The Way Love

The Way Love
LVIII


__ADS_3

Hampir satu minggu Sya berada di rumah Ruka. Dia merasa sangat merepotkan dirumah itu. Bahkan, Sya sangat diawasi. Ruka tidak ingin jika Sya sampai terkena apa-apa. Apa lagi kandungannya.


Seperti siang ini. Sya meminta jus buah pada Mira. Tentunya tanpa bisa mengatakan tidak. Mira bergegas kedapur dan meminta koki rumah untuk membuatkan jus yang diminta.


Sementara Sya duduk dengan buku ditangannya. Tidak butuh menunggu lama. Jus itu akhirnya sampai juga ketangan Sya.


"Terima kasih," ucap Sya.


"Sama-sama, Nona."


Melihat jus itu, air liur Sya hampir menetes. Diapun langsung membawanya mendekati bibir. Sampai


"Tunggu."


Sya dan Mira menoleh secara bersamaan. Mereka melihat Ruka yang masuk dengan tergesa dan langsung mendekat padanya. Ruka mengambil gelas jus itu dan menciumnya.


"Ganti jus buah yang lain," kata Ruka pada Mira.


"Baik, Tuan."


Sya menatap Ruka dengan tidak senang. "Kak. Ini hanya jus, kenapa aku tidak boleh meminumnya."


"Ini jus nanas. Kau tahu bukan, ibu hamil tidak boleh memakan nanas."


Kali ini Sya hanya bisa menghela nafas. Dia mengira hanya seorang ibu yang akan mengawasinya dalam hal ini. Ternyata tidak, kakaknya yang seorang pria juga mengawasinya.


"Kak. Tidak masalah aku memakannya. Asalkan tidak kebanyakan."


"Jika aku bilang tidak. Tidak."


"Baiklah, Kak."


Mira kembali dengan dua gelas jus kali ini. Satu jus buah naga dan satu lagi jus jambu. Ruka mengambil dua gelas itu dan menyodorkan pada Sya.


"Untuk kakak saja. Aku sudah tidak menginginkannya."


Sya pergi begitu saja setelah mengatakannya. Ruka hanya bisa diam. Jelas sekali jika adiknya itu sedang marah padanya. Hanya karena jus nanas.


Tangan Ruka mengembalikan dua gelas jus itu kenampan yang berada ditangan Mira. Lalu dia mengambil ponsel dalam saku celananya. Dia menelfon seseorang.


"Mira. Setelah ini akan ada dokter kandungan kerumah. Aku ingin kau belajar darinya, apa yang tidak baik untuk Sya. Dan apa yang baik untuknya."


"Baik, Tuan."


"Aku tidak ingin ada kesalahan. Kau adalah pelayan pribadinya."


Mira mengangguk. Lalu dia berpamitan untuk pergi kedapur. Kali ini, hanya karena Sya meminta jus. Hasilnya adalah Mira harus belajar dari seorang dokter.


***

__ADS_1


Langkah kaki itu terlihat cukup cepat. Bahkan terlihat seperti berlari. Hal itu membuat beberapa orang yang melihatnya menoleh dan penuh tanya.


Ya, baru kali ini Arda terlihat begitu gelisah. Dia bahkan tidak menggunakan lift untuk kelantai ruangannya. Dia memilih menaiki tangga.


Tentu saja hal itu membuat beberapa karyawan yang melihatnya kaget. Bahkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban muncul diseluruh kantor.


"Apa mungkin ada seorang wanita yang mau bunuh diri lagi?"


"Tidak mungkin. Mungkin Pak Arda sedang mengalami masalah serius."


"Apa?"


"Mana kutahu."


Itu adalah percakapan beberapa karyawan Arda. Mereka tidak tahu jika saat ini diruangan Arda ada orang yang sedang menunggu sang pemilik perusahaan.


Dia membawakan sebuah kabar. Bukan kabar mengenai perusahaan itu, tapi mengenai istri sang pemilik perusahaan.


Brak. Arda membuka pintu masih dengan nafasnya yang terengah-engah. Pria yang sedang duduk dikursi berdiri dan mendekat padanya.


Pria itu adalah pria yang sama. Pria yang datang kerumah Arda dan berdiskusi diruang kerja Arda.


"Apa Pak Arda baik-baik saja?" tanya Pria itu.


"Aku tidak apa-apa. Katakan saja, aku hanya ingin mendengar laporanmu."


Arda mengambil segelas air putih dan langsung meminumnya. Setidaknya, air putih itu mampu membuat Arda lebih tenang.


"Jadi, kalian juga menganggap istriku berhianat?"


Pria itu terlihat gelagapan. "Bu...bukan seperti itu. Kami hanya tidak bisa menangani kasus ini lagi. Lebih baik bapak mencari orang lain saja."


"Kalian adalah orang pilihan. Bagaimana bisa kalian melakukan hal ini padaku."


"Maafkan kami, Pak Arda."


Mau tidak mau Arda harus menerima kenyataan itu. Dia harus mencari orang lain yang lebih handal dalam hal itu, tapi siapa.


"Ini, bawalah sisa pembayaran ini," kata Arda.


"Kami tidak bisa menerimannya. Kami tidak menyelesaikan kasus ini, Pak."


"Tidak masalah. Aku akan mencari orang lain, tapi terimalah ini."


Pria itu menerima sisa pembayaran yang diberikan Arda. Lalu, dia pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Arda dengan rasa kecewa yang sangat mendalam. Dia tidak tahu, jika pria itu juga berhianat padanya.


Pria itu turun dan langsung pergi dari kantor Arda. Dia pergi menuju kesebuah restoran. Seseorang sudah menunggu laporan penting yang dia bawa.


Beberapa kali pria itu hanya bisa menahan rasa kagumnya. Dia melihat restoran yang begitu mewah. Dia berfikir pasti yang menggunakan jasanya kali ini ini bukanlah orang biasa.

__ADS_1


"Bagaimana?"


Pria itu duduk dengan perasaan yang campur aduk. Dia bahkan tidak menjawab pertanyaan yang Jovi berikan.


"Apa Arda marah besar?" Tanya Jovi.


Pria itu menggeleng. "Pak Arda tidak marah. Dia bahkan melunasi uang pembayaran."


"Dasar pria bodoh," ucap Jovi, lalu dia tertawa.


Pria itu hanya diam sembari menatap Jovi yang sedang melahap makanan mewah.


"Ini bayaranmu. Kau sudah bekerja dengan baik. Kau patut dibayar lebih," kata Jovi sembari menyodorkan sebuah amplop berisi uang.


"Terima kasih," ucap Pria itu.


"Sama-sama. Kau bisa pergi sekarang. Ingat, jangan sampai ketahuan siapapun kau bekerja untukku."


"Siap, Pak."


***


Wajah Arda terlihat pucat. Dia duduk disebuab bar dengan rokok ditangannya. Beberapa kali dia meminum minuman yang dia pesan. Bukan minuman beralkohol tentunya.


Arda sudah berjanji pada Sya. Dia tidak akan meminum minuman beralkohol lagi. Walau dia masih melanggar tentang janji untuk tidak merokok.


Terlihat jelas jika saat ini Arda merasa kecewa, marah, menyesal. Perasaan itu bercampur menjadi satu. Hal itu membuat senyuman Jovi mengembang.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan bukti?" Tanya Jovi.


Arda hanya melirik. Dia enggan untuk menjawab pertanyaan Jovi.


"Seharusnya kau percaya sejak awal. Anak dalam kandungan Sya itu milikku. Hanya saja, aku masih membutuhkan waktu untuk mendapat restu dari Ruka."


Craaaang. Arda melemparkan gelas kehadapan Jovi. Dia sengaja melakukan hal itu dan tidak ingin melukai Jovi. Dengan langkah pelan, Arda mendekat pada Jovi.


"Apa kau pikir aku akan diam? Tidak. Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku pasti akan menemukan bukti."


Jovi hanya bisa tertawa kecil. Dia kira Arda sudah pasrah dan menyerah tentang Sya. Kini dia melihat semangat lain dari wajah Arda. Hal itu sedikit membuatnya gugup.


"Kau sudah menghamili Aila. Aku yang menikahinya, jadi aku juga bisa menerima Sya. Walau dia mengandung anakmu."


Kali ini Jovi tertawa dengan cukup keras.


"Tanpa sadar kau sudah mengatakan jika kau menyukai barang bekas milikku Arda."


Buk. Sebuah pukulan mendarat diwajah Jovi. Arda tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Jovi. Dia menikahi Aila karena terpaksa, tapi dia menikahi Sya karena sebuah cinta.


Perkelahian itu berlangsung sengit. Sampai beberapa orang penjaga bar itu datang. Mereka memisahkan Arda dan Jovi yang sudah sama-sama terluka.

__ADS_1


***


__ADS_2