
Langkah kaki Sya begitu terburu-buru. dia tidak tahu jika malam haripun dia harus datang saat Xiu membutuhkannya. Padahal sudah jelas jika malam hari adalah hal yang sangat dinanti oleh Sya. Dia akan menghabiskan semua waktunya dengan buku-bukunya.
Brak. Karena tidak fokus saat berjalan, Sya tidak sengaja menabrak seseorang. Mereka tanpa sadar saling bertatapan. Lalu sama-sama bungkam dengan apa yang mereka lihat.
"A...Ar...Arda." Sya bergetar sembari memanggil nama itu.
Arda yang tahu jika sudah ketahuan memilih untuk berpaling. Kaki Sya hampir melangkah saat seseorang menahan tubuhnya dengan sebuah pelukan.
"Aku kira kau sudah naik taksi," kata Lufas.
"Aku masih disini," jawab Sya.
setelah Lufas melepaskan pelukan itu. Sya menoleh, Lufas terlihat begitu khawatir kali ini. Mungkin itulah yang membuat dia datang dan langsung memeluk Sya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sya.
"Ben mengatakan padaku jika Xiu kembali memanggilmu. Aku akan mengantarmu."
"Bukankah kau juga sedang meeting. Aku tidak ingin mengganggu."
"Kau tidak menggangguku. Meeting itu tidak terlalu penting dibandingkan dengan dirimu."
Sya dibuat tersenyum dengan apa yang Lufas katakan. Setelah itu mereka masuk ke dlaam mobil. Mereka menuju ketempat Xiu mengingap.
Disisi lain. Arda masih menatap Sya yang sedang bercengkrma dengan Lufas. Jika tidak ada Lufas saat itu. Sudah pasti Sya akan mengejarnya dan menanyakan alasanya ada disana. hal itu akan sulit dia katakan.
Setelah kepergian Sya dan Lufas. Arda keluar dari persembunyianya. Saat bertatapan dengan Sya tadi, dia merasa kembali ke masa lalu. Saat awal bertemu dengan Sya. Saat mereka mulai memiliki hubungan. Hubungan yang awalnya hanya sebuah kepura-puraan.
"Aku sudah lama menunggumu."
Arda menoleh. Mira datang dengan senyuman. Dia juga langsung mengambil tas belanja di tangan Arda. Penuh dengan perhatian.
"Maaf. Tadi ada hal yang tidak terduga."
"Aku tahu, kau pasti bertemu dengan Sya. Bagaimana perasaanmu?"
Pertanyaann Mira membuat Arda tidak tahu harus menjawab apa. Jika Arda jujur, dia juga masih bingung dengan apa yang dia rasakan pada Sya. Saat bertemu, dia tidak merasakan degupan jantung seperti saat mereka memiliki hubungan. Hanya saja, Arda tahu jika rasa cintaya pada Sya masihlah ada.
"Kau tidak haruas menanyakannya Mira. Kau tahu, jantungku kini hanya milikmu."
Mira mengayunkan tas belanjanya. Dia tertawa kecil dengan ucapan Arda.
"Aku harap kau tidak bohong," kata Mira.
Arda mendekat pada istrinya itu. Perlahan tangan Arda menggenggam tangan Mira. Dia ingin membuat Mira merasakan cintanya. Walau hal itu sudah sangat terlambat.
***
Setelah selesai melakukan tugasnya meeting dengan Xiu malam itu. Sya memilih untuk tinggal dihotel itu selama semalam. Dia masih memikirkan pertemuannya dengan Arda yang mendadk itu. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan pada Arda.
Setelah apa yang terjadi. Sya masih tidak paham kenapa Arda tidak memberikan kabar. Padahal ingatannya sudah kembali sejak lama. Dalam hati Sya, dia masih berharap Arda akan datang dan menemuinya. Menjelaskan semuanya.
Tok tok tok.
"Siapa?"
Pertanyaan itu tidak ada yang menjawab.
Tok tok tok. Kembali pintu kamar itu diketuk oleh seseorang. Sya denga malas turun dari sofa dan melihat siapa yang datang.
Saat membuka pintu tidak ada siapapun. Sya menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang. Lorong itu sepi. Sampai mata Sya melihat kotak di depan kamarnya.
__ADS_1
Dengan penasaran Sya mengambi kotak itu. Nama pengirim tidak tertera disana. Hanya ada nama penerimanya, Syaheila. Akhirnya Sya membawa kotak itu masuk ke dalam. Dia membukanya dengan penuh penasaran.
Sebuah tas dengan warna biru tua. Tas yang tentunya bermerk dan mahal. Disana ada sebuah note. Saat membacanya Sya tersenyum sendiri. Lufa mengirim hadiah itu untuknya dengan kata-kata yang begitu romantis.
Sya tahu jika hal itu bukanlah kata-kata yang dikeluarkan oleh Lufas. Dia tidak bisa mengatakan hal romantis seperti itu. Walau begiu, hasilnya bisa membuat Sya tersenyum-senyum.
TErima kasih.
Sya mengirim pesan itu pada Lufas. Dia sengaja mengirim pesan karena ini sudah larut malam. Mungkin saja malam itu Lufas sudah tidur dengan lelapnya.
Tidak disangka. Lufasmasih sempat membalas pesan itu. Malam itu adalah malam yang sulit dikatakan untuk Sya dan Lufas. Mereka seperti anak remaja yang baru saja menemukan hatinya. semalaman mereka berkirim pesan dengan senyuman.
***
Wajah cerah mengfhiasi pagi Sya. Dia baru saja keluar dari dalam hotel saat melihat Lufas sudah berada di depannya dengan mobil. Padahal Sya tidak meminta untuk dijemput.
"Kau datang?" Tanya Sya dengan senyuman.
"Ya. Aku tidak mau kau naik taksi atau bertemu dengan temanmu Anna."
Sya tersenyum. Mereka tidak sadar jika Xiu sudah berada dibelakang mereka.
"Pasangan yang romantis."
Lufas dan Sya menoleh secara bersamaan.
"Bu Xiu," ucap Sya.
"Kak Xiu," panggil Lufas.
"Kalian bisa sama-sama memanggilku Kak Xiu. Oh ya, kenapa kau meminta Sya yang menemuiu. Bukan dirimu sendiri?" Tanya Xiu pada Lufas.
Xiu tersenyum dan menatapnpada Sya. "Apa karena istrimu yang cantik ini?"
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Lufas. Dia hanya tersenyum kecil.
"Apa kalian sudah kenal lama?" Tanya Sya yang penasaran.
"Ya. Sejak Lufas masih kecil, aku tahu segala tentangnya."
Sya merasa aneh. Jika mereka sudah kenal selama itu kenapa Xiu tidak menganggapnya Nita seperti yang lain.
"Sya, Lufas. Aku pergi dulu. Ada janji ditempat lain."
Sya dan Lufas mengangguk. Lalu ereka mengantar Xiu masuk ke dalam mobilnya. Tidak lama disususl oleh mereka yang pergi untuk pulung ke vila averest.
Di dalam mobil mereka membicarakan banyakhal. Tidak seperti biasanya. Sampai akhirnya Sya bertanya, "Lufas. Kenapa kau tidak suka dengan Anna?"
"Apa kau ingin tahu alasanya?"
Sya mengangguk dengan pelan.
"KArena dia mencoba menyingkinanmu."
Jawaban itu membuat Sya tidak mengerti, tapi Sya tertawa. Bagaimana bisa Anna menyingkirkannya. Menyingkirkan dari hal apa? Sya sendiri tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Lufas.
"Jauhi dia sebelum kamu menyesal."
"Dia temanku satu-satunya disini. Mana mungkin aku menuruti perkataanmu," kata Sya.
"Jika kau masih keras kepala. Kau akan dapat imbasnya."
__ADS_1
Sya hanya mengedikkan bahunya. Dia sudah mendapat jawaban atas pertanyaanya. Hanya, Sya belum puas dengan jawaban itu.
Tidak membutuhkan waktu lama. Sya dan Lufas akhirnya sampai juga di vila. Dengan cepat Lufas turun dan membukakan pintu untuk Sya. Hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.
"Kenapa kau berubah seperti ini?" Tanya Sya.
"Karena aku mencintaimu dan tak ingin kau pergi."
"Sejak kapan seorang Lufas bisa mengata hal manis semacam itu."
Keduanya tertawa. Lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam, Ben sedang bermain game dengan asistenya. Kegiatan itu langsung dihentikan begitu Lufas dan Sya masuk.
"Kenapa berhenti?" Tanya Sya.
Ben tersenyum. "Sebenarnya ada paket untuk Lufas."
Lufas terlihat kaget. Dia melihat kotak yang cukup besar diatas meja. Sya dan Lufas mendekat. Mereka melihat nama si pengirim secara bersamaan.
Sya langsung menoleh pada Lufas. Banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Sya. Bagaimana bisa Anna mengirimkan sebuah paket untuk Lufas.
"Sudah aku bilang dia tidak baik menjadi temanmu," kata Lufas.
Sya tidak tahu sedang merasakan apa kali ini. Dia menatap kotak itu dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Anna melakukan hal ini padanya.
"Apa kau ingin aku jauh dari Anna karena kalian memiliki hubungan?"
Lufas memegang tangan Sya. Dia menggenggam tangan itu dengan erat. Kali ini Lufas mencoba menjelaskan situasi yang sedang terjadi.
"Aku tidak ingin mendengar apapun kali ini. Aku ingin istirahat."
Sya pergi masuk ke kamar. Ben meminta asistenya untuk kembali ke hotel. Sementara Lufas membawa kotak itu ke dalam ruang kerjanya. Ben juga ikut di belakangnya.
"Siapa Anna?" Tanya Ben saat sampai diruanh kerja Lufas.
"Kau akan tahu saat melihat isi kotak ini."
Ben yang penasaran dan tidak sabar langsung membuka kotak itu. Baju couple dan banyak foto berada disana. Ben mengambil saah satu foto yang berada didalam kotak.
Foto yang terlihat bahagia. Dimana Lufas sedang memberikan cincin pada seorang wanita. Siapa lagi wanita itu jika bukan Nita.
"Jadi, Anna itu Nita?" Tanya Ben.
Lufas mengangguk lemah.
"Lalu bagaimana bisa Kakak Ipar tahu tentang Anna?"
"Dia tahu tentang Anna, tapi dia tidak tahu jima Anna adalah Nita. Dia suda dibohongi dengan hubungan pertemanan yang palsu."
"Lalu kenapa kau tidak mengatakan pada Kakak Ipar?"
Lufas mengalihkan pandangannya. "Aku sudah mencoba menjelaskannya. Hanya, selalu gagal."
"Lalu apa rencanamu?" Tanya Ben.
"Untuk sementara ini. Biarkan saja Sya berfikir buruk tentangku. Setidaknya, dia tidak akan mendekat pada Anna lagi."
Lufas tidak tahu jika sebenarnya Sya berada diluar ruanganya. Mengetahui hal ini, Sya merasa tidak senang atas penghianatan yang dilakukan Anna.
Walau begitu, Anna tahu harus melakukan apa. Sya berkata pada dirinya sendiri. Tidak boleh marah dan emosi saat menghadapi hal ini. Dia harus tetap berfikir dengan baik.
***
__ADS_1