
Malam semakin larut. Lufas teringat dengan apa yang dikatakannya pada Sya. Melihat Anna yang saat ini terlelap. Buru-buru Lufas keluar dari kamar rumah sakit itu.
Dia menuju ke parkiran dan langsung tancap gas. Saat ini Lufas hanya memikirkan apa yang dilakukan Sya. Mungkin Sya sedang menunggu dirinya pulang. Pikir Lufas.
Sampai diapartemen Lufas melihat ruangan yang gelap. Bahkan tidak ada lampu yang menyala satupun. Lufas menyalakan lampu dan menemukan Sya terlelap diatas sofa.
Pakaiannya basah dengan rambut yang berantakan. Ponsel Sya juga mati karena tidak di cas. Perlahan Lufas menggendong Sya ke dalam kamar. Dia mengganti pakaian basah itu.
Setelah selesai, Lufas duduk ditepi tempat tidur. Dia menatap wajah Sya yang begitu polos. Selama ini Lufas hanya tahu tentang perasaanya sendiri. Tidak mempedulikan apapun, tapi saat melihat wajah Sya. Lufas sadar jika dia harus berubah. Dia harus menjadi pria yang baik untuk Sya.
"Maafkan aku yang tidak sempurna ini," lirih Lufas.
Perlahan Lufas menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Sya. Dia kembali membuat wanita itu kecewa.
***
Aroma makanan merebak. Sya yang sejak pagi tadi berkutat di dapur kini tersenyum lega. Dia menatap makanan yang berada diatas meja. Hari ini dia sudah bekerja keras untuk sarapan mewah bagi Lufas.
Pagi ini Sya terbangun. Lufas berada di sampingnya. Hal itu membuat Sya teraenyum tipis. Dia kira Lufas akan menemani Anna semalaman. Ternyata dia kembali dan mengurusnya.
Walau begitu, Sya tidak melupakan apa yang sudah terjadi. Bagaimana keadaan hatinya saat ini sungguh menyakitkan. Apa lagi jika mengingat tentang dirinya yang sudah memberikan seluruh hatiny pada Lufas.
"Kau membuat semua ini?" Tanya Lufas.
Sya hanya mengangguk. Lalu dia mulai menyiapkan sarapan untuk Lufas. Lufas merada ada yang aneh. Hanya Lufas tidak ingin bertanya saat ini. Lufas tidak ingin menghancurkan kebahagiaan Sya pagi ini.
"Kau pulang jam berapa?" Tanya Sya.
"Aku...aku pulang jam 12."
"Apa Anna mengijinkan kamu kembali?"
"Aku meninggalkannya."
Sya tertawa dingin. Lalu dia menatap pada Lufas. "Bukankah kau sudah janji akan menemaninya semalaman."
"Bagaimana kau tahu?"
"Aku melihatnya. Kau memeluk erat tubuh itu. Apa kau tahu apa yang aku rasakan saat itu? Aku merasa sangat hancur, tapi aku hanya bisa diam."
Lufas tidak menjawab dan hanya diam menatap Sya.
"Kau bilang kau mencintaiku. Hanya saja apa yang kamu lakukan tidak begitu. Sekarang jujur padaku, apa kau masih mencintainya?"
Lufas mengenggam tangan Sya. Dia menatap dengan penuh penyesalan.
"Sudah aku bilang. Aku mencintaimu."
"Kau mencintaiku? Omong kosong apa ini. Jika kau benar mencintaiku, seharusnya kau tepati kata-katamu untuk meninggalkannya. Bukannya kau datang dan memeluknya penuh kasih."
__ADS_1
"Sya."
"Aku tidak bodoh, Lufas. Bahkan jika saat ini kau menceraikanku. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli jika aku harus kembali sendiri. Selama inipun aku sendiri."
"Bukankah kau masih memiliki aku dan kakakmu?"
Sya tertawa kecil.
"Aku tidak pernah memilikimu. Bahkan kakakku juga kau ambil. Sudahlah, aku ada urusan. Kau bisa sarapan dan menemui istrimu," kata Sya.
Setelah meluapkan isi hatinya. Sya berdiri dan mengambil tasnya. Hari ini dia ada jadwal bertemu dengan Xiu. Mereka akan membahas sebuah toko perhiasan baru.
Lufas masih terduduk dengan tatapan kosong. Bahkan dia tidak menyentuh makanan yang disajikan oleh Sya. Selera makannya menguap begitu saja.
Kali ini Lufas merasa jika dirinya benar-benar membuat Sya kecewa. Lufas merasa dirinya begitu bodoh dan tidak mampu menjadi suami yang baik bagi Sya.
Dalam lamunan itu Lufas hanya memikirkan tentang hati dan perasaan Sya. Sampai saat ponsel Lufas berdering. Nomor tanpa nama tertera di layar ponsel. Lufas tampak ragu, namun akhirnya dia mengangkatnya juga.
"Baiklah. Aku akan segera datang," kata Lufas setelah mendengar lawan bicaranya selesai.
Wajah Lufas tampak khawatir saat meninggalkan meja makan. Dia bahkan tidak melakukan hal lain dan langsung pergi begitu saja.
***
Pagi ini dirumah sakit begitu heboh. Anna membuat keributan karena saat bangun tidak menemukan Lufas. Dia meminta semua perawat untuk tidak masuk kerunganya sebelum Lufas datang. Padahal dokter akan menyuntikan obat padanya.
Perawat yang kewalahan memutuskan untuk menelfon Lufas. Mereka mengatakan jika Lufas tidak datang mungkin Anna akan melakukan hal yang lebih dari ini.
"Bagaimana, Dok?" Tanya Lufas.
"Nyonya Anna masih belum mau membukanya."
Lufas mendekat dan mengetuk pintu itu beberapa kali.
"Sudah aku bilang, aku hanya ingin Lufa yang datang."
"Aku sudah disini," kata Lufas.
Sedikit demi sedikit pintu itu terbuka. Anna teersenyum begitu melihat Lufas berada di depan pintu. Tanpa aba-aba Anna langsung memeluk Lufas. Hal itu berhasil membuat Lufas merasa malu di depan tenaga kesehatan.
"Kau harus suntik saat ini. Kenapa kau menolaknya?"
"Karena kau tidak ada di sampingku. Sekarang aku mau disuntik."
Lufas membawa Anna masuk. Diikuti oleh seorang dokter dan suster. Mereka memeriksa keadaan Anna. Setelah itu menyuntikan beberapa obat.
"Kami permisi dulu," kata dokter setelah selesai.
"Terima kasih, Dok."
__ADS_1
Dokter dan suster itu keluar. Anna dan Lufas hanya berdua didalam ruangan itu. Anna begitu senang berbicara, sementara Lufas terlihat begitu gelisah saat ini.
"Aku ingin bicara serius denganmu," kata Lufas.
Anna diam dan menoleh pada Lufas.
"Sebaiknya kita berpisah saja. Aku tidak mau terus menerus melukai perasaan Sya. Bagaimanapun aku dan kau sudah tidak saling cinta."
Wajah Anna yang awalnya terlihat bahagia kini langsung berubah.
"Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Tanya Anna.
"Ya. Sudah aku katakan sejak awal."
"Lalu apa maksudmu masih perhatian sampai saat ini padaku?"
Lufas diam tidak menjawab.
"Kau masih mencintaiku. Hanya saja, kau sudah dirasuki mulut manis Sya."
Lufas berdiri.
"Aku akan urus surat perceraian kita. Besok aku akan datang dan kau harus menandatanganinya."
"Lufas. Lufaaaas."
Lufas sudah keluar dari ruangan itu. Anna memukul tempat tidurnya dengan keras. Rasa kesal pada Sya semakin memuncak. Dia sangat ingin menghancurkan Sya saat ini juga.
***
Sya membuka pintu dan menyalakan lampu. Dia langsung tersenyum tipis saat melihat makanan yang masih utuh diatas meja makan. Saat ini, Sya tidak begitu berharap dengan hubungan itu.
Tas dia letakan di sofa. Lalu mulai membuang semua makanan itu. Dia juga langsung mencuci semuanya. Dengan perasaannya saat ini, Sya tidak ingin melakukan apapun. Seduhan kopi tanpa gula menemaninya setelah selesai mandi.
Cinta yang awalnya dia kira sudah menjadi miliknya kini sudah hancur. Kembali dia merasakan sakit ini. Sementara Arda sudah menemukan wanita impiannya. Rasa iri muncul begitu saja.
Kadang ada pikiran yang terbesit dihati Sya. Kesalahan apa yang dia lakukan. Hingga akhirnya dia mendapatkan hidup yang seperti ini. Rasanya lucu jika mengingat semuanya.
Suara pintu terbuka membuat Sya langsung menoleh. Lufas masuk membawa sekotak coklat. Sya hanya melihatnya.
"Aku belikan untukmu," Lufas meletakan kotak itu di meja depan Sya.
"Aku lelah dan tidak ingin memakan apapun."
"Sya. Aku sudah mengurus surat ceraiku dan Anna."
Sya melirik, lalu dia berkata. "Apa urusanya denganku. Aku akan tidur."
Sya langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Lufas hanya bisa termenung sembari menatap pada kotak coklat yang dia bawa.
__ADS_1
***