The Way Love

The Way Love
LII


__ADS_3

Malam itu Sya pulang dengan Ruka. Dia pulang memang sudah larut. Walau begitu Sya sudah mengabari Arda. Dia setuju dan tidak mempermasalahkan hal itu.


Dengan senyuman Sya turun dari mobil Ruka. Dia juga melambaikan tangannya pada Ruka yang tidak berniat untuk berkunjung lebih dulu.


Sya berbalik badan dan melihat Aila berdiri mematung dipintu rumah. Sya mendekat dan mengulas senyum seperti biasa. Dia tidak ingin membuat moodnya berubah hanya karena Aila.


"Apa kau tidak malu dengan apa yang kau lakukan?" tanya Aila begitu Sya dekat dengannya.


Sya berhenti dan melihat kearah Aila.


"Kau sudah punya suami. Kenapa kau tidak malu jalan dengan pria lain."


"Apa maksudmu?"


Aila menunjukan video diponselnya. Video saat Sya turun dari mobil Ruka dan cara Sya melambaikan tangan pada Ruka. Sya hanya menghela nafas panjang.


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Sya kemudian.


"Kau tahu apa yang aku mau. Arda."


"Sayang sekali. Aku tidak mungkin memberikan Arda pada wanita sepertimu. Kau bahkan hamil dengan pria yang tidak baik."


Plak. Aila menampar Aila dengan begitu keras. Tamparan itu bahkan membekas di wajah Sya. Tidak mau dirinya diperlakukan seperti itu. Sya berniat untuk menampar balik Aila.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Arda sembari menahan tangan Sya.


Sya menoleh pada Arda. Dengan kecepatan penuh, Aila langsung memeluk Arda dengan erat. Dia bahkan mampu mengeluarkan air mata yang entah datang dari mana.


"Lihat. Aku sudah mengatakan jika dia tidak baik padaku. Kau lihat sendiri dia akan menamparku," rengek Aila.


Arda melepaskan tangan Sya dengan kasar. Mata Arda bahkan terlihat marah dengan apa yang dia lihat.


"Aku bisa jelaskan, Da."


"Aila juga istriku. Dia punya hak yang sama sepertimu dirumah ini. Jadi jangan melakukan hal buruk padanya."


Sya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Aila menarik Arda masuk. Sya menghentakkan kakinya, kesal. Belum juga dia menjelaskan semuanya. Arda sudah lebih dulu marah.


***


Bulan dan bintang sudah datang. Seperti biasa, mereka menghiasi langit malam tanpa ada yang meminta. Hawa dingin menyelimuti malam itu, tapi hal itu tidak membuat Sya merasa kedinginan.


Dia merasa tidak percaya dengan apa yang Arda lakukan. Sebelumnya, Arda selalu membelanya. Apapun yang terjadi, tapi tidak sampai saat dia akan menampar Aila. Arda berubah.

__ADS_1


Tidak ingin memperkeruh suasana dirumah itu. Sya memilih untuk pergi. Dia kembali kecafe. Dia ingin menenangkan dirinya. Sebelum itu, dia sudah mengirim pesan pada Arda.


"Eri. Jemput aku sekarang," ucap Sya.


"Apa ada masalah lagi?" tanya Eri yang merasa curiga.


Sya diam. "Tidak ada. Aku hanya ingin kerumah saja. Aku merindukan ibu," kata Sya.


Arda masuk ke dalam kamar. Dia mengambil ponsel Sya dan melemparkannya begitu saja. Dengan mata yang penuh amarah Arda mendorong tubuh Sya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Sya yang mencoba bangun dari lantai.


"Kau selalu seperti ini Sya. Setiap ada masalah kau pasti akan lari dariku. Kau kira aku bisa kau bodohi lagi?"


Sya tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Arda.


"Kau sendiri kenapa? kau bahkan tidak tahu apa yang terjadi antara aku dan Aila. Lalu dengan seenaknya kau mengira aku yang salah."


"Kau bukan anak kecil lagi Sya. Hadapi masalahmu."


Sya diam. Dia tidak tahu apa penyebab Arda berubah dan berbuat kasar padanya. Tanpa Sya sadari, Sya masih mengelus sikunya yang sakit karena didorong sampai jatuh.


"Aku tahu, aku memang kekanak-kanakan, tapi setidaknya kau katakan Arda. Apa yang aku lakukan hingga membuatmu marah padaku."


Perlahan Sya mengambil foto itu. Sya membelalakan matanya saat melihat foti itu. Beberapa kali Sya menggeleng dengan keras.


"Kau dapat dari mana foto ini?" tanya Sya pada Arda. "Apa ini alasanmu marah padaku?"


Arda diam.


Entah siapa yang membuat foto itu. Foto dimana Sya dan Jovi tidur bersama. Bahkan, tanpa busana. Pantas saja Arda begitu marah padanya.


"Apa kau meyakini foto ini?" tanya Sya dengan tangisnya yang pecah.


Arda masih tidak menjawab.


"Jika kau mengira hal ini nyata. Terserah. Aku hanya ingin mengatakan padamu. Aku mencintaimu dan tak mungkin melakukan hal gila ini."


Arda malah membuang muka. Hal itu membuat hati Sya semakin hancur. Fitnah foto itu sudah mampu membuatnya menangis. Kini, suaminya sendiri bahkan tidak ingin menatapnya.


"Jika kau berani pergi dari rumah ini. Itu tanda jika kau memang melakukannya dengan Jovi si keparat itu."


"Apapun yang kau minta akan aku lakukan."

__ADS_1


Setelah itu Arda pergi meninggalkan kamar Sya. Arda sendiri yang mengunci kamar Sya dari luar. Beberapa kali Sya mencoba membuka tapi dia tidak bisa. Akhirnya Sya pasrah. Dia duduk di kamar itu. Kamar yang terasa dingin dan sunyi.


***


Aila tersenyum puas dengan apa yang dia dan Jovi lakukan. Foto itu berhasil membuat Arda marah dan enggan menyentuh Sya. Niat Jovi dan Aila akan semakin dekat dengan tujuan.


"Aku sudah melakukannya. Ternyata dia percaya begitu saja tanpa mengeceknya," kata Jovi dari seberang telfon.


"Aku tahu. Kehamilan palsuku ini juga berhasil menyita sedikit waktu Arda. Tinggal beberapa langkah lagi dan kita sampai ditujuan," kata Aila.


Jovi terdengar tertawa. Apa lagi saat ini dia sudah berhasil cerai dengan Mila. Tanpa Arda sadari, Jovi sudah berhasil mengambil harta yang dimiliki Mila. Jovi juga menyakiti kakaknya itu.


"Sudah dulu. Arda datang kemari," kata Aila dan langsung mematikan telfonya.


Dia mendekat pada Arda yang masih terlihat marah.


"Arda. Kenapa kau menguncinya di dalam. Kasihan dia," kata Aila.


"Bukan urusanmu."


Aila terus mengimbangi langkah Arda.


"Arda. Kau seharusnya mencari kebenarannya dulu. Mungkin saja itu foto palsu."


Arda berbalik badan dan langsung membuat Aila terhenti dari langkahnya. Aila menurunkan pandangannya.


"Jika foto itu palsu. Tidak mungkin Jovi datang padaku sendiri."


Aila hanya diam dan membiarkan Arda masuk ke dalam ruang kerjanya. Di dalam ruang kerja Arda menyobek semua foto itu. Dia benar-benar merasa kecewa dengan apa yang sudah Sya lakukan.


Dia kembali teringat dengan datangnya Jovi ke kantor. Dia datang dengan aura yang berbeda. Tidak ada rasa takut seperti biasanya. Sampai Jovi memberikan amplop berisi foto itu.


"Kau jangan mencoba membohongiku," kata Arda.


Jovi tersenyum sinis. "Jika aku membohongimu. Aku tidak akan berani kesini."


"Selama ini dia selalu bersamaku. Tidak mungkin kau bisa menyentuhnya."


"Apa kau lupa dengan apartemen dimana aku dan Sya tinggal. Aku lebih dulu mengenalnya Arda."


Arda diam. Dia ingat saat menjemput Sya di apartemen milik Jovi. Hal itu membuat Arda yakin jika foto itu adalah foto sebenarnya. Bukan kepalsuan.


***

__ADS_1


__ADS_2