
Mata Sya masih terlihat sembab. Dia menangis semalaman karena rumah itu yang diratakan. Hanya rumah itu yang Sya bisa berikan pada Danendra. Kini, rumah itu sudah tiada. Tabungan milik Sya pun sudah tidak banyak lagi.
Mike masuk ke kamar Sya dengan nampan berisi sarapan. Mike merasa tidak senang melihat Sya yang begitu sedih. Meski dirinyalah yang membuat masalah untuk Sya.
"Sarapan dulu. Aku akan bangunkan lagi rumah itu. Kau tenang saja."
"Tidak usah. Biarkan saja. Aku akan mencari kos saja." kata Sya.
"Jangan. Aku tidak mau kau ke kos."
"Kenapa?" Tanya Sya.
"Aku tidak ingin jauh darimu."
"Cukup. Mike kita tidak hubungan apapun. Aku hanya..."
Belum selesai Sya bicara. Mike mendekat dan langsung mencium Sya dengan kuat. Sya mencoba melepaskan semua itu.
"Apa yang kau lakukan. Kita belum memiliki ikatan apapun."
"Apa kau ingin memiliki ikatan denganku?" Tanya Mike.
"Lupakan saja."
Mike tersenyum.
"Sarapan dulu. Nanti aku akan membawamu kesuatu tempat," kata Mike.
Sya menoleh. Mike tidak ada lagi di belakangnya. Sya melihat sarapan yang sudah disiapkan oleh Mike. Sya yang merasa sungkan akhirnya memakan sarapan itu.
Sampai dia baru ingat jika harus ke rumah Lufas. Danendra meminta makanan yang dibuatkan olehnya.
Sya buru-buru bangun. Dia masuk ke dapur dan mulai memasak. Beberapa pelayan menatap pada Sya dengan penuh penasaran. Baru pertama kali ini ada seorang wanita yang dibawa oleh Mike ke rumah. Biasanya, Mike kejam pada siapapun termasuk pada wanita.
Setelah selesai dengan acara masaknya. Sya berganti baju dan bersiap untuk ke rumah Lufas. Mobil putih berada di depan rumah. Seorang sopir membukakan pintu untuk Sya.
"Tuan mike meminta saya untuk mengantarkan Nona."
Melihat jam di tangannya. Sya memilih untuk masuk ke mobil. Dia ingin segera bertemu dengan Danendra.
***
Tom dan Anna sudah di bandara. Mereka sedang menunggu Mike datang. Hari ini Mike sendiri yang akan mengantarkan kepergian mereka.
Sebenarnya, Tom masih ingin di negara itu. Bisnisnya sangat berhasil dan menguntungkan. Hanya karena Anna yang berbuat onar dia harus siap untuk dipindahkan.
"Kenapa kau hanya diam?" Tanya Anna.
"Diam. Semua ini karena kamu."
"Maaf," lirih Anna.
Sebuah mobil merah datang. Mike turun diikuti oleh Asisten juga pengawal. Mata Mike begitu mengintimidasi pada Anna dan Tom. Namun, dia masih mampu tersenyum pada setiap penggemar yang menyapanya.
Tom dan Mike sudah berhadapan. Tom tidak mampu untuk berkata apa-apa lagi. Dia sudah pasrah saat tahu apa yang dilakukan oleh Anna pada Sya.
"Kalian tidak akan pernah datang ke negara ini lagi. Jika aku sampai melihat kalian. Aku tidak segan untuk menghabisi nyawa kalian."
"Apa kita tidak bisa bicarakan dengan baik?"
"Tentu saja tidak. Apa lagi dengan istrimu ini. Lebih baik kau menjaganya."
Mike meminta pengawalnya untuk melihat kepergian Tom dan Anna. Mike tidak mau jika sampai dibohongi. Jika itu terjadi, orang yang membohonginya akan hancur.
"Bagaimanapun ku berterima kasih. Karena kalian, aku bisa lebih dekat lagi dengan Sya."
Mike masuk ke dalam mobil. Dia berniat untuk datang kesebuah acara permodelan. Dia sudah berjanji untuk ikut andil di dalam acara itu.
__ADS_1
Sebelum itu dia sudah mendapat kabar dari orang di rumahnya. Sya pergi ke rumah Lufas, sebelum itu dia membawakan makanan untuk seseorang.
Entah bagaimana, Mike merasa sakit hati. Sya mau membawakan makanan untuk orang lain. Pikiran Mike langsung tertuju pada Lufas. Sya pasti membawakan makanan untuknya.
"Aku ingin ada orang yang terus mengawal Sya. Aku tidak mau jika dia sampai di dekati pria lain."
"Baik."
***
"Pagi sayang," sapa Sya pada Danendra.
"Pagi."
Mereka saling memeluk. Sya melihat Bi Sali masuk ke kamar Danendra. Dia membawa nampan berisi makanan.
"Aku sudah membawa makanan untuknya." Ucap Sya.
Bi Sali melihat kearah Danendra.
"Ya. Aku ingin makan masakan Mama. Sudah lama aku tidak memakannya."
"Baiklah."
Bi Sali membawa makanan itu keluar. Sya menyiapkan makanan yang sudah dia buat. Nasi goreng dengan omlet sayur untuk Danendra.
Danendra begitu lahap saat makan. Sya merasa senang melihat hal itu. Sampai dokter Jo masuk dan menatap Sya. Sya hanya menatap balik dan tidak paham maksud dari Dokter Jo. Sampai akhirnya, Dokter Jo mengisyaratkan dengan tangannya.
"Nendra. Mama keluar dulu sebentar. Nanti Mama kesini lagi."
"Ok, Mama."
Dokter Jo membawa Sya keruangan Lufas. Disana, Lufas dan Mika sedang bersama. Tentu saja kedatangan dokter Jo dan Sya cukup mengganggu.
"Ada apa?" Tanya Lufas cuek.
Mika menatap pada Sya tidak suka. Lalu menatap pada Lufas.
"Mika. Keluarlah."
"Fas. Aku juga mau disini."
"Mika. Apa perlu aku yang mengeluarkanmu?" Tatapan Lufas begitu tajam.
"Jika sudah selesai. Katakan padaku," kata Mika dengan sangat kesal.
Bahkan Mika masih sempat menabrak bahu Sya saat keluar. Meski begitu, Sya hanya tersenyum kecil. Dia tahu, rasa cemburu Mika pada Lufas.
"Tolong kalian duduk," kata Dokter Jo.
Sya dan Lufas duduk. Dilihat dari wajah dokter Jo pasti sedang ada masalah. Tentunya mengenai Danendra. Wajah Sya seketika berubah menjadi khawatir, namun tidak dengan Lufas. Wajahnya masih datar.
"Maaf aku baru mengatakan ini pada kalian. Sebelumnya aku sempat ragu, tapi kali ini tidak lagi. Aku sudah melakukan penelitian. Dan benar saja."
"Katakan saja langsung," ucap Lufas yang tidak sabar.
"Saat ini memang benar jika Danendra terkena masalah di otaknya. Hanya saja, masih ada hal lain."
"Hal lain? Apa maksudmu ada penyakit lain lagi?" Tanya Sya.
Dokter Jo mengangguk.
"Kau bisa menyembuhkanya. Kenapa harus melaporkannya pada kita."
"Masalahnya kita membutuhkan donor hati."
Jawaban itu berhasil membuat Sya dan Lufas terdiam.
__ADS_1
"Bagaimana dengan hatiku? Jika cocok pakai hatiku saja," kata Sya.
"Kita bisa melakukan pemeriksaan dulu jika kau mau," tambah Lufas.
"Ya. Lebih cepat lebih baik. Saat ini, kanker yang diidap oleh Danendra semakin meluas. Aku harap kalian tahu," kata Dokter Jo.
Sya dan Lufas pergi bersama untuk mengecek kecocokan hati. Saat ini Sya hanya memikirkan tentang Danendra. Dia bahkan rela memberikan kehidupannya, jika memang itu untuk Danendra.
***
Sya keluar dari ruangan Danendra dengan wajah sedih. Mulai saat ini, makanan yang dimakan Danendra harus diatur oleh ahli gizi. Dia tidak akan memasakan makanan untuk Danendra lagi. Kenyataan ini semakin membuat Sya merasa begitu pahit.
"Mau aku antar?" Tanya Lufas saat melihat Sya berjalan kearah pintu keluar.
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri."
"Bukankah rumahmu dihancurkan oleh Tom. Saat ini kau tinggal dimana?"
Sya diam. Saat ini dia memang bingung akan tinggal dimana. Belum lagi dengan biaya pengobatan Danendra. Tidak mungkin Sya harus lepas tangan begitu saja. Dia adalah ibunya.
"Apa kau tinggal dengan Mike?" Tanya Lufas.
"Saat ini ya. Tapi untuk ke depanya aku akan pergi mencari kos."
"Jika kau mau tinggalah disini."
Sya langsung menggeleng. Dia bisa saja menerima tawaran itu. Hanya dia tidak mau, dia memilih hidup dengan tenang saat ini.
"Maaf. Aku tidak bisa."
Lufas hanya tersenyum kecil. Saat ini, dia tidak bisa membuat Sya terus berada di sampingnya. Lufas hanya bisa memantaunya dari jauh. Semakin Lufas mengejarnya. Sya semakin menjauh.
Suara klakson mobil terdengar. Sya tahu, sudah pasti jika Mike yang datang. Sya tidak bisa menolak Mike, Mike sudah begitu banyak membantunya.
"Aku harus pergi," kata Sya.
"Ya. Jika kau butuh sesuatu. Katakan saja padaku."
Sya mengangguk. Dia keluar dari rumah. Benar saja, jika Sya telat untuk keluar. Sudah pasti Mike akan masuk untuknya.
"Ayo. Sudah malam," kata Mike.
"Ya."
Di dalam mobil mereka hanya saling diam. Sya masih terus memikirkan hasil pemeriksaan tadi. Dia sangat berharap hatinya cocok dengan milik Danendra. Atau setidaknya hati Lufas yang cocok.
"Aku tadi siang melihatmu di rumah sakit. Ada apa? Bukankah Nendra di rumah Lufas."
"Aku dan Lufas melakukan pemeriksaan."
"Pemeriksaan apa?" Tanya Mike penasaran.
Sya mengatakan semuanya. Melihat wajah Sya yang begitu sedih membuat Mike tidak tega.
"Tenang saja. Nendra pasti akan menemukan hati yang cocok."
Perkataan Mike sedikit membuat Sya tenang.
"Mike. Aku sudah mencari kos. Aku akan pindah, tidak mungkin aku merepotkanmu terus menerus."
"Apa kau punya uang? Bukankah kau sudah tidak kerja. Kau masih harus memikirkan Nendra."
Sya diam.
"Tetaplah di rumahku. Sampai kau memiliki semuanya."
"Baiklah."
__ADS_1
Mike tersenyum hangat. Dia merasa perlahan hati Sya melunak. Mike berharap, cintanya ini bisa terbalas. Meski harus menghancurkan segalanya. Mike akan melakukannya untuk Sya.