melihat bagaimana Sya bersiap. Dia tidak mau jika ada kesalahan saat acara nanti.
Acara malam ini adalah acara khusus untuk Sya. Lufas akan mengenalkan Sya pada teman, kenalan dan juga rekan kerjanya. Dia tidak mau jika Sya sampai dibilang jelek atau lainnya.
"Kau disini?" Tanya Sya.
Lufas mengangguk.
"Ada apa?" Lalu Sya melihat gaun ditangan Lufas, "apa kau mau aku memakai gaun itu?"
Lufas melihat kearah tangannya sendiri. Dia membawa gaun biru tua ditangannya. Sementara Sya masih menunggu jawaban Lufas.
"Lufas. Apa kau ingin aku memakainya?"
Karena tidak ingin melukai hati Sya. Lufas akhirnya mengangguk. Dengan berat hati Lufas memberikan gaun itu. Gaun yang indah.
"Gaun ini sangat cantik. Terima kasih," kata Sya.
Lufas mengangguk.
"Ada lagi?" Tanya Sya.
"Tidak. Aku kesini hanya ingin melihatmu bersiap. Cepatlah, para tamu sudah menunggu."
"Baik."
Saat selesai bersiap. Sya melihat dirinya sendiri disebuah kaca. Gaun tanpa lengan yang begitu indah dengan warna elegan. Hal itu membuat Sya mengambil ponselnya dan mengambil sebuah foto.
Setelah itu Sya mengirim foto itu pada Anna dan Eri. Dia meminta pendapat dari teman-temannya itu.
'Gaun yang indah. Aku menginginkannya'
Itu adalah pesan yang dikirimkan oleh Eri. Hal itu membuat Sya tersenyum. Tidak lama pesan juga masuk dari Anna.
'Aku harap kau bahagia'
Sya merasa aneh pada balasan Anna itu. Saat akan kembali menulis pesan. Seorang pelayan masuk. Dia meminta Sya untuk segera keluar dari kamar dan menyambut semua tamu.
__ADS_1
***