The Way Love

The Way Love
XLIV


__ADS_3

Kamar mandi itu terlihat bersih, walau begitu air mengalir dimana-mana. Seseorang sedang duduk termenung di pojok. Dia terlihat kacau dengan rambut yang berantakan.


Sebuah test pack dia pegang dengan tangan bergetar. Air mata terus mengalir diwajahnya. Maskara yang dia pakai kini sudah hilang, make up yang biasa dia kenakan kini tidak ada.


"Kenapa aku bisa melakukan hal bodoh semacam ini. Bagaimana jika dia menolak," lirihnya.


Tok tok tok.


Suara pintu yang diketuk membuatnya terkesiap. Dia mencoba untuk menyembunyikan test pack itu. Tubuhnya bergetar hebat. Dia tidak tahu harus apa lagi saat ini.


"Aila. Keluarlah, ini sudah siang dan kau harus ke kantor."


"Se...sebentar," teriak Aila dengan nada bergetar.


"Cepatlah, semua orang sudah menunggumu untuk sarapan."


Dengan langkah gontai Aila keluar dari kamar mandi. Dia melihat kamarnya yang begitu berantakan. Ya, dia sendiri yang mengacak-acak tempat itu.


Rasa mual kembali muncul. Aila memukul beberapa kali kearah perutnya. Setelah dia merasa cukup tenang. Dia memakai baju yang cukup tertutup.


"Ma, aku akan langsung ke kantor," kata Aila begitu bertemu dengan mamanya.


Mamanya mendekat dan langsung meletakan tangannya di dahi Aila.


"Apa kamu sakit? kamu terlihat pucat."


"Ma. Aku tidak apa-apa. Aku pucat karena tidak memakai make up seperti biasanya."


Mama Aila tersenyum dengan lembut. Setelah itu, Aila mengecup pipi mamanya. Dia pergi dari rumah dengan mobil yang dia bawa sendiri. Dia akan menemui Arda untuk meminta tolong.


***


Tangan Sya masih saja memeluk tubuh Arda pagi itu. Suasana romantis masih menyelimuti kamar hotel itu. Sampai dering telfon Arda membuatnya terbangun.


Sya yang malas membuka mata lebih memilih merubah posisinya sementara Arda mengangkat telfon. Dia melihat nama Aila yang tertera disana.


"Halo. Ada apa Aila?" tanya Arda.


Mendengar nama Aila yang disebut Sya langsung membuka matanya. Dia mendekat dan ikut mendengarkan apa yang Aila bicarakan.


Terdengar isak tangis dari seberang sana. Sudah jelas jika Aila saat ini sedang menangis. Bukan air mata buaya, air mata yang benar-benar jatuh karena luka.


"Ada apa Aila?" tanya Arda lagi.


"Apa kita bisa bertemu?" tanya Aila di tengah tangisnya.


Arda tidak langsung menjawab. Dia menoleh pada Sya yang menggelayut manja di lengannya. Sya mengangguk sebagai tanda setuju.


"Kita bertemu di cafe dekat kantorku."


"Baiklah. Aku tutup dulu telfonya."


Tuut tuuut tuuut. Aila menutup telfon, Arda meletakan kembali ponselnya. Lalu dia beralih pada Sya kembali. Dia melihat Sya kali ini berbeda, tidak ada cemburu di matanya.


"Biasanya kau akan marah jika Aila menelfon."

__ADS_1


"Ini berbeda. Aila pasti sangat membutuhkanmu saat ini. Temuilah dia, aku tidak akan mengganggu."


Arda mengusap kepala Sya dengan lembut. Sebuah kecupan dia layangkan kebibir Sya.


"Aku akan menunggu di rumah."


"Ya."


Sementara itu, Aila sudah berada di cafe yang dimaksud oleh Arda. Dia memesan sebuah jus buah, padahal dia biasanya memesan kopi untuk harinya.


Mata Aila menatap orang yang sedang berlalu lalang. Ada yang terlihat bahagia, ada juga yang terlihat sedang memiliki masalah. Beberapa kali Aila meremas perutnya, dia merasa sangat menyesal dengan apa yang terjadi.


Beberapa pesan masuk ke dalam ponsel Aila. Benar saja, orang yang selama ini bersama dirinya memilih pergi ke luar negeri. Dia menghindar dari masalah yang sudah dia buat.


Tes tes tes. Kembali air mata Aila terjatuh. Jika sudah seperti ini, Aila tidak tahu harus melakukan apa. Meminta bantuan pada Arda juga akan percuma.


"Maaf, aku lama," kata Arda yang langsung duduk di meja yang sama dengan Aila.


Aila menghapus air matanya dan tersenyum.


"Apa ada masalah?" tanya Arda.


Diam. Aila hanya diam dan tidak tahu harus berkata apa. Jika dia mengatakannya, Arda juga akan marah pastinya.


"Katakan Aila. Jangan buat aku khawatir."


Aila merogoh tasnya dan mengambil sesuatu. Lalu dia meletakannya di atas meja. Arda tahu jika benda itu adalah alat tes kehamilan. Dengan tangan gemetar Arda mengambil benda itu. Dua garis yang terlihat.


"Apa ini benar?" tanya Arda dengan mata tajam.


"Siapa yang melakukannya?" kali ini nada suara Arda sudah berbeda.


Aila masih tetap diam.


"Katakan Aila."


"Dia...dia..."


Mendengar nama yang disebut oleh Aila membuat Arda berdiri dan langsung memukul meja. Dia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang terjadi.


"Kenapa kau mau dengannya."


"Aku sedang kacau karena kau memilih Sya. Aku tidak sadar jika aku melakukan hal itu dengannya."


"Kau bilang tidak sadar? lalu kenapa kau sampai hamil."


Air mata terus membasahi wajah Aila. Dia menunduk merasa sangat malu pada Arda dan pada dirinya sendiri. Kini, dia juga harus menanggung anak di dalam rahimnya.


"Jika dia yang melakukannya. Kau harus menemuinya, biarkan dia bertanggung jawab."


"Tapi aku mencintaimu," ucap Aila.


Arda tidak menjawab.


"Semua ini karena kau menolakku." Aila mendekat pada Aila.

__ADS_1


"Apa aku yang menghamilimu?"


Aila terkesiap.


"Cari ayah anak ini dan menikahlah dengannya."


Setelah itu Arda keluar dengan wajah yang sangat kesal. Dia marah pada Aila, hanya karena cintanya di tolak. Dia rela melakukan hal gila, bahkan sampai hamil.


***


Lantunan musik masih terdengar saat Sya sedang menyiram tanaman di belakang. Sampai musik itu terhenti membuat Sya menoleh ke arah belakang. Arda datang dan langsung memeluknya dengan erat.


Sya melepaskan selang yang masih dialiri air. Dia membalas pelukan Arda. Tidak biasanya Arda bertingkah seperti itu, hal itu membuat Sya curiga jika Arda sedang ada masalah.


"Apa yang terjadi. Apa Aila melakukan hal aneh lagi?" tanya Sya.


"Dia bukan hanya aneh Sya. Dia sudah menghancurkan hidupnya sendiri." Arda masih tetap memeluk Sya.


Sya yang tidak paham memilih melepas pelukan itu dan menatap Arda.


"Apa yang terjadi padanya? apa dia sakit?"


"Dia hamil."


"Hamil?"


"Ya."


Mata Sya langsung berkaca-kaca. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Ka...kau yang sudah..."


"Sya. Jangan membuat aku tambah pusing."


"Dia hanya dekat dengan kau. Lalu siapa lagi," kata Sya dengan air mata yang sudah mulai mengalir.


"Yang menghamilinya adalah..."


Kali ini Sya lebih kaget dari pada tadi. Dia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.


"Tidak mungkin."


"Apanya yang tidak mungkin. Kini Aila sudah hamil dan dia malah datang padaku."


"Lalu maumu apa?" tanya Sya.


"Aku sudah memintanya pergi menemui pria itu. Dia akan segera menikah dengan bajingan yang menghamilinya."


"Lalu kenapa kau marah-marah dan terlihat kacau?" tanya Sya.


"Bagaimana aku tenang. Dia adalah teman dekatku dan aku tidak bisa menjaganya. Aku merasa sangat bersalah."


Sya tahu apa yang menjadi beban Arda. Melihat hal itu, Sya terus mencoba membujuk Arda dan menenangkannya. Bagaimanapun, Aila adalah teman Arda. Tidak seharusnya Arda memusuhinya karena kehamilan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2