
Malam sudah semakin larut, tapi suasana pesta masih saja begitu meriah. Anna terlihat lelah, tapi tidak bisa mengatakannya pada Tom. Tom pasti tidak suka dengan hal itu.
Anna memilih duduk di samping Tom yang masih setia berbincang dengan teman-temannya. Anna hanya tersenyum sesekali.
"Apa yang kau suka dari Tom dan meninggalkan Lufas?" Tanya seorang teman.
Anna diam, tanpa sadar dia melirik kearah Lufas.
"Apa dia tidak lagi kuat di atas ranjang?" Tanyanya lagi.
"Bukan. Aku hanya memilih orang yang mencintaiku."
Jawaban itu membut teman-teman Tom tertawa. Bagi mereka cinta itu tidak ada, yang ada hanya uang dan kekuasaan.
Anna kembali melirik pada Lufas. Terlihat dia sedang berjalan mendekati Sya yang duduk di sebuah sofa. Sya sedang memegang sebuah minuman.
"Apa kau meminum ini?" Tanya Lufas sembari menunjuk ke gelas Sya.
Sya menggeleng.
Lufas pun mengambil gelas dari tangan Sya. Dia meminumnya sampai habis. Setelah itu duduk di samping Sya.
Tanpa memikirkan yang lain, Sya menyandarkan kepalanya pada Lufas. Lufas mengelus kepala Sya dengan begitu lembut.
Tanga Anna mengepal dengan sangat erat. Rasa cemburu di hatinya begitu kuat, tapi tidak mungkin dia mengungkapkannya. Lufas tidaka pernah memperlakukannya seperti itu. Kini, dia harus melihat Lufas harus sebaik itu pada wanita yang lain.
"Ada apa denganmu?" Tanya Tom.
Anna langsung menoleh ppada Tom. Dia merubah ekspresinya menjadi tersenyum bahagia.
"Apa bisa kita sudahi pesta ini? Aku lelah," ucap Sya.
"Lelah?"
"Ya."
Tom memeluk pinggang Anna. Dia membawaAnna masuk ke dalam kamar. di dalam kamar yang kedap suara itu Tom langsung mendorong Anna. Anna tersungkur, dia mencoba untuk berdiri, tapi Tom mendekat dan mencengkeram ke dua pipi Anna.
"Aku tahu kau tidak lelah. Sejak tadi kau hanya menatap Lufas. Aku suamimu, setidaknya hargai aku."
Anna menelan ludah.
"Aku akan hentikan pesta ini. Kau harus tahu posisimu saat ini. Kau milikku," kata Tom.
Lufas masih membiarkan Sya bersandar ditubuhnya. Dengan ini, Sya merasa lebih nyaman.
Tidak lama sebuah suara muncul dipengeras suara. Dia mengatakan jika pesta ini sudah berakhir. Para tamu bisa kembali ke rumah masing-masing.
Sya menyambut bahagia pengumuman itu. Dia akan terbebas dari rasa bosan di dalam pesta itu. Lufas hanya tersenyum melihat tingkah istri cantiknya itu.
Mereka keluar dari aula vila dan menuju ke mobil. Saat sebuah suara terdengar memanggil Sya dan Lufas.
Lufas terlihat tidak sennag saat melihat Tom mendekat padanya. Seharusnya Tom sadar jika tatapan Lufas sudah mengusirnya sejak tadi.
__ADS_1
"Apa kau yang bernama Sya?" Tanya Tom.
Sya mengangguk.
"Bisakah kita bicara berdua."
Sya menoleh pada Lufas.
"Tidak bisa. Dia haus embali," kata Lufas.
Tom tersenyum. "Ayolah, Fas. Aku tidak berminat dengan milikmu, selain yang datang padaku."
Mendengar percakapan mereka. Sya tahu, hubungan Lufas dengan Tom tidak begitu baik.
"Bisa kita bicara berdua?" Tanya Tom pada Sya lagi.
"Kau bisa mengatakannya disini. Aku tidak merahasiakan apapun dari suamiku," kata Sya.
Lufas menarik pinggang Sya agar semakin dekat dengannya. Hal itu dilakukan Lufas agar Tom tidak mencoba mendekati Sya.
"Baiklah. Aku akan mengatakannya."
"ya, katakan saja."
"Jaga suamimu. Istriku masih menginginkannya," kata Tom.
Sya terlihat bingung dengan apa yang dimaksud Tom. dia menatap Lufas, Lufas hanya diam. lalu, Lufas meminta Sya untuk masuk lebih dulu ke dalam mobil.
Dengan patuh Sya masuk ke dalam mobil. Lufas dan Tom terlihat saling pandang. Lufas mendekat pada Tom, dia terlihat mengatakan sesuatu. wajah Tom berubah marah, lalu pergi dengan kesal. Sya tahu, Lufas mengatakan hal yang tidak baik.
"Ada apa?" Tanya Lufas.
"Apa yang kau katakan pada Tom. Dia terliihat marah," Tanya Sya.
Lufas mengusap rambut Sya dengan perlahan. "Kau tidak perlu tahu. In urusan bisnis."
Sya akhirnya diam. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada kata yang membuat mobil itu hangat. Yang ada hanya kesunyian.
***
Sampai di apartemen. Sya mengganti bajunya, dia langsung bersiap untuk tidur. Sementara Lufas masuk ke dalam ruang kerja. Dia mengatakan jika akan mengerjakan pekerjaan yang tertunda.
"Tidurlah lebih dulu."
"Aku tahu," jaab Sya.
"Aku mencintaimu," kata Lufas sembari mencium kening Sya.
"Aku juga."
Setelah itu Sya masuk ke dalam selimut. Dia pasti akan langsung terlelap, karena sejak di pesta di ammmemang sudah merasakan kantuk.
Lufas masih menatap laptopnya. Dia melihat semua emaill yang masuk. Berharap ada informasi yang dia inginkan, tapi belum ada. Lufas mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
__ADS_1
"Kenapa masih belum ada hasil?" tanya Lufas.
"Maaf, anak buah Tom sangat sulit di suap."
"Lakukan sebisamu dan secepat mungkin."
"Baik."
Lufas mematikan telfon itu. Dia memikirkan Anna yang saat ini berada di sisi Tom. Entah apa yang Anna lakukan sampai bisa masuk ke penjara indah itu.
Lufas hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mencintai Anna lagi, hnya Anna hampir tahu semua rahasia mafia Lufas. Anna bisa saja mengatakan semuanya pada Tom. Tom akan sangat mudah mengalahkannya.
Belum lagi dengan cara Tom yang pastinya akan melukai Anna. Baik secara fisik maupun mental. Lufas hanya merasa kasihan dengan Anna. Hanya itu.
Ben mengirim sebuah meail pada Lufas. Isinya tentang perluaan kekuasaan di kota X. Hal itu membuat Lufas tersenyum bangga. Sudah beberapa hari ini Lufas tidak mengurus gng mafianya.
Ben berhasil membuat Lufas percaya. Lufas akan segera pergi dari dunia itu, kemungkinan besar Ben lah yang akan meneruskannya. Sampai saat yang Ben inginkan.
Walau masih tetap dalam pengawasa Lufas. Tom tidak boleh tahu, jika Lufas berniat mengundurkan diri. Jika tahu, dia akan langsung menyerang.
"Aku bangga padamu," kata Lufas dalam sebuah voice note.
Ben tersenyum begitu mendapat voice note dari Lufas. Sebenarnya dia berniat menelfon Lufas malam ini, namun niat itu dia urungkan. Dia tahu, Sya lebih membutuhkan Lufas saat ini.
***
Lufas kembali ke dalam kamar. Dia melihat Sya yang masih duduk dengan buku di tangannya. Dengan pelan Lufas duduk di samping Sya. Dia mengambil buku dari tangan Sya.
Sya terkejut dan langsung menatap pada Lufas. Dia tidak tahu jika Lufas sudah kembali ke kamar.
"Apa urusanmu sudah selesai?" Tanya Sya.
Lufas meletakan buku itu.
"Ya. Kenapa kau belum tidur?"
"Aku mimpi buruk."
"Tentang apa?"
Sya menundukan kepalanya. "Tentang kau," lirih Sya.
"Apa aku menyakitimu?"
"Tidak," Sya menggelengkan kepalanya, "Kau hany hilang dariku."
Lufas memegang tangan Sya. Sya mendongakkan kepalanya menatap Lufas.
"Aku bukan hantu yang bisa hilang begitu saja. Kau tenang saja, aku akan selalu ada untukmu."
"Kau janji?"
Lufas mengguk dengan penuh semangat. Malam itu, Sya merasa begitu sakit. Padahal Lufas berada di sampingnya, tapi dia merasa Lufas jauh dari hidupnya. Hal itu Sangat tidak menyenangkan.
__ADS_1
***