
Lufas bangun pagi sekali. Dia menerima telfon dari bawahanya. Ada informasi penting yang harus bawahannya sampaikan.
Melihat jam membuat Lufas bergerak dengan perlahan. Dia tidak ingin mengganggu tidur lelap Sya.
Perlahan Lufas bangun dan berjalan pelan kearah Sya. Dia memandang wajah itu dengan lekat. Bayangan mendiang istrinya membuatnya jatuh dalam perasaan. Hampir saja Lufas mengecup kening Sya.
Sampai saat Sya bergerak untuk merubah posisi tidurnya. Hal itu membuat Lufas tersenyum tipis. Sya dan mendiang istrinya memang mirip di wajah.
Hanya saja kemiripan itu tidak pada sifat mereka. Mendiang istri Lufas begitu feminim sementara Sya. Dia lebih keras dari mendiang istrinya. Saat menolak, Sya benar-benar menolak.
Kembali telfon Lufas berdering. Membuat dirinya kembali kedunia nyata. Rasa yang dialami Lufas pada Sya. Mungkin terjadi karena pengaruh kemiripan Sya dan mantannya itu.
"Aku segera kesana."
Setelah itu Lufas mematikan ponselnya. Dia membenarkan selimut pada tubuh Sya. Sampai saat dia sadar. Tidur di sofa tidaklah nyaman.
"Maaf. Aku akan memindahkanmu," lirih Lufas.
Dengan hati-hati Lufas memindahkan tubuh Sya keatas tempat tidur. Sebelum pergi, Lufas masih sempat memandang wajah Sya. Dengan seulas senyum, Lufas pergi menemui bawahannya itu.
Sebelum pergi Lufas meminta pada pelayannya untuk menyiapkan sarapan. Dia juga meminta untuk tidak mengganggu tidur Sya.
"Sarapannya dibawa ke kamar saja," kata Lufas.
"Baik, Tuan."
***
Pelayan itu masuk perlahan ke kamar Lufas dan Sya. Disana Sya sedang duduk dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambut. Saat melihat pelayan masuk dengan membawa nampan. Sya menghentikan aktivitasnya.
"Apa ini sarapan untukku?"
"Ya, Nona."
Sya duduk dan menatap sarapan itu. Lalu dia ingat tentang pelayan itu. Dia mengatakan jika dirinya sangat berbeda dengan mendiang istri Lufas.
"Tunggu," kata Sya saat pelayan itu melangkah pergi.
"Apa masih ada yang kurang, Nona?"
Sya menggeleng.
"Apa Nona tidak suka makanan ini?"
Kembali Sya menggeleng. Hal ini membuat si pelayan kebingungan.
"Apa kau mau sarapan denganku?"
Pelayan itu terlihat kebingungan sekali kali ini. Sya baru saja mengajaknya sarapan. Di kamar utama vila itu.
"Ayolah duduk. Disini aku tidak punya teman. Kau tahu, aku kesepian."
Pelayan itu duduk dengan gugup di depan Sya. Sya tahu akan hal itu. Dia memberikan sebuah piring berisi roti isi.
"Kau sudah bekerja disini berapa lama?"
"Aku...disini...sudah 7 tahun."
"Baguslah. Kau tahu tempat ini lebih dari aku," kata Sya dengan senyuman.
Pelayan itu hanya mengulas senyuman tipis.
"Jujur saja. Aku mengajakmu sarapan karena aku ingin tahu seperti apa mendiang istri Lufas."
Pelayan itu terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Sya.
"Kenapa? Apa aku salah."
"Ti...tidak. Hanya saja, tidak ada yang boleh membicarakan hal itu lagi disini."
"Apa Lufas yang memberi peraturan itu?"
__ADS_1
"Ya. Aku yang membuatnya."
Sya menoleh dan melihat Lufas yang sedang berdiri. Dia terlihat seperti Lufas yang biasanya. Hanya saja, tatapannya begitu mengerikan.
"Kau bisa pergi," kata Sya pada pelayan itu.
Dengan tubuh bergetar pelayan itu melewati Lufas. Dia tahu, akan ada hal buruk yang akan terjadi. Namun tidak dengan Sya. Dia mengulas senyum dan mendekat pada Lufas.
"Kenapa kau pulang? Bukankah kau baru saja pergi?"
Lufas tidak menjawab. Dia hanya menarik tangan Sya dengan kasar untuk pergi ke balkon. Sampai di balkon, Sya melepaskan tangannya dari genggaman Lufas. Pergelangan tangannya terlihat memerah.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sya dengan nada marah.
"Apa kau marah padaku? Seharusnya aku yang marah. Kenapa kau bertanya hal tentang Nita pada pelayan."
"Nita? Apa dia mantan istrimu itu? Aku menanyakan pada pelayan karena kau tidak mau menjawab pertanyaanku."
"Diam!" Bentak Lufas.
Sya kaget dengan bentakan itu. Baru kali ini Lufas membentaknya dengan begitu keras.
"Jika kau mencari tahunya lagi. Aku tidak akan mengampunimu," ucap Lufas. Setelah itu Lufas meninggalkan Sya sendiri di balkon.
Sampai saat ini. Sya hanya tahu jika mendiang istri Lufas mirip dengannya. Dia meninggal saat mengandung anak Lufas. Meninggal karena kecelakaan, tapi entah kecelakaan apa.
Sya melirik kearah kamar. Dia melihat Lufas duduk dengan laptop dihadapannya. Entah kenapa, bentakkan Lufas mengena di hati Sya. Sampai bulir air mata jatuh di pipinya.
***
Malam sudah mulai datang. Seharian ini, Sya hanya berada di dalam kamar. Dia membaca novel sembari mendengarkan lagu yang dia suka. Tidak ada hal lain lagi.
Sampai saat ini, hanya Eri yang menemani Sya. Melalui pesan singkat dan telfon. Tidak ada lagi yang menjadi teman di tempat itu bagi Sya.
"Nona. Maaf mengganggu," kata seorang pelayan.
Sya menoleh. "Ya. Ada apa? Aku tidak meminta apapun."
Sya melihat sebuah salep di tangan sang pelayan. Sya diam. Dia tidak tahu apa lagi yanh dilakukan Lufas untuknya kali ini.
"Letakan saja di meja. Oh ya, tolong panggilkan pelayan yang tadi mengantarkan sarapan untukku."
Pelayan itu langsung merubah ekspresi wajahnya. Terlihat seperti orang ketakutan. Sya tahu, ada hal yang salah. Ada sisi lain Lufas yang belum dia tahu.
"Kau bisa pergi," kata Sya.
Tidak lama. Lufas masuk dan melihat Sya yang masih asik dengan novel di tangannya. Sejak tadi pagi, mereka tidak saling bicara. Sya yang merasa kesal memilih untuk pura-pura tidak melihat Lufas.
Sementara Lufas. Dia duduk dengan ponsel ditangannya. Dia melihat salep yang dia kirimka untuk Sya. Belum tersentuh sama sekali.
Melihat pergelangan tangan Sya yang masih merah. Lufas mendekat dan mengambil salep itu. Tanpa permisi, Lufas mencoba memegang tangan Sya.
"Jangan menyentuhku."
"Kau masih kesakitan, Sya."
"Aku tidak sakit sama sekali."
Lufas meletakan kembali salep itu ke atas nakas. Lalu, dia duduk dengan tatapan menuju kearah Sya.
"Kenapa kau memecat pelayan itu? Dia tidak bersalah."
"Aku tahu dia tidak bersalah."
"Lalu kenapa kau memecatnya?" Kali ini tatapan Sya begitu menusuk pada mata Lufas.
"Aku tidak memecatnya," jawab Lufas dengan wajah datar.
Sya meletakan bukunya. Dia juga membenarkan posisi duduknya.
"Lalu kenapa dia tidak ada disini lagi? Apa yang kau lakukan padanya? Apa kau tahu, aku butuh teman disini."
__ADS_1
"Kau ingin tahu apa yang kulakukan padanya?"
"Ya. Aku sudah menganggapnya teman sejak dia mau bicara padaku."
"Baiklah jika kau ingin tahu." Lufas bangun dari duduknya.
Tidak berapa lama. Lufas berhasil mengeluarkan sebuah pistol dari saku celananya. Sya diam. Kali ini dia tidak bisa berkata-kata. Sya memang belum tahu apa yang sudah dilakukan Lufas. Hanya saja, pistol itu sudah mampu membuatnya diam seribu bahasa.
"Aku melakukan ini padanya."
DOOORRRR. Sebuah tembakan melesat kearah Sya. Lufas tersenyum dengan puas. Lalu dia memasukan kembali pistol itu ke dalam sakunya lagi.
Disisi lain.
Craang. Sebuah cangkir jatuh tepat di samping kaki Arda. Dia tidak mencoba menghindar dati percikan kopi itu. Hanya wajah kaget yang tampak kali ini.
"Pak Arda. Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya sekretaris Arda.
Arda menggeleng. "Bersihkan saja ini. Aku ingin istirahat."
Arda meninggalkan sekretarisnya itu. Dia masuk kesebuah ruangan. Dimana ruangan itu berisi segala kebutuhan Arda.
Ya. Arda memang tidak memiliki rumah atau apartemen. Hanya saja, dia memiliki sebuah ruangan khusus di dalam kantornya. Tidak ada yang bisa masuk kecuali dirinya.
Diruangan itu, banyak sekali foto Sya. Saat peenikahan, saat makan malam, juga saat acara-acara yang mereka datangi bersama.
Perlahan kenangan-kenangan mulai hadir. Membuat Arda kembali merasa hatinya sakit. Dadanya terasa sesak, bahkan Arda harus meminum sebuah pil agar terasa tenang.
"Kenapa aku merasa ada masalah dengannya," lirih Arda.
Dia mengambil ponselnya dan menelfon seseorang. Arda menelfon Ruka untuk bertanya keadaan Sya. Ingin menelfon langsung, tapi niat itu tidak pernah dilakukan oleh Arda.
"Ada apa kau menelfonku malam-malam?"
"Tidak. Aku hanya merasa gelisah. Kau tahu, aku kembali ingat dengan adikmu yang manis."
Ruka tertawa dengan lepas ditelfon. Dia tahu jika Arda akan mengganggunya hanya karena ingin tahu kabar Sya.
"Dia baik saja. Kau tenang, ada Lufas yang menjaganya."
"Kau benar. Kalau begitu sudah dulu."
Arda langsung menutup telfon itu. Walau Ruka mengatakan Sya baik-baik saja. Tetap saja perasaanya berkata lain.
***
Tubuh Sya terbaring lemah. Seorang dokter wanita sedang memeriksa tubuh itu. Setelah selesai. Dokter itu mengalungkan stetoskopnya. Lalu dia menoleh pada Lufas.
Lufas yang tahu jika dokter itu sudah selesai segera mendekat. Ada rasa bersalah yang hadir di dalam hati Lufas. Semua ini terjadi karena dirinya.
"Tuan Lufas. Istrimu baik-baik saja. Mungkin dia mengalami kelelahan."
"Aku lega mendengarnya."
Dokter itu tersenyum. "Kau tidak perlu khawatir. Dia akan segera siuman. Aku pergi sekarang," kata Dokter itu.
"Baiklah. Aku akan mengantarkanmu."
Sya kaget dengan apa yang dilakukan Lufas. Hal itu membuatnya langsung pingsan ditempat. Bukan karena terkena tembakan itu, tapi karena tembakan yang hampir mengenainya.
Tidak lama Sya terbangun. Dia mencoba mengingat apa saja yang sudah terjadi. Dia ingat semuanya.
Lufas, dia bukanlah pria biasa. Dia bahkan menampakan wajah datar saat melemparkan tembakan itu pada Sya. Sya merasa jika Lufas lebih kejan dari Arda.
Dulu, Arda juga melakukan hal yang sama. Hanya saja, terlihat jika Arda merasa ragu saat memegang senjata api itu. Sedangkan Lufas, dia terlihat terbiasa dengan semua itu.
Mendengar langkah kaki mendekat. Sya pura-pura tidur. Dia menutup kembali matanya dengan rapat. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan Lufas padanya saat ini.
Lufas masuk dan menatap Sya. Dia tidak tahu jika Sya akan pingsan karena tembakan itu. Tidak seperti Nita, wanita yang terbiasa dengan senjata. Sya takut dengan senjata.
"Maafkan aku Sya. Aku hanya ingin kau tidak tau semuanya."
__ADS_1
***