
Kembali Sya terbangun dengan perasaan tidak tenang. Melihat jam dinding yang baru saja menunjukan pukul 01.00 WIB membuat Sya hanya bisa diam di dalam kamar.
Tangannya meraih ponsel, berharap jika ada yang memberi kabar tentang Arda. Hanya saja, tidak ada pemberitahuan apapun diponsel itu. Akhirnya Sya mengambil gelas untuk minum.
Rasa kantuk yang sudah lenyap membuat Sya memilih duduk didekat jendela. Dia memandang kearah sisi lain hotel. Terlihat lampu-lampu yang bersinar dengan terang.
Banyak orang yang masih berada diluar. Baru kali ini Sya melihat hal ini. Biasanya, saat Sya tidak bisa tidur dia akan memilih membaca novel atau buku apapun.
Tidak kali ini. Sya beranjak dari duduknya, dia mengambil sebuah mantel hangat agar bisa keluar tanpa rasa kedinginan. Tidak lupa, dompet dan ponsel dia bawa disaku. Takut jika terjadi sesuatu.
Perlahan Sya membuka pintu kamar. Dia menoleh kekanan dan kekiri. Dia melihat siruasi apa ada yang melihatnya atau tidak.
Lorong itu begitu sunyi. Hanya lampu yang menyala dengan terang. Sya bernafas dengan lega, bagaimana tidak. Dia akan keluar tanpa Mira. Jika Mira tahu, dia akan langsung melaporkannya pada Ruka.
***
Begitu sampai diluar gedung. Sya menghela nafas lega. Dia bisa keluar tanpa ada pengawasan. Malam ini Sya merasa bebas. Tidak ada yang bisa mencegahnya.
Langkah kaki Sya entah akan mengantarkannya kemana. Dia hanya terus melangkah sembari melihat-lihat. Sampai disebuah cafe yang terlihat unik.
Mata Sya hanya memandang. Ingin masuk tapi dia tidak tahu makanan apa saja yang ada disana. Sampai beberapa muda mudi keluar dari sana. Salah satu dari mereka terlihat mabuk.
Akhirnya Sya mengurungkan niatnya untuk datang ke cafe itu. Dia memilih untuk melanjutkan jalannya. Dia terus berjalan, tanpa sadar ponselnya jatuh.
Sya tidak menyangka jika saat malam hari suasana dikota masih saja ramai. Walau beberapa kali Sya harus berpapasan dengan orang yang sedang mabuk.
Sampai akhirnya Sya sampai disebuah gang kecil. Dia menoleh kekanan dan kekiri, tapi tidak ada orang. Suasana begitu sepi, Sya merasa ada yang salah.
Dengan tangannya Sya mencari ponsel disakunya. Beberapa kali dia mencari namun tidak ada hasil. Sya benar-benar sudah tersesat kali ini.
"Aku harus bagaimana? Kekiri atau kekanan?"
Tidak berapa lama Sya melihat bayangan beberapa orang. Ada rasa lega karena dia bisa bertanya. Saat Sya mendekat, dia sadar mereka bukanlah orang biasa. Mereka sedang mabuk.
Tidak ingin terlibat masalah, Sya melangkah mundur dan, krak. Sya menginjak sesuatu. Hal itu membuat para pemabuk itu menoleh.
"Gadis cantik, apa yang kau lakukan disini?" Tanya seorang pria dengan codet diwajahnya.
Sya terus berjalan mundur. Sampai saat mereka sudah benar-benar dekat. Beberapa kali Sya berhasil menghindar dari sentuhan para pria itu. Tapi tidak untuk yang kesekian kali, seorang pria yang bertubuh tinggi berhasil menangkap tangan Sya.
"Apa yang kalian lakukan. Lepaskan aku," kata Sya sembari berontak.
Tiga pria itu tertawa. Saat mereka akan menyentuh bagian lain dari Sya. Seorang pria muncul dan menghajar para pemabuk itu. Dalam kegelapan, Sya tidak bisa melihat siapa dia.
"Terima kasih," ucap Sya saat pria itu mendekat padanya.
Pria itu tidak berkata apapun. Dia hanya menarik tangan Sya sampai keluar dari gang. Cahaya mulai menyinari mereka. Sya bisa melihat sosok yang menyelamatkannya. Lufas.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kau disini? Apa Mira tahu jika kau keluar."
"Dia tahu. Aku sudah mengatakan padanya jika aku akan jalan-jalan."
"Benarkah?"
Sya hanya diam saat Lufas menatapnya dengan serius.
"Jika terjadi apa-apa padamu. Bukan hanya Mira, aku juga akan terkena masalah. Lain kali jika kau akan keluar. Berpamitlah."
"Kau bukan kakakku atau orang tuaku. Jadi, tidak usah memarahiku."
Lufas hanya diam sembari memperhatikan tingkah Sya.
"Apa kau tahu? Aku pernah menikah dan akhirnya bercerai. Jadi, aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau marahi dan kau kekang. Lagi pula, kita tidak memiliki hubungan apapun."
Setelah mengeluarkan kekesalannya itu. Sya pergi begitu saja dari hadapan Lufas. Lufas mengeluarkan ponselnya. Dia menelfon seseorang malam itu.
Sementara itu, Mira sedang menunggu kembalinya di depan kamar Sya. Dia juga baru saja mendapat telfon dari Ruka sebelum Sya datang.
Sya keluar dari lift dengan raut wajah kesal. Bahkan dia tidak menyapa Mira. Saat ini, Mira hanya diam dan memilih untuk kembali kekamarnya.
"Bagaimana dia?"
Mira berbalik badan. Dia melihat Lufas berada di pintu kamar Sya.
"Tidak apa. Malam ini kau bisa istirahat."
Mira masuk ke dalam kamarnya. Sementara Lufas pulang keapartemennya. Dia membiarkan Sya sendiri dan memikirkan apa yang dia baru saja lakukan.
***
Pagi itu Sya baru saja selesai mandi. Saat dia mendengar berita di TV. Dia melihat Aila yang sedang diwawancara.
Tangan Sya kembali melilitkan handuknya dan mendekat kearah TV. Dia benar-benar kaget dengan adanya Aila. Bagaimana bisa Aila keluar dari dalam penjara secepat itu.
Mau bertanya, tapi pada siapa. Dia bahkan tidak memiliki ponsel saat ini. Rasa kesal muncul, kembali rasa cemburu menguasai Sya. Kali ini, tidak ada siapapun selain Aila disamping Arda.
Tok tok tok.
"Masuk," kata Sya.
Mira masuk dengan seorang pelayan yang membawa makanan. Sya bahkan tidak menoleh pada Mira. Sampai akhirnya Mira ikut menoleh pada layar TV.
"Nona, makanan sudah siap," kata Mira mencoba mengalihkan perhatian Sya.
"Kau pergi saja. Aku akan memakannya."
__ADS_1
Mira mengangguk lalu keluar dari kamar. Tidak lama Lufas masuk ke kamar Sya. Sya masih diposisi yang sama.
"Sudah aku bilang kau keluar saja," kata Sya.
"Ini aku, Lufas."
Sya menoleh. Dia masih marah pada Lufas atas kejadian tadi malam. Sya mencoba untuk tidak menghiraukan Lufas. Sampai saat Lufas menyodorkan sebuah ponsel.
"Apa ini?"
"Apa lagi. Itu ponsel milikmu."
"Milikku?" Tanya Sya.
"Ya."
Sya dengan senang mengambil ponsel itu. Dia lalu duduk untuk sarapan. Lufas masih diposisi yang sama. Hanya saja matanya menatap kelayar kaca.
"Kenapa kau masih disini?"
"Apa dia istri dari Arda?"
Sya tidak menjawab.
"Maksudku. Dia adalah istri kedua dari Arda."
"Untuk apa kau bertanya. Kau bahkan tidak memiliki urusan tentang hal itu."
Lufas ikut duduk. "Lalu untuk apa kau melihatnya. Bukankah kau dan Arda sudah tidak ada hubungan."
"Bukan urusanmu."
Terlihat jelas jika Sya semakin marah. Apa lagi saat Lufas bertanya tentang Arda. Mengingatkan dirinya bukan lagi milik Arda. Hal itu sangat mengganggu bagi Sya.
"Keluar."
"Sya lupakan masa lalumu. Katamu kau bukan anak kecil lagi. Jadi terimalah kenyataan."
"Kenapa kau jadi mengurusku sampai seperti ini?"
"Karena kau tanggung jawabku saat ini."
Mendengar hal itu Sya hanya bisa diam. Ruka yang sudah meminta Lufas untuk menjaganya. Jika dia menolak, sudah pasti Lufas akan mengatakan pada Ruka.
"Aku akan menurutimu. Jadi, biarkan aku sarapan sendirian."
Lufas hanya menghela nafas. Dia berdiri dan keluar dari kamar Sya. Kali ini Sya tidak bisa berbuat apapun. Rasa cintanya harus kembali dia kubur.
__ADS_1
Padahal alasan Sya mau pindah ke kota D karena ingin bertemu Arda tanpa sepengetahuan Ruka. Kini semua rencana ity berakhir sudah.